
Malam harinya
Sekarang Hendrick sedang bersantai di apartemennya, sepulang dari rumah orang yang mencoba menabrak Rendi, dia langsung ke sini tanpa memberikan kabar pada orang di rumahnya mereka pasti khawatir
"Aku harus memberi kabar pada mereka terlebih dahulu" ucap Hendrick seraya mengeluarkan ponselnya untuk menelpon
"Halo Lidya" sapa Hendrick
"Kamu ada dimana?... Kami cemas karena kamu tidak pulang dari siang" ucap Lidya dengan nada khawatir
"Maafkan aku, aku lupa memberitahumu, aku akan menginap di rumah temanku karena ada urusan, jadi aku tidak bisa pulang malam ini" ucap Hendrick memberi penjelasan
"Baiklah, jadi kau sekarang berada di rumah temanmu begitu?" Tanya Lidya mencoba memastikan kembali
"Iya, dan tolong beritahukan kepada ibu dan adikku agar mereka tidak khawatir" ucap Hendrick
"Baiklah, oh aku harus menutup telponnya terlebih dahulu, ibu memanggilku" ucap Lidya
Hendrick yang mendengar Lidya menyebut Selly dengan sebutan ibu menjadi sangat senang jadi dia mengijinkannya untuk menutup telponnya
Sesudah telpon di tutup, bel apartement berbunyi menandakan ada yang memencetnya
Hendrick langsung menuju ke pintu dan membukanya, dan terlihat vino dan Rendi berada di depan pintu
Terlihat Rendi membawa tas dengan leptop di dalamnya sedangkan vino membawa koper di tangannya
Hendrick mempersilahkan mereka masuk dan seketika mata mereka dipenuhi sorot kagum melihat apartement mewah ini
"Apartement ini sangat mewah, bagaimana kau bisa membelinya Rick?" Tanya Rendi dengan penasaran
"Gua di beri seseorang" ucap Hendrick asal
"Siapa yang mau memberikan apart semahal ini dengan percuma sih?... Gua juga mau" ucap Rendi yang percaya begitu saja dengan bualan hendrick
Vino hanya menatap Rendi dengan sorot mata yang mengatakan 'kau bodoh ya' dan langsung saja berjalan mengikuti Hendrick yang sudah meninggalkan mereka
"Hey tunggu aku" ucap Rendi yang berada di belakang
Merekapun duduk di sofa dengan santai, Hendrick melihat jam terlebih dahulu dan sudah menunjukkan pukul 11 malam
"Jadi apa kau sudah menemukan siapa pelakunya Ren?" Tanya Hendrick
"Sudah Rick, setelah gua cek ternyata pelaku yang menyuruh orang itu untuk menabrakmu adalah Toni" ucap Rendi yang membuat vino dan Hendrick seketika marah
"Bajingan itu, aku pasti akan membunuhnya" ucap vino dengan marah
"Apa dia tidak kapok juga dengan pelajaran yang kita berikan?" Tanya Hendrick dengan kesal
"Hah... Baiklah, jadi apakah kita akan menyusup dan membunuh mereka malam ini Rick?" Tanya vino setelah menenangkan diri
"Ya, seperti biasa jika ada yang menyinggung kita, langsung saja habisi, apalagi jika dia sudah menyuruh orang untuk membunuh salah satu dari kita" ucap Hendrick dengan kejam
"Apa kau sudah membawa itu?" Tanya Hendrick pada vino
"Sudah, ini dia" ucap vino sembari membuka koper yang di bawanya
Di dalamnya terdapat 2 senjata api jenis Glock Mayer 22 dengan tertata rapi, Hendrick yang melihat itu langsung saja tersenyum dan mengambilnya
"Aku sudah lama tidak memegang benda ini, aku tidak sabar untuk mencobanya, apakah masih bisa menembus kepala" ucap Hendrick dengan senyum menyeramkan
"Dan seperti biasa, Rendi akan meretas semua CCTV yang ada di rumah Toni" ucap Hendrick yang diangguki oleh Rendi
