Siapa Aku

Siapa Aku
Bagian 33


__ADS_3

Ivan sedang duduk dikursi taman bersama Rania yang berada di stroller, menunggu gadis yang mengajaknya janjian di tempat itu. Pria itu tersenyum mendengar celotehan putrinya. Tawa putri kecilnya mengingatkan dirinya dengan Nisya, sahabatnya. Rania sangat mirip dengan ibunya,pikir Ivan.


Lihatlah Nisya, ini adalah putrimu. Aku akan menyayanginya seperti putriku sendiri.


Batin Ivan.


"pak Ivan. " Ucap Via.


Lelaki itu menoleh dan mendapati Via sudah berdiri disampingnya.


"bapak sudah lama..?? " imbuhnya lagi.


"Aku sudah hampir beruban menunggumu disini. " Goda Ivan, membuat Via terkekeh dibuatnya.


"Bapak bisa aja. " Ucap Via kemudian.


"aaaww, ini Rania..? " ucapnya gemas sembari berjongkok.


"uuuncch, lucu sekali sih. "Via mencubit sedikit pipi bayi tersebut.


"Kaniya, lihat nih kamu punya temen baru. Dia seumuran sama kamu. " Ucap Via kepada Kaniya yang sedang mengempeng.


Ivan pun tersenyum memperhatikan Via yang tengah asik mengobrol dengan dua bayi yang jelas belum mengerti apa yang dibicarakan gadis itu.


Akhirnya mereka memutuskan untuk berjalan-jalan disekitaran taman, menikmati suasana di taman itu yang lumayan ramai dengan anak-anak yang bermain. Di taman itu memang terdapat wahana permainan anak-anak, jadi banyak anak-anak bermain ketika sore hari.


Via dan Ivan mendorong stroller masing-masing seraya berbincang ria. Ivan memang selalu bisa membuat gadis di sampingnya itu tertawa, hingga membuat pemilik sepasang mata yang tengah menatap tajam mereka berdua mengepalkan tangan, menahan amarah yang mulai merasukinya. Lagi-lagi ia kalah dengan dosen sok keren itu, pikir Daniel.


Pria itu masih memperhatikan Via yang tengah berfoto dengan kedua bayi tersebut.


Namun ia membulatkan kedua matanya ketika melihat Via berselfi ria dengan Ivan dan juga kedua bayi tersebut.


Apa-apaan mereka,


Memangnya mereka keluarga bahagia.


Gumam Daniel.


ekh khem


Daniel berdehem dibelakang Via dan Ivan, nembuat keduanya menoleh bersamaan.


Pria itu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana yang ia kenakan.


"Tuan..? " Via sedikit terkejut.


"ada apa tuan kemari..? " Ucapnya lagi


"Sedang apa kamu disini..? " Ucap Daniel kepada Via, namun tatapannya mengarah ke pria yang berdiri disebelah gadis itu, yang juga tengah menatapnya.


Via mulai merasakan hawa dingin disekitarnya. Ia ingat kali terakhir kedua pria ini bertemu, pasti akan ada hal buruk yang terjadi,pikirnya.


"ekh, tuan-"


"kenapa kamu nggak bilang kalau mau jalan-jalan ke taman. " Daniel memotong ucapan Via.

__ADS_1


"emm, maaf kupikir tuan tidur,hehe. Tapi saya sudah pamit ke Bi Lina kok. "Jelas Via.


"Tapi seharusnya kamu bilang dulu ke saya. "Ucap Daniel.


"Dia hanya jalan ke taman dekat rumah, anda tidak perlu khawatir. Via bukan anak kecil lagi. " Sepertinya Ivan mulai jengah.


"Saya tidak bicara denganmu. "Ucap Daniel.


Tuh kan mulai deh


Batin Via.


"em, bagaimana kalau kita jalan bersama. Biar tambah rame" Ucap Via mencoba mencairkan suasana.


"apa kamu pikir aku ada waktu untuk hal yang nggak penting seperti ini. " Ucap Daniel menatap tajam Via.


Duh iya deh iya, situ kan orang sibuk.


Gumam Via dalam hati.


"Ya sudah, kita lanjut jalan lagi ya tuan. " Ucap Via, sembari memberi kode kepada Ivan.


Ivan menatap Via kemudian beralih ke Daniel dan berlalu pergi meninggalkan pria yang tengah dirundung cemburu itu.


Apa..??


kenapa aku malah ditinggal sendiri. Bukankah aku majikannya..?? kenapa dia malah memilih dosen sok keren itu..?


