Sistem kuasa pangeran

Sistem kuasa pangeran
celap celup


__ADS_3

Keesokan harinya


Jam menunjukkan pukul 10 pagi dan sekarang Hendrick sedang dalam perjalanan menuju rumah barunya dengan Lidya yang berada di sisinya


Sebelum berangkat, Hendrick dan Lidya mencoba memeriksa kandungan Lidya dan benar aja, kandungannya hampir memasuki usia 1 bulan, jadi Hendrick belum bisa celap celup kepadanya


Sedangkan adik dan ibunya memilih naik taxi karena mobil Hendrick hanya cukup untuk dua orang saja


Kemarin Hendrick sempat membicarakan keinginan ibunya untuk pulang lebih cepat kepada dokter


Dia berharap dokter itu bilang kalau ibunya masih perlu dirawat, tapi ternyata dokter itu malah mempersilahkan ibunya pulang lebih awal karena kondisinya sudah membaik


Tapi harus sesekali cek rutin ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi lebih lanjutnya


Sampai di tempat tujuan Hendrick langsung keluar dari mobilnya diikuti oleh Lidya, sedangkan ibu dan adiknya sedang berjalan menuju ke arah mereka


"Wah... Rumah ini sangat besar kak, kakak beli rumah ini?" Tanya Angel setelah sampai di tempat Hendrick berdiri


"Tidak... Ini rumah pemberian vino" ucap Hendrick memilih menutupi pembelian rumah itu


Mau tau alasannya?... Karena dia tidak ingin ibunya curiga dan ditanya yang tidak perlu olehnya, kalau ditanya oleh ibunya, dia tidak akan bisa berbohong karena ibunya pasti tahu


"Yasudah mari kita masuk" ucap Hendrick yang diangguki oleh mereka bertiga


Merekapun masuk dan sampai di ruang tamu yang kosong karena tidak ada perabotan


"Ada berapa kamar di rumah ini?" Tanya Selly sembari melihat sekeliling yang tidak ada apa apa


"Ada tiga kamar, dua kamar mandi satu di lantai 1 dan satunya lagi di lantai 2" ucap Hendrick menjelaskan


"Kalau begitu ibu tidurnya sama Angel saja, sedangkan kamu dan Lidya tidurnya pisah" ucap Selly dengan jahil


Hendrick yang mendengar itu matanya melotot tak percaya, dia membeli rumah dengan 3 kamar karena dirinya ingin sekamar dengan istrinya


Tapi ibunya malah menyarankan pisah kamar?... Tidak akan bisa, Hendrick pasti langsung menolak


"Benar itu, kakak dan kak Lidya harus pisah kamar" ucap Angel dengan senang


"Tidak-tidak, kakak dan Lidya kan sudah sah secara hukum, jadi di haruskan untuk sekamar" ucap Hendrick dengan tidak mau dibantah


"Kita pisah kamar saja ya" ucap Lidya menatap Hendrick yang berada di sampingnya


"Tuh kak Lidya aja mau pisah kamar, masa kakak maksa sih" ucap Angel mengompori kakaknya


"Tidak, kita harus sekamar tidak mau tahu, ayo Lidya" ucap Hendrick sembari menarik lembut tangan Lidya sedangkan tangan satu lagunya membawa barang barangnya dan barang barang Lidya


Sesampainya di lantai 2 Hendrick langsung berjalan menuju kamar yang terdapat lift tersembunyi di dalam lemari, dia akan menempati kamar itu agar dia bisa dengan mudah masuk ke ruang rahasia


Sampai di sana Hendrick langsung meletakkan barang bawaannya di mana saja dan langsung menjatuhkan dirinya di kasur


"Hah capenya" gumam Hendrick dengan berguling di kasur


"Kamu ini, bereskan dulu barang bawaanmu" ucap Lidya sembari membereskan barang bawaan mereka berdua


Barang bawaan mereka berdua hanya baju sih tidak ada yang lain


Hendrick yang mendengar itu langsung saja bangun dan membantu membereskannya, tidak ingin membuat istrinya kerepotan


