
Via POV
Kau membawaku terbang tinggi untuk kemudian kau jatuhkanku di bebatuan yang terjal.
Mungkin kata-kata itu yang bisa menggambarkan perasaanku saat ini. Aku tak tahu mengapa hatiku terasa sakit ketika mendengar dia mengucapkan alasannya menikahiku.
Ingatanku masih berputar-putar dikepala tentang kejadian semalam, tentang perjanjian yang ku sepakati dengannya.
perjanjian..??
Huh, aku tertawa sarkas untuk diriku sendiri.
Takdir yang kujalani terasa berbeda dari orang lain. Bahkan Tuhan tak memberikanku pernikahan yang seperti orang lain lakukan. Pernikahan yang didasari oleh cinta.
Hey, bangun Via..!!
Kamu bukanlah seorang tuan putri atau Cinderella di negeri dongeng. Kamu hanyalah gadis malang yang harus bertahan hidup demi cita-cita yang kau perjuangkan selama ini, demi keinginan kedua orang tuamu sebelum mereka meninggalkanmu di dunia yang kejam ini. Mungkin kau terlalu baik hingga orang lain bisa dengan mudah memanfaatkanmu. Meskipun kamu yang harus berkorban untuknya. aku merutuki diriku sendiri yang berharap mempunyai takdir yang lebih baik.
Entah mengapa aku menerima tawaran majikan anehku itu. Padahal bisa saja aku menolak dan bersikap bodo amat dengannya, tapi didalam hatiku seperti ada yang mendorong untuk menerimanya.
Aku memejamkan mataku menghirup udara sebanyak mungkin dan menghembuskannya secara pelan. Semilir angin yang menerpaku membuatku menjadi lebih rileks dari sebelumnya. Mencoba membuang pikiran yang berseliweran di kepalaku dan menikmati suasana di belakang kampus,duduk dibawah pohon rindang seperti sekarang ini.
"sepertinya kamu sangat menikmati suasananya..? "Ucap seseorang yang tak asing bagiku. Aku membuka mataku, dan menemukan sosok laki-laki tampan yang sudah berdiri didepanku.
"Anginnya sangat sejuk sekali." ucapku pada pak Ivan.
Lelaki itu duduk disebelahku.
"Maka aku akan mencoba menikmati angin yang sejuk ini. " ucapnya seraya menyenderkan punggungnya di senderan kursi taman dan memejamkan kedua mata sembari bersidekap tangan.
"Apa bapak tidak ada kelas..?? " Tanyaku menatapnya.
"tiga puluh menit lagi. " ucapnya tanpa membuka mata.
Aku hanya mengangguk saja, lalu kupandangi lelaki di sebelahku ini yang terlihat begitu letih. Sepertinya menjadi seorang dosen tidak semudah yang kubayangkan, pikirku.
"Jangan memandangiku seperti itu, kau bisa jatuh cinta denganku. " Ucapnya, kemudian membuka kedua matanya untuk membalas tatapanku. Kedua manik kami bertemu.
"bbbbff hahahah " aku tak bisa menahan tawaku.
"Bapak bisa aja deh. " ucapku padanya. Ku lihat dia mengernyitkan keningnya sembari terus menatapku yang sedang tertawa.
"maaf, maaf. ternyata bapak bisa juga gombal ya. " Ucapku.
Lelaki itu tak merespon ucapanku sama sekali.
"Apa yang kamu lakukan disini..? " Ucapnya.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya menikmati angin. " Jawabku.
"Apa kamu punya begitu banyak waktu luang hingga dengan santainya kamu menikmati angin?"Ucapnya.
Aku terkekeh mendengarnya.
"tiga puluh menit lagi, aku akan menuju kelas bapak. " jawabku.
"Sepertinya bapak begitu lelah..? " aku bertanya padanya.
"sedikit. " jawabnya
•
Author POV
Ivan memandangi Via yang tengah tertawa.
Lucu
Batin ivan.
Andai saja kau tahu,aku sangat berharap itu.
Gumam Ivan dalam hati ketika mendengar ucapan Via yang menyebutnya gombal.
"Dia baik-baik saja." Ucap Ivan.
