Six Blood

Six Blood
55. Bantuan Datang


__ADS_3

Shelina kesal dengan Tara yang ceroboh. "Sialan Lo Tar. Lo tinggalin adek gue sendiri di sana. Kenapa nggak Lo pastiin dulu adek gue selamat, baru Lo keluar dari sana!". Bentak Shelina.


"Udah Lin. Lo tenang dulu". Gron berusaha menenangkan Shelina.


"Maafin gue Lin. Gue benar-benar ceroboh. Kita harus segera bawa jiwa Alaina keluar dari sana sebelum terlambat. Nyawa Alaina dalam bahaya sekarang". Tutur Tara.


"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang". Sela Zilva.


"Jalan satu-satunya harus ada yang jemput Alaina ke sana". Ujar Ustadz.


"Biar saya aja yg jemput adek saya ustadz". Ucap Shelina.


"Jangan Lin bahaya. Kalau buat jemput jiwa Alaina nggak bisa lagi sama orang yang masih hidup". Tutur Tara.


"Maksud Lo?. Kita harus cari roh yang gentayangan di dunia ini yang bersedia buat bantuin kita?". Ketus Shelina kesal.


"Iya. Kalau jiwa kita yang masih hidup susul Alaina kesana, itu sama saja kita antar nyawa secara cuma-cuma. Jiwa orang yang hidup yang bersedia buat jemput jiwa yang terperangkap di alam gaib, jiwa itu nggak bakalan bisa keluar lagi". Jelas Tara.


"Gue nggak masalah. Selagi adik gue selamat. Gue nggak masalah buat ngorbanin nyawa gue. Gue nggak mau kehilangan saudara gue lagi karena kebodohan gue. Gue nggak bakalan bairin kali ini". Ucap Shelina dengan teguh pendirian.


"Tetap nggak bisa Lin. Lo nggak boleh lakuin itu". Bujuk Tara.


"Kalau gue nggak masuk ke alam itu. Siapa yang bakal jemput Alaina?". Ucap Shelina furtasi


"Roh gentayangan yang bersedia buat bantu kita". Timpal Korleo.


"Kita harus cari kemana roh itu. Waktu kita tinggal 15 menit lagi. Jika telat maka Alaina akan selamanya terperangkap di dalam alam gaib itu". Ucap Gron.


"Benar kata nak Gron. Jiwa yang masih hidup dan terperangkap di alam gaib. Tidak boleh terlalu lama. Jika lewat waktu yang telah ditentukan, maka jiwa yang terperangkap itu akan selamanya terkurung dan tersesat dalam alam gaib". Ujar Ustadz.


"Tara, Lo harus segera cari tar. Lo yang bisa melihat makhluk tak kasat mata itu". Ujar Markus.


"Iya gue bakal....., (Tara merasakan hawa mistis semakin dekat padanya)".


"Ada apa Tar?". Tanya Zilva.


Tara meminta Mereka untuk diam sebentar. "Ada yang datang". Ucap Tara.


Ucapan Tara barusan berhasil membuat yang lain melongo. "Siapa yang datang". Ucap Korleo sambil melihat ke pintu masuk rumah Zilva.


"Nggak ada siapa-siapa". Sambung Korleo.


Mereka semua merasakan seperti angin lewat. "Kalian tidak perlu mencari makhluk lain untuk menjemput Alaina. Biar saya saja yang menjemputnya". Ujar satu roh.


"Aku nggak tahu kamu siapa. Dan dimana kamu kenal dengan Alaina, tapi terima kasih atas kesediaan kamu untuk membantu Alaina". Ucap Tara.


Anak-anak yang lain hanya mendengar kan apa yang di ucapkan Tara sambil memasang wajah bingung. Mereka seperti percaya dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan dan dengan apa yang mereka alami sekarang. Semuanya seperti mimpi tapi berasa begitu nyata. Yang bisa melihat roh itu hanya Tara, Ustadz dan Shelina yang hanya bisa mendengar suara makhluk itu samar-samar.


Roh itu berjalan ke arah raga Alaina. Ia duduk di samping Alaina dan menggenggam tangan Alaina. Beberapa detik kemudian menghilang dari pandangan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?. Apa roh itu sudah pergi menyusul Alaina?". Tanya Gron.


