Siapa Aku

Siapa Aku
Bagian 36


__ADS_3

"Tuan"." Via kembali memanggil Daniel, namun lagi-lagi tidak ada jawaban.


Duh mana sih nih ponsel.


Gumamnya.


Setelah meraba-raba dibawah meja, akhirnya ia menemukan ponselnya. Ia langsung menyalakan flash diponsel tersebut.


"Tuan, tuan dimana..? " Via kembali memanggil Daniel. Ia menyorot ruangan tersebut namun tidak menemukan keberadaan Daniel. Ia pun berjalan menuju petekan lampu yang berada didekat pintu lalu menyalakanannya.


Lampu pun menyala.


Nah nih nyala, kok tadi mati..?


Gumamnya.


Kemana tuh orang..?


Gadis itu berbalik dan,


"Tuan...! "


Ia terkejut mendapati Daniel duduk disofa yang ia duduki tadi,sembari menyilangkan kedua kakinya dan bersidekap tangan.


"Tuan darimana saja..? barusan mati lampu. " Ucapnya sembari mendekati pria yang menatapnya tersebut.


"tunggu, tuan masuk darimana..??" Ucapnya sudah berdiri di dekat pria itu.


"Apa....," kalimatnya terhenti.


"Ya, aku yang matikan lampunya. " Ucap Daniel.


"Lalu kemana tuan pergi..? " Ucap Via.


"Aku hanya disini saja dari tadi. "


"apa..? lalu kenapa tidak menjawab saat kupanggil..? " Via mulai sedikit merajuk, bisa-bisanya lelaki ini mengerjainya. Persetan dengan atasan dan bawahan, ingin rasanya ia memukul Daniel dengan sandal.


"Itu pelajaran buatmu, kamu sedari tadi melamun saja hingga tidak merespon saat kuajak bicara. " tuturnya sedikit kesal.


"benarkah..?? hehe maaf tuan. " Ucap Gadis itu sembari tersenyum menampilkan deretan gigi rapinya.


Ternyata aku penyebabnya.


Batin Via.


Tok tok tok


Room servis.


Ucap seseorang dari luar.


Via membuka pintu tersebut, dan menampilkan seorang waiter sedang mendorong meja berisikan makanan.


"maaf tapi saya tidak pesan semua ini. " ucap Via.


"aku yang pesan. " Ucap Daniel di belakang Via.


"bawa masuk. " titahnya kepada waiter tersebut.


Setelah mengantar masuk pesanan Daniel waiter tersebut pun pergi dan berterima kasih untuk tips yang diberikan Daniel.

__ADS_1


"Kapan tuan memesan ini?" Ucap Via.


"Saat seseorang sedang melamun. " Ucap Daniel sembari berlalu menuju sofa, membuat Via memanyunkan bibirnya.


"Ayo makan, apa kamu tidak lapar..? ucapnya.


"Lapar sekali. " Ucap Via sembari memegangi perutnya.


Ia pun menyusul Daniel duduk di sofa single disamping sofa panjang, tempat duduk Daniel. Lalu mulai memakan steak dihadapannya itu.


Mereka berdua menyantap makan malam dengan hening.



Niko tengah duduk disebuah cafe sembari memainkan benda pipih ditangannya. Ia baru saja menemui salah satu client nya. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya teramat sibuk, hingga ia tak sempat pulang ke rumah terlebih dulu setelah dari pesta pernikahan sahabatnya, Daniel.


"Hay." Ucap seseorang.


Lelaki Itu mendongak dan mendapati gadis berpakaian seksi yang tak asing dimatanya, namun ia lupa bertemu dengan gadis Itu dimana.


"Aku boleh duduk..? " Ucap Gadis Itu.


Daniel mengedarkan pandangannya, masih banyak tempat kosong, kenapa gadis ini ingin duduk disini,pikirnya.


"Boleh, silahkan. " Ucap Niko, terpaksa ia mengiyakan gadis itu.


Gadis itu dengan senang hati duduk berhadapan dengannya.


"Apa kamu tidak ingat aku..? " Ucap gadis itu,membuat Niko mengernyitkan keningnya.


"Ehm, mungkin kamu lupa. Kita pernah bertemu sekali saat di mall. Waktu kita bertabrakan. " Ucap Regina.


Daniel berfikir sejenak.


Akhirnya dia ingat.


Batin Regina.


"Iya nggak apa-apa. " Regina tersenyum.


"Aku Regina. " Imbuhnya sembari mengulurkan tangan.


"Niko. " Balasnya, sembari menerima uluran tangan Regina.


"Kamu ngapain sendirian disini..? " Ucap Regina.


"Habis bertemu client. " Ucap Niko, sembari melihat ponsel ditangannya. Lelaki itu sedang berbalas pesan dengan seseorang.


Regina mengangguk.


"aku pergi duluan,ada urusan." Ucap Niko sembari menyeruput sedikit kopinya sebelum berdiri.


"Mau kemana..?" Ucap Regina.


"Tunggu, bisakah kita bertukar nomor telpon?" Ucapnya lagi, ketika Daniel membalikkan badannya ingin pergi.


