
Malam pertama tidur bersama. Jangan tanyakan bagaimana detak jantung Sinar, berharap sang Surya segera memancarkan silau fajarnya.
Suara dengkuran halus dari orang disampingnya yang menandakan dia sudah tertidur terdengar seperti melodi yang membuat kantuk Sinar semakin menyerang, yang tadinya hanya pura-pura setelah meyakinkan diri semua akan baik-baik saja tidak akan terjadi apa-apa dan akhirnya ikut tertidur.
Kedua insan itu tidur dengan nyenyak, tanpa mereka sadari mereka berpelukan dan malam syahdu itu menjadi saksi bahwa keduanya sudah terikat dengan ikatan yang kuat.
Pelukan hangat itu tidak berlangsung sampai mata keduanya terbuka. Bagaimana hebohnya mereka jika bangun tidur masih dalam posisi yang sangat dekat seperti itu.
.
.
.
Sang Surya sudah menampakkan sinar fajarnya, seorang gadis sudah bangun dari tidurnya. Mamastikan tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya semakin membuat dia bersemangat untuk memulai misinya. Semangat Sinar dipagi hari ini dimulai dengan menyiapkan semua yang diperlukan suaminya.
"Semangat", menyemangati diri sendiri
"hmm", deheman dari makhluk yang masih berada diatas tempat tidur
"eh Sudah bangun yaa, aku sudah siapkan air mandi, mau aku mandiin",
tanya Sinar yang membuat mata sang Raja membulat sempurna, bagaimana tidak kata "mandiin" keluar saja dari mulut gadis perawan yang dianggapnya bocah itu.
"perhatikan ucapanmu", bangun dan langsung pergi ke kamar mandi tanpa melihat kebingungan di wajah istri kecilnya
"ucapan yang mana, aku cuma bilang mau mandiin", gumam Sinar
setalah dia pikirkan maksud suaminya "perhatikan ucapanmu" baru dia sadar kata "mandiin" itu yang salah, malu sudah pasti bagaimana seorang gadis yang menawarkan diri memandikan bayi besar.
__ADS_1
"oh tidak, malunya", rutuk Sinar
Duduk dengan manis menunggu sang suami yang masih melakukan ritual mandinya entah berapa lama.
"lama juga si Master Kanebo mandi", gumam Sinar,
"siapa Master Kanebo", tanya sang tuan muda dengan menyelidiki
"eh anda sudah selesai, mau saya bantu pakaikan pakaian", bertanya tapi tujuannya untuk mengalihkan pertanyaan Tuan Zion
"Jawab",
"Maaf", lirih Sinar
"Perhatikan ucapanmu", Zion
"iya", sambil tertunduk.
Saat dia sibuk dengan aktivitasnya terdengar suara deringan ponsel, itu bukan deringan ponselnya, jika bukan ponselnya sudah pasti deringan ponsel Sinar, nada dering bunyi berkicau
"dasar bocah", guman Zion
Melihat tidak ada pergerakan dari Sinar, Zion yakin gadis itu tidak berani mengangkat ponselnya
"Angkat",
"Iya, terimakasih", jawab Sinar
Melihat siapa yang menelpon, senyuman gadis itu semakin merekah,
__ADS_1
"Selamat pagi kesayangannya Sinar", langsung menyapa duluan setelah mengangkat panggilan itu
"ternyata masih jadi kesayangan, kakak kira sudah tersisihkan", balas Gio
Itu adalah panggilan telpon dari Gio, kakak Sinar, rindu kepada adiknya sampai lupa kalau waktu dia menelpon adalah waktu orang-orang bersiap untuk memulai aktivitas masing-masing.
"masih kakakku yang kalah tampan",
"memangnya siapa yang lebih tampan dariku", tanya Gio yang tidak terima dikatakan kalah tampan
"Master kanebo ku", jawab Sinar tanpa sadar kalau Master Kanebo yang dia maksud masih berada di kamar itu
"hmmm", deheman penuh intimidasi
"eh sudah dulu ya kak, semoga hari kakak selalu bersinar",
menutup telpon secara sepihak tanpa tau balasan dari kakaknya, padahal yang diujung telepon sana ingin bertanya siapa yang dimaksud Master Kanebo. beberapa menit berfikir akhirnya sadar juga siapa Master Kanebo yang dimaksud adiknya, membuatnya tertawa dan menyadari kesalahannya menelpon diwaktu yang tidak tepat.
"oh astaga, akibat rindu tak mengenal waktu", sesal Gio
Berbeda dengan Gio yang menyesal diseberang sana, keadaan dikamar mewah tuan muda Zion saat ini semakin mencekam, deheman intimidasi dan tatapan tajam yang siap menerkam mangsanya membuat gadis itu ketakutan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.