
Secangkir kopi panas yang berada di atas meja menjadi teman seorang lelaki yang disibukkan dengan tumpukan berkas di hadapannya. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus ia selesaikan. meneliti satu persatu hasil laporan karyawan sebelum menandatangani berkas tersebut.
Daniel menyeruput kopi hitam favoritnya untuk memberikan sedikit ketenangan di kepalanya. Rasanya matanya sungguh lelah membaca setiap laporan di dalam map satu persatu.
ia bersitirahat sejenak,menyenderkan punggungnya di senderan kursi hitam nan besar itu. ia memejamkan mata sejenak merilekskan pikiran sesaat. Hingga terdengar suara pintu ruangannya di buka oleh seseorang.
"Selamat siang tuan Daniel Arta Lubis yang terhormat. " ucap seseorang itu sambil membuka pintu dan menutupnya kembali sebelum duduk di sofa.
Daniel pun membuka mata, suara yang tidak asing di dengar olehnya. ia menghela nafas, siapa lagi yang berani seenaknya sendiri masuk ke dalam ruangan seorang Daniel Arta Lubis ceo dari perusahaan property terbesar di kota ini kalau bukan sahabatnya Niko. ya, niko bersahabat dengan Daniel sejak kuliah. jadi tak heran jika niko bisa masuk tanpa permisi ke ruangan sahabatnya ini. Mereka berdua selalu berbagi keluh kesah bersama.Bahkan ketika istri Daniel meninggal Niko setiap hari datang ke rumah Daniel untuk memastikan keadaan Daniel dan kaniya. sebegitu pentingnya kah..?
ya Daniel dan Niko adalah sahabat yang saling ada di saat membutuhkan.
Daniel berdiri menghampiri Niko yang kini duduk di sofa. kemudian ia duduk berhadapan dengan sahabatnya itu. menyenderkan kembali punggungnya di senderan sofa dan memejamkan kedua mata,memijit-mijit pangkal hidungnya.
"Gimana pengasuhnya kaniya?"
tanya niko.
Daniel seketika membuka matanya,menatap Niko.
"Tau dari mana lo tahi kalau kaniya punya pengasuh? " Daniel balik bertanya dengan mengernyitkan kening. Niko pun hanya terkekeh mendengar pertanyaan Daniel.
"Ya taulah, orang gw yang nyariin. " jawab Niko santai.
Daniel semakin bingung, dia masih menatap niko meminta penjelasan.
"mama lo yang nyuruh gw nyariin pengasuh buat kaniya. tapi nggak boleh bilang ke lo soalnya lo pasti bakal nolak. " jelas Niko.
Daniel pun menghela nafas, yang benar saja. ternyata Niko dan mamanya sekongkol. kemaren mama nya memang menelpon untuk memastikan pengasuh yang di kirimnya sudah datang atau belum, tapi ia tak tahu jika Niko ikut serta dalam misi mamanya tersebut.
Berulang kali mamanya itu mencarikan pengasuh untuk kaniya, tapi Daniel selalu menolak dengan alasan dia yang akan mengurus kaniya sendiri. Padahal dia sendiri selalu bekerja dan pulang pada sore hari atau kadang sampai larut. Hingga salah satu pembantunyalah yang mengasuh kaniya selama Daniel bekerja.
"lo tenang aja, via itu gadis yang baik. selama ini dia hidup mandiri tanpa kedua orang tuanya. dia juga salah satu mahasiswi cerdas di kampusnya. " jelas niko.
__ADS_1
"dia membutuhkan pekerjaan ini buat biayanya kuliah. jadi lo jangan jahatin dia. " imbuh Niko kepada Daniel. ia tahu sahabatnya ini orang seperti apa. semenjak kepergian istrinya Daniel menjadi sosok yang dingin dan pendiam kecuali dengan orang2 terdekat dan dengan putri semata wayangnya. ia juga tak segan dengan karyawan yang tak mentaati aturan di kantor miliknya.
"lo kenal via?" tanya Daniel.
