Sistem kuasa pangeran

Sistem kuasa pangeran
hukuman


__ADS_3

Keesokan harinya


Lidya bangun dari tidurnya lebih awal dari Hendrick, saat bangun dia terkejut mendapati bahwa dirinya memeluk Hendrick dengan sangat erat


Tetapi dia tidak buru buru melepaskan pelukan itu melainkan terlebih dahulu memandangi wajah tidur Hendrick yang sangat tampan


Tanpa sadar Lidya mendekatkan kepalanya dan menempelkan bibirnya ke bibir Hendrick yang membuat Hendrick langsung membuka mata


Lidya yang menutup mata tidak sadar bahwa Hendrick sudah bangun jadi dia hanya menikmatinya saja dengan tenang


Setelah beberapa saat berciuman Lidya menjauhkan kembali wajahnya dan membuka matanya


"Kyahhhh...."


Seketika Lidya terkejut dan langsung saja mencoba melepaskan pelukannya, tapi pelukan Hendrick yang erat membuatnya tidak bisa lepas


"Kau sangat nakal, suamimu baru saja bangun tidur dan kau malah menciumnya diam diam" ucap Hendrick dengan suara seraknya khas bangun tidur


Lidya yang mendengar suara Hendrick yang menggoda langsung saja merona karena malu, dia mencoba memberontak kembali tetapi tidak bisa


"Kau mau kemana, aku belum puas dengan ciuman paginya" ucap Hendrick yang langsung saja mencium kembali bibir Lidya tapi kali ini lebih intens


Mereka terhanyut dalam ciuman itu hingga tidak mendengar ketukan di luar pintu, beberapa menit kemudian Hendrick melepaskan ciumannya karena melihat Lidya yang kesulitan bernafas


Setelah menghirup nafas beberapa detik Hendrick hendak menciumnya kembali tetapi dihalangi oleh tangan Lidya yang membekap mulutnya agar tidak di cium kembali


"Tidak bisa, kita harus bersiap siap untuk berangkat ke sekolah" ucap Lidya yang langsung beranjak dari sana menuju ke arah pintu


Dia langsung saja membuka pintu dan terkejut melihat bahwa ibu mertuanya sedang menunggu di depan pintu kamar


"Ibu kenapa ke sini?" Tanya Lidya dengan heran


"Ibu mau membangunkan kalian, ini sudah jam setengah 7 loh" ucap Selly


"Astaga... Aku harus cepat" ucap Lidya yang langsung saja beranjak menuju kamar mandi


Selly yang melihat kelakuan menantunya itu hanya bisa geleng geleng kepala, setelah menantunya pergi Selly masuk ke kamar dan melihat bahwa Hendrick masih berbaring di kasur yang membuatnya kesal


Selly langsung saja berjalan mendekatinya dan setelah sampai langsung saja menjewer telinga anaknya yang membuatnya meringis kesakitan


"Sss... A-adududuh... Sakit Bu" ucap Hendrick meringis kesakitan


"Kamu ini, bukannya bersiap untuk berangkat sekolah, tapi malah enak enakan tiduran" ucap Selly dengan menguatkan jeweran di telinga Hendrick


"Ampun Bu, ini mau siap siap" ucap Hendrick dengan wajah memelas


Selly yang mendengar itu langsung saja melepas jewerannya dan memelototi anaknya dengan tajam


"Cepat siap siap, ini sudah siang" ucap Selly yang membuat Hendrick langsung lari dari sana menuju kamar mandi


20 menit kemudian Hendrick sudah selesai bersiap siap dan sekarang sedang berada di meja makan untuk sarapan terlebih dahulu


Bawahannya pun sama berada di sana untuk makan bersama, tapi Hendrick heran dengan Andre yang memiliki kantung mata di matanya sedangkan Darwin tidak


Tetapi Hendrick tidak terlalu mempedulikannya dan langsung memakan makanannya dengan rada terburu buru karena jam sudah menunjukkan pukul 6.50


