Six Blood

Six Blood
57. Atur Startegi


__ADS_3

Mentari pagi telah tampak di pelupuk mata. Semua penghuni rumah telah bersiap untuk melakukan rutinitas mereka seperti biasanya. Shelina dan Alaina pagi ini bangun kesiangan.


Alaina melihat jam di dinding kamarnya. "Mampus udah jam setengah delapan. Udah telat setengah jam". Ucap Alaina sambil mondar mandir ambil ini itu untuk keperluan sekolahnya. Beda hal nya dengan gadis tomboi yang satu itu. Ia dengan santai untuk mempersiapkan segala keperluan nya di kampus hari ini. Padahal ia tahu kalau hari ini ada kelas pagi. Perkuliahannya di mulai jam setengah delapan pagi. Tapi Shelina tidak mengambil pusing masalah itu. Shelina siap, dan Alaina pun siap. Shelina berjalan dengan santai menuruni tangga.


"awas kak. Aina buru-buru". Ucap Aina yang berjalan tergesa gesa menuruni tangga.


"Kenapa tu anak". Ucap Shelina sambil tersenyum tipis.


"Ai, Lin, nggak makan dulu?". Tanya Kim Youra.


"Nggak mbak. Aina udh telat. Aina pamit dulu ya kak, mbak, mas". Ucap Alaina sambil menyalami satu-satu saudara dan kakak iparnya.


"Hati-hati dik. Jangan minta supir kamu bawa mobil ngebut ya ai". Teriak Aslan khawatir.


"Aunty Lin, nggak telat juga kayak aunty Aina?". Tanya Auora sambil memasang wajah heran karena Shelina terlihat begitu santai.


"Udah telat si. Tapi dibawa santai aja. Lagian dunia ini sayang. Jadi nggak usah dibawa terlalu serius". Ucap Shelina dengan tersenyum lebar pada Aoura.


"Lin.. Lin. Ada ada saja kamu dik (tersenyum tipis). Buruan sarapan Lin, nanti tambah telat loh". Pinta aslan lembut.


"Aku nggak sarapan mas. Lanjut aja. Aku pamit berangkat dulu ya mbak, mas". Ucap Shelina sambil berjalan ingin meninggalkan meja makan.


"Tunggu bentar deh dek". Ucap Aslan sambil berjalan mendekati sang adik. Shelina menoleh ke Aslan dan berhenti berjalan.

__ADS_1


"Mas baru sadar, ini leher kamu kenapa? (sambil melihat dekat leher Shelina)".


"Nggak kenapa-kenapa kok mas. Ini karena iritasi aja mas. Karena aku pakai kalung peninggalan mama. Kayaknya aku alergi sama barang yang terbuat dari tembaga deh mas. Maka nya jadi gini" (Shelina memijat-mijat pelan leher belakangnya dan mengigit bibir nya karena takut mas nya tidak percaya dan curiga sama dirinya).


"Uhmm.. udah dikasih obat?". Ucap Aslan khawatir.


"Udah mas. Aku pergi dulu ya mas. Udah telat bangat ini mas". Ujar Shelina sambil bergegas pergi meninggalkan ruang makan, dan langsung buru-buru ke kampus dengan motornya.


Aslan merasa aneh dengan tingkah sang adik tapi ia kembali berfikir positif. Kim Youra juga kaget melihat leher Shelina tadi. Aslan bertanya pada kakak iparnya, apakah semalam waktu Shelina pulang Kim Youra lihat kondisi leher Shelina. Kim Youra jawab kalau dirinya tidak melihat luka di leher Shelina karena waktu Shelina pulang, gadis tomboi itu pakai shel dilehernya. Setelah mendengar jawaban dari Kim Youra, Aslan semakin menemukan kejanggalan pada tingkah laku adik-adiknya itu. "Sejak kapan Shelina suka pakai shel. Biasanya Aina yang suka pakai shel. Apa mereka berdua lagi melakukan sesuatu yang tidak aku ketahui. Apa malam itu Shelina sengaja memakai shel milik Alaina untuk menyembunyikan luka dilehernya. Luka di leher Shelina tidak terlihat seperti luka karena iritasi tapi seperti karena bekas cekek dari seseorang. Ada apa ini sebenarnya. Apa yang dua gadis itu rencanakan dan lakukan. Semoga mereka tidak melakukan sesuatu yang dapat membahayakan mereka". Gumam batin Aslan.


