
Wiu...Wiu...Wiuuuu (suara ambulans menguasai seisi jalan raya).
Didalam ambulans Shelina tidak henti-henti nya untuk membuat Alaina tetap sadar. "Lo jangan sampai ketiduran ya ai!. Sebisa mungkin Lo harus tetap bangun. Gue takut kalau Lo pingsan, kondisi Lo akan lebih memburuk ai. Bertahan ya ai". Ucap Shelina sangat khawatir sambil mengusap usap lembut tangan sang adik.
"Aku nggak papa kok kak. Kak Lina nggak perlu khawatir. Bukan kakak bangat ini ma". Ledek Alaina dengan tersenyum tipis.
"Gila ya Lo!. Udah sekarat kayak gini, masih aja sempat-sempatnya buat ledek gue!. Jangan bicara lagi. Kalau masih bicara, gue cubit Lo". Ketus Shelina.
"Iya... iya... kakak bawel. Aina nggak bicara lagi". Ucap Alaina sambil berusaha senyum.
"Tapi, Aina boleh tutup mata menjelang sampai rumah sakit nggak kak?. Soalnya kepala Aina pusing dan nyeri kak. Aina mau tutup mata aja. Janji nggak bakalan tidur". Pinta Alaina pada sang kakak sambil tersenyum.
"Ya udah boleh. Tapi Lo janji cuman tutup mata aja ya ai. Jangan tidur!". Ucap Shelina.
Alaina mengedipkan matanya pelan tanda mengerti ucapan kakaknya. Setelah itu gadis bontot itu menutup matanya. Shelina terus menggenggam tangan sangat adik. Tak lama setelah itu, ambulans yang Alaina dan Markus naiki sampai di rumah sakit. Suster dan petugas rumah sakit segera membawa pasien keruang UGD agar segera di tangani.
"Dokter Edi, tolong selamatkan adik saya dok. Saya percaya pada kemampuan dokter.". Pinta Shelina.
"Ya nak Shelina. Saya dan tim akan berusaha semampu kami. Nak Shelina tunggu di luar dulu". Ucap Dokter Edi dokter yang biasa menangani keluarga Syof.
Sudah hampir setengah jam dokter Edi berada di ruangan Alaina dirawat, tapi masih belum keluar. Aslan baru sampai rumah sakit, ia langsung berlari menuju ruang UGD di ikuti Alin. Sementara Fais dan timnya, menyelesaikan kasus Iraq.
"Bagaiman keadaan adik Aina Lin?". Tanya Aslan dengan gusar.
"Belum tahu mas. Udah hampir setengah jam, tapi dokter Edi belum keluar juga". Jawab Shelina.
__ADS_1
Gron dan Korleo datang menghampiri Shelina dan yang lainnya. "Gron?. Lo ngapain disini?. Bukannya kalian harus jagain Markus?". Tanya Aslan.
"Ya mas. Tapi Markus nggak perlu dijagain lagi mas. Dia udah bisa jaga dirinya sendiri mas. Kita tinggal bantu Markus untuk memakamkannya dengan layak mas". Ucap Gron.
Korleo sudah banjir air mata. Sementara anak-anak yang lain masih terkejut.
"Maksud Lo?". Tanya Shelina.
"Markus udah meninggal Lin". Ucap Gron.
"Nggak mungkin la men!. Markus tu anak yang paling kuat dan paling jago di antara kita. Karena itu kita sepakat jadikan Markus seorang penghianat dimata sepupunya. Agar Iraq percaya sama Markus". Ucap Tara nggak percaya.
"Yang jelas Markus udah nggak ada Tar. Lo pikir kalau kita kuat, kita bakal terhindar dari kematian!. Nggak Tar. Yang jelas sahabat kita Markus udah tiada. Dia udah pergi ninggalin kita sama kayak Rai ninggalin kita Tar". Ucap Korleo seperti orang frustasi.
Dug..... (detak jantung yang berhenti sejenak).
Shelina menepuk-nepuk dadanya karena dadanya terasa begitu sesak setelah mendengar perkataan dari dokter Edi. Aslan memeluk sang adik.
"Ini nggak mungkin kan mas?. Aina itu masih kecil mas. Dia masih terlalu muda untuk meninggalkan kita mas. Dia adik aku satu-satunya mas!". Ucap Shelina disertai Isak tangis.
"Kamu tenang dik. Mas disini buat kalian". Ucap Aslan tetap berusaha tegar.
"Aku masih belum percaya mas. Dokter Edi pasti salah!. Aku harus cek kondisi Aina!". Ucap Shelina kemudian langsung masuk ke ruang rawat Alaina. Aslan menyusul sang adik. Shelina memeluk erat tubuh sang adik. Sedangkan Aslan ia hanya bisa menggenggam dan mengelus lembut rambut sang adik.
"Ai!.. Lo harus bangun!. Misi kita belum selesai ai. Kita masih harus bantu bebasin jiwa Abang Rai dari alam itu ai!. Tampa Lo, kita nggak bakalan bisa untuk lanjut misi itu ai. Lo nggak mau jiwa Abang Rai terperangkap di alam itu selamanya kan ai?". Grutu Shelina agar sang adik mau bangun.
