
Karena Alaina minta di tinggal sendiri untuk istirahat. Aslan dan anak-anak yang lain pergi melayat ke rumah mendiang Markus. Mereka membantu segala persiapan yang diperlukan untuk pemakaman Markus. Ketika sedang asik mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman, Korleo tiba-tiba tersenyum kecil, tapi lama kelamaan, dia jadi semakin aneh. Korleo tertawa terbahak-bahak. Semua orang yang ada di rumah mendiang Markus kaget melihat tingga aneh Korleo.
"Lo kenapa Kor?". Ucap Gron yang berada di dekat Korleo sambil menepuk pundak Korleo.
Korleo terus saja tertawa dengan terbahak-bahak. "Woiii Kor!. Lo jangan bercanda lah!. Kalau bercanda ingat tempat lah Kor!. Kita lagi di rumah duka ni!". Sambung Gron yang masih berusaha untuk menghentikan tawa Korleo.
Aslan, Tara dan Shelina yang sedang berada di belakang rumah Markus untuk melihat penggalian pemakaman untuk jenazah Markus, mendengar suara tawa Korleo yang tak lazim.
"Suara siapa tu?". Tanya Shelina kaget.
"Gawat". Ucap Tara tiba-tiba dengan wajah khawatir.
"Ada apa Tar?". Tanya Aslan heran.
"Itu suara Korleo mas. Dia kerasukan. Gue harus segera kesana mas". Ucap Tara kemudian berlalu pergi.
Shelina yang juga menyadari ada sesuatu yang tidak beres, ia ikut menyusul Tara. Aslan yang sebenarnya masih dalam keadaan bingung, ia juga ikut menyusul Tara dan Shelina. Sesampai mereka di dalam rumah. Korleo masih ketawa-ketawa nggak jelas. Gron seperti udah kewalahan menghadapi Korleo. Tara yang baru saja datang langsung mengambil alih tubuh Korleo dari dekapan Gron. Ia membawa Korleo keluar rumah markus. Sampai di luar, tara meminta yang lain untuk mencari tali. Aslan memberikan tali yang di minta Tara. Pria indigo itu mengikat Korleo dengan erat di tiang teras rumah Markus. Makhluk halus yang merasuki Korleo ketika di ikat oleh Tara ia tidak memberontak sedikit pun, ia hanya tetap tertawa.
Tara terus mengikat tubuh Korleo. Disela Tara mengikat tubuh Korleo, teman yang ia ikat itu bicara. "Manusia yang malang dan lemah. Tubuh yang ku huni ini sangat lemah. Ia sangat ingin mati menyusul orang itu (menunjuk ke arah jenazah Markus). Haruskah aku mengabulkan permintaannya?". Ucap makhluk halus itu dengan suara seramnya sambil tertawa seperti tawanya ibu Kunti.
"Aku tidak tahu kamu siapa dan apa tujuan mu merasuki tubuh teman saya. Tapi saya minta tinggalkan tubuh itu. Jangan coba-coba kamu menyakiti nya!". Tegas Tara.
"Dasar manusia tidak tahu malu. Karena ulah kalian aku ada di sini". Teriak makhluk halus itu. Saat ucapan itu keluar dari mulut Korleo yang sedang dirasuki, saat itu juga tubuh korleo lemas dan pingsan dalam keadaan masih terikat.
"Tunggu saja. Mala petaka akan segera menghampiri kalian". Shelina kaget sambil sedikit berteriak. Karena mendengar suara yang seperti berbisik padanya.
Tara dan yang lain menoleh ketika Shelina berteriak kaget. "Ada apa Lin?". Tanya Aslan sambil memegang kedua pundak Shelina yang sedang menunduk karena syok.
"Dia sudah pergi". Ucap Tara sambil Tara melepas ikatan Korleo.
"Dia bilang sesuatu sama gue". Ujar Shelina.
"Dia siapa Lin?". Tanya Aslan bingung.
"Bilang apa Lin?". Sambung Gron.
"Tunggu saja. Mala petaka akan segera menghampiri kalian !. Kalimat itu yang gue dengar" Tutur Shelina.
"Ini bisa bahaya. Kita harus segera mengembalikan dia ke alamnya". Tukas Tara.
"Dia siapa?". Tanya Aslan makin bingung. Karena ia belum tahu akan hal itu.
"Ceritanya panjang mas. Nanti bakal lina jelasin sama mas". Tutur Shelina.
__ADS_1
"Lo beneran yakin kalau itu Kande Tar?". Tanya Shelina setelahnya.
"Ya Lin. Itu beneran dia. Nanti kita habas lagi. Sekarang bantu gue buat bangunin Korleo dulu". Ujar Tara.