"Kalau mau istirahat, istirahat saja, biar ini aku yang beresin" ucap Lidya memandang Hendrick yang lagi membantunya


"Aku akan membantumu terlebih dahulu" ucap Hendrick seraya terus membereskan bajunya masuk ke dalam lemari


Lidya yang mendengar itu tersenyum lembut, sikap penuh perhatian inilah yang membuat Lidya jatuh cinta padanya


5 menit kemudian mereka sudah membereskan semua barangnya, Hendrick langsung saja menjatuhkan dirinya kembali ke kasur yang empuk


Tapi saat baru saja mau tidur siang, dia diganggu dengan deribga hp nya, dia sudah mengantuk tapi teman nya ini malah menelpon


"Halo Ren, mau apa sih, gua baru mau tidur ini" ucap Hendrick dengan nada kesal


"Gua udah nemuin orang yang menabrak gua tempo hari Rick" ucap Rendi di sebarang telpon


"Oh ya, kita ketemuan di cafe biasa" ucap Hendrick yang langsung beranjak dari tidurnya setelah mematikan telponnya


Dia melihat sekeliling dan tidak menemukan Lidya jadi dia memilih ke bawah untuk mencarinya


Sampai di bawah ternyata Lidya sedang mengobrol di sofa dengan ibu dan adiknya


"Bu aku pergi dulu ya" ucap Hendrick berpamitan pada ibunya


"Mau kemana lagi?" Tanya Selly melihat anaknya itu

__ADS_1


"Ada janji sama temen" ucap Hendrick dengan alasan yang sama seperti kemarin


"Yasudah, juga tolong ucapkan terima kasih ke vino karena sudah memberikan rumah ini ya" ucap Selly


"Iya, dek nanti beli perabotan ya, nanti uangnya kakak kirim" ucap Hendrick pada adiknya


"Oke kak, serahkan padaku" ucap Angel dengan senang hati


"Kalau begitu sampai jumpa, sampai ketemu lagi istriku" ucap Hendrick sembari mencuri ciuman seperti biasa kepada Lidya, tapi sekarang di bibir bukan di pipinya lagi yang membuat Lidya merona malu olehnya


Hendrick langsung keluar dari sana dan melajukan mobilnya menuju cafe tempat biasa mereka berkumpul bertiga


Sampai di sana Hendrick langsung melihat sekeliling untuk menemukan temannya tapi dia tidak menemukannya, sepertinya mereka belum sampai


Hendrick lekas duduk di kursi manapun dan memesan segelas kopi untuk menemaninya menunggu temannya


Setelah menunggu beberapa menit mereka berdua sampai, tapi Hendrick melihat wajah vino yang sepertinya sedang kesal


"Lo kenapa Vin?" Tanya Hendrick setelah mereka sampai di depannya


"Gak apa apa" ucap vino dengan acuh


"Gua juga tadi tanya ke dia, tapi jawabannya sama" ucap Rendi dengan kesal


"Sudahlah, jadi apa kau sudah menemukan alamat orang yang menabrakmu ren?" Tanya Hendrick dengan penasaran


"Ya, aku meretas CCTV di sekitaran tempat kejadian dan melihat wajah orang itu, setelah itu aku melacaknya dan menemukan alamat tempat tinggalnya" ucap Rendi dengan bersemangat


"Apa kita mau beraksi sekarang?" Tanya vino dengan tenang


"Ya, kita akan menemukannya sekarang dan kita akan tanyai dia, tapi tidak akan membunuhnya" ucap Hendrick


"Kalau kita sudah menemukan dalangnya, kita akan membunuhnya saat malam harinya apa kalian paham?" Tanya Hendrick yang diangguki oleh mereka


"Yasudah ayo kita berangkat, apa kalian bawa mobil?" Tanya Hendrick yang diangguki kembali oleh mereka


"Baiklah, ayo" ucap Hendrick yang langsung keluar setelah membayar kopinya yang belum habis


