
Semuanya udah kumpul?. Alaina mana?. Mas dan mbak Prisli?. Raislan?. Aslan?. Tanya Faleon pada Shelina.
"Nggak tahu. Bentar lagi juga bakalan datang orangnya" (jawab Shelina jutek).
Farhan dan Prisli sampai rumah. Prisli mengambil obat luka di kamarnya. Kemudian kembali ke ruang santai. "Mas kenapa mas?. Kakinya kok memar gitu?". Tanya Faleon.
"Jatuh mas?". Ucap Shelina sedikit khawatir.
"Tadi ada orang nggak jelas, ngikutin kita dan mas gulat sama itu orang. Untung cuman keseleo, nggak kena pisau". Ujar Farhan.
"Tapi masa masih bisa ikut mainkan?". Tanya Faleon lagi.
"Leon... mas kamu biar istilah dulu lah. Kalian aja lagi yang main". Sela Prisli.
"Ya nggak bisa la mbak, untuk tantangan kedua ini, harus lengkap berenam. Kalau nggak lengkap nggak bisa main". Sambung Faleon.
"Mas ikut lah. Kaki mas, nggak kenapa kok". Ujar Farhan. "Mas...". Ucap Prisli. (Farhan meyakinkan Prisli kalau dia baik-baik aja).
"Sekarang udah jam 9 ni. Yang lain mana si lama bangat". Ujar Shelina betek. Raislan dan Zilva sampai di rumah. Kemudian langsung ke ruang santai keluarga.
"Pangeran yang di tunggu-tunggu datang juga. Pakai bawa anak gadis orang ke rumah lagi". Ucap Shelina dengan nada ngeledek dan raut wajah kesal.
"Lo apa-apaan si. Jaga sikap Lo. Gue masih lebih tua dari Lo. Bisa hormat dikit nggak bicaranya. Lagian orang yang Lo ledek ini, bentar lagi bakal jadi kakak ipar Lo!". Ucap Raislan kesal.
"Udah. Jangan ribut. Sekarang udah jam 9 ni. Bentar lagi kita mulai. Kita tunggu Alaina sama mas Aslan dulu". Sela Faleon diantara perdebatan Raislan dan Shelina.
"Assalammualaikum... hi guys. Maaf ya gue telat, di kantor tadi ada kasus yang harus gue selesaikan dulu. Alaina mana?". Ucap Aslan. Shelina hanya angkat bahu.
"Tunggu apa lagi, kita mulai aja lah gamenya". Ujar Aslan.
"Nggak bisa Slan. Yang tantangan
kedua ini, pemainnya harus lengkap berenam". Tutur Faleon.
"Kalau itu syaratnya, Zilva katanya mau main juga, biar zilva aja sebagai ganti Alaina". Ujar Raislan.
"Serius Lo?. Dia?". Ketus Shelina.
"Zilva udah tahu aturan mainnya?". Tanya Farhan.
"Udah kok kak, mas. Tadi Raislan udah jelasin detail gamenya". Jawab Zilva.
"Ya udah. Kalau gitu, kita mulainya di ruangan ini aja". Ujar Feleon.
***
Alaina cepat bergerak mundur. "maaf San" (ucap Alaina dengan malu tidak berani menatap Iksan).
Iksan memaklumi hal tersebut. Dia
__ADS_1
tahu kalau Alaina terdorong ke depannya karena gerakan sangkar itu. Suasana seketika menjadi hening tanpa terdengar hirup pikuk dari dua sejoli itu.
Iksan mulai membuka lagi percakapan. "Na... (memanggil Alaina lembut).
"Ya San". Jawab Alaina sambil berusaha memberanikan dirinya melihat ke arah Iksan.
"Sebenarnya gue..., dari awal
pertama pertemuan kita waktu itu, gue... udah suka sama Lo. Lo...". Ucap Iksan blak blakan.
"Gue juga suka sam Lo". Ucap Alaina kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain sambil tersenyum.