Tidak lama setelah kejadian itu, Korleo bangun. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Gron dan yang lain menjelaskan pada Korleo. Setelah keadaan sudah mulai membaik, Tara dan yang lain kembali melakukan persiapan untuk pemakaman Markus. Beberapa jam kemudian, Markus udah selesai dimakamkan dengan layak. Tara dan yang lain pulang ke rumah masing-masing. Sementara Aslan kembali ke rumah sakit untuk menjaga Alaina. Awalnya Shelina ingin ikut ke rumah sakit. Tapi Aslan bilang Shelina pulang dulu istirahat. Nanti kalau udah istirahat, dan Shelina mau ke rumah sakit, tinggal gantian jagain Alaina.
Aslan sampai di rumah sakit. Alaina yang menyadari kedatangan sang kakak, ia melihat ke arah pintu masuk ruang rawat. "Mas Aslan. Baru sampai mas?". Tanya Alaina dengan lembut.
Mendengar pertanyaan sang adik, Aslan membalasnya dengan mengukir senyum di bibirnya. "Maaf ya mas baru datang lagi buat jagain Aina. Gimana keadaan Aina?. Udah rasa mendingan?". Tanya Aslan sambil mengusap lembut tangan sang adik.
"Udah jauh lebih mendingan dari sebelumnya mas. Cuman kepala Aina masih agak ngeri dikit mas". Jelas Alaina.
"Ya udah. Aina istirahat yang cukup ya. Jangan banyak pikiran dulu. Biar cepat sembuh dan cepat pulang". Ucap sang kakak.
"Siap laksanakan Ndan". Ujar Alaina sambil beri hormat disertai tawa kecil.
Aslan tersenyum senang melihat adik bontotnya yang udah mulai ceria lagi seperti biasanya.
"O iya mas. Aina baru ingat. Keadaan kak Markus sekarang gimana mas?. Apa kak Markus udah siuman?. Kalau udah Aina boleh jenguk nggak mas?. Tolong bantu antar Aina ke ruang rawat kak Markus mas". Ucap Alaina sambil ingin turun dari tempat kasur rawatnya.
Aslan yang melihat adiknya ingin turun menghentikan nya. "Nggak usah ai. Aina istirahat aja dulu". Ujar Aslan sambil membantu kembali Alaina untuk duduk di kasurnya.
"Nggak usah kenapa mas?. Kak Markus di rawat di RS ini juga kan mas?". Tanya Alaina dengan sedikit curiga pada sikap sang kakak
"Tapi mas...,". Ucapan Alaina terhenti ketika ia melihat seseorang yang ia bicarakan berdiri di hadapannya. Aslan yang melihat Alaina menatap ke arah pintu masuk juga ikutan melihat ke arah sana.
"Kamu udah baikan kak?. Syukurlah. Tapi kok wajah kakak pucat bangat. Kamu masih sakit ya kak?. Kalau masih sakit istirahat aja dulu kak. Aku udah baikan juga kok kak. Maaf ya kak kalau aku belum jenguk kamu dari kemaren kak. Pas aku mau jenguk, kakak mala udah lebih dulu jenguk aku. Makasih ya kak atas bantuannya kemaren. Dan maaf juga waktu itu aku sempat ngira kalau kakak berkhianat dan sekongkol sama sepupu kakak buat jebak kita. Sekali lagi makasih ya kak. Sekarang kakak istirahat aja dulu kak". Crocos Alaina.
"Ya. Jangan pernah merasa bersalah atas apa yang udah terjadi ya ai. Semua yang terjadi bukan salah siapapun. Itu semua sudah takdir". Ucap Markus.
Aslan yang melihat Alaina berbicara sendiri menjadi khawatir dengan sang adik. Takut adiknya kenapa-kenapa. "Kamu lagi apa ai?. Aina lagi bicara sama siapa?". Tanya Aslan khawatir.
Alaina yang mendengar suara Aslan melihat ke arah sang kakak. Lalu ia berkata "Aku lagi bicara sama kak Markus mas".
"Markus?." Ujar Aslan heran.
"Ia kak Markus. Iya kan kak?". Ucap Alaina sambil kembali menoleh ke arah Markus. Tapi Markus sudah hilang dari penglihatan Alaina. Gadis mungil itu sedikit bingung. "Kemana perginya?. Perasaan tadi masih disini deh. Kenapa kak Markus suka ngilang juga kayak kak Rakha si. Heran". Gumam Alaina pelan.
Aslan yang merasa aneh dengan sikap sang adik meminta Alaina untuk istirahat saja. Pikir Aslan mungkin Alaina berhalusinasi. Alaina menuruti permintaan sang kakak. Ia istirahat dan mencoba untuk menutup mata agar terlelap tapi lagi dan lagi pikirannya terus saja memikirkan kejanggalan kejanggalan yang ia rasakan selama di rawat. Sementara Aslan sudah istirahat di sofa ruang rawat Alaina. Cukup lama gadis lembut nan ayu itu melamun. Karena lelah berpikir akhirnya ia terlelap juga menyusul sang kakak menuju alam mimpi.
