
Hendrick mengamati reruntuhan ini dengan cermat dan tidak menemukan apapun karena penerangan yang minim
Dia langsung saja mengeluarkan handphone nya dan menyalakan senter dari sana, tapi baru saja menyala sebentar hp nya langsung mati karena kehabisan daya
"Sialan!... Sial sekali nasibku ini" ucap Hendrick dengan mengutuk ketidak beruntungannya
Tidak memiliki pilihan lain Hendrick harus memeriksa reruntuhan ini besok pagi, tapi dia tidak bisa bermalam di sana karena banyaknya hewan buas yang berkeliaran di malam hari
Dengan terpaksa dia menerima bantuan sistem dengan 50 poin sistemnya yang menjadi korban, dan tiba tiba muncul sebuah peta teransparan yang menunjukkan tempat villanya berad
saat di lihat titik merah yang ada di peta yang adalah villanya, ternyata villa itu tidak terlalu jauh dari sana, hanya berjalan sekitaran 2-3 km sepertinya dan dia akan sampai
"Bangsat kau sistem!... Kau selalu saja mencoba menipuku" ucap Hendrick dengan sangat kesal
[Ding... Sistem sudah berusaha membantu host dan yang di terima bukannya ucapan terima kasih malah makian, sedihnya sistem ini]
"Hah, kau selalu membuatku kesal sistem, tapi bisakah kau menandai titik koordinat reruntuhan ini agar aku tidak lupa?" Tanya Hendrick dengan senyum yang sekarang terpatri di wajahnya
[Ding... 1.000 poin kuasa]
"Bangsat... Pemerasan, ini namanya pemerasan, apa kau tidak kasihan padaku sistem, aku bekerja banting tulang untuk mendapatkan poin dan kau akan mengambilnya hiks..." Ucap Hendrick dengan penuh drama
[Ding... Baiklah karena sistem baik hati maka sistem tidak akan mengambil biayanya]
"Terima kasih sistem, sering sering sajalah kau baik hati" ucap Hendrick dengan senyum senang
[...]
"Baiklah, sekarang aku akan ke villa tempat prajuritku berada terlebih dahulu untuk bermalam dan beristirahat, dan besoknya aku akan kembali ke sini" ucap Hendrick yang langsung beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju titik merah yang berada di peta berada
Setelah lumayan dekat dari tempat tujuan, Hendrick bisa melihat bangunan yang lumayan besar dengan dikelilingi oleh tembok yang tinggi dan lumayan tebal
Dia langsung saja berlari dengan cepat ke sana dan sampailah di di depan gerbang bangunan itu, tapi di depan gerbang dia seperti melihat sesuatu
Hendrick langsung saja mendekati sesuatu itu yang seperti 2 bayangan manusia sedang berdiri menghadap ke arahnya
"Selamat datang pangeran"
Hendrick dikejutkan dengan suara itu, dan setelah di lihat lebih teliti ternyata itu adalah ke 2 prajuritnya yang sedang berdiri di depan gerbang?...
'untuk apa mereka berdiri di sini pada malam hari begini?'
"Apa yang kalian lakukan malam hari bergini?" Tanya Hendrick menatap heran ke dua prajuritnya
"Kami ingin menyambut saat pangeran sampai di sini" ucap mereka berdua dengan kompak
'bagaimana mereka mengetahui aku akan datang hari ini ya?'
"Baiklah, kalian bisa masuk ke dalam sekarang, aku juga akan mengikuti di belakang" ucap Hendrick
"Bagaimana bisa pangeran" teriak mereka berdua serempak
"Eh... K-kenapa?" Ucap Hendrick tidak mengerti dengan teriakan mereka berdua
Saat Hendrick sedang mencerna kata kata prajurit di hadapannya, tiba tiba saja mereka berdua berlutut di hadapannya
"Orang rendahan ini tidak berani berjalan di hadapan keluarga kerajaan, jika kami melakukan itu kami siap di hukum dengan berat" ucap mereka berdua dengan masih berlutut di tanah
Hendrick yang melihat itu bingung harus beraksi seperti apa, dia lupa kalau di jaman kerajaan masih memandang kasta
Seperti ini contohnya, rakyat biasa atau prajurit harus selalu berdiri dan berjalan di belakang keluarga kerajaan, jika mereka melanggar peraturan ini mereka akan dijatuhi hukuman
'tapi gua kan bukan keluarga kerajaan ya?'
