
Via POV
Aku menikmati steak yang ada di depanku saat ini, tak ku hiraukan percakapan antara dua orang yang berada di sampingku dan juga di depanku saat ini. Entah apa yang mereka bicarakan aku tidak mengerti. Aku hanya mengikuti permainan dari majikanku saja.
Aku ingat waktu di pesta, Tuan Daniel mengenalkanku pada wanita di depanku ini sebagai calon istrinya. Jadi sekarang aku sedang berakting sebagai calon istri majikanku. Sebenarnya aku sedikit risih dengan pandangan Nona Rose terhadapku, ia seperti tak menyukai keberadaanku. Tapi ku tepiskan semua pikiran negatifku dan besikap bodo amat.
"apa kau menikmatinya sayang..? " Ucap Tuan Daniel padaku,membuatku seketika tersedak makanan yang ada didalam mulutku.
Aku segera meraih air putih yang di sodorkan oleh Tuan Daniel dan meminumnya hingga menyisakan separuh.
"pelan-pelan sayang. " Ucapnya lagi lembut, seraya mengelus punggungku.
Aku menatapnya begitupun dia yang tengah menatapku.Kedua manik kami bertemu, tatapan Tuan Daniel begitu menyejukkan kali ini.
Jantungku berdebar, ketika mendengar Tuan Daniel memanggilku dengan sebutan sayang. Entah perasaan macam apa ini..??
Tapi jujur saja, aku seperti kegirangan mendengar Tuan Daniel memanggilku sayang.
Tidak-tidak apa yang sedang kupikirkan.
•
Hening menyelimuti suasana di dalam mobil yang ku tumpangi saat ini. Kupandangi jalanan di malam hari dan gemerlap lampu yang menerangi kota. Mobil Tuan Daniel melaju dengan kecepatan sedang membelah jalananan di malam hari yang masih tampak ramai.
"terimakasih." ucapnya tiba-tiba padaku.
Aku menoleh menghadapnya, ia masih saja fokus memandang jalanan didepan dan sesekali memutar stir mobilnya.
"Untuk apa tuan..? " aku bertanya balik padanya.
"Untuk aktingmu sebagai calon istriku tadi. " ucapnya lagi,tanpa melihatku.
"owh," jawabku.
"tapi kenapa harus pura-pura?. " aku balik bertanya padanya.
"apa kamu mau menjadi istriku betulan...??"
Tuan Daniel bertanya seraya menatapku.
"Bukan itu maksudku tuan, tapi bukankah akan sangat merepotkan jika nanti ketahuan Nona Rose..? " ucapku menjelaskan. Aku tidak ingin Tuan Daniel salah paham dengan ucapanku..?? ah, apa dia begitu bodoh?? pikirku.
Tuan Daniel hanya menyunggingkan senyuman.
"tenang saja, kamu tinggal ikuti saja permainanku. " ucapnya lagi.
"maksudnya..?? " ucapku yang belum mengerti.
"Teruslah Berpura -pura menjadi calon istriku. " Ucapnya menjelaskan.
"Tapi,-"
"Apa kamu tidak mau membantuku..? Bukankah kita sudah berdamai dan akan menjadi teman..?? bukankah teman itu akan saling membantu..?? bukankah... "
"iya iya iya, saya akan bantu tuan. " ucapku terpaksa karena lelah mendengarkan lelaki di sampingku ini yang terus saja nerocos tanpa henti.
"kamu memang baik. " ucapnya lagi seraya tersenyum padaku dan apa ini..?? Dia mengacak-acak rambutku..??
Memangnya aku anak kecil..??
Daniel Pov.
"yes" ucapku dalam hati.
Aku satu tahap berhasil membuat gadis disebelahku ini terpesona. Aku menyadari perubahan sikapnya saat di restaurant tadi, dia terlihat begitu terkejut ketika aku memanggilnya sayang. ya, meskipun sebenarnya niatku hanya untuk membuat Rose panas dan berhenti mengejar-ngejarku.
Ini sih namanya sambil menyelam minum air.
"Tapi tuan, kenapa tuan harus berbohong kepada Nona Rose..?? " Gadis itu bertanya padaku.
"Karena aku tidak menyukainya " jawabku.
"Dia mendekatiku hanya karena alasan tertentu."
Ya, aku tahu Rose mendekatiku karena keinginan dari ayahnya,yaitu Mr. Robert. Lelaki tua itu ingin aku menikahi putrinya yang katanya berpendidikan.Tapi setelah aku selidiki lebih lanjut,ternyata putrinya tak lebih dari seorang gadis murahan yang berganti-ganti pasangan.
__ADS_1
Aku tak peduli Rose itu wanita seperti apa. Yang terpenting sekarang adalah usahaku untuk membuat Via jatuh hati padaku. Aku senang karena dengan sandiwara ini aku bisa membuat alasan untuk langkahku selanjutnya mendekati dia.
Author Pov.
Via menenteng totebag kesayangnnya, gadis itu berlari kecil menuruni tangga rumah mewah yang ia tinggali.
"Duuh semoga aja nggak telat. " gumamnya.
Gadis itu bangun kesiangan setelah semalaman ia begadang mengerjakan tugasnya yang kamarin ia tinggalkan karena ulah Daniel.
Ia berlari menuju gerbang dan menunggu taxi online yang sudah ia pesan.
Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Via.
"Via..?? " Ucap seorang lelaki dari dalam mobil tersebut setelah menurunkan kaca mobil.
"Pak ivan...? " ucap Via.
"Ngapain disini..?? " ucap Ivan.
"Nunggu taxi pak. " ucap via.
"Ayo masuk." Ivan menyuruh via masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa pikir panjang gadis itupun masuk, karena ia pasti akan terlambat jika menunggu taxi online pesanannya.