Sinar mentari pagi sudah mulai terlihat di sertai Kokok kan ayam jago nan gagah berani. Yang menandakan waktu pagi telah datang menghampiri makhluk di bumi. Dan sudah saatnya malam berganti siang, gelap menjadi terang dan bulan menjadi matahari. Alaina sudah mulai puli. Teman-teman Alaina dari sekolah datang menjenguknya. Karena ada yang menemani Alaina di RS, Aslan pamit pulang dulu untuk mandi dan bersih-bersih.
"Mas pulang dulu ya. Nanti kakak kamu yang bakal kesini. Mas abis dari rumah mau ke Kantor. Ada kasus baru yang harus mas selesaikan. Jaga diri dan kesehatan baik-baik ya dik. Kalau ada apa-apa telpon mas. Oke?" (mengusap lembut kepala Alaina). Mas pergi dulu". Tutur Aslan.
__ADS_1
"Ya mas. Hati-hati ya mas". Ujar Alaina sambil menyalami Aslan.
"Zee, mas titip Alaina bentar ya". Pinta Aslan.
Zee mengangguk pelan sembari menyalami Aslan. Selepas Aslan pergi, beberapa teman sekolah Alaina juga ikut pamit pulang pada Alaina kecuali Zee yang tetap stay buat nemenin Alaina.
"Udah mendingan kan ai?". Tanya Zee.
"Udah Zee". Jawab Alaina sambil tersenyum tipis.
"Maaf ya gue baru datang buat jenguk Lo. Lagian Lo si doyan amat masuk rumah sakit". Ujar Zee sambil tertawa jahil.
Alaina senyum sebentar, lalu bilang "Ya mau gimana lagi Zee udah takdirnya".
Zee bertanya bagaimana hubungannya dengan Rakha setelah pertemuan yang di atur Zee untuk bantu pernyataan perasaan Rakha waktu itu pada Alaina. Alaina bilang hubungan mereka sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah. Setelah mendengar ucapan dari Alaina, Zee ingin bertanya sesuatu pada Alaina tapi dia ragu-ragu. Akhirnya Zee beranikan diri untuk menanyakan hal itu pada Alaina.
"Ai, Lo udah dengar kabar tentang kak Rakha belum?". Tanya Zee dengan was-was takut Alaina belum tahu.
"Kabar apa?. Emang nya Rakha kenapa?". Alaina balik bertanya sambil memasang wajah bingung dan penasaran.
"Lo benar belum tahu?". Zee kembali bertanya.
"Kok Rakha nggak bilang sama gue. Padahal kemaren dia baru aja jenguk gue. Emangnya ada apa si Zee?". Tanya Alaina.
Zee yang mendengar ucapan Alaina kaget. "Kak Rakha kemaren datang buat jenguk Lo?".
"Ia. Emang kenapa si. Kok kamu kaget gitu". Tutur Alaina semakin heran dengan sikap Zee.
Dalam hati Zee bimbang mau jujur atau nggak sama Alaina. Tapi cepat atau lambat berita itu bakal terdengar juga oleh Alaina. Dari pada Alaina dengar dari orang lain, akhirnya Zee putuskan tuk kasih tahu Alaina.
"Sebenarnya gue sangat kaget pas Lo bilang kalau Kak Rakha jenguk Lo kemaren. Karena Kak Rakha itu udah beberapa hari di nyatakan menghilang. Lebih tepatnya ia menghilang sehari setelah bertemu Lo waktu itu". Ucap Zee.
"Masa sih. Bercanda aja kamu zee. Jelas-jelas aku selalu ketemu sama kak Rakha setelah hari dima dia nyatakan perasaannya sama aku Zee. Bahkan di yang nolong aku waktu di alam gaib". Tutur Alaina dengan keke nggak percaya.
Zee jadi heran dan bertanya tanya dalam hati. "Kenapa bisa gitu?". Tapi Zee tidak ingin memperdebatkan hal itu dulu dengan Alaina. Karena mengingat kondisi Alaina yang baru puli. "Oo mungkin bisa jadi kak Rakha ingin menyendiri dulu buat sementara waktu ai. Tapi karena dia kangen sama Lo, dia mutusin buat ketemu sama Lo aja. Tapi yang lain nggak tahu". Ujar Zee setelah berpikir panjang.
"Ia kan. Kayak nya gitu deh Zee. Soalnya kak Rakha sama gue aja dari kemaren. Nggak mungkin hilang". Ucap Alaina sambil tertawa kecil dan sedikit menggeleng karena cerita konyol Zee.
Zee yang melihat respon Alaina yang tidak mempercayai ucapannya menjadi semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada kakak sepupunya itu. Setelah cukup lama menemani Alaina di rumah sakit, Zee pamit pulang pada Alaina.
"Kalau gitu gue balik ya. Kakak Lo juga udah datang tuh" Ujar Zee sambil melirik ke arah pintu masuk ruang rawat Alaina.
"Ya Zee. Makasih udah jenguk aku ya. Hati hati di jalan" Ucap Alaina. Zee mengangguk pelan kemudian berlalu pergi meninggalkan ruang rawat Alaina.
__ADS_1