Lelaki itu merogoh dompetnya disaku celana dan nampak mengeluarkan sesuatu.


"Ini, hubungi saja kalau ada perlu. Sekarang aku sedang terburu-buru,sorry." Ucapnya sembari menyodorkan kartu nama kepada Regina.


Regina menerimanya dengan senang hati. Ia membaca kartu nama itu dan ia semakin kegirangan mengetahui bahwa lelaki incarannya kali ini adalah seorang ceo. Ia memandang punggung Niko yang mulai menjauh dengan tersenyum miring.

__ADS_1



Waktu munjukkan pukul 02.00 dini hari, namun seorang gadis yang berbaring di kasur berukuran king itu tak juga memejamkan mata. Bagaimana ia bisa tidur jika saat ini ia berada satu kasur dengan seorang lelaki. Ini sungguh membuatnya frustasi, Ingin sekali ia pergi dari sini.


Awalnya ia ingin tidur di sofa saja, namun Daniel melarangnya dengan alasan ruangan itu terlalu dingin. Dan hanya ada satu selimut saja. Jadi Daniel menyuruh gadis itu tidur dikasur dengan guling sebagai pembatas. Tentu saja ia menolak dengan berbagai alasan, namun Daniel sama sekali tak menerima penolakan. Lelaki itu mengancamnya akan melakukan sesuatu yang akan membuat dirinya tak bisa tidur malam ini. Dengan langkah cepat gadis itu langsung menuju bed, menatanya kemudian menjatuhkan dirinya dikasur itu menghadap samping. Tak lupa ia juga menarik selimut hingga sebatas leher.


Sedangkan pria disampingnya itu sudah berkelana jauh didalam mimpinya.


Via mengambil ponselnya diatas nakas, ia membuka kunci dan mencari aplikasi game didalam ponsel tersebut. Gadis itu larut dalam permainan game nya hingga lupa jika saat ini ia sedang tidak sendirian. Ia menggebrak-gebrakkan kakinya karena kehabisan nyawa ketika ia berperang melawan musuhnya didalam game tersebut.


"Bisakah kamu mematikan ponselmu dan mulai istirahat..? " Ucap Daniel yang terbangun karena ulah Via.


Gadis itu terkejut, kemudian menoleh kearah Daniel. Lelaki itu sudah duduk bersandar disandaran kasur, sembari menatap Via.


astaga, lupa aku kalau ada dia.


Gumam Via dalam hati.


"Maaf tuan. " Ucap Via tersenyum kuda, kemudian mematikan ponselnya dan kembali menaruhnya keatas nakas.


"Sekarang tidurlah. " Ucap Daniel kemudian berlalu ke kamar mandi.


Setelah kembali, ia melihat Via sudah terlelap dalam tidurnya. Ia pun kembali membaringkan tubuhnya keatas kasur, ia juga menyingkirkan dua guling pembatas tersebut. Persetan dengan Via yang kan mengamuk besok pagi. Saat ini ia hanya ingin memeluk gadisnya, aa bukan tapi istrinya.


Daniel memeluk Via, tak ada penolakan dari gadis itu. Tandanya Via sudah terlelap. Lelaki itu mencium puncak kepala istrinya dan kemudian memejamkan mata, siap untuk kembali berkelana kealam mimpi.


Sinar mentari masuk melalu celah-celah gorden, membuat gadis yang tertidur lelap itu mengerjapkan matanya. Via membuka mata merentangkan otot-ototnya yang kaku.


Jam berapa ini.


Gumamnya.


Ia menatap langit-langit kamar itu, tempat ini bukan kamarnya. Gadis itu seketika terbangun.Ia baru saja mengingat kalau ia sudah menikah dengan Daniel. Ia melihat pembatas yang kemarin malam ia taruh ditengah kasur.


Nggak ada.


Via mengecek bajunya lalu menghela nafas lega karena pakaiannya masih lengkap.


Cekrek


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Daniel yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya memakai piama handuk saja.


"Sudah bangun...? " Ucap lelaki itu sembari mengeringkan rambutnya yang basah.


Via melongo memperhatikan Daniel


Ya Tuhan ganteng banget tuan Daniel.


Gumam via dalam hati.


"Udah lihatnya..? " Ucap Daniel membuyarkan lamunan Via.


"Mandi dulu, baru kita turun untuk sarapan. " Daniel melanjutkan ucapannya, yang di angguki oleh Via.


Via keluar kamar mandi sudah memakai baju yang ia bawa dari kopernya. Namun Daniel menyuruhnya ganti dengan dress yang diantarkan oleh Martin. Terpaksa ia mengangguki perintah Daniel. Gadis itu menjadi semakin cantik dengan dress selutut yang ia kenakan, rambut yang terurai panjang, hanya dibagian sisi yang ia ambil sedikit lalu menggulung dan menjepitnya kebelakang.


Daniel semakin mengagumi kecantikan istrinya tersebut.


Setelah semuanya selesai mereka berdua pun turun untuk sarapan, kemudian pulang kerumah.


.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2