
Shelina dan Alaina sampai di depan gerbang rumahnya. "Makasih ya guys udah antar gue sama Alaina". Ucap Shelina.
"Sama-sama. Tapi Lin, kalau bisa besok atau lusa kita udah bahas strategi selanjutnya buat nangkap pelaku yang sudah sabotase permainan". Ujar Tara.
"Oke Tar. Nanti kita kabari kalau kondisi Alaina udah fit". Jawab Shelina dengan santai.
"Aina udah fit kok kak. Besok kita udah bisa lanjut untuk atur strategi buat nangkap pelaku kok kak Tara". Timpal Alaina.
"Lo istirahat aja dulu ai. Kalau udah benar mendingan, baru hubungin kita". Sela Gron.
"Udah kalian langsung pulang aja. Nggak usah di tanggapi ni anak satu". Ketus Shelina sambil melihat geram pada Alaina.
Tara dan yang lain berlalu pergi meninggalkan halaman rumah keluarga Syof. Kedua gadis yang terlihat ambur adur itu langsung masuk rumah dan menuju kamar mereka. Tapi langkah mereka dihentikan oleh masnya.
"Habis dari mana aja kalian. Pergi pagi pulang tengah malam. Tampilan berantakan lagi". Geram Faleon.
"Mumpung libur mas. Lagian ngapain di rumah waktu libur, sepi. Rumah aja yang besar tapi nggak ada penghuninya. Udah ya mas kita mau mandi dulu. Bye". Ketus Shelina kemudian langsung ke kamarnya.
"Aina juga langsung ke kamar ya mas. Mau mandi juga mas". Ucap Alaina lembut.
"Sensi bangat itu anak satu. Apa salahnya mas nya nanya adiknya habis dari mana. Ini mala marah-marah nggak jelas. Sakit tu anak". Kesal Faleon.
"Ada apa mas?. Kenapa kamu ngomel sendiri?". Tanya Kim Youra yang baru sampai di ruang tamu.
"Adik ipar kamu tu. Yang si macan. Belum makan dia kayaknya. Marah-marah nggak jelas". Grutu Faleon.
"Shelina?. Itu kan adik kamu mas. Walaupun sudah lama kamu nggak bertemu dengan dia, tapi setidaknya kan kamu tahu bagaimana sifat Shelina. Jadi jangan terlalu di tanggapi mas. Mungkin hari ini dia lagi banyak pikiran dan lelah juga seharian di luar". Ucap Kim Youra yang berusaha untuk menenangkan suaminya itu.
"Ya terserah deh. Kalian sama aja. Susah buat di mengerti. Aoura udah tidur kan?". Tanya Faleon.
__ADS_1
"Udah mas". Ucap Kim Youra santai.
"Ya udah. Saya keluar dulu". Ucap Faleon sambil berlalu pergi.
"Malam-malam mau kemana mas?". Teriak Kim Youra.
"Cari angin. Bosan di rumah". Balas faleon dari luar rumah.
Kim Youra memaklumi sifat sang suami dan lagi pula hubungan mereka juga belum sepenuhnya membaik. Tak lama setelah kepergian feleon, pria gagah dan berkarisma yaitu tuan muda Aslan pulang dari kantor.
"Baru pulang Slan?. Dinas malam ya?". Tanya Kim Youra.
"Iya mbak. Aoura udah tidur mbak?". Tanya Aslan sambil duduk di sofa ruang tamu.
"Udah. Mbak tadi belum ucapin makasih sama kamu. Makasih ya, udah bawa Aoura jalan-jalan. Dia happy bangat hari ini Slan. Sekali lagi mbak ucapin makasih ya Slan". Ujar Kim Youra.
"Oo iya mbak. Alaina sama Shelina udah pulang belum mbak?". Tanya Aslan setelah nya.
"Udah. Baru aja sampai rumah. Sekarang mereka lagi beres-beres di kamar masing-masing". Jawab Kim Youra santai.
"Ya udah mbak. Aku ke atas dulu ya mbak". Ucap Aslan sambil berjalan menaiki tangga dan beres-beres di kamarnya.
Alaina dan Shelina sudah selesai mandi. Setelah selesai Alaina langsung ke kamar kakaknya untuk mengecek kondisi sang kakak.
Tok..Tok... (Bunyi ketukan pintu).
"Ya. Masuk aja pintunya nggak dikunci". Ujar Sheila dari dalam kamar.
