
Sialan, kenapa harus kakak dari gadis kurang ajar itu sih.
Kalau begini pasti akan susah untuk mendekati cowok itu.
Gumam Regina,kesal.
Siapa tadi namanya..?? Niko..??
huh, aku tidak peduli jika dia kakak dari gadis kurang ajar itu, aku harus mendapatkan apa yang aku inginkan. Bagaimanapun caranya kau harus jadi milikku babe.
Regina menyeringai didepan cermin toilet.
Gadis itu merapikan make up dan penampilannya sebelum ia melangkah keluar.
Via menutup pintu mobil yang ia tumpangi dan melambaikan tangan pada Nina juga Niko, sebelum mobil itu melaju meninggalkan dirinya didepan gerbang rumah megah yang ia tinggali. Tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih karena sudah diantar pulang.
Via memasuki pekarangan rumah tersebut dan melihat mobil Daniel sudah terpakir disana.
Apa dia tidak ke kantor..?
Gumam Via dalam hati.
"enak banget kamu ya makan gaji buta. " ucap seseorang, seketika menghentikan langkah Via yang akan menaiki tangga menuju lantai dua.Via menoleh kebelakang.
"apa maksud kamu..? " ucap via.
"Udah merasa jadi nyonya kamu disini..?? jangan sok deh, kamu tuh sama aja disini kerja,jangan seenaknya aja. " ucap Sinta.
"maaf, tapi aku nggak ngerti maksud kamu apa..? " ucap Via.
"dasar bodoh..!! buat apa kamu kuliah kalok gitu aja nggak ngerti..!! kamu tau kan tugas kamu apa disini..?? Kamu malah seenaknya bangun siang terus pergi gitu aja ninggalin tugasmu...!!" suara Sinta semakin meninggi.
"Sinta..!! " Bi Lina datang dan melerai Sinta yang saat ini tengah memaki Via.
"Tidak sepatutnya kamu bicara seperti itu." ucap Bi Lina.
"Via, Non Kaniya tadi pagi demam setelah bangun tidur,dia terus saja menangis tidak mau di gendong siapapun, bahkan Tuan Daniel. " Bi Lina menjelaskan.
"ya ampun, " Ucap via seraya menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"maaf bi, aku tadi kesiangan bangun dan sudah hampir telat. " ucap Via khawatir.
"Ya sudah mending kamu cepetan keatas lihat kondisi Non Kaniya sekarang." ucap Bi Lina.
"Makanya kalok kerja tuh yang bener. " sinta menimpali, namun Via tak merespon Sinta. Ia berlari menaiki tangga menuju kamar Kaniya.
cekrek
Via membuka pintu kamar Kaniya.
Ssssttt
Daniel menempelkan jari telunjuknya di bibir,pertanda untuk jangan berisik.
Via berjalan mendekati Daniel yang sedang menggoyang-goyangkan box bayi, ia melihat Kaniya sudah terlelap dengan susu yang masih berada dimulutnya.
"Dia baru saja memejamkan matanya. " Ucap Daniel.
"Maafkan saya tuan, saya sangat ceroboh sekali. " Ucap Via seraya menunduk, ia sangat merasa bersalah atas kejadian ini.
"kamu ganti baju saja dulu" ucap Daniel.
Via pun mengangguk kemudian melangkah keluar dari kamar Kaniya menuju kamarnya. Dia merutuki dirinya yang begitu ceroboh.
__ADS_1
•
Malam harinya Via menjaga baby Kaniya, ia bahkan sampai ketiduran ketika sedang mengayun box bayi itu.
Daniel pun masuk untuk mengecek keadaan putri kecilnya, ia berhenti sesaat ketika membuka pintu dan melihat via yang tertidur dengan menyenderkan kepalanya dipembatas box.
Ia memandangi wajah gadisnya yang terlihat begitu lelah. Ia memang sedikit kesal dengan Via seharian ini. Bukan karena Kaniya demam, tapi karena tadi pagi gadis itu berangkat dengan dosen sok keren itu.
Aku harus bertindak lebih cepat.
Gumam Daniel.
Lelaki itu mengangkat tubuh Via, dan memindahkannya di kasur milik Kaniya yang berukuran queen. Ia menyibakkan rambut gadis itu yang menutupi muka.
Dipandanginya lekat wajah gadisnya tanpa ia sadari jarak wajahnya dengan wajah via hanya tinggal beberapa centi saja. Bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas Via yang teratur tanda gadis itu tertidur lelap.
Lelaki itu menarik kembali kepalanya ketika ia tersadar apa yang akan ia lakukan.
Aku tidak boleh melakukan ini, aku sudah berjanji padanya.
Gumamnya dalam hati sebelum ia keluar dari kamar tersebut.