Daniel bergumam tak jelas melihat kepergian gadisnya bersama Ivan.


"Kamu yakin nggak apa-apa Vi..?? " Ucap Ivan,membuat Via mengerutkan kening seraya tersenyum.


Ivanpun tersenyum.


"Kamu betah juga punya bos seperti dia. " Ucap Ivan.


"Yah mau gimana lagi pak, nyari kerjaan susah sekarang. Aku juga udah terlanjur sayang sama Kaniya. "Ucap Via.


" Coba saja dulu kita langsung kenalan, mungkin aku akan merekrutmu menjadi pengasuh Rania lebih dulu. " Ucap Ivan membuat Via terkekeh.


"Iya ya, bapak sih main pergi aja. " Ucap Via.


"sekarang udah terlambat. " Ucap Ivan.


"Tapikan kita sudah saling kenal sekarang pak. " Ucap via.


Ivan tersenyum.


"Iya, dunia ini sangat sempit ternyata. " ucap Ivan.


Hari pun semakin sore, dan mereka memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.


"Kamu yakin nggak mau aku anter. " Ucap Ivan yang kala itu memang membawa mobil.


"Enggak usah pak, terima kasih. Lagian deket aja, sekalian olahraga. " Ucap Via.

__ADS_1


"Ya udah kalau begitu, bye anak cantik." Ucap Ivan seraya menggoda Kaniya.


"Bye juga Rania. " Via pun juga menggoda Rania.


Mobil Ivan melaju meninggalkan Via yang masih berdiri didepan taman,sembari melambaikan tangan.


"sudah lihatnya..? " Ucap seseorang yang tiba-tiba berada di samping Via.


"Tuan, tuan belum pulang..? " Ucap via terkejut. Ia pikir Daniel sudah pulang, kenapa masih ada disini.


"emangnya nggak boleh..?? " Ucap Daniel sinis, Ia merasa kesal dengan Via karena mendengar obrolannya tadi bersama Ivan. Beraninya gadis itu mengatakan dirinya aneh,pikir Daniel.


"apa tuan dari tadi mengikuti kami..? " Ucap Via, ia takut jika Daniel mendengar obrolannya bersama Ivan tadi.


Daniel melirik Via.


"Ya, dan aku juga dengar kamu menyebutku aneh. "


Matilah aku.


Gumam Via dalam hati.


"ekh, heheh maaf tuan. " Ucap Via seraya tersenyum kuda.


"Udahlah ayo pulang. " Daniel kini mendorong stroller milik Kaniya dan berjalan pergi meninggalkan Via.


Yah ngambek deh, alamat kamu Via.


Gumam Via.



Hari-hari berlalu, kini pernikahan Daniel dan Via pun semakin dekat. Tentunya meraka sudah melakukan berbagai persiapan. Dan kini mereka berdua berada di butik langganan mama Ratih untuk fitting baju pengantin.


Via melihat pantulan dirinya dicermin besar yang berada di ruang ganti.


"Ini seriusan aku akan menikah...? " Gumamnya. Ia seakan tak percaya bahwa dua hari lagi dirinya akan menikah dengan Daniel. Ada rasa senang dalam dirinya tapi juga ada rasa sedih, ketika mengingat bahwa pernikahannya hanya sebatas perjanjian saja. Ia menghela nafas.


Ayah, bunda maafkan Via.


Gumam via dalam hati.


Tirai besar yang menjadi pembatas antara ruang ganti dan ruang tunggu itupun terbuka setelah karyawan butik memberi tahu kepada Via. Jantungnya berdebar ketika melihat sosok Daniel dengan setelan tuxedo berwarna abu-abu tua yang dikenakannya. Lelaki itu terlihat menawan dimata Via.


Pun dengan Daniel, pria itu juga terpesona dengan Via yang mengenakan gaun pengantin berwarna putih tersebut.


Keduanya saling menatap dalam diam, namun saling memuji didalam hati.


"Giamana tuan..? " Ucap Marcella pemilik butik tersebut.


"em, baiklah ini sudah cocok. " Ucap Daniel.


Setelah selesai fitting baju, mereka berduapun langsung menuju toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan.


Tak ada yang berbicara didalam mobil yang Daniel kendarai. Keduanya masih berada dalam suasana canggung. Hingga mobil yang mereka tumpangi sudah terparkir di halaman sebuah toko perhiasan.

__ADS_1


.


.


__ADS_2