
Daniel saat ini tengah duduk di kursi kebesarannya di ruangan ceo. Pria itu tersenyum mengingat sesuatu yang menyenangkan. ya Via, gadis yang saat ini menjadi pengasuh putrinya. Gadis itu telah menyita pikiran seorang Daniel Arta Lubis. aah kenapa mengingat wajah via yang memerah membuatnya menjadi seperti orang gila. Rasanya ia cepat-cepat pulang ke rumah.
Seorang wanita memasuki ruangan Ceo setelah Daniel memencet tombol telpon di meja, menyuruh sekretarisnya masuk.
"Dewi, majukan pertemuan saya dengan mr. robert." ucap daniel kepada sekretarisnya.
"Baik pak. " ucap Dewi.
"untuk meeting hari ini Martin yang menggantikanku. " ucap daniel tegas.
"baik pak. " dewi membungguk kemudian keluar ruangan.
Ya sepertinya memang Daniel sudah gila. Gila dengan Via si gadis cantik pengasuh putri semata wayangnya.
Daniel meraih foto di atas mejanya. foto dirinya sendiri bersama Jasmine mendiang istrinya.
"sayang, maafkan aku. "
hanya itu yang di ucapkan daniel seraya mengelus bingkai foto tersebut.
•
Via memakan makanannya dengan lahap, gadis itu tak menghiraukan Nina yang kini menatapnya seraya menggelengkan kepala.
"lu kayak g makan seminggu aja vi. " ucap nina terheran-heran.
via hanya tersenyum hingga terlihat deretan giginya yang rapi.
"laper banget. " ucap via melanjutkan makannya.
"oh ya vi gimana kelanjutan lo sama si dosen ganteng...?" ucap nina antusias.
namun via hanya mengernyitkan dahinya seraya menatap nina.
"pak ivan,via" ucap nina.
"oh, ya gak gimana2 emangnya harus gimana...? " tanya lina seraya meminum air mineral miliknya.
Nina memutar bola matanya malas.
"ya kemarin kan pak ivan minta nomor lo, dia g ada telpon atau kirim pesan gitu?" ucap nina lagi.
"oooh itu. "
"kemarin dia kirim pesan sih, trus tanya aku ada kelas jam berapa. aku jawab pagi,udah gitu aja." jelas via.
"nggak ada lanjutan lain lagi. " tanya nina
"enggak." jawab via.
Nina menghela nafas seraya menggelengkan kepalanya. ia yakin sahabatnya ini terlalu cuek kepada pak ivan. Kalau saja dirinya yang mendapat pesan dari pak ivan pasti sudah berjingkrak-jingkrak ria.
ting
satu pesan masuk ke ponsel via, ia meraih ponsel yang berada di atas meja di depannya saat ini.
ivan
keruanganku sekarang.
__ADS_1
Via mengernyitkan dahinya.
"siapa. " tanya Nina
"pak ivan nyuruh aku ke ruangannya. " jawab via.
"ya udah buruan sana, jangan nolak rejeki. " ucap nina, via mengernyitkan dahinya.
"rejeki apaan dah." ucap via bingung.
"ck, udah deh buruan sana. "Nina memaksa via berdiri dan mendorongnya untuk segera melangkah pergi.
tok tok tok
via mengetuk pintu ruangan Ivan.
"masuk. " sahut suara dari dalam.
"Bapak panggil saya. " tanya via setelah ia masuk ke dalam ruangan ivan.
"duduk dulu." ucap ivan tersenyum,ia berdiri dan mendekat ke arah kulkas mini yang berada di samping rak buku.
Gadis itu duduk di sofa panjang di ikuti ivan yang juga duduk di sofa single depan via dengan meja sebagai pembatas.Ivan meletakkan minuman kaleng yang ia ambil dari dakam kulkas mini tersebutdi meja.
"minumlah. " ucap ivan seraya tersenyum.
"Bapak ada perlu apa panggil saya. " tanya via tanpa menatap Ivan.
"nggak papa, cuma pengen ngobrol sebentar sama kamu. " jawab ivan tersenyum.
"ngobrol apa ya pak?" tanya via lagi.
via tersenyum kikuk.
"Tapi rasanya nggak sopan pak. " jawab via.
"ayolah via, jangan menganggapku seperti itu. kita bisa jadi teman bukan..? umurku baru 26 tahun. kau bisa memanggilku kak atau apalah itu. " jelas ivan
"i-iya pak tapi. " via bingung mau menjawab apa. ia merasa tak enak hati kalau memanggil dosennya tersebut dengan sebutan kak atau malah memanggil namanya saja.
"ya sudah deh terserah kamu saja. " ucap ivan seraya membuka penutup kaleng minuman tersebut.
"kamu nanti pulang jam berapa. " tanya ivan setelah menenggak minuman kaleng yang ia pegang.
"saya akan ada satu kelas lagi kemudian baru pulang pak. " jawab via.
"aku antar kamu pulang." jawab ivan tanpa basa basi.
"tidak usah pak saya akan pulang dengan teman saya. " jawab via.
"Bukankah sekarang kita berteman. " ucap ivan.
"iya tapi beneran bapak nggak perlu repot-repot antar saya. "
"oke oke aku mengalah lagi sekarang. " ucap ivan seraya mengangguk.
padahal ia ingin sekali lebih dekat dengan via. tapi ia turuti saja gadis di depannya ini. ia tak mau memaksa kehendak agar via tidak merasa kurang nyaman terhadapnya.