Gadis berambut pirang itu mengerjapkan matanya ketika ia mendengar sayup suara anak kecil sedang berceloteh. Via terbangun dan seketika menghampiri box bayi yang ada di sebelah tempatnya tidur.
"Kaniya, kamu sudah bangun sayang." ucapnya tersenyum.
Ia menempelkan telapak tangannya di kening Kaniya, dan iya makin tersenyum senang mengetahui Kaniya sudah tidak demam.
"Syukurlah sudah tidak demam, " ucapnya.
"Kaniya haus..?? aku buatkan susu dulu ya sayang. " ucapnya, yang hanya di tanggapi dengan celotehan dari lawan bicaranya.
Via menoleh pada jam dinding yang ada di kamar tersebut.
Gumamnya.
Tunggu..
Bukankah aku semalam sedang mengayun Kaniya..?
Lalu kenapa aku tadi bangun dari kasur itu.
Pikirnya seraya menatap kasur queen milik Kaniya.
Sepertinya aku tertidur, lalu siapa yang memindahkanku.
Gadis itu berfikir sejenak.
Ah tidak mungkin Bi Lina, mana kuat dia mengangkatku atau..
tidak mungkin juga..
Pikirnya seraya menggelengkan kepala. Sangat tidak mungkin jika Sinta memindahkannya. Gadis itu bahkan memaki dirinya kemarin siang.
Via terbelalak seraya menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.
Mungkinkah..??
Gadis itu mengecek pakaian yang ia kenakan, ia berbafas lega karena pakaiannya masih lengkap.
•
Daniel Menuruni tangga rumahnya dengan pakaian yang sudah rapi.
__ADS_1
Hari ini ia akan berangkat lebih awal ke kantor, untuk menghadiri meeting penting yang ia tunda kemarin.
"Dimana Via dan Kaniya bi?" Ucapnya.
"Ada di halaman belakang tuan. " ucap Bi Lina.
Daniel berlari kecil menghampiri Via dan putrinya yang sedang melihat ikan di kolam kecil yang ada di halaman belakang rumah tersebut.
"Apa demamnya sudah turun..? "Ucap Daniel yang sudah berada di samping Via.
"owh tuan, sudah. Nih kaniya udah ketawa2 melihat ikan. " Ucap Via.
"Syukurlah. " ucap Daniel.
Daniel menempelkan telapak tangannya ke kening Kaniya.
"Emm, terima kasih, kemarin malam tuan sudah memindahkan saya. " ucap Via,seraya melihat ikan dikolam, ia tak berani untuk menatap Daniel. Ia malu juga merasa tak enak hati.
"memindahkan kemana..? " Ucap Daniel,membuat Via seketika menatap pria itu.
Jadi bukan dia..?
Gumam via dalam hati.
"Bukankah tuan yang memindahkan saya kekasur..?? " Ucap Via dengan terbata.
"Darimana kamu tahu kalau aku yang memindahkanmu..?? Bukankah kamu tidur..? " ucap Daniel, dalam hatinya menahan tawa melihat ekpresi gadis didepannya saat ini. Rupanya pria itu tengah menggoda Via.
"ekh itu, itu,...?? " Via berfikir sejenak.
"ya karena tidak mungkin jika Bi Lina yang menggendongku. " ucapnya.
"Gimana kalau Martin yang memindahkanmu..? " Ucap Daniel.
Via diam seraya menatap Daniel.
Apa mungkin Martin..?
Pikir gadis itu. Pasalnya kemarin malam Martin datang kerumah untuk membahas pekerjaan dengan Daniel.
"Sudahlah,aku akan kekantor. "Ucap Daniel.
mengejutkan Via.
"bye putri kecil daddy, jangan nakal sama baby sitter kesayangan daddy ya..?? " ucap Daniel membuat Via mengerutkan keningnya menatap Daniel yang sedang berbicara dengan Kaniya seraya membungkuk itu.
"Kenapa...?" Ucap Daniel setelah ia menegakkan kembali badannya dan membalas tatapan Via.
"maksud tuan apa..? " Via bertanya.
Namun Daniel hanya mengangkat bahunya sebelum iya berbalik dan masuk kedalam rumah meninggalkan Via yang tengah bingung dengan ucapan majikannya itu.
"Oh ya, Nanti malam kita akan kerumah utama. Kamu siap-siap, Kaniya juga. "Ucap Daniel sebelum ia benar-benar pergi meningglkan Via dan Kaniya.
Via tak habis pikir dengan majikannya itu. Semakin hari semakin tak jelas saja,pikirnya.
Apa dia sedang puber kedua..??
Gumam Via.
••••••••••••••••
__ADS_1