"Kalian bisa tenang, peraturan seperti itu sudah tidak ada di jaman sekarang, dan juga kalian bisa memanggilku tuan daripada pangeran sekarang" ucap Hendrick memberi arahan pada prajuritnya itu
__ADS_1
"Tapi pangeran, mana berani kita melakukan hal seperti itu" ucap keduanya yang amsih saja setia berlutut di tanah
"Sudahlah, kalian bisa bangun dan jangan terlalu kaku begitu" ucap Hendrick sembari menyuruh mereka berdiri
"Tapi-"
"Tidak ada tapi tapian, cepat berdiri dan sekarang panggil aku dengan sebutan tuan, bukan pangeran" ucap Hendrick dengan nada tegas
"Siap pang-tuan" ucap mereka seraya berdiri dan menatap hormat pada Hendrick
"Kalau sudah selesai kalian bisa masuk" ucap Hendrick dengan santai
"Silahkan pa-tuan berada di depan" ucap keduanya serempak
"Sudah kub- ah sudahlah aku akan menuruti keinginan kalain berdua saja" ucap Hendrick dengan kesal yang langsung saja berjalan dan memasuki bangunan itu
Saat sampai di dalam di tercengang melihat kemewahan bangunan yang dibuat sistemnya ini, di atapnya terdapat lampu gantung yang sangat mewah dan besar
Dan di dinding dinding rumah itu terlihat berbagai lukisan dan lainnya, dia sampai pangling melihat kemewahan villanya ini
"Rumah ini sangat hebat sistem" ucap Hendrick dengan sorot mata kagum saat memandang ke seluruh ruangan
[Ding... Buatan sistem tidak akan pernah mengecewakan]
"Ya-ya, kau tidak mengecewakanku" ucap Hendrick mengiyakan saja ucapan sistemnya itu
"Kalian bisa kembali dan beristirahat ke kamar masing masing" ucap Hendrick yang di jawab tegas oleh mereka
"Siap tuan" ucap mereka yang langsung membubarkan diri
Hendrick langsung saja menaiki tangga dan menuju lantai 3, sampai di sana dia memasuki salah satu kamar acak yang akan menjadi tempat istirahatnya malam ini
Sampai di dalam, dia menemukan kamar yang begitu luas, kasur king size, lemari yang besar, sebuah tv, sebuah sofa, dan kamar mandi dalam ruangan, semuanya ada
Hendrick langsung saja membaringkan tubuhnya di di kasur itu dan akan mengistirahatkan diri sebentar
Karena dia takut keluarganya khawatir dia langsung saja berniat mengabari keluarganya terlebih dahulu, tetapi hp nya tidak dapat dinyalakan
"Aku lupa hpku kehabisan daya" ucap Hendrick dengan menepuk dahinya karena melupakan hal ini
Dia langsung saja mengisi daya hpnya terlebih dahulu, dan sesudahnya dia memilih membaringkan tubuhnya di kasur
"Hah... Hari yang sangat melelahkan" ucap Hendrick sembari membuang nafas lelah
"Niatnya cuman mau mampir dan mengecek keadaan mereka, tetapi malah jadinya menginap" ucap Hendrick dengan mata yang perlahan tertutup
Tapi beberapa saat kemudian dia membuka matanya kembali dan mendudukkan tubuhnya di kasur karena mengingat sesuatu
"Oh ya, aku punya kesempatan memanggil kapten prajurit ya" ucap Hendrick dengan senyum sumringah
"Sistem panggil kapten prajurit itu" Hendrick langsung saja memanggilnya karena tidak sabar ingin mendapatkan bawahan yang kuat
[Ding... Memulai pemanggilan]
Tiba tiba cahaya terang yang amat menyilaukan muncul dihadapan Hendrick, Hendrick yang masih saja silau oleh cahaya itu menutup matanya langsung
"Hormat saya kepada pangeran"
Saat Hendrick menutup matanya, tiba tiba terdengar suara wanita yang lembut dan halus terdengar di depannya
Tapi dari nadanya terdengar ketegasan, Hendrick yang mendengar itu langsung saja membuka matanya dan tertegun melihat wanita cantik di depannya
Wanita itu memiliki kulit halus bak batu giok, berambut merah seperti api yang membara, memiliki bibir merah cery yang menggoda untuk mencoba menciumnya, dan matanya yang tajam
Tapi ekpresi wajahnya sangat dingin dan tanpa ekpresi, tapi tetap saja wajah cantiknya tidak tertahankan
__ADS_1
Seperti saat dia melihat Lidya, Lidya juga sangat cantik dan sangat menggoda hingga dirinya lepas kendali dan meper- ekhem, maksudnya menghamilinya, atau sama saja ya?...