"Jadi kita berdua yang menyusup nih?" Tanya vino yang diangguki oleh Hendrick
"Kapan kita berangkat?" Tanya vino lagi
"Nanti setengah 12, jam 12 kita langsung menyusup ke rumah Toni" ucap Hendrick yang diangguki oleh mereka
Jam 12 malam tepat
Hendrick dan vino sudah berada tidak jauh dari rumah Toni yang lumayan besar, penjagaan di rumah itu lumayan ketat karena ayah Toni merupakan salah satu orang yang berkuasa
__ADS_1
"Kita akan masuk lewat mana Rick?" Tanya vino sembari memperhatikan penjaga yang berada di depan gerbang rumah
"Kita akan masuk lewat tembok di belakang rumah" ucap Hendrick yang diangguki setuju oleh vino
Mereka langsung berjalan menuju belakang rumah dan mendapati bahwa temboknya lumayan tinggi, tidak akan bisa dinaiki oleh satu orang saja
"Vin, Lo jongkok di sana terlebih dahulu, bantu gua naik, nanti sesudah gua sampe atas gua balik bantu Lo" ucap Hendrick yang di beri anggukan oleh vino
Vino langsung saja berjongkok dan Hendrick menaiki pundak vino, sesudah Hendrick menaiki pundaknya vino langsung saja berdiri
Hendrick yang berada di atas langsung saja memanjat tembok itu dan duduk di atasnya, setelah itu dia langsung membantu vino untuk naik
Sesudah keduanya naik, mereka langsung melompat ke bawah tanpa bersuara, sampai di bawah mereka berjongkok terlebih dahulu untuk bersembunyi karena ada penjaga yang berkeliling di depan mereka
"Tunggu dulu, ren apakah sudah di retas semuanya?" Tanya Hendrick seraya mengaktifkan earphone di telinganya, vino juga sama mengaktifkannya
"Sudah Rick, kalian bebas mau lakuin apa aja sekarang" ucap Rendi di sebrang
"Kita mau berpencar apa bareng Rick?" Tanya vino sembari melihat sekeliling dengan waspada
"Kita berpencar saja, Lo cari di lantai 2, sedangkan gua cari di lantai 3, kalau di lantai 1 gak mungkin ada karena di sana cuman ada kamar pembantu" ucap Hendrick yang diangguki dengan tegas oleh vino
Merekapun maju sambil mengendap endap melewati penjaga yang sedang berpatroli, dan sampailan mereka di pintu belakang rumah itu
"Vin, Lo coba buka pintunya" ucap Hendrick yang diangguki oleh vino
Vino pun mengeluarkan jepit rambut dan mengotak Atik lubang kunci pintu itu, tak berapa lama kemudian vino berhasil dan mereka langsung masuk
Setelah mereka masuk, ternyata di dalamnya adalah dapur jadi tidak ada siapa siapa di sana karena sudah malam
Hendrick berjalan menuju pintu keluar dapur dan mengintip di lubang kunci, setelah dirasa tidak ada siapa siapa mereka langsung keluar saja
"Ren, ini tangga menuju lantai 2 nya dimana?" Tanya Hendrick dengan bingung
"Lo bisa lurus saja dari sana, di depan ada pertigaan Lo bisa belok kanan, dan di depan ada tangga" ucap Rendi memberi arahan
Hendrick yang mendengar itu langsung saja menurutinya dan benar saja sampai di sana ada tangga menuju lantai 2
"Kita berpisah disini, Lo hati hati ya Rick" ucap vino seraya berjalan menjauh
"Lo juga hati hati Vin" ucap Hendrick, dia langsung saja meneruskan menaiki tangga menuju lantai 3
Sampai di sana Hendrick melihat bahwa di lantai 3 sangat sedikit penjaga jadi dia lebih tenang
Dia langsung saja maju sembari melihat kanan kiri, tidak menemukan siapapun di langsung berbelok ke kanan dan menemukan lorong yang lumayan panjang
