
"Cepat katakan dimana Sinar ku", bentak tuan Pramudya
"Sayang, masuklah dulu. Apa kau tidak merindukan suasana didalam rumah ini ?", menggandeng tangan Pramudya dan membawanya ke dalam.
Melihat tuan Pramudya yang mengikuti saja kemauan Dwi, akhirnya mereka semua memutuskan untuk masuk kedalam.
Begitu mereka masuk kedalam, mereka masih bisa merasakan bagaimana nyamannya rumah itu dulu.
"Apa yang kau inginkan Dwi ?", tanya tuan Elmer dengan lembut
"Aku tidak menginginkan apapun darimu Zigaz", jawab Dwi yang menatap tuan Pramudya, sedangkan tuan Pramudya hanya mengacuhkannya .
"Walaupun kau tidak menginginkan apapun dariku, tapi sekarang kau berurusan denganku" tegas tuan Elmer
"Aku tidak perduli",
Zion yang sudah tidak sabar lagi akhirnya mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya kearah Dwi
"Katakan dimana istriku",
"Silahkan saja kau menembakku, karena saat tembakkan itu mengenaiku, bukan hanya kematian ku yang kau lihta, tapi suara jeritan terkahir istrimu yang akan kau dengar", ucap Dwi
Mau tidak mau Zion langsung menurunkan senjatanya.
"Katakan apa maumu ?",
__ADS_1
"Aku hanya ingin kau", jelas Dwi
"Cih, sampai kapanpun kau tidak akan mendapatkannya", sinis tuan Pramudya
"Hei, kau itu sudah tua, seharusnya kau menyiapkan amalan baik untuk menemanimu dikubur nanti", sambung tuan Win
"Diam kau", bentak Dwi
"Aku tidak bisa diam melihat tingkah konyol mu itu, sudah tua masih juga mengejar cinta aki-aki", lanjut tuan Win
"Sudah ku katakan Diam, atau karena dirimu mereka akan mendengar suara jeritan seseorang yang dicarinya", sinis Dwi
Ingin membalas lagi ucapan Dwi, tapi pak Win tidak berani, karena dia sudah mendapatkan ancaman dari tuan Elmer melalui sorot matanya.
"Cepat katakan apa maumu", bentak tuan Pramudya, dia sudah tidak sabar untuk bertemu anaknya, walau baru sehari anaknya bersama wanita itu tapi dia yakin waktu sehari itu sudah sangat menderita untuk anaknya
Bwhahahaha
Tidka perduli dengan tatapan tajam dari semua orang Pak Win tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Dwi, tidak sampai disitu dia kembali bersuara
"Hei wanita tua, kau minta dinikahi ?, oh ya ampun aku membayangkan bagaimana malam pertama kalian, seorang aki-aki dan wanita tua", semakin tertawa dan kembali lagi bersuara
"Mudya, apa punyamu masih bisa berdiri ?, kalaupun masih bisa dan tetap menancap kau tidak akan bisa hamil lagi Dwi, aku yakin kau sudah menopause", semakin tertawa
Mendengar itu membuat Dwi merasa malu, tapi dia sudah tidak memikirkan rasa malunya itu.
__ADS_1
"Kak Zion"
Suara teriakan Sinar, teriakan yang menandakan pemilik suara itu mendapatkan penyiksaan.
"Sekali lagi kau menghinaku...
Belum selesai perkataan Dwi, Zion langsung menodongkan kembali senjatanya, begitu juga tuan Elmer, Pramudya, Agas, Won, Win, Walt dan Daren.
Ketakutan pasti dirasakan Dwi, tapi Dwi yakin mereka tidak akan melakukan apapun padanya, sehingga dia masih berusaha memperlihatkan sikap santainya.
"Lakukanlah, kepergianku berarti kepergian Sinar",
"Anda tahu nyonya, saya tidak akan membiarkan orang yang sudah menyakiti istriku hidup dengan tenang", menyeringai
"Sepertinya kau lupa dengan siapa kau berurusan", Sini Agas
Setelah Agas mengatakan itu, Walt langsung mengambil bagiannya, memberikan arahan kepada anak buahnya untuk langsung bergerak.
Kaget dan semakin ketakutan itulah yang dirasakan Dwi, dia tidak menyadari ternyata para pengawal yang sedari tadi mengawasi mereka diluar dan yang berada disampingnya sudah berganti dengan anak buah Walt.
Tapi dia masih merasa aman, karena dia yakin anak buahnya yang berada bersama Sinar masih anak buahnya, terbukti dengan suara jeritan kesakitan Sinar yang mereka dengar tadi karena cambukkan.
.
.
__ADS_1
.