"Gimana leher kakak kak? (sambil melihat leher Shelina). Belum kakak kasih obat ya?. Aku bantu kasih obat ya kak (sambil mengambil obat salep Shelina di laci)".
__ADS_1
"Udah biar gue oles sendiri. Gue masih bisa kok". Ketus Shelina.
"Biar Aina aja kak". Ucap si bontot sambil terus mengoles pelan di luka leher sang kakak.
"Maafin Aina ya kak. Ini semua karena Aina nggak bisa mengendalikan roh Kande yang masuk kedalam tubuh Aina kak. Sampai Aina mencekik kakak kayak gini". Ucap si bontot sambil terus mengoles salep di luka shelina.
"Bukan salah Lo. Kan yang cekek gue si roh itu. Salah Lo cuman satu!".
"Apa kakak?". Tanya Alaina sambil menatap sang kakak dan mengehentikan aktifitas mengobati sang kakak.
"Kuku jari Lo jangan lupa di potong!. Sakit tahu nggak. Ditikam sama kuku Lo". Ketus Shelina.
"Hehee (melihat kukunya). Sorry, kan Aina nggak tahu kalau si Kande itu bakalan masuk ke tubuh Aina. Habis ini langsung Aina potong ya kak". Ucap Alaina sambil memasang wajah imutnya.
"Apaan si ni anak bontot. Udah ah. Biar gue sendiri aja yang kasih obat". Ketus Shelina.
"Iya..iya. Dasar si kang marah". Ledek Alaina sambil beranjak pergi dan pasti di pintu kamar Shelina ia mencibiri sang kakak. Karena takut di omelin sang kakak, Alaina langsung berlari ke kamarnya sambil tertawa karena berhasil membuat sang kakak kesal.
*****
Di tempat lain seorang pria sedang terbujur lemah tak berdaya. Kedua tangannya di rantai pada rantai yang bergelantungan di atas langit-langit semua ruangan. Setiap lima menit sekali, tubuh kekar berotot itu di pukuli. Sampai darah menyembur dari mulut pria tersebut. Setelah itu ia dipaksa untuk buat pernyataan kalau dia tidak akan pernah mencoba untuk berkhianat lagi dan menutup mulutnya rapat-rapat terkait pemilik bandar narkotika terbesar yang ia ketahui. Jika ia ulangi kesalahan yang sama, maka orang terkasihnya bakalan ikut jadi korban.
Ada seorang datang sambil bertepuk tangan. "Farhan...Farhan. Kasihan bangat saya melihat kamu yang biasanya selalu tampil rapih sekarang di siksa dan penampilan seperti gembel begini". Ucap Alex sambil tertawa.
Farhan meludah di depan Alex. "Najis". Ucap Farhan.
Alex menepuk pelan kepala farhan sampai tiga kali. Kemudian baru menendang perut Farhan dengan sangat bertenaga. Darah bercucuran keluar dari mulut Farhan. "Lo pikir sekarang Lo masih berkuasa?. Lo memang masih anak dari keluarga konglomerat terhormat dan di segani. Tapi itu dulu (mentoyor jidat Farhan dengan satu jari). Sekarang Lo bukan siapa-siapa. Lo sendiri yang mau gabung sama bos ke jurang kelam ini. Sekarang Lo khianati bos, minta keluar, dan ingin menjadi seperti dulu. Lo sampai sekarang masih kaya raya tapi tamak dan bodoh si menurut gue. Lo mau aja menyia nyiakan hidup Lo di jurang kelam ini!. Dasar manusia yang tak tahu bersyukur!. Naif! (meludah di samping Farhan)". Ucap Alex panjang lebar kemudian pergi meninggalkan Farhan.
Setelah Alex pergi, perkataan Alex terngiang ngiang di telinga dan pikiran Farhan. "Benar kata Alex. Gue nggak bersyukur dan bodoh. Karena kebodohan gue, nyawa anak dalam kandungan istri gue dan istri gue hampir lenyap. Semua itu karena ke tamakan dan kebodohan gue. Ya tuhan....., maaf karena hamba terlambat bersyukur dan menyadari segala perbuatan hamba tuhan!". Gumam Farhan dalam kesendirian dan dalam keadaan yang masih terikat rantai, dan badannya penuh luka. Ia hanya bisa meratapi keadaannya sekarang dan Farhan berharap, orang yang terkasih aman dan baik-baik saja.
__ADS_1