Six Blood

Six Blood
32. Pertemuan


__ADS_3

Alaina berjalan sendirian menuju kelas. Area yang di lewati tampak begitu sunyi. Alaina sebenarnya heran. "Para murid pada kemana ya?". Gumam Alaina dalam kesendirian. Tiba-tiba seseorang langsung berbisik di telinganya.


"Ada kok". Bisik seseorang di telinga Alaina.


Alaina tiba-tiba kaget dan hampir terjatuh. Dengan sigap pria itu menyambut Alaina. Alaina langsung melepas dekapan pria asing yang baru ia kenal di sekolah barunya itu.


"Lo siapa?". Tunjuk Alaina heran.


"Kenalin gue Rakha". Sambil megambil langsung tangan Alaina untuk bersalaman dengannya.


Alaina melepas genggaman tangan Rakha.


"Maaf. Saya buru-buru!. Permisi". Berjalan menunduk melewati Rakha. Rakha membiarkan Alaina pergi dengan tatapan tajam dan sedikit tersenyum. Alaina berjalan ke arah kelasnya. Pada saat ingin masuk kelas, Alaina mendengar suara aneh di suatu ruangan. Alaina langsung menghampiri sumber suara. Alaina mengintip dari selah ruangan untuk melihat apa yang ada dalam ruangan itu.


Di dalam ruangan ada buk Zian bersama dengan satu siswi. Alaina kaget dengan apa yang dilakukan buk Zian pada gadis itu. Alaina masih penasaran. Dia kembali mengintip, tapi dia menjadi sangat kaget. Karena secara bersamaan buk Zian melihatnya dengan tatapan sangat tajam dan menyeramkan. Alaina langsung bergegas meninggalkan ruangan itu.


Alaina tidak jadi ke kelas. Dia menenangkan diri di halaman belakang sekolah. "Kenapa buk Zian begitu sadis ya. Apa salah siswi itu, sampai-sampai ia menggunduli kepala gadis itu". Ucap Alaina dalam hati.


Alaina mendengar suara seseorang menanggapi ucapannya. "Udah jangan terlalu dipikirin. Buk Zian emang suka gitu". Ujar Rakha sambil duduk di samping Alaina.


"Kamu?". Aku kan bicara dalam hati, kenapa ucapan dia bisa nyambung ya. Mungkin hanya kebetulan. Batin Alaina.


"Kamu ikutin aku dari tadi?". Ucap Alaina.


"Nggak. Nggak sengaja aja lihat Lo jalan seperti di kejar anjing gila😀. Cepat bangat. Gue penasaran makanya gue ikutin Lo sampai sini". Ucap Rakha.


"Kalau Lo nggak ikutin. Kenapa Lo bisa tahu gue lagi mikirin buk Zian?". Ucap Alaina dengan nada curiga.


"Nebak doang. Soalnya murid disini masalahnya nggak jauh-jauh dari buk Zian". Jawab Rakha santai.


"Emang ada apa dengan buk Zian?. Kamu tahu sesuatu soal buk Zian?".


"Nggak banyak. Cuman pesan gue, Lo hati-hati aja sama buk zian. Intinya dia sadis para!". Nasehat Rakha.


"Hal sadis apa yang Lo tahu, sampai Lo yakin ibuk itu sadis parah?".

__ADS_1


"Dia pernah...". Deflon memanggil Alaina. Dan Alaina menoleh kearah Deflon waktu Rakha masih berbicara.


"Lo ngapain sendiri disini?. Nggak masuk kelas?". Tanya Deflon sambil menghampiri Alaina.


"Aku nggak sendirian kok kak. Ni ada...". Dalam hati Alaina : "Ni orang kemana, cepat bangat perginya".


"Siapa?". Tanya Deflon sambil melihat sekitar.


"Tadi ada. Cuman sekarang kayaknya dia udah pergi". Ucap Alaina yakin.


"Oo. Jadi sekarang Lo udah punya teman ni?". Tanya Deflon.


"Belum juga si. Dia baru juga kenal tadi". Jawab Alaina.


"Uhmm. Namanya siap?. Cewek apa cowok?". Tanya Deflon lagi.


"Ya..., katanya si namanya Rak..,". Pembicaraan alaina terputus. Karena ada yang panggil.


"Alaina!". Teriak Zee dari jauh. Buk Zian udah masuk kelas. Dia panggil Lo. Buruan masuk kelas". Ucap Zee teman sekelas Alaina, sambil berlalu pergi.


