
Tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Sinar.
"Tu-tuan", lirih Sinar
"Jangan menyentuhku dengan tangan kotormu itu",
"Harus kau ingat, disini tugasmu adalah melayaniku, dan kau sudah tidak ku Izinkan kuliah dan keluar dari rumah ini. Perjalanan terjauh yang akan kau tempuh hanya ketika bersamaku, dan Ponsel mu ku sita. Untuk kau menghubungi keluargamu kau hanya boleh memaki telepon rumah jika kau masih memiliki keberanian menghadapiku",
Setelah mengatakan itu Zion pergi begitu saja membuka pintu kamar dan menutupnya dengan kasar. Meninggalkan Sinar yang langsung terduduk dilantai dengan deraian air mata.
"Apa yang terjadi Kak, kenapa kakak berubah seperti ini",
"Apa kesalahan yang ku perbuat hingga kakak memperlakukan aku sekejam ini",
"Beritahu aku kak, agar aku bisa memperbaiki kesalahanku",
"Aku mencintaimu kak Zion, kenapa begini",
"Dimana sudah kasih sayang kak Zion yang kakak berikan kepadaku, kenapa sekarang kasih itu hilang tanpa bekas",
"Kenapa yang tertinggal hanya bekas tamparan ini",
"Kemana kasih itu, kemana kak Zion",
"Aku sangat mencintaimu kak Zion",
__ADS_1
Pak Won dan beberapa pelayan yang mendengar itu dari balik pintu tak kuasa menahan air matanya, dia perintahkan Zion mengantarkan makanan untuk Sinar. Namun belum sempat mengetok pintu kamar, dia mendengar isakan tangis nyonya mudanya, isakan yang menyayat hati.
Ketika mendapatkan cinta namun hilang tak berbekas dan digantikan dengan rasa sakit yang mendalam.
Pertanyaan "kenapa" menandakan kebingungan atas apa yang dialaminya, haru yang dia pikir akan menjadi seperti hari kemarin yang penuh kasih dan cinta menjadi hari yang sangat gelap untuknya.
tok tok
Mendengar ketukan pintu membuat Sinar menghentikan tangisannya, dia tahu itu bukan Suaminya, tak ingin orang mengetahui keadaannya namun nyatanya semua yang ada disana mengetahuinya, melihat dengan menahan air mata tanpa mampu membantu akan penyiksaan yang nanti dialami nyonya mudanya.
"Masuk",
Pak Won dan beberapa pelayan masuk mengantarkan makanan, bisa lelaki parubaya itu lihat bekas tamparan yang masih memerah dipipi putih nan mulus nyonya mudanya.
"Makanlah nyonya",
"Kenapa makanannya begini Paman", tanya Sinar
"Ini perintah tuan muda nyonya", menjawab sambil menunduk tak ingin nyonya mudanya melihat kalau dia juga ikut menangis.
"Segitunya kakak ingin menyiksaku, tidak mengapa yang penting kakak masih memberiku makan", batin Sinar
Nasi putih yang dingin, tak ada lauk yang menemani.
"Kenapa paman dan yang lainnya belum keluar", tanya Sinar
__ADS_1
"Kami akan menunggu sampai nyonya menghabiskan makanan itu", jawab pak Won
Tidak ingin orang lain berlama-lama berlama dikamarnya, Sinar langsung mengambil nasi putih itu dan memakannya, mengakhiri makanannya dengan segelas air putih.
"Sudah selesai paman, keluarlah", perintah Sinar
Sadar akan ketidaknyamanan nyonya mudanya, Pak Won langsung mengambil piring bekas makan Sinar dan keluar kamar bersama para pelayan lainnya.
"Terimakasih paman karena sudah memperhatikanku, aku tahu paman dan yang lainnya mengetahui keadaanku dan aku tahu paman tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantuku", batin Sinar yang melihat kepergian Pak Won dan para pelayan
Setelah makan akhirnya Sinar bersiap untuk tidur, baru dia ingin menjatuhkan kepalanya diatas bantal, dia langsung teringat perkataan Zion terkahir
"Mulai malam ini tidurlah di Sofa itu, Sofa itu sangat lembut dan cukup besar sehingga tidak akan membuatmu sakit, aku tidak mau kau sakit kalau bukan karena ulahku",
Akhirnya Sinar pergi ke Sofa dan memutuskan untuk tidur, berharap ini hanyalah mimpi buruk.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.