"Mungkin Rania sedang menunggu seseorang menepati janjinya, untuk piknik bersama. " Imbuhnya lagi.
"owh iya, aku lupa. " Ucap Via seraya tersenyum kuda.
"Tapi gimana ya..?? " Via terlihat memikirkan sesuatu, jari telunjuknya memukul-mukul dagunya.
"Gimana kalau kita ketaman yang ada di dekat rumah aja,lebih dekat. " Ucap Via.
"emm boleh. " Ivan mengangguk
"sip,,, Nanti sore kita ketemu di taman. Pasti Kaniya seneng ketemu temen baru. " Ucap Via tersenyum.
Ketika obrolan mereka berdua di dalam mobil Ivan waktu itu, Via baru mengetahui kalau rumah Ivan dan tempat tinggalnya saat ini tidak jauh. Bumi ini sangat kecil ternyata.
•
Daniel terlihat sibuk di ruangannya bersama dengan Martin, mengurus pekerjaan yang tiada habisnya. Tiba-tiba saja pintunya terbuka dan menampilkan sosok Rose berjalan mendekat, diikuti oleh Dewi, sekretaris Daniel yang terlihat gugup.
"Ma, maaf tuan nona ini memaksa masuk. " Ucapnya terbata.
__ADS_1
Daniel menghela nafas, kemudian mengangguk kepada Dewi, menyuruhnya keluar.
"ada apa kau kemari. " Ucap Daniel kepada Rose.
Rose membuka kaca mata hitamnya.
"Aku mau bicara sama kamu. " Ucapnya.
"Bicaralah. " Daniel menyenderkan punggungnya disenderan kursi.
Rose bergeming, ia menatap Martin yang masih berdiri di sebelah Daniel.
"Martin,tak akan kemana-mana. Jadi cepat katakan apa yang mau kau katakan. " Daniel seakan tahu maksud Rose menatap Martin.
Ck
Wanita itu berdecak, kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Mencari sesuatu yang barusan didapatnya sebelum menemui Daniel.
"Aku punya sesuatu untukmu. " Ucap Rose menyodorkan ponselnya.
Daniel menatap ponsel tersebut.
"Lihatlah. "Ucap Rose kembali.
Daniel mengambil ponsel milik Rose dan melihat apa yang wanita itu ingin tunjukkan padanya.
Lelaki itu menatap tajam foto yang ada didalam ponsel tersebut. Rahangnya mengeras,tangannya mengepal menahan amarah. Foto gadisnya bersama seorang lelaki yang tak asing baginya sedang tertawa.
Via terlihat bahagia didalam foto tersebut. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Via tak sebahagia itu saat bersama dirinya. Rahangnya semakin mengeras mengingat hal itu.
"Gimana..?? Kau suka..? " Ucap Rose seraya tersenyum.
Daniel tak merespon,ia meletakkan ponsel Rose keatas meja.
"Huh, Daniel, Daniel... wanita itu cuman polos luarnya saja. Dalamnya.,"
"Sudah..?? Kalau sudah silahkan pergi. " Daniel memotong ucapan Rose.
"Baiklah aku akan pergi." Ucap Rose.
"Dan aku juga akan kembali lagi nanti. " imbuhnya sembari mengambil ponselnya dimeja Daniel.
"Nikamati harimu sayang. "Ucapnya menatap Daniel. Gadis itu memakai kaca mata hitamnya kemudian melenggang pergi meninggalkan ruangan Daniel.
Ia sangat puas dengan apa yang didapatnya hari ini. Tak sia-sia ia pergi kekampus yang dinaungi oleh perusahaan papanya itu. Ia melihat gadis yang disebut calon istri oleh lelaki pujaannya sedang berduaan dengan lelaki lain. Ia pun tak mau melewatkan kesempatan emas itu dan langsung membedik pemandangan yang ia lihat itu dengan kamera diponselnya.
Dan Rose pun semakin tersenyum miring melihat reaksi Daniel dengan hasil potretannya. Lelaki itu terlihat sedang menahan gejolak di dalam dirinya, walaupun ia berusaha menutupi,tapi masih terlihat jelas di mata Rose jika Daniel sangat marah.
__ADS_1