"Dia sudah pergi menyusul alaina". Ucap Tara.


"Lo yakin roh itu bakal bantu Alaina keluar dari sana?. Jangan-jangan dia mau nyelakain Alaina lagi". Timpal Korleo.


"Gue yakin. Seperti nya roh itu sangat kenal dengan Alaina. Bahkan bisa di bilang dia suka sama Alaina. Jadi dia bakal bantu Alaina kembali ke sini". Ujar Tara dengan tenang.


"Gue juga bisa merasakan hawa positif waktu kedatangan roh itu. Seperti nya dia memang baik pada Alaina. Atau bahkan mereka sebelumnya mungkin pernah berteman". Ujar Shelina.


"Lo juga bisa lihat makhluk gaib Lin?". Tanya Korleo dengan ekspresi kaget.


"Gue nggak bisa liat mereka. Gue hanya bisa rasakan kehadiran mereka dan samar-samar bisa mendengar suara mereka". Tutur Shelina.


Mereka semua hanya bisa menunggu sampai roh itu membawa jiwa Alaina keluar dari alam gaib itu.


Roh itu sampai dalam alam gaib. Ia melihat Alaina sedang berusaha menghindari serangan bapak-bapak tua bawa golok tersebut. Roh itu lihat kalau ternyata Alaina tidak sendirian melawan bapak tua itu tapi ada yang membantunya.


Roh itu langsung menghampiri Alaina. Ia menarik Alaina pergi dari bapak-bapak itu. "Lepasin aku. Aku mau bantu Abang aku lawan mereka!". Bentak Alaina sambil memberontak pada roh itu tampah melihat wajah roh yang sedang bersamanya.


"Ai, kamu harus keluar dari sini. Waktu kamu sudah nggak banyak lagi. Semua orang udah nungguin kamu". Ucap roh itu dengan lembut.


Alaina menoleh ke sumber suara. Ia kaget, "Rakha?. Kamu kenapa bisa sampai sini?". Tanya Alaina nggak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Nanti aku jelasin. Sekarang kita nggak ada waktu buat bahas hal ini. Kamu harus pergi sekarang!". Pinta Rakha.


"Tapi kita harus keluar sama-sama dari sini Ka. Aku, kamu dan Abang Rai harus keluar dari sini!". Ucap Alaina dengan pilu. Air matanya mulai bercucuran.


"Cepat pergi aiiii. Jangan hiraukan Abang. Abang bakalan baik-baik aja Aii". Teriak Raislan dari kejauhan sambil terus menghentikan makhluk gaib itu untuk mengejar alaina.


"Tapi bang...". Ucap Alaina.


"Ai... cepat pergi Ai". Pinta Rakha.


Alaina masuk dalam cahaya itu. Sementara Rakha berlari ke arah Raislan untuk membantunya melarikan diri dari makhluk-makhluk gaib itu dan mencari tempat persembunyian yang aman.


Tubuh Alaina sudah mulai bergerak, semuanya menghampiri Alaina. Shelina menggenggam erat tangan sang adik. Alaina langsung terbangun dari pingsannya. Ketika bangun ia langsung memeluk sang kakak. "Kak...., Aina bertemu Abang Rai. Roh Abang Rai terjebak di sana kak". Ucap Alaina dalam tangis.


"Udah Ai. Kamu tenangin diri dulu. Nanti kita bahas soal itu. Oke". Ujar Shelina berusaha menenangkan sang adik. Namun tak bisa ia pungkiri hati nya juga ikut teriris ketika sang adik bilang ia melihat saudara nya yang sudah tiada. Air mata pun tidak bisa Shelina hentikan untuk membahasi pipinya.


Alaina tersadar dari Isak tangisnya. Ia melepas pelukan dari sang kakak. Gadis yang tampak pucat dan lusuh itu mencoba berdiri dari duduknya. Tapi tubuhnya tidak bisa bergerak terlalu banyak. Karena energinya sudah terkuras sewaktu di rasuki oleh roh Kande tadi.


"Lo mau kemana?. Lo istirahat aja ya ai". Pinta Shelina sambil membantu Alaina untuk kembali berbaring. Tapi Alaina tidak mau berbaring. Ia duduk saja.