"via itu sahabatnya Nina sejak smp jadi gw kenal baik sama dia. " jelas Niko.
Daniel pun hanya menganggukkan kepalanya.
Akhirnya mereka berdua pun memutuskan untuk makan siang di restoran langganan mereka. Pandangan para karyawan perempuan yang berada di kantor Daniel tertuju pada dua orang laki-laki yang kini jalan beriringan menuju pintu utama gedung bertingkat itu. Sungguh pemandangan yang sangat indah, melihat dua orang lelaki bertubuh tinggi dengan setelan jas yang pas dan juga rambut yang tertata rapi. mereka berdua bak malaikat yang turun dari langit.
Daniel dan Niko masuk ke mobil milik niko tanpa sopir yang mengantar. Niko melajukan mobilnya membelah jalan raya.
saat di tengah perjalanan Daniel melihat dua orang gadis yang tak asing berjalan di trotoar. Gadis itu saling tertawa entah apa yang mereka bicarakan hingga membuat mereka begitu bahagia. Daniel mengamati Via dan Nina tanpa sepatah kata pun hingga mobil yang ia tumpangi saat ini berhenti di depan dua orang gadis itu. Ternyata Niko juga melihat meraka dan berhenti lalu membuka kaca mobilnya.
"Nina, Via ayok masuk. " panggil Niko dari dalam mobil.
"kak niko. " ucap Via dan Nina serentak.
mereka berdua akhirnya masuk ke mobil Niko. mereka duduk di kursi penumpang bagian belakang. saat sudah masuk mobil via kaget melihat majikannya yang juga berada di mobil tersebut.
Daniel hanya diam tak merespon sapaan via kepadanya.
sungguh cuek sekali tuannya ini. batin via.
"loh kakak sama kak Daniel juga. Darimana kalian?" Tanya Nina penasaran.
Via menatap Nina bingung. bagaimana Nina bisa kenal dengan majikannya. tapi ia diam saja, ia tak berani menanyakan hal itu kepada nina. apalagi saat ini majikannya berada satu mobil dengannya.
nanti saja akan ku tanya.
batin via.
"kita mau makan. " ucap niko sambil melajukan kembali mobilnya.
__ADS_1
"maaf kak aku nggak bisa ikut, aku harus segera pulang menjaga kaniya. " ucap via.
"gpp kamu ikut aja vi, Tuanmu yang baik hati ini sudah mengijinkan. " ucap Niko seraya melirik Daniel yang berada di sampingnya.
"tapi kak-"
"ikut saja, biar kaniya sama bi lina. " ucap Daniel memotong ucapan via.
"baik tuan. " ucap via seraya mengangguk.
Niko tersenyum mendengar mereka yang terlihat kaku saat berbicara.
•••••••••••••
seorang laki-laki dengan senyuman mengembang mengendarai mobil dengan kecepatan sedang. Saat ini hatinya sedang berbunga-bunga.
setelah berjalan kurang kebih 45 menit dengan mobil ia pun sampai di sebuah rumah berlantai dua dengan model minimalis modern. Di teras rumah nampak seorang wanita paruh baya sedang menggendong seorang bayi perempuan berumur 6 bulanan. bayi itu berceloteh ria dengan sang nenek.
lelaki itu turun dari mobil dan berjalan menuju dua orang yang sangat di sayanginya saat ini.
"senangnya putri ayah." sambut sang ayah seraya mendekatkan mukanya ke depan bayi tersebut dan menggesekkan hidungnya dengan hidung putrinya.
"lagi ngomongin apa sih sama nenek?" imbuhnya lagi.
"kamu dah pulang van. " ucap bu sarah.
ibu nya Ivan.
"iya bu, tadi hanya ada satu kelas saja. " jawab ivan seraya menegakkan kembali badannya.
"ya sudah kamu ganti baju sana trus makan,ibu sudah siapkan tadi di meja makan. " ucap bu sarah.
ivan pun ganya mengangguk. kemudian mengecup kening putrinya sebelum masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