Dia langsung saja berjalan melewati lorong itu sembari mencari kamar yang sekiranya ditempati oleh Toni atau ayahnya
Tapi setelah lama mencari dia tidak menemukannya, dia hanya melihat lorong panjang yang tidak ada habisnya
Tanpa ada niatan untuk menyerah Hendrick mencari sekali lagi, dan saat dia hendak berbelok ke kiri, dia mendengar seseorang yang sedang mengobrol di arah kirinya, jadi dia memilih berhenti dan menguping pembicaraan itu
"Tuan kita sangat kejam, dia dengan enaknya bersenang senang di dalam, sedangkan kita hanya menjadi makanan nyamuk saja di luar" ucap orang itu yang sepertinya adalah penjaga
"Ya, kau benar, aku juga ingin sesekali menikmati tubuh wanita" ucap orang satu lagi dengan mengeluh
"Kita harus sabar saja, barangkali di masa depan kita juga bisa kan" ucap orang itu menyemangati temannya
"Ya kau benar, aku berharap di masa depan aku mempunyai Harem yang banyak mwehehe'" ucap temannya dengan menghayal
Hendrick yang mendengar itu tanpa berlama lama langsung saja maju dan memukul Tengku leher salah satu orang itu hingga pingsan
Orang satu lagi yang melihat temannya pingsan langsung saja tegang, dia hendak berteriak tapi pandangannya sudah gelap
Hendrick yang melihat ke dua penjaga itu sudah pingsan menghela nafas lega, untung saja dia membuat pingsan kedua penjaga itu sebelum mereka berteriak ada penyusup
Kalau tidak, dia pasti sudah di kepung oleh banyak orang, setelah membereskan para penjaga itu Hendrick langsung saja menempelkan telinganya pada pintu di depannya, tapi tidak terdengar apa apa
Dengan hati hati dia membuka pintu itu, tapi saat terbuka sedikit terdengar ******* seorang wanita dari dalam
Hendrick yang mendengar itu mengutuk orang yang sedang bercinta itu, Hendrick langsung saja masuk dan menutup kembali pintu itu dengan pelan
__ADS_1
Karena ruangan ini kedap suara, Hendrick tanpa ragu langsung mengeluarkan senjata apinya dan langsung menembakkan ke kepala wanita yang berada di depannya hingga membuat sang lelaki terkejut
Setelah di lihat ternyata lelaki itu adalah pak Reno yang adalah ayahnya Toni, dia harus kecewa karena dia bukan Toni, dia sangat ingin membunuh Toni dengan tangannya sendiri karena berani membully adiknya di sekolah
"A-apa yang terjadi" ucap pak Reno panik melihat darah yang ada di depannya
"D-darah, ini darah" ucap pak Reno dengan panik
"Oh... Halo pak apa kabar" ucap Hendrick menyapa pak Reno
Pak Reno yang mendengar sapaan itu otomatis mendongak dan menatap Hendrick yang sedang tersenyum ramah sembari menodongkan pistolnya
Pak Reno yang di sapa dengan ramah bukannya menyapa balik malah berteriak ketakutan tak jelas, bagaimana tidak di depannya seorang pemuda menyapanya dengan ramah setelah membunuh, seperti psycopath
"A-apa yang kau lakukan" ucap pak Reno dengan tubuh gemetar sesudah memindahkan tubuh wanita yang mati di atasnya
"Apa kau tidak mengingatku?" Tanya Hendrick sembari menunjuk wajahnya sendiri
Pak Reno yang ditanya seperti itu langsung meneliti wajah Hendrick, setelah terlihat jelas berkurang sudah rasa takutnya
"Hendrick, apa kau tidak takut aku akan melaporkan kau ke kantor polisi karena sudah membunuh dirumahku?" Ucap pak Reno mencoba mengancam Hendrick dengan kekuasaannya
