Six Blood

Six Blood
38. Rawat


__ADS_3

Shelina langsung dibawa ke rumah sakit terdekat dari puncak. Luka Shelina lumayan serius karena robekan pada telapak kaki Shelina cukup dalam. Dokter menyuruh yang lain untuk menunggu di luar. Aslan menenangkan Alaina yang menangis ce cegukan.


Aslan meminta Alin buat pulang bersama tim yang lain untuk membawa jasad Iksan ke Jakarta. Alin dan tim pun telah pergi meninggalkan rumah sakit. Sekarang tinggal Alaina dan Aslan yang menunggu hasil pemeriksaan Shelina.


Dokter keluar dari ruangan Shelina. "Kalian keluarga pasien?". Tanya dokter.


"Ya dok. Saya kakaknya dok. Bagaimana kondisi adik saya dok?". Ucap Aslan dengan masih memakai seragam polisinya.


"Luka di kaki pasien, cukup dalam dan pasien kehilangan banyak darah. Tapi sekarang kondisi pasien udah stabil. Kerena sudah diberikan transfusi darah. Luka pasien sudah di bersihkan dan di jahit sebanyak lima belas jahitan. Untung kalian cepat membawa pasien ke sini. Jika terlambat sedikit saja, maka luka pasien akan infeksi dan kaki pasien terpaksa di amputasi.


Aslan dan Alaina menarik napas lega. "Makasih dok". Ucap Aslan sambil menyalami dokter yang mengobati Shelina.


"Pesan saya sebelum luka pasien pulih, pasien harus mengunakan kursi roda untuk berjalan dan banyak istirahat. Saya permisi dulu". Ucap dokter.


"Baik dok. Terima kasih banyak dok". Ucap Aslan sambil menyalami dokter, dan dokter berlalu pergi meniggalkan ruangan Shelina di rawat.


Aslan dan Alaina masuk untuk melihat kondisi Shelina. Shelina belum sadar karena obat biusnya masih bekerja. Alaina dan Aslan duduk di samping kasur Shelina. Alaina memegang tangan Shelina dan Aslan mengelus lembut rambut adiknya.


"Suster?". Aslan memanggil suster.


"Ya pak?. Ada yang bisa saya bantu?". Ucap suster itu.


"Tolong obati luka gores di leher dan tangan adek saya Alaina sus". Pinta Aslan.


"Nggak usah sus. Saya tidak papa". Ucap Alaina keras kepala.


"Aina!. Untuk kalian ini kamu dengar kata mas". Tegas Aslan.


Untuk pertama kalinya Aslan berbicara kuat dan tegas kepada Alaina. Sebelum-sebelumnya Aslan selalu bicara dengan nada rendah dan lembut pada adik-adiknya.


"Iya mas. Maaf!". Sambil berjalan di papa Suster ke kasur sebelah Shelina di rawat. Suster mengobati luka gores di leher dan luka gores di kedua bela tangan Alaina. Karena menahan Iksan sewaktu ingin menikamnya dengan pisau.


Alaina sudah selesai di obati. Sekarang waktunya untuk mereka bertiga istirahat. Alaina tidur di kasur sebelah kasur tempat rawat Shelina. Dan Aslan tidur di kursi dekat tempat tidur Shelina sambil memegang tangan Shelina. Alaina juga sudah tertidur dibawa pengaruh obat bius yang sengaja di suntikan pada tubuh Alaina, agar Alaina bisa istirahat.


***


Sinar matahari pagi yang merambat masuk lewat selah-selah jendela di ruang rumah sakit membuat Shelina terbangun dan kembali merespon genggaman tangan Aslan yang dari semalam tidak terlepas.


"Kamu udah sadar lin?. Gimana rasanya badan kamu sekarang Lin?". Tanya Aslan dengan wajah lega.

__ADS_1


"Udah sedikit mendingan mas. Tapi masih pegal bangat mas". Ucap Shelina sedikit mengkerutkan keningnya.


"Ya udah kamu disini bentar sama Alaina ya. Mas mau beli makan dulu untuk kalian".


Shelina mengangguk pelan. Aslan pergi meninggalkan ruangan. Shelina melihat Alaina dari jauh yang masih tertidur pulas di kasurnya. Sepertinya pengaruh bius itu masih berpengaruh pada Alaina. Sampai belum bangun. Shelina ingin mencoba berjalan ke arah kasur Alaina. Tapi ketika ingin menurunkan kakinya nya perlahan kelantai, Shelina sangat merasakan kesakitan. Rintisan sakit Shelina membangunkan Alaina.


"Kak Lina. Kamu udah bangun?". Sambil menuju kasur Shelina dan membantu Shelina untuk duduk di kasurnya kembali.


***


Setelah semua selesai makan, Aslan izin pergi ke Jakarta untuk menghadiri pemakaman Iksan dan menyelesaikan kasus yang ia tangani.