Iksan memegang pipi Alaina. "Lo lihat gue Na. Lo nggak perlu malu. Gue sayang sama Lo Na". (sambil menggenggam tangan Alaina).
Air mata Alaina membasahi Pipinya. "Lo kenapa nangis?. Lo nggak papa kan?". Tanya Iksan khawatir.
"Gue terharu aja. Perjuangan gue setahun yang lalu untuk berusaha dekat sama Lo, sekarang nggak sia-sia. Gue nggak pernah ngebayangin cinta gue akan dibalas oleh cowok dingin dan jutek kayak Lo. Gue... nggak pernah ngebayangin... (kalimat Alaina terputus, karena bibir Iksan kembali menempel di bibir Alaina).
Alaina dan Iksan berciuman. Setelah beberapa menit, akhirnya bibir dua insan itu sudah terlepas satu sama lain. Terpancar raut wajah gembira pada dua sejoli itu. Ayunan sudah kembali berputar. Alaina dan Iksan keluar dari sangkar. Alaina berjalan lebih dulu
meninggalkan Iksan. Iksan berteriak memanggil Alaina. "Na, (Alaina menoleh) aku
anterin ya? (Alaina menggeleng dan berkata "kapan-kapan aja ya") Nanti kabarin aku ya, kalau kamu udah sampai rumah". Ucap Iksan dengan senyuman lebar di pipinya. Alaina mengiyakan ucapan Iksan. Kemudian berlalu pergi meninggalkan pasar malam dengan Gojek yang telah di pesannya.
***
Tantangan kedua, semua peserta harus menyayat sedikit jarinya kemudian menempelkan tetesan darahnya ke meja yang di atasnya ada ukiran wajah seorang wanita dan pria. Faleon membawa mejanya keruangan santai. "Oke. Untuk pembukaan, gue yang akan sayat jari tangan gue". Ucap Faleon. Faleon mengambil pisau 🔪 dan menyayat sedikit jarinya. Darah Faleon sudah menetesi meja itu. "Selanjutnya siapa?". Ucap Faleon.
Farhan mengambil pisau 🔪 kemudian menyayat tangan. Selanjutnya Aslan, setelah itu Raislan. "Siapa yang duluan antara kalian
berdua?". Ucap Raislan sambil melihat kearah Zilva dan Shelina.
"Biar gue. Shelina megambil pisau 🔪 (Dia melukai jarinya secepat kilat) Udah kan. Sekarang giliran Lo". Ucap Shelina sambil menyodorkan pisau ke Zilva.
"Lo santai aja dong kasih pisau nya ke honey gue". Protes Raislan.
Shelina meledek "Honey".
Zilva mengambil pisaunya. (Zilva ragu-ragu melukai tangannya). "Lama bangat si Honey....
(meledek kesal). Buruan dong". Ledek Shelina.
"Iya". Ucap Zilva. Zilva melukai perlahan jari
telunjuknya. "aaww" (Zilva kesakitan). Raislan langsung cepat memberi obat pada luka Zilva.
"Segitu aja udah kesakitan. Lebai bangat. Bilang aja mau caper". Ledek Shelina.
"Lo bisa nggak si nggak usah sudutin Zilva terus!". Ucap Raislan marah.
__ADS_1
"Hai... hai... udah!. Sekarang kita lanjut ke tantangan ketiga". Ucap Faleon.
Tantangan ketiga, mulai bermain ular tangga. Pada tahap ini, pemain yang kalah mendapat hukuman. Dan hukuman itu, diputuskan oleh pemenang game. "Sekarang biar gue duluan
yang lempar dadunya. Nanti baru sambung dari kiri dan begitu seterusnya". Ujar Shelina.
Mereka semua setuju. Permainan akan terus berlanjut sampai ada pemenangnya. Di game ini hanya ada satu pemenang. Dan pemenang berhak memberikan hukuman bagi yang kalah. Untuk memilih hukuman bagi yang kalah, sudah ada botol kaca berisi kertas di dalamnya. Dan kertas itu harus dibaca oleh pemenang.