"Tinggal berapa menit lagi waktu untuk jiwa yang terperangkap dalam alam gaib itu, agar bisa segera keluar?". Ujar Alaina sambil mengedarkan pandangannya kepada semua orang yang berada di depannya.


"Tinggal sekitar tiga menit lagi ai. Emang nya ada apa ai?. Kan kamu udah selamat". Ujar Shelina.


"Iya. Tapi jiwa Rakha masih di dalam sama Abang Rai kak. Aku nggak mau mereka berdua terperangkap selamanya di alam itu kak!". Gumam Alaina lirih disertai panik.

__ADS_1


"Ya udah kita tunggu sampai waktunya habis. Kalau mereka nggak berhasil keluar, nanti bakal kita pikirin lagi bagaimana cara buat bantu mereka keluar dari sana ai. Kamu tenang ya!". Ujar Shelina menenangkan sang adik sambil kembali memeluknya.


Mereka menunggu dengan hati gusar. Apa lagi Alaina. Gadis itu sudah sangat panik dan gelisah. Dia tidak mau untuk istirahat, Alaina mandar-mandir nggak jelas. Anak-anak yang lain juga sudah membujuk Alaina agar tenang, tapi Alaina tidak bisa ditenangkan karena rasa cemasnya sudah double. Ia cemas dengan Rakha dan ia juga cemas roh Abang nya bakal terjebak lebih lama lagi di dalam alam itu.


Satu menit lagi, suasana jadi hening, jantung alaina berdetak tak karuan karena cemas. Akhirnya, yang ditunggu memperlihatkan wujudnya. Alaina langsung berdiri dan memeluk Rakha. Pria itu pun membalas pelukan dari Alaina. Sementara anak-anak lain kebingungan. Kecuali Tara, Ustadz dan Shelina. Ya walaupun Shelina tidak bisa melihat makhluk halus tapi setidaknya ia dapat merasakan dan mendengar mereka yang dari dunia lain.


"Syukur la kamu selamat. Kamu sendirian?. Abang Rai mana ka?". Tanya Alaina sambil melepas pelukannya dan melihat sekitar Rakha.


"Maafin aku ai. Aku gagal bawa Abang kamu untuk keluar dari alam itu ai. Tadi aku udah bersama Abang kamu ai. Tapi entah kenapa, tubuh Abang kamu kepental dari cahaya itu. Seolah olah cahaya itu tidak bisa menghisap jiwa Abang kamu ai. Maafin aku ya ai". Jelas Rakha.


Alaina sedikit murung. Kemudian kembali melihat ke Rakha. "Ya udah ka. Nggak papa. Nanti kita pikirin lagi bagaimana cara untuk membebaskan jiwa Abang Rai dari sana. Makasih atas bantuan kamu ya Ka". Ucap Alaina. Rakha hanya membalas Alaina dengan senyuman.


"Gimana ai?. Jiwa Raislan bisa keluar dari alam itu?". Tanya Korleo.


Alaina menoleh ke arah Korleo "Nggak kak. Tadi kan Rakha udah jelasin sama kita. Iya kan kak?". Alaina kembali menoleh ke Rakha tapi Rakha sudah nggak ada.


"Kemana anak itu pergi. Kebiasaan bangat suka ngilang mulu". Ujar Alaina pelan.


"Dia nggak ngilang kok nak Alaina, ustadz lihat dia baru pergi tadi. Cuman Nggak pamit aja sama nak Alaina". Ujar Ustadz Umar.


"Uhmm. Kita pulang aja ya kak. Makasih ya ustadz, dan teman-teman yang lain, udah bantuin kita. Kak zil kami pulang dulu ya". Ucap Alaina.


Zilva hanya melempar senyuman di wajahnya. "Ai, kamu duluan ke mobil ya, ada yang mau kakak bicarakan bentar sama ustadz Umar". Pinta Shelina.


"Ya udah Aina temani kak Lin disini sampai selesai. Habis itu kita ke mobil barengan". Ujar Alaina santai.


"Nggak bisa ai. Kakak ada urusan penting. Oke!. Bentar lagi kakak susul ke mobil. Kor, temani Alaina ke mobil kor". Ucap Shelina.


