
Airin merasa sangat jengkel karna di abaikan oleh para sales-sales penjualan rumah.
padahal banyak yang tidak punya kerjaan atau tamu untuk di layani.
"menyebalkan sekali, mereka berani mengabaikanku" batin airin kesal.
karna tidak ingin jadi semakin kesal, airin pun mencari-cari model rumah yang sesuai keinginannya sendiri.
setelah lama membalik lembaran demi lembaran gambar tipe model rumah, pilihan airin jatuh pada perumahan berlantai dua yang terlihat sangat mewah, dengan perabotan yang sudah lengkap di dalamnya, punya taman yang lumayan luas serta ada kolam berenangnya.
Dari pandangan pertama airin langsung jatuh hati dengan rumah tersebut.
Rumah dengan 3 kamar utama, 5 kamar tamu dan 5 kamar pembantu, dapur yang luas, ruang tamu yang elegan dan balkon yang menghadap ke taman dekat kolam renang langsung.
Desain rumah yang bergaya eropa dengan kombinasi warna cream dan putih.
Setelah menjatuhkan pilihannya airin memanggil seorang staf yang baru saja selsai membuat kopi untuk pelanggan lain, berhubung staf itu tidak ada kerjaan, menatapnya yang di suruh-suruh oleh rekan kerjanya membuat airin memilihnya.
__ADS_1
"huh kalian akan menyesal karna sudah mengabaikanku dari tadi" gerutu airin.
Jika di lihat-lihat dia sepertinya seorang karyawan baru.
mengetahui dirinya di panggil, staf baru itupun langsung menghampiri airin.
"Ada yang bisa saya bantu nona?" ucap si staf baru.
"apakah kamu karyawan di sini juga?" ucap airin membalas dengan pertanyaan.
"iya nona" jawabnya dengan berusaha tenang, karna ini pertama kalinya dia melayani pembeli.
"kalau begitu, kamu bantu saya mengurus prosedur pembelian rumah ini, saya akan bayar lunas langsung" pinta airin pada staf wanita yang terlihat masih umur belasan tahun tersebut.
"Aah apakah anda serius nona?" tanya gadis yang bernama ana itu pelan, takut menyinggung airin.
pasalnya, baru kali ini ada pembeli yang semuda airin, itulah mengapa airin di abaikan oleh para sales senior yang lain.
__ADS_1
Mereka tak percaya bahwa airin akan benar-benar membeli rumah di perumahan elit tersebut, kecuali airin membawa orang tuanya. itulah anggapan para sales setelah bekerja lama disana.
"apa saya terlihat sedang bercanda?" hardik airin dengan ekspresi kesal terlihat di wajahnya.
"ah, maaf nona, bukan itu maksud saya" balas ana gugup.
"apa nona sudah menentukan pilihan rumah yang akan anda beli? atau anda perlu saya untuk menjelaskan ulang untuk anda nona?" sambung ana dengan sikap berusaha profesional.
Karyawan lain menatap ana dengan kasihan dan meremehkan, walupun mereka sudah mendengar airin mengatakan akan membayar lunas langsung, mereka sangat tidak percaya, mereka menganggap airin hanya ingin akting saja.
"tidak perlu, saya sudah memilih rumahnya, kamu hanya bantu saya mengurus surat-suratnya aja" ucap airin sambil menyodorkan gambar rumah yang akan airin beli.
Ana mengambil gambar rumah tersebut untuk segera mengurusnya.
namun mata ana membelalak karna rumah pilihan airin, bagaimana tidak, itu adalah rumah paling mewah nomer 2 di antara rumah-rumah yang di jual disini.
"mm maaf nona, karna ini adalah rumah mewah nomer 2 yang harganya 20 milyaran maka nona bisa langsung berurusan dengan manajer kantor kami nona" jelas ana pada airin, namun dalam hati ana tidak bisa menahan kegugupannya, membayangkan berapa komisi yang akan dia dapatkan.
__ADS_1
"baik, tidak masalah" jawab airin santai.
"tunggu sebentar nona" pinta ana pada airin kemudian pergi memanggil manajernya.