"Orang mati tidak akan bisa melapor" ucap Hendrick yang membuat pak Reno seketika ketakutan hingga tubuhnya gemetar
"Hen-hendrick, ini menyalahi aturan negara, apa kau tidak takut di tangkap pihak berwajib" ucap pak Reno dengan gemetar
"Toh Tidak ada saksi, dan sebentar lagi kau akan mati" ucap Hendrick dengan acuh
"Hen-hendrick, tolong lepaskan aku, kalau kau melepaskanku akan ku berikan setengah hartaku kepadamu dan aku berjanji tidak akan melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib" ucap pak Reno mencoba bernegosiasi dengan Hendrick
"Hahahaha... Seluruh hartamu kau berikan kepadaku juga, aku tidak akan pernah melepaskanku" ucap Hendrick dengan kejam
"A-apa yang sudah aku perbuat padamu hingga kau berniat membunuhku?" Tanya pak Reno dengan takut
"Kau sudah menyuruh orang membunuh temanku, jadi ini adalah balasannya" ucap Hendrick yang membuat tubuh pak Reno menegang seketika
"Apa kau tidak bisa mengelak lagi?... Yah ini adalah kebenaran sih, sebelum membunuhmu aku akan menyiksamu terlebih dahulu" ucap Hendrick yang langsung berjalan mendekat menuju pak Reno yang sudah mundur ketakutan bahkan mengompol
Di sisi vino
Setelah berpisah dengan Hendrick, vino menelusuri lantai 2 rumah ini dan menemukan banyak sekali penjaga
Dia jadi harus mengendap endap terus menerus agar tidak ketahuan oleh mereka, tapi saat akan berbelok dia diketahui oleh satu penjaga hingga tidak bisa bersembunyi lagi
Vino langsung saja berlari dan menikam penjaga itu dengan pisau yang ada di tangannya sembari menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak
Memang sih vino adalah orang yang paling brutal di antara mereka bertiga sekaligus yang paling kejam
Sesudah penjaga itu mati, vino menyeret mayatnya ke dalam salah satu ruangan dan mengelap bekas darah di lantai dengan baju penjaga itu
Sesudah bersih vino melanjutkan penjelajahannya dan tiba di sebuah kamar yang di jaga oleh 2 orang penjaga, seperti kamar ayahnya
Tanpa basa basi vino langsung menerjang mereka dan membunuh mereka dengan pisau di tangannya, di menusuk mereka berkali kali hingga mereka tidak bernafas lagi
sesudahnya Vino langsung saja membuka pintu itu dan masuk tanpa membersihkan mayat yang ada di depan pintu
Saat masuk vino melihat Toni sedang berolahraga malam dengan seorang wanita, dengan memegang cambuk di salah satu tangan
'ckck dia ternyata M' batin vino dengan menggelengkan kepala tak habis pikir
Vino langsung saja menembak wanita itu juga sama seperti Hendrick, menembak wanita itu terlebih dahulu
Vino tidak akan meninggalkan bukti apapun jadi dia harus membunuh siapapun yang melihat wajahnya saat menyusup ini
Toni langsung saja berdiri melihat wanita yang sedang menari di atasnya ambruk seketika, dia melihat sekeliling dan menemukan vino yang sedang menatapnya sambil memegang pistol
"A-apa yang kau lakukan disini?" Tanya Toni dengan sedikit rasa takut
Tanpa menjawab apapun vino langsung menembak masa depan Toni tepat sasaran hingga membuatnya terjatuh dan berguling guling di kasur
"Kau sudah berniat mencelakai temanku, jadi kau harus membayarnya dengan nyawamu"
__ADS_1
jangan lupa tekan tombol like nya ya!