Via keluar dari ruangan setelah ia melihat jam yang menunjukan kelas kedua nya hari ini akan di mulai. ia menjadi lebih akrab dengan ivan setelah mengobrol panjang lebar. bercerita lelucon yang membuat keduanya saling tertawa hingga via melupakan sahabat imutnya yang tengah menunggu di dalam kelas.
__ADS_1
Nina memanyunkan bibirnya seraya bersedekap tangan duduk di kursi kelas. Gadis itu menggerutu rak jelas.
"awas saja nanti kalau datang. " gerutu gadis itu.
"kenapa dah tuh bibir. bisa lebih maju 10 centi gitu. awas ntar di cium lalat. " ejek via seraya duduk di sebelah nina.
"masih inget juga lu ya kalok ada kelas. gw pikir lu bakalan nginep di ruangan dosen ganteng itu. " ucap nina.
via hanya terkekeh melihat sahabatnya ini.
"iya iya maaf deh." ucap via. ia terus saja menggoda nina yang sedang kesal dengannya.
Nina memang menggemaskan kalau sedang marah pantas saja kak Niko selalu menggoda gadis di hadapannya ini. pikir via.
brak
pukulan meja di depan via saat ini duduk membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut, termasuk via yang tengah asik menggoda nina.
Via menoleh dan mendapati si bunga kampus sudah berdiri di depannya bersama dua temannya di belakang Regina.
"heh gadis miskin. ello tadi ngapain di ruangan pak ivan..? lo ngerayu pak ivan ya.? " ucap regina kasar.
"heh llo bisa baik-baik nggak ngomongnya nggak usah nyolot. " ucap Nina seraya berdiri. ia tak terima ada yang membentak sahabatnya apalagi menyebut via gadis miskin. sedangkan via reflek memegang tangan Nina menyuruh gadis itu untuk duduk kembali.
"gw nggak ngomong sama ello ya." ucap regina menatap tajam Nina.
"gw ngomong sama jalang ini yang mencoba ngerayu pak ivan. " lagi-lagi regina menuduh via membuat amarah Nina semakin memuncak.
"heh jaga tuh mulut sampah llo. Via nggak kayak ello,dia gadis baik-baik. " ucap Nina semakin emosi.
"udah Na ga usah di tanggepin. " ucap via seraya berdiri.
"emangnya kenapa gw..? gw gadis terhormat nggak kayak temen jalang llo ini yang miskin. " ucap regina menatap sinis via.
"jangan llo pikir gw nggak tau kelakuan llo di luar kampus kek gimana,Regina. apa perlu gw bongkar sekarang. " ucap Nina. gadis itu benar-benar marah.
"maksud lo apa..? " ucap regina.
''huh, lebih baik lo pergi dari sini sebelum gw bongkar kebusukan llo. " ucap Nina.
"gw juga tau apa yang llo lakuin di rumah om Roni waktu itu" kali ini Nina berbisik di dekat telinga regina. seketika itu regina membelalakkan kedua matanya.
"awas ya lo. " ucap regina seraya menatap Nina dan via bergantian sebelum melenggang pergi. Nina hanya tersenyum sinis melihat kepergian Regina. Untung ia punya senjata ampuh untuk membungkam mulut sampah gadis sok cantik itu.
flash back on
Nina tengah berjalan seorang diri di trotoar, ia baru saja membeli beberapa snack di supermarket tak jauh dari rumahnya. Nina tinggal di komplek perumahan elit. Saat sudah memasuki perumahan elit tempatnya tinggal ia melihat Regina dan om roni tetangga rumahnya turun dari mobil. Regina memakai pakaian kurang bahan yang melekat di tubuh gadis itu hingga menampilkan bentuk tubuh dan sedikit belahan buah dadanya.
Nina mempertajam penglihatannya, ia tak salah lihat kan..? itu Regina si bunga kampus. ngapain dia di rumah om Roni.
Akhirnya nina mengikuti mereka,Nina masuk kedalam pekarangan rumah tetangganya itu dengan mengendap-endap.
Ia mengintip ke dalam rumah melalui pintu yang tak tertutup sempurna.Gadis itu membelalakkan kedua matanya melihat pemandangan yang ada di dalam rumah tersebut.
Regina dan om Roni sedang bercumbu mesra di atas sofa. Lelaki paruh baya tersebut sedang menikmati dua buah benda kenyal milik regina.Gaun yang di pakai regina pun sudah merosot hingga perut,penutup payudaranya sudah di lepas hingga tubuh bagian atas regina yang mulus terpampang jelas. Regina mendesah tak karuan merasakan lidah om roni yang menjelajah menghisap pucuk payudaranya.Gadis itu semakin mengerang ketika tangan Roni memainkan bagian bawah tubuhnya di area sensitif.
Nina membalikkan badannya,ia segera keluar dari pekarangan tetangganya itu. Matanya tak kuat melihat pemandangan yang menjijikkan itu baginya. ia tak menyangka Regina yang cantik dan di kagumi banyak lelaki di kampus ternyata berkelakuan seperti itu. Padahal om Roni memiliki istri yang cantik dan baik, kenapa ia setega itu selingkuh di belakang istrinya. Nina tersenyum sinis seraya menggelengkan kepala. Mereka sungguh menjijikkan.
flash back off.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