__ADS_1
Aslan yang tidak tahu apa-apa tentang jiwa Raislan yang terperangkap itu, ia sangat bingung dengan ucapan adiknya barusan. Tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya masalah itu disaat kondisi seperti sekarang.
"Lin, kita ikhlaskan Alaina ya dik. Biar Alaina bisa pergi dengan tenang". Pinta Aslan.
"Nggak bisa gitu mas. Mas nggak sayang sama adik mas ya?". Bentak Shelina.
"Bukan gitu Lin. Mas sangat sayang dengan semua adik-adik mas. Tapi sekarang kondisinya, Alaina itu udah pergi meninggalkan kita Lin. Jadi kita harus bisa ikhlas agar jiwa Alaina bisa pergi dengan tenang Lin". Bujuk Aslan lembut.
"Mending mas tunggu diluar bentar mas. Aku mau berdua sama Alaina mas". Pinta Shelina.
"Ya udah. Mas tunggu di luar ya Lin. Sekalian Mas mau telpon saudara kita yang lain". Ucap Aslan kemudian keluar dari ruangan Alaina.
Aslan menelpon satu-persatu saudaranya. Faleon dan Kim Youra, mereka langsung berangkat kerumah sakit setelah mendapat kabar dari Aslan. Sedangkan Farhan, maupun Prisli, mereka tidak bisa dihubungi. Setelah Aslan menelpon saudaranya, ia duduk dengan lemas di bangku depan ruang rawat Alaina. Alin duduk di samping Aslan.
"Kamu yang sabar ya Slan". Ucap Alin sambil mengusap punggung Aslan untuk menenangkannya.
"Saya udah gagal nepatin janji buat selalu jaga adik-adik saya sama diri saya sendiri dan pada kedua orang tua saya Ai". Ucap Aslan sambil menatap sendu ke arah ruangan Alaina.
"Kamu nggak boleh merasa gagal seperti itu Slan. Kamu itu udah jadi kakak yang sangat baik buat adik-adik kamu Slan". Ucap Alin.
Aslan hanya menatap sendu ke ruangan Alaina tanpa membalas ucapan Alin lagi. Di dalam ruangan, Shelina masih saja terus bicara sama Alaina.
"Ai, Lo ingat nggak waktu kita berantem hebat dulu. Tapi cuman gara-gara rebutan lolipop. Gue nggak mau ngalah, Lo juga nggak mau ngalah. Akhirnya kita bertengkar. Dan karena gue terlalu egois, gue sampai buat Lo masuk rumah sakit dan di rawat. Karena waktu kita berantem, gue nggak sengaja dorong Lo ke dinding. Kepala Lo ngeluarin darah cukup banyak waktu itu. Papa dan mama marah bangat sama gue waktu itu. Tapi Lo sama sekali nggak marah sama gue ai. Lo mala bilang di depan mama sama papa, kalau itu bukan kesalahan gue tapi kesalahan Lo sendiri. Jelas-jelas waktu itu gue yang sengaja buat jahilin Lo dan ganggu Lo ai. Sejak itu, gue merasa bersalah bangat ai. Dan saat itu juga, gue pilih tidak mau terlalu marah atau berdebat dengan Lo ai. Karena gue takut ngulang kesalahan yang sama dimasa lalu. Gue takut nggak bisa kontrol lagi amarah seperti dulu, makanya kalau sekarang kita berdebat, gue hanya sering bilang terserah Lo. Dan Nggak mau terlalu memperpanjang masalah. Tapi sekarang, gue ngerasa lakuin itu lagi sama Lo ai. Karena keegoisan gue waktu kita diskusi sehari sebelum kita masuk ke rumah Iraq itu, gue minta perubahan rencana awal. Yang seharusnya lo jadi umpan untuk merayu Iraq, tapi malah gue yang minta di ganti. Gue nggak mau Lo kenapa-kenapa ai. Waktu itu gue pikir, menggoda Iraq bakal sangat membahayakan Lo. Tapi ternyata plan B yang sangat membahayakan Lo ai. Lagi-lagi karena gue ai. Seharusnya plan B itu tidak kita rencanakan kalau gue bisa dengan baik-baik ninggalin Iraq tanpa harus memukulnya. Bahkan Markus juga nekat merubah plan dari yang sudah kita rencanakan. Tapi gue nggak tahu apa alasan dia melakukan itu, mungkin untuk menyelamatkan Lo ai. Gue nggak tahu apa yang terjadi sebelum gue dan yang lain datang ke ruangan Lo di sekap. Maafin gue ya ai, karena datang sangat terlambat. Saking terlambatnya gue dan yang lain udah nggak bisa selamatkan nyawa Lo dan Markus".
Diluar ruangan tempat Alaina dirawat, Tara melihat ada roh datang menjenguk Alaina. Tara langsung berdiri mengikuti roh itu. "Bukankah dia roh yang sama waktu Alaina terjebak di dunia gaib itu?". Batin Tara.
__ADS_1