Sekitar 30 menit di perjalanan mereka sampai di sebuah gang yang lumayan sepi, Hendrick melihat sekeliling dan tidak menemukan siapapun kecuali mereka bertiga


"Apakah benar di sini?" Tanya Hendrick pada Rendi


"Kalau begitu ayo kita ke sana" ucap Hendrick yang berjalan maju menuju gang itu


Hendrick melihat sekeliling dan tatapannya fokus pada sebuah rumah kontrakan kumuh yang berada tepat di depannya


"Apakah kontrakan itu?" Tanya Hendrick sembari menunjuk 5 rumah yang lumayan kumuh berjajar rapih di depannya


"Sepertinya itu" ucap Rendi tidak yakin


"Terus rumah yang mana?" Tanya Hendrick sekali lagi, pasalnya rumah di depannya ada 5


"Yang tengah" ucap Rendi dengan yakin


Merekapun berjalan menuju ke sana dan mengetuk pintu rumah yang berada tepat di tengah, beberapa saat pintu terbuka dan memperlihatkan pria paruh baya berbau alkohol dan rambut gondrong yang tidak terawat


Hendrick langsung saja mendorong pria paruh baya itu dan langsung masuk, pintu di tutup dan di kunci oleh vino yang berada di belakangnya


"M-mau apa kalian?... Di rumah ini tidak ada apa apa" ucap pria paruh baya itu dengan panik


"Kami tidak ingin apapun, cepat ceritakan siapa yang menyuruhmu untuk menabrak temanku" ucap Hendrick sembari menunjuk Rendi


Pria paruh baya itu yang di tanya langsung mengalihkan perhatiannya pada orang yang di tunjuk oleh Hendrick, dia seketika melebarkan matanya saat melihat Rendi


"A-apa maksudmu, k-au sepertinya salah orang" ucap pria paruh baya itu dengan panik


"Kami sudah tahu kau pelakunya, cepat beritahu kami siapa yang menyuruhmu" ucap Hendrick dengan keras


"Apa yang akan kau berikan kalau aku memberitahumu" ucap pria paruh baya itu mengaku, karena sepertinya ke tiga orang di depannya sudah tahu bahwa dia pelakunya


"Kau tidak akan mendapatkan apa apa, cepat beritahu saja kami" ucap Hendrick dengan kasar


"Huh... Aku tidak akan memberitahumu" ucap pria paruh baya itu dengan wajah mengejek


Hendrick yang merasa kesalpun melayangkan tinjunya ke arah wajah pria paruh baya itu beberapa kali hingga wajahnya babak belur


"Cepat beri tahu saja maka aku akan langsung pergi" ucap Hendrick mencoba membujuknya


"Cih tidak akan pernah" ucap pria paruh baya itu dengan keras kepala


"Lumayan keras kepala juga kau" ucap Hendrick yang langsung menjatuhkan pukulannya pada wajahnya kembali

__ADS_1


"A-aku akan memberitahumu, jadi tolong berhenti memukuliku" ucap pria paruh baya itu yang akhirnya menyerah


"Baiklah, jadi siapa yang menyuruhmu?" Tanya Hendrick kembali


"A-aku tidak tahu, orang ituhanya menyuruhku untuk mencoba menabrak dia dengan imbalan uang, dia tidak pernah memberitahukan namanya" ucap pria paruh baya itu dengan takut


"Huh tidak berguna, aku akan memukuliku lagi karena aku sedang kesal" ucap Hendrick bersiap untuk memukuli wajahnya kembali


"T-tunggu, aku tidak tahu namanya tapi akau mempunyai no telponnya, kalau kau mau kau bisa memilikinya" ucap pria paruh baya itu dengan gelisah, takut dipukuli kembali oleh Hendrick


"Baiklah, berikan no telpon itu padanya" ucap Hendrick sembari menunjuk Rendi


Hendrick pun bangun dari sana dan berjalan keluar dengan vino mengikuti di belakangnya, sedangkan Rendi masih berada di dalam untuk menagih no ponsel kepada orang itu