"Kakak lama banget sih makannya" ucap angel yang sedari tadi sudah menunggu


Hendrick yang mendengar ucapan adiknya langsung saja mendongak dan benar saja hanya dia yang tersisa


Hendrick langsung saja menyudahi makanannya dan berpamitan kepada ibunya untuk berangkat sekolah


Sampai di depan rumah Hendrick memilih memesan taxi karena mobilnya hanya muat untuk 2 orang saja


"Kita naik taxi kak?" Tanya angel yang berada di sampingnya


"Iya, mobil kakak gak muat kalo 3 orang" ucap Hendrick mngiyakan


"Yasudah, tapi kakak di depan ya, kami di belakang iya kan kak Lidya" ucap Angel dengan menggandeng tangan Lidya


"Enggak bisa gitu dong, kamu aja di depan sedangkan kakak di belakang bareng Lidya" ucap Hendrick tak terima dengan usulan adiknya


"Enggak bisa ya, kakak itu laki laki jadi harus ngalah dong" ucap Angel tak mau kalah


"Lah... Gak-"


"Sudah sudah, kamu dia depan aja ya" ucap Lidya dengan menatap Hendrick


"Hah... Baiklah" ucap Hendrick pasrah


"Nah gitu dong, jadi laki laki harus ngalah" ucap Angel dengan tersenyum senang


Hendrick hanya mendengus kesal mendengar ucapan adiknya


Beberapa menit kemudian mobil taxipun datang dan mereka langsung naik agar cepat sampai di sekolah


20 menit kemudian mereka sampai di sekolah dan pangsung turun dari taxi setelah membayarnya


Mereka sampai 7 menit sebelum gerbang di tutup jadi mereka bisa lega, mereka langsung masuk dan melihat bahwa di sana sudah sepi


"Kalau begitu kita berpisah di sini ya, sampai ketemu lagi" ucap Angel sembari berlari dari sana


"Ayo kita ke kelas terlebih dahulu" ucap Hendrick sembari menggandeng tangan Lidya


"Aku harus melapor ke ruang kepala sekolah terlebih dahulu" ucap Lidya mecoba menghentikan langkah mereka


"Baikalh, aku akan menemanimu" ucap Hendrick


"Tapi nanti kamu telat bagaimana?" Tanya Lidya khawatir dengan Hendrick

__ADS_1


"Gak apa apa, ayo aku antar" ucap Hendrick sembari menarik pelan tangan Lidya


Sampai di depan ruang kepala sekolah Hendrick di minta Lidya untuk menunggunya di depan ruangan, Hendrick hanya mengangguk setuju dan berdiri di depan ruangan dengan bersandar di tembok


Setelah beberapa menit di ruang kepala sekolah Lidya pun keluar dari sana dan menghampiri Hendrick yang terlihat sedang melamun


"Kamu dengan mikirin apa?" Tanya Lidya yang membuat Hendrick kaget


"Enggak mikirin apa apa, jadi apa yang dikatakan kepala sekolah?" Tanya Hendrick dengan penasaran


"Pak kepala cuma bilang jangan bolos lagi dan sudah" ucap Lidya


"Yasudah, ayo kita ke kelas" ucap Hendrick yang diangguki oleh Lidya


Merekapun berjalan ke kelas bersama dengan bergandengan tangan, untung saja sudah jam pelajaran jadi tidak ada siswa yang berada di luar


Sampai di depan kelasnya Hendrick melihat bahwa pelajaran sudah di mulai, saat Lidya hendak mengetuk pintu kelas Hendrick mencegahnya dan berbisik


"Itu guru matematika loh, dia di kenal tegas dan tanpa ampun, bagaimana jika kita di hukum karena telat nanti" bisik Hendrick sembari sesekali mengintip