Alaina, Markus dan Korleo duluan pergi ke mobil. Sementara Shelina, Gron, dan Tara masih di rumah Zilva.


"Ustadz, kenapa tadi Ustadz bilang seperti itu ke Alaina. Sementara kita sama-sama tahu kalau yang bantu dan bicara sama Alaina tadi udah bukan manusia lagi ustadz. Dia udah beda alam dengan kita. Tapi ucapan ustadz tadi seolah olah berusaha untuk menutupi itu semua dari adik saya Alaina. Maksudnya apa ustadz". Tegas Shelina butuh jawaban.


"Tenang dulu Lin". Ucap Tara.


"Biar ustadz Umar jelasin dulu. Pasti ustadz Umar tahu dengan apa yang dilakukannya". Sambung Gron.


"Sebelumnya saya minta maaf pada nak Shelina, karena tadi saya seperti menutupi yang sebenarnya dari adik nak Shelina. Saya lakukan itu semua demi mental adik nak Shelina. Untuk sekarang Alaina fisik dan mentalnya masih lemah, jadi belum seharusnya dia tahu kalau orang yang dia cinta telah tiada. Alaina tidak sadar akan hal itu. Dia belum sadar kalau orang yang namanya Rakha dan katanya teman dia itu sudah tiada. Takutnya jika Alaina tahu sekarang, dia tidak akan kuat menerima semua kenyataan itu. Apa lagi, tadi adik nak Shelina bilang kalau dia bertemu dengan jiwa saudara kalian yang telah meninggal. Jika sekarang dia juga tahu kalau yang nama Rakha itu juga sudah tiada, bakal double kesedian yang dirasakan adik nak Shelina. Untuk sekarang biarkan nak alaina stabil dan tenang dulu, setelah itu baru perlahan lahan di jelaskan pada Alaina bahwa orang yang selama ini bersamanya, yang dekat dengannya sudah tiada. Semoga nak Shelina dan yang lain bisa paham akan hal itu". Jelas Ustadz Umar.


Shelina, Gron dan Tara sepakat untuk menerima saran dari ustadz Umar. Sementara Zilva hanya mendengar perkataan mereka dari kamarnya. Gadis itu menyembunyikan kesedihannya, hatinya sangat remuk saat Alaina bilang kalau jiwa Rai terperangkap dalam alam gaib itu. Itu artinya pria yang dicintainya belum bisa pergi dengan tenang sampai mereka berhasil membebaskan Jiwa Rai dari alam gaib itu.


Setelah pembicaraan itu, Shelina, dan dua lainnya pamit pulang dan begitu juga dengan ustadz yang membantu mereka.


"Zil, kita pulang dulu ya zil". Tariak Tara dari luar. Sementara Shelina sudah berlalu pergi menuju mobil mereka. Zilva keluar dari kamar selepas teman-temannya pergi. "Ustadz Umar, terima kasih sudah bantu kita". Ujar Zilva dengan wajah masih terlihat bekas basa karena air mata di pipinya.


"Sama-sama nak Zilva. Kalau begitu saya permisi pulang juga ya nak Zilva". Ucap Ustadz Umar.


"Tunggu ustadz. Ustadz tolong buka mata batin saya ustadz. Agar saya bisa melihat mereka seperti ustadz Umar dan yang lain ustadz". Ujar Zilva langsung pada intinya.


"Saran saya nak Zilva jangan nekat. Kalau mata batin nak Zilva dibuka, banyak makhluk yang bisa nak Zilva lihat dan bahkan bisa mengganggu ketenangan nak Zilva. Lebih baik tidak usah ya. Doakan saja yang terbaik untuk Raislan. Semoga jiwa nak Raislan bisa kita lepaskan dari sana. Agar kepergiannya jadi lebih tenang. Permisi nak Zilva". Jelas Ustadz Umar panjang lebar kemudian berlalu pergi meninggalkan rumah kediaman Zilva.

__ADS_1


Gadis yang ditinggal mati oleh tunangan nya itu hanya bisa berusaha untuk ikhlas dan segera mencari cara untuk membebaskan Raislan dari alam gaib itu.


__ADS_2