"Lo kenapa sih dari tadi" tanya Hendrick setelah mereka berada di luar


"Gua gak apa apa kok" ucap vino dengan tenang


"Lo bisa cerita sama gua Vin, kita kan temen ya gak?" Tanya Hendrick dengan nada bercanda


"Hah baiklah, gua dijodohin sama bokap Rick" ucap vino dengan sedih


"Ohh.... Hah apa?" Tanya Hendrick sekali lagi


"Gua dijodohin sama bokap gua" ucap vino dengan kesal


"Iya iya gua tau, tapi kok bisa?" Ucap tanya Hendrick dengan penasaran


"Gua juga gak tahu, tiba tiba bokap gua ngomong kalau gua udah di jodohin sama kakek gua pas gua baru lahir" ucap vino dengan kesal


"Terus terus, ceweknya gimana" tanya Hendrick sekali lagi dengan penasaran


"Katanya sih cantik, keluarganya berpengaruh pula" ucap vino


"Bagus dong kalau begitu, kenapa Lo kesal?" Tanya Hendrick melihat sahabatnya yang kesal itu


"Kalau gua udah tunangan nanti gua pasti gak bisa senang senang lagi lah Rick" ucap vino dengan sedih


"Senang senang gimana maksud Lo?" Tanya Hendrick tidak mengerti dengan alasan sahabatnya itu


"Itu loh, celap celup gitu, Lo tau kan" ucap vino sembari menaik turunkan alisnya


"Astaga Vin, Lo masih ngelakuin itu?" Tanya Hendrick tak habis pikir


"Ya gimana lagi, soalnya enak Rick hehe" ucap vino dengan senyum bodohnya


"Hah... Punya temen kayak gini, tapi dulu juga gua kayak gitu sih" ucap Hendrick mengingat masa lalunya yang brengsek


"Lo gak mau ikut kita ke club Rick, sembari cari mangsa dan untuk terakhir kalinya gua celap celup sebelum tunangan gitu" ucap vino dengan nada menghasut


"Enggak, gua udah Tobat, dan juga ada istri di rumahbyabg cantik nganggur, buat apa cari yang lain iya gak?" Tanya Hendrick dengan bahagia


"Emang Lo udah pernah ngelakuin itu lagi?" Tanya vino dengan penasaran


"Enggak sih, takut anak gua kenapa Napa" ucap Hendrick dengan tersenyum malu


"Tuh kan, mending kita cari mangsa aja gimana, mumpung lu belum bisa celap celup sama istri Lo kan" ucap vino menghasut Hendrick ke jalan sesat


"Bener juga ya" ucap Hendrick hampir terhasut dengan hasutan vino


"Ya sudah, jadi gimana Lo mau ikut?" Tanya vino dengan senyum senang


"Gak akan, Lo jangan ngehasut gua ya Vin, parah lu" ucap Hendrick menyadari rencana vino yang sesat


"Hah... Gak berhasil ternyata" ucap vino dengan kecewa


"Gua sekarang sudah setia sama satu lubang hehe" ucap Hendrick dengan senyum mesum menghiasi wajahnya


"Lo kenapa senyum senyum aneh kayak gitu Rick" tanya Rendi yang tiba tiba saja berbicara di belakang vino


"Gak papa, sudah ada no telponnya?" Tanya Hendrick mencoba mengubah pembicaraan


"Sudah, tinggal lacak dan selesai" ucap Rendi dengan semangat


"Yasudah, kita pulang saja terlebih dahulu, nanti malam kita kumpul, dan Vin bawa juga itu" ucap Hendrick pada vino mengisyaratkan sesuatu


"Oke, bawa 2 aja nih?" Tanya vino dengan semangat


"Ya, 2 saja sudah cukup, yasudah gua pulang terlebih dahulu ya" ucap Hendrick yang diangguki oleh mereka


yang mau up 2 chap besok, komen ya, kalo gak ada yang komen gak jadi wkwkwk, dan Jangan lupa klik tombol sukanya biar author lebih semangat

__ADS_1


__ADS_2