Siapa Aku

Siapa Aku
Bagian 37


__ADS_3

Mobil sedan hitam yang dikemudikan Martin memasuki pekarangan rumah mewah berlantai dua tersebut. Setelah terparkir, sepasang suami istri yang baru menikah itupun turun.Daniel berjalan memasuki rumah namun tidak dengan Via. Gadis itu menunggu Daniel masuk terlebih dulu, ia takut jika Sinta dan pelayan yang lain melihat kedatangannya bersama Daniel, pasti akan menimbulkan kegaduhan yang membuat dirinya dalam posisi tidak menyenangkan.


"Ada yang salah nyonya..? " Ucap Martin yang melihat Via bersembunyi di samping mobil.


Gadis itu mengerutkan keningnya menatap Martin.


"Apa..?? nyonya..? " Ucapnya.


"Tidak, tidak. Kamu jangan memanggilku nyonya. Panggil aku seperti biasanya saja Martin, aku bukan nyonya. " sambungnya.


Martin tersenyum, gadis ini tetap sederhana seperti biasa. Padahal sekarang dia sudah menjadi nyonya di rumah ini,batinnya.


"Anda hanya belum terbiasa nyonya." Ucap Martin tersenyum.


Baru saja Via ingin menjawab lagi, namun suara bariton Daniel lebih dulu membungkam mulutnya.


"Apa yang kamu lakukan disitu. " Ucap Daniel.


Gadis itu menoleh.


"Tidak ada tuan hanya ngobrol sebentar dengan Martin. " Jawabnya tersenyum sembari memukul kecil lengan pria paruh baya itu.


Martin tersenyum sembari mengangguk kepada Daniel yang tengah menatapnya dengan tatapan menyelidik.


"Ya sudah ayo masuk. " Ajaknya.


"ekh, tuan duluan saja. Saya masih ingin bicara dengan Martin. " Jawab Via. Saat ini alasan yang tepat hanya itu saja.


"Martin harus segera ke kantor Via, dia ada meeting. " Ucap Daniel.


Via menatap Martin. Lelaki itu tersenyum kemudian membungkukkan badannya.


"Saya permisi nyonya."


Via hanya bisa memandang mobil yang martin kemudikan menghilang dibalik pintu pagar besi tersebut.


"Sekarang ayo kita masuk. " Ucap Daniel, membuat gadis itu menoleh menatapnya.


Via hanya tersenyum menanggapi kemudian masuk meninggalkan Daniel. Membuat lelaki itu menatap aneh Via yang sudah masuk kedalam rumah.


Gadis itu menuju kamarnya untuk berganti baju, karena ia tak mungkin memakai dress selutut yang Daniel berikan tadi pagi saat sedang mengasuh Kaniya. Setelah berganti pakaian ia menuju kamar Kaniya, namun kosong.Tak ada tanda-tanda kamar itu baru saja ditempati. Ia baru teringat jika semalam Kaniya menginap di rumah utama. Masa belum pulang sih..? Pikirnya. Gadis itu menghela nafas, lalu kembali kekamarnya mengambil ponsel. Ia menekan nama Bi Lina dan menekan tombol hijau di ponsel tersebut.


"Hallo, bibi dimana..? " Ucapnya.


".........."


"Ya sudah kalau begitu bi. " Ucapnya kemudian mematikan sambungan telepon itu.


Via menghela nafas.


Sekarang apa yang harus aku kerjakan


Gumam Via.



Ivan POV


Pagi ini kulangkahkan kakiku menuju gedung tempatku mengajar. Tempat dimana aku bisa mengalihkan pikiranku dari pekerjaan kantor yang membuatku pusing. Tempat dimana aku bisa menemukan kesenangan tersendiri ketika melihat para mahasiswa beradu argument, melihat mereka saling berdiskusi, saling bercanda dan menikmati masa-masa muda mereka. Juga tempat dimana aku menemukan seseorang yang mampu menggetarkan hatiku. Seseorang yang biasa saja tapi memiliki magnet yang mampu menarik hatiku untuk lebih dekat dengannya.


Bukan hanya cantik, tapi dia juga begitu ramah dan menyenangkan. Aku tak pernah bosan ketika bersamanya. Aku selalu menanti saat-saat aku mengajar dikelasnya, karena aku bisa melihat ekpresi wajahnya ketika sedang serius. Itu sangat manis menurutku. Seperti sekarang ini, aku dengan semangat melangkahkan kaki menuju kelas dimana aku akan bertemu dengannya. Namun, ketika aku membuka pintu dan masuk kedalam ruangan,aku tak melihatnya duduk diantara mahasiswa itu. Lagi-lagi dia tidak masuk kuliah. Sudah beberapa hari ini Ia tidak masuk dengan alasan ada sedikit urusan, yang entah urusan apa aku tak tahu. Akhirnya kumulai kelasku tanpa dia, penyemangatku saat di kampus.

__ADS_1


"Kita akhiri kelas hari ini. Tiga hari lagi kumpulkan tugas kalian. " Ucapku kepada para mahasiswa.