Shelina melempar dadunya. Kemudian mulai menjalankannya. Sekarang giliran Zilva. Zilva melempar kedua dadu itu. Zilva mendapatkan angka 4 dan 5. Zilva langsung menjalankan kotak segitiga miliknya. Namun... hal mengejutkan pun terjadi. Tiba-tiba setelah Zilva selesai menjalankan kotak segitiga miliknya, ia seketika kaget dan histeris. "Haaaaww... sakit (tangan Zilva yang sebelumnya hanya tergores pisau jejak sayatnya hanya sedikit dari syarat permainan kedua tadi, tiba-tiba jadi lebih melebar. Dan darah di jari telunjuknya muncrat mengenai wajah Farhan yang tepat berada di depan Zilva (posisi mereka semua sebelum mulai permainan membentuk lingkaran).
Raislan dan yang lain terkejut melihat kejadian itu. Prisli yang hanya melihat mereka bermain, segera megambil kotak P3K untuk mengobati luka Zilva. "Tangan kamu kenapa yangg?. Kenapa bisa melebar lukanya?". Tanya Raislan dengan khawatir.
"Aku nggak tahu, waktu aku selesai menjalankan permainan itu, tiba-tiba tangan aku langsung kesakitan". Jawab Zilva.
"Apa gara-gara kamu melanggar aturan permainan ya va?". Ujar Prisli.
"Bisa jadi tu!" Sela Shelina (jutek).
Zilva bingung. Lalu Faleon memberitahu kembali aturan permainan buat ular tangga. "Lo lupa aturan permainan. Angka yang Lo dapatkan 4 dan 5. Itu artinya lo belum bisa menjalankan kotak segitiga Lo. Angka buat bisa mulai permainan itu, dari dua dadu tu, salah satu dadunya, harus ada yang berangka enam. Jadi Lo bisa simpulkan sendiri la dima
kesalahan Lo".
Zilva sedikit ketakutan. "Jadi maksud mas, kalau kita melakukan kesalahan, maka nanti akan langsung ada ganjarannya". Sela Raislan.
"Yaps... tepat sekali". Ucap Faleon.
"Tapi kata mas sebelumnya, pemenang dari permainan yang berhak memberi hukuman buat yang kalah". Tanya Shelina dengan heran.
"Itu benar. Itu buat pemenang. Bukan buat orang yang melakukan kesalahan". Jelas Faleon.
"Jadi, Kata 'Satu kesalahan berujung kematian" itu benar adanya". Sambung Farhan.
"Kan dari awal udah di bilang mutlak. Gimana si Lo mas. Ya ada lah". Sela Faleon lagi.
"Kalau kita keseringan melakukan kesalahan, kita bakal beneran mati dong". Ucap Zilva sambil mulai ketakutan dan menangis.
"Nggak mungkin la yangg. Ini hanya game". Ujar Raislan berusaha menegangkan Zilva.
"Ini hanya game. Nggak bakalan sampai sesadis itu juga kok. Lagian permainan ini kan di handle sama tim game". Ujar Faleon menyakinkan yanag lain.
"Kalau beneran mati. Bakalan masuk penjara dong para tim yang bikin game ini". Timpal Shelina.
"Betul juga si. Nggak mungkin la, mas Faleon separah itu buat skenario gamenya. Lo yang mengarahkan para tim game kan mas?". Ucap Aslan sambil melihat ke arah Faleon.
"Iya..., tapi gue hanya kasih arahan dasar aja. Yang mengembangkan aturan permainan ya mereka. Untuk selanjutnya gue nggak tahu lagi gimana alur game ini". Ucap Faleon dengan sedikit terbata-bata.
"Whatever the Is. Kita lanjut main lagi. Udah jam 11 malam ni". Ucap Shelina.
Raislan menenangkan Zilva dan meyakinkan Zilva kalau luka ditangannya nggak ada sangkut pautnya dengan permainan. Mungkin saja waktu menjalankan segitiga itu jari tangan Zilva yang terluka tersenggol benda lain.
__ADS_1