"Ya udah mbak. Aku juga pamit kerja dulu. Dah manis... (mencium pipi Auora). Permisi mbak" (Kim Youra hanya mengangguk pelan). Kemudian Aslan juga berlalu meninggalkan rumah kediaman keluarga Syof. Kini tinggal ibu dan anak itu dirumah, tanpa kehadiran laki-laki yang dicintainya. Karena Faleon dari semalam tidak pulang kerumah.


Sampai kantor Aslan langsung membahas kasus besar terkait narkotika yang baru ditangani oleh tim Aslan.


"Fais..., bagaimana perkembangan kasus baru kita". Tanya Aslan.


"Masalah ini sangat serius. Kita harus segera menangkap bandar narkotika ini sebelum tambah banyak korban yang berjatuhan". Tegas Aslan.


"Seperti nya kasus narkotika kali ini bukan hanya sekedar akitivitas perdagangan. Tapi juga ada motif tersembunyi dibalik semua itu Ndan. Pasalnya, mereka sengaja mencampurkan zat itu dalam bentuk makanan anak-anak. Setelah mereka campur zat itu, kemudian mereka berikan kepada anak-anak kecil yang diluar pengawasan orang tua nya. Ini jelas-jelas ada konspirasi besar Ndan". Tutur Alin menerangkan pendapat nya.


"Iya kamu benar. Ada konspirasi besar di balik pengedaran narkotika kali ini". Ujar Aslan membenarkan ucapan Alin.


"Ya sudah. Kalau begitu kalian kembali bekerja dan menyelesaikan tugas yang telah kita sepakati dan bagi. Jika ada kabar terbaru segera lapor ke saya ("Siap komandan" ucap rekan kerja yang lain). Ya sudah kalian boleh bubar". Ucap Aslan.

__ADS_1


*****


Selepas pulang sekolah, dua kakak beradik itu langsung pergi ke beskem RAKGMATA. Siapa lagi kalau bukan Alaina dan shelina. Semua sudah janjian dan berkumpul di beskem RAKGMATA untuk membahas kelanjutan rencana mereka.


"Jadi bagaimana Lin, ai?. Masih tetap lanjut kan kita?" Tanya Tara.


"Pakai nanya lagi. Ya lanjut!". Tegas Shelina.


"Tapi kondis Lo dan Alaina apa udah fit?". Tanya Gron.


"Udah kok kak. Kita lanjut aja ya". Ucap Alaina lembut.


"Jadi langkah selanjutnya apa?. Kita bebasin jiwa Raislan dulu, atau kita tangkap dulu pelaku yang sudah sabotase permainan hingga buat Raislan tiada". Tanya Korleo dengan wajah serius.


"Kalau gue, gue serahkan ke kalian berdua aja. soalnya ini menyangkut saudara kalian". Ujar Tara.


"Menurut gue kita tangkap pelakunya dulu, habis itu baru bantu jiwa Rai lepas dari alam gaib itu". Ucap Markus.


"Kalau menurut aku, apa nggak sebaiknya kita bantu bebasin jiwa Rai dulu. Biar Rai bisa pergi dengan tenang". Sambung Zilva dengan wajah menahan sedih.


"Aku setuju dengan kak Zilva. Kasian Abang Rai selama ini terperangkap di alam gaib yang seharusnya jiwa dia udah tenang dari dulu. Tapi karena terjebak di alam lain, dia jadi tidak bisa pergi dengan tenang. Pasti jiwa Abang Rai tersiksa sekali di alam itu". Timpal Alaina dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Yang di bilang Aina dan Zilva ada benarnya, tapi kalau menurut gue, kita tangkap dulu pelaku yang udah bikin abang gue meninggal. Karena itu juga bakalan bisa bikin Abang gue tenang. Setelah itu baru kita cari cara untuk bebasin Abang Rai dari alam itu. Gue yakin jiwa Abang Rai masih bisa bertahan selama kita cepat menangkap pelukannya". Ujar Shelina".

__ADS_1


"Ya udah kak. Dimana baiknya aja kak". Ucap Alaina. Semuanya juga setuju-setuju aja dengan permintaan Shelina karena mereka juga ingin masalah terkait almarhum Rai cepat selesai dan Raislan bisa pergi dengan tenang.


Setelah berdiskusi, akhirnya Rakgmata, Alaina, Shelina dan Zilva mengatur strategi awal dengan cara mengumpulkan lebih banyak bukti untuk menangkap pelaku terlebih dahulu. Sesuai rencana awal, jika mereka tahu siapa pelakunya maka Alaina dan Tara yang akan menjadi umpan dalam rencana ini.


__ADS_2