"Nina. Sampaikan kepada Alvia Pranisti, kalau dia tidak masuk kepertemuanku berikutnya dia akan dapat tambahan tugas. " Ucapku pada sahabat gadis yang kurindukan saat ini. Aku terpaksa melakukan ini, marena aku ingin segera melihatnya kembali belajar dikelasku.


"Baik pak. " Ucapnya.


Aku keluar dari ruangan itu dan menuju keruanganku sendiri. Kuletakkan buku yang kubawa keatas meja lalu kejatuhkan diriku di kursi hitam yang bisa berputar itu. Aku meraih ponsel yang berada diatas meja, mengeceknya apakah ada pesan atau panggilan masuk. Namun tak ada apapun disana.


Huh, memangnya siapa aku..?



Author POV


"huufttt, bosan sekali. "


Gumam Via.


Gadis itu hanya bergulang-guling dikasur, tak ada yang ia lakukan. Ia juga sudah bosan memainkan ponselnya.


Seharian ini tak ada yang ia kerjakan, ia ingin membantu para pelayan lain tapi Daniel melarangnya dengan alasan itu bukan tugas dia. Sungguh berdiam diri tak melakukan aktivitas apapun membuatnya sangat bosan.


Tok tok tok.


Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Gadis itu berjalan menuju pintu dan membukanya, menampilkan sosok Daniel dengan pakaian santainya sudah berdiri didepan kamarnya.


"Tolongin aku. " Ucap Daniel sembari menyodorkan ponselnya. Gadis itu mengerutkan kening melihat ponsel yang berdering dengan nama Rose sedang memanggil.


"Cepet angkat. " Imbuh Daniel.


Via tak kunjung mengangkat telpon itu tapi Daniel menggeser tombol hijau dilayar ponselnya dan menekan tanda loudspeaker kemudian mendekatkannya ke mulut gadis itu.


"Ha, hallo. " Ucap Gadis itu.


Ucap Rose di seberang sana.


"ekh, dia sedang tidur. " Ucap Via setelah melihat kode yang diberikan Daniel.


"Terus kenapa ponselnya ada ditanganmu..?" Ucap Rose.


Via kembali menatap Daniel, dan lelaki itu pun kembali memberikan kode namun tak dapat dimengerti oleh Via.


"Hallo..? Tolong kasih ke Daniel sekarang juga." Rose memanggilnya.


"Ekh, iya hallo." Ucap Via. Ia kembali menatap Daniel namun lelaki itu hanya menggeleng sembari memasang wajah memohon.


Via menghela nafas.


ekhem


"Maaf ya nona Rose, tapi suami saya tidak bisa diganggu. Tolong jangan hubungi dia lagi. " Kali ini Via berucap penuh ketegasan. Membuat lelaki di depannya itu tersenyum kagum dengan istri kecilnya itu.


"apa, heh kamu-"


tut


Via mematikan sambungan telepon itu, ia tahu Rose pasti akan memakinya. Ia sedang malas mendengarkan seseorang yang mengomel tak jelas.


"Udah. " Ucap Via kepada Daniel.


"Makasih." Daniel tersenyum menanggapi.

__ADS_1


Via memutar matanya, jengah. Kemudian mengangguk.


Emang ginikan yang kamu mau..?


Gumam Via dalam hati.


"Kapan Kaniya akan dijemput tuan. " Ucap Via.


"Entahlah, aku tadi menghubungi mama tapi dia bilang ,dia masih ingin bersama cucunya. " Ucap Daniel.


"Sebaiknya saya menyusul kesana saja.Saya bosan tidak ada kerjaan." Ucap Via.


"Tidak perlu kamu disini saja. " Ucap Daniel.


"Mau ngapain saya disini tuan..? " Ucap via.


" Kamu bingung mau ngapain..? " Ucap Daniel.


"Ikut aku. " Imbuhnya sembari menarik tangan Via.


"Loh tuan mau kemana..? " Ucap Gadis itu.


Namun Daniel tak merespon. Lelaki itu menarik Via menuju kamarnya.


Mau ngapain dia bawa aku ke kamarnya..?


Gumam Via yang mulai panik.


Lelaki itu nenutup pintu ketika ia dan Via sudah masuk kedalam kamar. Membuat Via semakin panik.


"Tu, tuan mau ngapain..? Jangan macam-macam ya..? " Ancam Via.


Daniel mendekati Via namun gadis itu terus melangkah mundur.


"Tuan..! "


"Kamu bisa berhenti tidak..? Jangan terus mundur. Lihat dulu kebelakang. " Ucap Daniel


.


"Tidak, tuan mau menipuku. " Ucapnya.


lelaki itu berdecak.


"Makanya lihat dulu. " Ucap Daniel.


Gadis itu masih menatap Daniel, kemudian dengan perlahan ia mulai memalingkan muka melihat dibelakangnya. Apa yang ingin lelaki itu tunjukkan padanya.


Via membelalakkan kedua matanya melihat pemandangan yang berada didepannya saat ini. Barang-barang berserakan, baju-baju yang juga sudah keluar dari dalam lemari. Sprei dan bantal pun tak luput dari kekacauan itu.


Apa yang terjadi...?


Gumam Via.


"Tolong bereskan. " Ucap Daniel.


"Apa..? "


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2