"Gak apa apa jika di hukum juga, ayo kita masuk saja" ucap Lidya


Hendrick ingin mengingatkannya sekali lagi tapi pintu sudah terlanjur di ketuk oleh Lidya yang membuat dirinya pasrah saja


"Permisi Bu, maaf saya telat" ucap Lidya dengan senyum meminta maaf


"Oh nak Lidya, gak papa ayo duduk di kursi kamu" ucap Bu Tuti dengan ramah


Lidya hanya mengangguk dan berjalan dengan santai tanpa mempedulikan seluruh perhatian siswa dan siswi di kelas tertuju ke arahnya


Hendrick yang masih berada di luar sontak tercengang, dia tidak menyangka akan semudah ini Lidya dibiarkan duduk


Hendrick tersenyum senang melihat ini, diapun langsung mengetuk pintu dan melakukan hal yang sama seperti Lidya


"Permisi Bu, maaf saya telat" ucap Hendrick dengan senyum minta maaf


Bu Tuti yang mendengar suara dari pintu kelas sontak mengalihkan perhatiannya dan melihat Hendrick yang tersenyum minta maaf


"Kamu lagi, kamu ibu hukum lari 10 keliling di lapangan" ucap Bu Tuti dengan wajah garangnya


Ucapan Bu Tuti sontak saja membuat senyum Hendrick membeku, dia bingung dengan situasi ini, tadi Lidya dilepaskan dengan mudah tanpa hukuman, tapi dirinya malah menerima hukuman itu


"Kalau begitu saya izin ke lapangan dulu Bu" ucap Hendrick tetap mempertahankan senyumannya walaupun sedang kesal


Sedangkan kedua temannya malah menertawakannya yang langsung saja mendapat tatapan tajam dari Hendrick yang membuat mereka diam seketika


Hendrick langsung berbalik dari sana dan berjalan menuju lapangan dan langsung saja berlari


"Hah... Kenapa hanya aku yang mendapat hukuman sih" ucap Hendrick dengan menghela nafas kesal


"Tapi lebih bagus hanya aku sendiri, daripada Lidya juga kena hukuman sih" ucap Hendrick dengan mengangguk anggukkan kepalanya


"Hey bro, Lo kenapa" ucap seseorang yang membuta Hendrick kaget


Hendrick langsung saja menolehakn kepalanya ke kiri dan menemukan seorang laki laki berkulit hitam dengan memakai seragam yang sama dengannya sedang berlari di sebelahnya


"Sejak kapan Lo di sini?" Tanya Hendrick dengan bingung, pasalnya dia tidak menyadari keberadaannya karena sibuk dengan pikirannya sendiri


"Gua dari tadi juga di sini, hah... Gua di hukum lari 10 keliling lapangan karena terlambat masuk ke kelas" ucap orang itu dengan wajah lesu


"Gua juga sama, nasib kita sama bro" ucap Hendrick sembari menepuk nepuk bahu lelaki itu


"Btw nama Lo siapa?" Tanya lelaki itu dengan memandang Hendrick


"Gua Hendrick kelas 12 di sekolah ini" ucap Hendrick memperkenalkan dirinya


"Oh nama gue Melvin, salam kenal ya" ucap Melvin dengan menjulurkan tangannya


"Yoi, salam kenal juga" ucap Hendrick sembari menjabat tangan Melvin


Merekapun mengobrol bersama hingga tak terasa mereka sudah berlari 10 keliling lapangan itu


"Gua udah selesai, Lo udah kan?" Tanya Melvin melihat Hendrick ikut berhenti berlari


"Ya gua juga sudah, ayo kembali ke kelas" ucap Hendrick yang di balas anggukan olehnya


Mereka berdua berjalan bersamaan hingga sampai di pertigaan lorong yang mmebuat mereka berpisah karena kelas mereka berbeda


Sampai di depan pintu kelas Hendrick mengetuk kembali pintu kelas dan melihat bahwa Bu guru Tuti masih mengajar