Sepasang mata memperhatikan mobil yang membawa Via pergi. Baru saja Daniel ingin mengantarkan gadis itu ke kampus, namun ia kalah cepat dengan taxi online yang di pesan Via,pikirnya.
Daniel melangkahkan kakinya kembali memasuki pekarangan rumah sebelum klakson mobil yang berhenti di depan gerbang menghentikan langkahnya. Lelaki itu berbalik, dan mendapati kedua penjaga gerbang rumahnya sedang menjelaskan sesuatu kepada pengemudi mobil tersebut.
"ada apa..?? " tanya Daniel menghampiri.
"ini tuan, taxi pesanan Nona Via.Tapi Nona Via sudah berangkat." ucap salah satu penjaga tersebut.
Taxi..??
Kalau ini taxi yang di pesan Via, lalu siapa yang...?
Gadis itu...
Daniel membayar taxi yang sudah terlanjur di pesan oleh Via sebelum ia masuk kedalam rumah dengan perasaan yang kesal.
•
Via melahap bakso yang ia pesan di kantin, ia sangat lapar karena tidak sempat sarapan pagi tadi. Untung saja ia tidak terlambat mengikuti kelas paginya.
"Pelan-pelan makannya Vi." ucap Nina yang duduk di sebelah via.
"Laper banget aku Na. " jawab via seraya meminum jus jeruknya.
"tumbenan lu kesiangan, biasanya selalu lebih awal. " ucap Nina.
"ck, ini gara2 majikan ngeselin itu tau nggak. " ucap Via.
"Kak Daniel maksud lu..? " ucap Nina.
"iyalah, siapa lagi..? ucap Via.
"Kenapa emangnya?? lu ngapain sama kak Daniel...?? lu nggak main aneh-aneh kan..? " ucap Nina.
"awww" Nina mengaduh kesakitan karena Via nenonyor kepalanya.
"kamu tuh ngomong apaan sih..? " ucap Via.
"perlu di refresh itu otak kamu. " imbuhnya.
" ya siapa tahu aja,kalian sedang main apa gitu... " ucap Nina yang masih mengelus kepalanya.
"eh eh ngapain nih pada lari-larian gitu ada kebakaran apa ya..? " ucap Nina yang melihat para mahasiswa perempuan berlarian menuju parkiran kampus.
"enggak tau. " ucap Via.
"Kita lihat yuk. " ajak Nina seraya berdiri,yang kemudian di ikuti oleh Via.
Kedua gadis itu mengikuti para mahasiswa yang berlarian menuju parkiran.
__ADS_1
Regina dan kedua temannya pun tak mau ketinggalan, mereka bertiga ikut menuju ke parkiran.
Regina terkejut melihat seorang lelaki yang kini berdiri menyender dimobil sport mewah dan menjadi pusat perhatian oleh para mahasiswi di kampus tersebut. Lelaki itu memakai hem berwana biru dan celana jeans yang bewarna lebih gelap dari hem yang ia kenakan.
Itukan cowok yang kemarin nabrak gue.
Gumam Regina dalam hati.
"ya ampun ganteng banget tuh cowok. " ucap Meta,teman Regina.
"Iya Met, ya ampun... type gue banget. " ucap Melani.
" apaan sih kalian, nggak usah hallu deh. " Ucap Regina jengah kepada kedua temannya.
Ngapain tuh cowok kemari..?? apa dia diam2 memata-mataiku..?? dan dia kesini mau menjemputku..?
Gumam Regina, gadis itu tersenyum-senyum sendirian.
"Kenapa sih lu Re..? " ucap Melani.
" Iya nih..?? lu sakit ya...? " ucap Meta seraya menempelkan punggung tangannya dikening Regina.
"ck, gue baik-baik aja ya..! apaan sih." Ucap Regina seraya menepis tangan Meta dari keningnya.
"ya abisnya lu senyum-senyum sendiri kayak orang gila gitu. " ucap Melani.
Ck
Regina berdecak.
Gadis itu hendak menghampiri lelaki yang kini menjadi pusat perhatian di kampus itu.
"Kak Niko...?" Ucap Nina yang kini sudah berdiri didekat Regina dan kawan-kawan.
Regina menghentikan langkahnya kemudian menatap Nina yang sudah berlari menghampiri Niko, diikuti oleh Via.
"Hay adikku tersayang." Ucap Niko.
kak..??
adik..??
apa mereka..??
Gumam Regina dalam hati.
"kakak ngapain sih kesini..?? " ucap Nina kesal.
"ya mau jemput kamu lah. " ucap Niko seraya menyubit hidung Nina.
"ish, " Nina menepis tangan niko
"ya ngapain pake keluar mobil segala..?? kakak sengaja mau caper sama gadis-gadi di sini ya..? tuh lihat..!! meraka udah kaya lihat berlian aja ngeliatin kakak. " ucap Nina.
"kakak kan emang berlian. " ucap Niko, lelaki itu memang terlalu percaya diri sekali.
"idih berlian karatan kakak mah. " ucap Nina.
" Mana ada berlian karatan?" ucap Via yang sedari tadi tertawa melihat pertengkaran kakak beradik di depannya ini.
"ada, nih. " Ucap Nina seraya mengarahkan dagunya ke Niko.
"Kamu ya.. berani sama kakak..? Ucap Niko seraya mencubit kembali hidung Nina.
Banyak pasang mata memperhatikan pertengkaran kakak beradik tersebut dan merasa iri kepada Nina yang menjadi adik Niko.
Enak banget sih jadi adiknya.
Pengen doong jadi adiknya
Seperti itulah kira-kira yang mereka katakan.
kecuali Regina, gadis itu itu mengepalkan tangannya melihat pemandangan didepan matanya itu.
🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1