Sinar Untuk Zion

Sinar Untuk Zion
Rumah tua


__ADS_3

"Kita mau kemana bu ?", tanya Sinar


"Kita akan ketempat masa kecil ibu",


"Berarti aku akan ketempat masa kecil bunda",


Kaget mendengar apa yang dikatakan Sinar, namun beberapa detik kemudian dia sadar kalau anaknya ini sudah tau semuanya


"hah, kamu sudah tau yaa", tersenyum


"Aku tau, dan aku juga tau ibu akan menculikku", jawab Sinar dengan enteng


"Ternyata kau sangat berani", Sinis Dwi


"Tapi ibu harus tau, aku menyayangi ibu walaupun ibu bukan ibu kandungku",


"Aku tau itu, tapi karena kau aku tidak memiliki anak dan tidak pernah mendapatkan cinta suamiku", bentak ibu Dwi


"Karena ibu bukan istri ayah", mencoba menyadarkan isi pikiran dan hati Ibunya

__ADS_1


"Aku akan mengikuti apa yang ibu inginkan, tapi aku mohon jangan sakiti anakku", pinta Sinar


"Jangan lari",


"Aku tidak akan lari, aku tau mereka pasti akan menjemputku", berkata sambil tersenyum


Mendengar apa yang dikatakan Sinar membuat Dwi tersenyum. Karena kedatangan Pramudya adalah hal yang utama baginya, karena disaat itulah dia akan meminta apa yang dia inginkan. Mau tidak mau Pramudya harus mengabulkannya.


Sampailah mereka disebuah tempat yang sudah menjadi hutan, dan didalam hutan itu ada sebuah rumah tua. Rumah penuh kenangan kasih keluarga sederhana dan dua anak kembarnya.


Sampai mereka ditempat itu, ada warga yang menanyakan kedatangan mereka. Dengan mudah Dwi mengatakan itu adalah tanahnya dan menunjukkan bukti kepemilikan, sehingga mereka bisa masuk tanpa dicurigai. Sinar yang berada disamping ibunya tidak terlihat seperti seorang sandera, dia menunjukkan senyum manisnya.


"Aku mengikuti semua kemauan mu bu, aku bisa merasakan kalau kau tulus menyayangiku, aku juga sangat menyayangimu. Aku tau setelah kau mendapatkan apa yang kau inginkan entah cepat atau lambat kau juga akan tetap membu**h ku, karena aku adalah penghalang kebahagiaanmu", batin Sinar


Berjalan kearah rumah tua yang berada jauh didalam, jauh dari jangkauan orang-orang. Sehingga orang-orang mengira rumah itu sudah tidak ada karena ditutupi pohon-pohon, semak-semak yang sudah meninggi.


Sinar dan Dwi di jaga para anak buah pribadi Dwi. Mereka menjaga dia dan sudah berjanji akan setia kepadanya. Pengawal yang sudah dia persiapkan sejak dulu. Dia mengambil dan memberikan pekerjaan kepada para mantan napi yang tidak diterima keluarga ataupun tempat mereka menjadi pengawal pribadinya dan dia memberikan fasilitas untuk mereka berlatih sebagai pengawal yang hebat, tentu saja biaya itu dia dapatkan dari uang bulanan dari tuan Pramudya. Para pengawal itu terdiri dari laki-laki dan perempuan.


Sampailah mereka dirumah tua, rumah penuh kenangan dua gadis kembar, rumah yang juga menjadi tempat awal kebencian Dwi kepada saudara kembarnya Dewi.

__ADS_1


"Bawa dia", perintah Dwi


"Baik nyonya",


Para pengawal itu langsung membawa Sinar masuk didalam tepatnya diruang dapur Keluarga, mereka sudah tau apa yang harus mereka lakukan. Tidak perduli bagaimana Sinar memohon agar tidak dipasung. Yang mereka tau mereka hanya mendengarkan perintah dari nyonya mereka.


"Ibu, jangan pasung aku", teriak Sinar berulang kali


Dwi tidak memperdulikan teriakan Sinar dari arah dapur yang sudah dipasung, dia langsung masuk ke kamarnya, kamar yang sudah dibersihkan pengawal wanitanya.


Tapi sebelum masuk dia berpesan kepada para anak buahnya


"Biarkan saja dia terus berteriak, nanti dia akan lelah sendiri. Dan jangan lupa berikan dia makan cukup satu kali dalam sehari"


Dwi tetap memberikan Sinar makan, karena dia tidak mau Sinar mati sebelum kedatangan Pramudya. Tentang anak dalam kandungan Sinar dia tidak perduli. Sekalipun itu adalah calon pewaris dari keluarga Elmer.


"Awalnya aku ingin membunuhmu dirumah ini , tapi siapa sangka jalan membunuhmu dirumah sakit jauh lebih mudah, tempat ini akan menjadi tempat akhir anakmu setelah aku mendapatkan apa yang aku inginkan ataupun tidak mendapatkannya"


.

__ADS_1


.


__ADS_2