Deflon juga berlalu pergi. Dia mengikuti Alaina ke kelasnya. Alaina masuk kelas. Buk Zian meminta untuk Alaina segera duduk. Buk Zian menerangkan pelajaran sambil berjalan menghampiri kursi murid-murid. Waktu buk Zian sampai di kursi Alaina dia berbisik ke Alaina "Jangan masuk terlalu jauh. Nanti kamu nggak bisa lagi untuk keluar".


Alaina sedikit kaget dan agak gemetar, tapi tetap mengeluarkan senyum terpaksa pada buk Zian. Buk Zian Kembali ke mejanya dengan masih menerangkan pelajaran dan menatap tajam ke arah Alaina. Alaina langsung menundukkan pandangannya.


***


Farhan lagi berobat di rumah sakit di temani oleh Prisli. "Kondisi Pak Farhan kurang baik. Ada baiknya bapak di rawat dulu untuk beberapa hari di rumah sakit". Ucap Dokter.


"Kalau saya rawat jalan aja gimana dok? bisa?". Pinta Farhan.


"Bisa. Tapi saran saya, lebih baik di rumah sakit. Karena kondisi bapak benar-benar sangat lemah. Jika dipaksakan melakukan aktifitas, takutnya nanti bapak tambah para sakitnya". Ujar Dokter.


"Nggak papa dok. Suami saya akan di rawat di rumah sakit do". Timpal Prisli sambil membujuk Farhan.


"Ya udah dok. Kalau itu emang harus". Jawab Farhan dengan wajah pasrah.

__ADS_1


"Nanti di antar sama suster keruangan ya pak, buk. Secepatnya kami akan segera menemukan pendonor hati buat pak Farhan. Agar bisa segera kita lakukan operasi.


"Baik dok. Makasih dok". Ucap Farhan.


"Makasih dok. Kita permisi dulu". Sambung Prisli.


"Ya. Sus tolong bantu bawa pasien ke ruangan rawat". Pinta dokter.


"Baik dok. Mari pak, buk". Ucap Suster.


Ketika lagi menuju ke ruang rawat, Farhan melihat sekitar lorong rumah sakit tampak sepi.


"Kenapa di sebelah sini sepi ya sus?". Tanya Farhan.


"Ya pak. Karena gedung sebelah sini baru dibangun dan baru di tempati pak. Kata dokter, bapak butuh ketenangan dan istirahat yang cukup. Jadi kita pilih ruangan di gedung baru ini pak. Palingan hanya untuk hari ini sepi pak. Besok bakal ada pasien juga yang akan dipindah ke gedung ini". Jelas suster.


Farhan dan Prisli hanya sedikit mengangguk isyarat paham dengan perkataan suster itu. "Ini ruangannya pak. Sekarang bapak berbaring dulu, kita akan pasangkan alatnya". Pinta suster.


Sekarang Farhan sudah di infus dan resmi jadi di rawat di rumah sakit. Prisli perutnya merasa sedikit agak keram. "Perut kamu keram lagi?". Tanya Farhan khawatir.


"Iya mas". Ucap Prisli.


"Kamu istirahat aja di rumah ya. Aku nggak papa sendiri aja di rumah sakit". Pinta Farhan.


"Ya udah mas. Nanti aku minta supir kita buat antar keperluan kamu di rumah sakit ya mas. Besok aku kesini lagi". Ujar Prisli.


"Ya. Aku telepon supir dulu biar jemput kamu kesini".


Farhan menelpon supir dan meminta untuk segera membawa Prisli pulang. Prisli sudah pulang dan kini tinggal Farhan sendiri di rumah sakit.


Farhan mencoba untuk istirahat dan sudah tertidur. Waktu sudah menunjukan pukul 12.00 malam. Farhan kesulitan bernapas, sangat sulit karena ada seorang wanita rambut panjang dengan bunga melati putih yang diselipkan di rambutnya, menindih Farhan di atas dada Farhan sambil mencekik leher Farhan. Farhan mencoba melepaskan cekikan itu dan minta tolong. Barang-barang pun jatuh berserakan karena Farhan mencoba mencari pertolongan.


Beberapa suster datang dan melihat Farhan dalam kondisi kejang-kejang. Suster menenangkan Farhan. Sekarang Farhan sudah stabil. Untuk lebih tenang suster sudah menyuntik Farhan dengan obat penenang. Agar Farhan bisa istirahat dan tertidur.


Kejadian itu seperti mimpi buruk bagi Farhan. Ia heran entah siapa yang mencoba untuk membunuhnya. Namun seingat dia, wanita itu sekilas pernah ia lihat tapi lupa dimana. Sekarang Farhan benar-benar sudah menutup matanya dan terlelap.

__ADS_1


__ADS_2