"Bu... Saya sudah melaksanakan hukumannya" ucap Hendrick dengan tersenyum ramah walaupun sedikit kesal


"Yasudah kamu boleh duduk di kursi kamu" ucap Bu Tuti yang diangguki oleh Hendrick


Hendrick langsung duduk di kursinya, di samping kursi Hendrick terdapat kursi milik Lidya yang terdapat di pojok ruangan


"Kamu gak papakan?" Tanya Lidya setelah Hendrick duduk di kursinya


"Iya, aku gak papa kok" ucap Hendrick sembari tersenyum


Lidya hanya menganggukkan kepalanya dan langsung fokus ke depan mendengarkan Bu Tuti yang sedang menerangkan


Sedangkan Hendrick tengah bersiap untuk tidur kembali, tetapi di ganggu oleh ke 2 temannya itu


"Hey bro, seru gak di hukum sama Bu Tuti hahahaha...." Tawa Rendi dengan pelan


"Bacot lu" ucap Hendrick memandang temannya dengan kesal


"Gua kasih saran sama Lo ya, Lidya itu bisa masuk dengan mudah karena dia pintar dan jadi kesayangan guru di sekolah ini" ucap Rendi yang diangguki oleh vino

__ADS_1


"Sedangkan kita yang bodoh ini, bagaimana mungkin bisa lepas dari hukuman" ucap Rendi yang kembali diangguki oleh vino


"Ya ya, dahlah gua mau tidur" ucap Hendrick yang langsung saja tertidur dengan beralaskan mejanya


Rendi dan vino yang melihat Hendrick sudah tidurpun ikutan dan mereka bertiga tertidur tanpa mempedulika guru yang sedang menatap tajam kepada mereka


"Hah... Baiklah mari kita lanjutkan pelajarannya" ucap Bu Tuti menghela nafas lelah


Para guru di sini sudah terbiasa dengan kelakuan ke 3 orang berandal ini jadi mereka tidak menegurnya, mau di tegur bagaimanapun beberapa menit kemudian pasti mereka melupakannya


Saat Hendrick bangun dari tidurnya kelas sudah sepi menandakan waktu istirahat, Hendrick melihat sekeliling dan tidak menemukan Lidya jadi dia memilih membangunkan ke 2 temannya yang masih sibuk dengan tidurnya


"Bangun bangun" ucap Hendrick sembari menggoyangkan badan mereka


"Apa sih Rick, gua masih ngantuk ini" ucap Rendi sedangkan vino sudah membuka mata


"Lo mau ke kantin gak sih, ini sudah istirahat" ucap Hendrick yang membuat Rendi seketika bangun dan berdiri dari duduknya


"Ayo, gua sudah sangat lapar nih" ucap Rendi sembari mengelus elus perutnya


"Soal makan aja semangat lu" ucap vino menyindir Rendi


"Makan itu kebutuhan ya, kalo gak makan emang lu masih hidup?" Ucap Rendi tak mau kalah dan menyindir vino kembali


"Sudahlah, ayo kita ke kantin" ucap Hendrick yang diangguki oleh mereka


Suasana sekolah sedang ramai saat istirahat begini, Hendrick dan temannya lantas berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya


Tapi saat sampai di pintu kantin Hendrick melihat Lidya sedang di goda oleh satu orang laki laki yang membuatnya kesal


Di meja itu terdapat Angel, Lidya, Laras dan Sinta sedang makan dengan tenang, tetapi tiba tiba datang seorang laki laki yang memiliki perawakan lumayan berotot untuk seukuran siswa dan langsung duduk tanpa permisi di sebelah Lidya


Hendrick yang melihat itu menjadi kesal, dia langsung saja maju dan menghampiri meja itu


"Apa kamu bisa mnyingkir" ucap Hendrick kepada lelaki itu


"Siapa Lo berani merintah gue" ucap lelaki itu dengan wajah garang


Hendrick yang sekarang bisa melihat wajah lelaki itu hanya bisa tertawa sinis, lelaki di depannya adalah anak seorang preman lokal di daerah sana