Apalagi saat melihat dua gunung milik Lidya yang sangat besar, wih tak tertahankan, Hendrick yang membayangkan itu tanpa sada memasang wajah aneh yang membuat wanita di hadapannya mengerutkan kening dengan heran
"Apakah ada sesuatu di wajah saya pangeran?" Tanya wanita itu dengan heran
"Ah... Tidak ada, bisakah kau ambilkan minum di dapur terlebih dahulu?" Ucap Hendrick yang kembali dari lamunan mesumnya itu
"Baik pangeran, saya akan mengambilnya terlebih dahulu" ucap wanita itu yang langsung beranjak dari sana menuju dapur
"Huh hampir saja, aku tidak boleh berkhianat dari Lidya" ucap Hendrick dengan tegas
Setelah itu Hendrick memilih mengecek ponselnya dan ternyata itu sudah bisa dihidupkan kembali
Saat sudah hidup kembali, Hendrick melihat terdapat puluhan bahkan ratusan panggilan tak terjawab dari keluarganya, Hendrick yang melihat itu hanya bisa tersenyum canggung
"Harus bagaimana nanti menjelaskannya ya" ucap Hendrick dengan gugup
Saat sedang fokus dalam pikirannya, Hendrick dikagetkan dengan dering ponselnya dan melihat bahwa itu adalah Lidya yang menelponnya
"Ha-"
"Kamu dimana?... Apa kamu baik baik saja?... Apa kamu terluka?..." Pertanyaan beruntun dari Lidya membuat Hendrick tidak bisa berkata apa apa
"Y-ya, aku baik baik saja" ucap Hendrick senyum lembut terlukis di bibirnya
"Syukurlah... Kami sangat khawatir tahu gak, kamu tiba tiba saja menghilang dan tidak bisa dihubungi sampai sekarang" ucap Lidya dengan nada yang terdengar marah
"Maafkan aku, baterai ponselku habis tadi jadi aku baru bisa menghubungimu sekarang" ucap Hendrick dengan raut wajah bersalah
"Huh... Sekarang kamu dimana?" Tanya Lidya yang masih khawatir dengan keadaan Hendrick
"Aku di rumah temanku, aku akan menginap di sini malam ini" ucap Hendrick
"Oh... Aku sangat khawatir tadi, aku kira kau kenapa-kenapa" ucap Lidya menghela nafas lega
"Oh ya kamu tau gak berita yang lagi viral saat ini?" Tanya Lidya dengan semangat
"Apa itu?" Tanya Hendrick sembari mengangkat alisnya karena penasaran
"Teman sekolahmu dan ayahnya tiba tiba ditemukan tewas pas lagi ekhem-ekhem" ucap Lidya dengan semangat
"Hah... Teman sekolah yang mana?" Tanya Hendrick dengan bingung
"Itu yang selalu ngikutin kamu terus di masa lalu" ucap Lidya memberi penjelasan
Hendrick yang mendengar itu langsung saja teringat pada Toni dan ayahnya yang baru saja di bunuh olehnya dan teman temannya tadi malam
"Oh ya?... Siapa namanya?" Tanya Hendrick dengan masih penasaran
"Itu... Kalau gak salah Toni, ya Toni" ucap Lidya
"Oh..."
"Oh ya, kamu pulang jam berapa besok?" Tanya Lidya dengan penasaran
"Hem... Sepertinya tengah hari, kalau gak tengah hari paling nanti sore" ucap Hendrick yang sedang berpikir berapa lama dia akan menjelajah di hutan ini
"Oh... Kala-" belum sempat Lidya melanjutkan perkataannya, dia terlebih dahulu mengerutkan kening mendengar suara di sebrang sana
"Ini air minumnya tuan" ucap kapten wanita tadi yang baru saja di panggilnya
Hendrick yang sedang fokus berbicara dengan Lidya tidak mendengar ketukan pintu, jadi kapten wanita itu langsung saja masuk dan berkata yang membuat Hendrick menegang seketika
"Suara siapa itu?"
__ADS_1
jangan lupa tekan tombol like ya!