
"Selamat pagi sayang",
"hmmm", mengecup bi**r Istrinya
"Kita sudah ditunggu sepertinya", melihat arah jarum jam
"hmmm", Menggandeng tangan Sinar
Tujuan mereka adalah meja makan, benar saja kata Sinar kalau mereka sudah ditunggu.
"Bagaimana kak, nyenyak tidurnya ?", bertanya dengan senyuman mengejek
Melihat senyuman adiknya, Zion sudah yakin kalau mereka sudah tau kalau Istrinya tak mau tidur bersama dengannya.
"Apapun untuk istriku akan aku lakukan", menci*m pipi Sinar
"Tidak perlu kau ci*m pipi istrimu didepan kami semua", ketus Ziran
"Sudah selesai berdebat", tanya tuan Elmer
Mendengar pertanyaan dari ayahnya, Zion dan Ziran akhirnya diam. Sedingin-dinginnya seorang Zion jika berhadapan dengan ayahnya dia akan tetap menjadi seorang anak, anak yang memiliki rasa segan, takut kepada ayahnya.
Walaupun mereka sudah tidak berdebat lagi, bukan berarti meja makan akan menjadi sunyi. Tetap ada percakapan hangat disana.
"Sayang, kapan kamu pergi periksa kandungan", tanya tuan Elmer
__ADS_1
"Dia istriku, ayah tidak boleh memanggilnya begitu", protes Zion
"Belum ayah aku ingin ditemani Ibu", jawab Sinar
Mendengar permintaan Sinar, seketika membuat tuan Elmer teringat seseorang
(aku ingin pergi ditemani ibu)
"Ayah, kenapa melamun ?", tanya Ibu Widya
"Tidak apa-apa, hanya suka saja", jawaban tidak masuk akal
Jika yang lainnya menerima begitu saja dengan jawaban tuan Elmer, lain halnya dengan putra laki-lakinya itu. Melihat tatapan Zion kepadanya, akhirnya tuan Elmer memutuskan untuk mengatakan semuanya kepada Zion dan tentunya akan ada ayah mertuanya, paman Agas, pak Won dan paman Win adik paman Won (ayah Daren).
"Nanti kita bicarakan", tuan Elmer
"Ruang kerja ayah",
"Baik",
"Walt dan Daren juga akan hadir", tuan Elmer
Mendengar dua orang itu juga akan hadir membuat Zion semakin bertanya-tanya, apa sebenarnya yang akan disampaikan.
"Aku juga ikut ya ayah", punya Ziran
__ADS_1
"Tidak, kau temani kakak iparmu",
Mendengar permintaannya ditolak, Ziran hanya pasrah. Dia senang menemani kakak iparnya. Tapi dia juga merasa takut, takut akan terus merasai Durian. Karena selama beberapa hari dirumah ini kakak iparnya selalu meminta dibelikan Durian dan yang akan memakannya dia dan ayahnya. Setelah Pak Won memberi tahu bahwa perilaku nyonya mudanya itu sudah berlaku waktu masih di rumah pribadi Zion, dan yang memakan Durian itu adalah para pelayan yang anti dengan Durian.
"Sayang, Kenapa paman Won ada disini dan aku juga lihat para pelayan dirumah pribadi kamu juga ada disini ?", tanah Sinar
"Sesuai permintaan kamu sayang, rumah itu sudah aku robohkan", tersenyum melihat istrinya
"Oh, nanti tanahnya kamu tanam bibit durian yaa. Biar nanti ngga usah beli lagi", pinta Sinar dengan semangat
Mendengar permintaan Sinar, membuat Zion, ayahnya dan Ziran menjadi merinding, buah yang begitu mereka jauhi ternyata buah itu yang akan menjadi tanaman buah pertama dengan bibit terbanyak yang akan mereka tanam.
"Boleh sayang, ibu yang akan mengawasi penanaman bibitnya nanti", semangat Ibu Widya
"Ibu, aku ingin bukan hanya ibu, tapi aku ingin kalian semua", sudah berderai air mata
"Apa kalian tidak dengar", ibu Widya menatap suami dan anak-anaknya
"Iya sayang, kami akan mengurusnya", Zion
Mendengar itu membuat Sinar tersenyum lebar, mereka yang tadi merasa memikul beban berat karena Durian menjadi ikut tersenyum juga.
.
.
__ADS_1
.