Hendrick tidak takut dengan mereka walaupun mereka mempunyai jumlah orang yang banyak


"Emang kenapa kalo gua merintah lu hah" ucap Hendrick dengan nada provokasi


Percakapan mereka berdua yang lumayan keras sontak saja membuat mereka menjadi pusat perhatian di kantin ini, bahkan ada orang orang yang berbisik bisik di Anatar kerumunan


"Apakah itu Derik, anak preman di sekitaran sini, siapa yang berani melawannya" ucap salah satu siswa


"Apa kau tidak tahu, itu adalah Hendrick, walaupun keluarganya sudah bangkrut tetapi dia bisa bela diri" ucap salah satu siswa lagi


"Yang kemarin punya masalah dengan Toni ya?" Tanya salah satu siswa


"Iya kau benar, mending kita jangan memprovokasi mereka jika ingin hidup tenang" ucap salah satu siswa lagi


Derik yang mendengar bisikan bisikan siswa di sekitar menjadi tahu orang yang berada di depannya bernama Hendrick


Dia baru pindah beberapa hari yang lalu jadi dia tidak terlalu tahu tentang sekolah ini jadi dia merasa sangat berkuasa


"Lo mau gua hajar hah" ucap Derik sembari menunjuk nunjuk dada Hendrick


Hendrick yang ditunjuk seperti itu merasa kesal dan langsung mencengkram tangan Derik tanpa menggunakan tenaga sedikitpun


"Mau apa hah, mau- argh"


Tiba tiba saja Derik berteriak dan melihat bahwa jari telunjuknya terlihat bengkok yang terlihat menyakitkan


"A-apa yang kau lakukan, aku pasti akan memukulmu" ucap Derik dengan melayangkan pukulan menggunakan tangan satu lagi


Hendrick dengan mudah menahannya dan mematahkan jari telunjuk tangan satunya lagi yang membuat Derik berteriak kesakitan kembali


"Kau bisa pergi sekarang" ucap Hendrick mengusir Derik


"K-kau... Aku pasti akan membalasmu" ucap Derik yang langsung saja kabur dari sana


"Huh menyusahkan saja" ucap Hendrick yang langsung duduk di meja tempat Derik duduk tadi seperti tidak terjadi apa apa


Sedangkan para siswa tercengang melihat ini Hendrick yang dengan mudah mengalahkan Derik yang terlihat sangat kuat apalagi melihat ototnya yang kekar


"Dia sangat hebat, bisa mengalahkan Derik yang memiliki tubuh kekar" ucap salah satu siswa


"Iya kau benar, kita tidak boleh memprovokasinya" ucap salah satu siswa yang diangguki oleh mereka


Hendrick yang mendengar bisikan itu hanya acuh tanpa mempedulikannya, dia memilih memesan makanan karena dirinya merasa lapar


Sedangkan ke 2 temannya sudah duduk dan ikut memesan makanan seperti tidak melihat kekacauan yang terjadi


"Kenapa kamu mematahkan telunjuknya sih, nanti kamu bisa kena masalah" bisik Lidya tepat di sebelah telinganya


"Tenang saja aku bisa mengatasinya" ucap Hendrick santai


"Aku hanya khawatir saja, bagaimana jika dia mengadu ke ayahnya dan ayahnya membalas dendam kepadamu" ucap Lidya dengan wajah khawatir


"Tenang saja, aku bisa mengatasinya" ucap Hendrick mengulang perkataannya


"Huh... Terserahku saja" ucap Lidya dengan wajah kesal


'bagaimana aku bisa menahan diri jika istriku di goda lelaki lain kan?'


bonus, nanti malam kayaknya up lagi

__ADS_1


jangan lupa tekan tombol like ya!


__ADS_2