Shelina dan Alaina ingin ikut ke Jakarta. Tapi kondisi Shelina belum memungkinkan untuk pergi. Aslan meminta shelina dan Alaina untuk beristirahat di rumah sakit. Aslan sudah memberi kabar ke Faleon dan Farhan.


Aslan sudah pergi ke Jakarta. Tidak lama setelah itu teman-teman Shelina datang menjenguk shelina. Sani dan tiga temannya masuk ke ruangan rawat Shelina.


"Lin, Lo nggak papa kan?". Ucap sani sambil duduk di bangku dekat kasur Shelina. Dan mengusap lembut tangan Shelina khawatir.


"Gue nggak papa. Cuman untuk beberapa hari ke depan butuh jalan pakai kursi roda dulu".


"Ya ampun. Lo si!. Pergi kemana nggak bilang-bilang!. Kita semua panik tahu nggak nyariin Lo!". Timpal Sani.


"Mala ngelunjak lagi ni anak satu!". Sani mentoyor pelan kepala Shelina karena geram dengan tingkah shelina.


"Apa an si!. Aku nggak papa san. Jangan lebay deh". Ujar Shelina kesal.


"Kita itu bukan lebay. Kita khawatir Lin!". Ucap Sani.


"Ya. Makasih". Ucap Shelina seperti malas mengucapkannya.


Alaina ikuti senang karena ada teman shelina yang begitu sayang dan khawatir dengannya. Tapi tiba-tiba iya melamun. Alaina dari kecil nggak pernah punya sahabat. Dia hanya banyak teman aja. Dimana orang butuh bantuan Alaina, disitu iya punya banyak teman. Alaina sebenarnya tahu kalau teman-teman yang iya kenal semuanya hanya butuh dia waktu mereka nggak ngerti tugas atau yang lain. Tapi meski dia tahu, ia tetap bersikap baik pada semua orang bak malaikat tanpa sayap.


"Bentar ya Lin. Gue ke Alaina dulu". Berjalan ke kasur Alaina.


Shelina mengangguk pelan. Sementara tiga teman Shelina yang lainnya mereka saling mengobrol dengan Shelina disaat Sani lagi menemui Alaina.


"Kamu nggak papa ai?". Tanya Sani.


"Aku nggak papa kok kak". Ucap Alaina sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ya ampun ai. Leher kamu kena sayat?. Dalam nggak?. Sampai di kasih perban gitu". Menatap Alaina dengan khawatir.


"Nggak dalam kok kak. Cuman ke gores dikit aja".


"Syukur lah". Menarik napas lega.


"Makasih ya kak".


"Buat apa dik?".


"Karena udah jenguk kak Shelina dan aku di RS".


"Ya nggak papa. Kita kan udah dari kecil sama-sama terus dik. Dan udah kayak keluarga. Shelina saudara sebaya aku dan kamu adik aku juga kan?. Atau jangan-jangan kamu yang anggap aku selamanya ini orang lain?". Sambil bicara dengan tersenyum.


"Nggak kok kak. Kakak itu, kakak Aina juga sama seperti kak Shelina". Sambil menggenggam tangan Sani. Sani memeluk Alaina.


"Cepat sembuh ya ai". Masih di posisi memeluk Alaina yang lagi duduk di tempat tidurnya.


"Ya kak. Makasih kak".


"Lain kali, kalau mau pergi ke tempat yang lumayan jauh dari rumah, jangan sendirian ya dik?. Minimal kabari la kakak atau kakak-kakak kamu lain. Oke?. Nggak boleh pergi tanpa kasih tahu orang lain lagi Lo ai?. Janji ya?". Sambil menyodorkan jari kelingkingnya pada Alaina.


"Ya janji kak. Maaf ya". Sambil membalas jari kelingking Sani.


"Kakak ke shelina dulu, habis itu kakak pulang ya. Kayaknya bentar lagi mas Faleon akan sampai. Oke?".


"Ya kak". Sambil tersenyum.


Sani kembali ke tempat Shelina untuk pamit pulang ke Jakarta dulu. "Lin. Lo cepat sembuh ya!. Gue balik dulu, nanti Lo udah di rumah, gue ke rumah ya!. Dan kalau besok Lo udah bisa ke kampus, Lo kabari gue, gue bakalan antar jemput Lo sampai Lo udah bisa jalan sendirian. Oke?".


"Ya.. iya. Terserah lo. Udah pulang sana. Ganggu gue istirahat aja". Ucap Shelina dengan jutek.


"Ni anak. Udah sakit sikap juteknya masih aja nggak ilang-ilang". Sambil mencubit pelan pinggang Shelina.


"Aww sakit gila!" Teriak shelina kesal sambil memukul tangan Sani dengan pelan.


Alaina dan yang lain tertawa melihat dua sahabat yang aneh itu. Tiap bersama pasti selalu seperti itu. Nggak ada yang mau ngalah jadinya ya kayak berantam manja gitu terus. Jangan heran Shelina dan Sani dari kecil emang seperti itu dari kecil. Saling marah-marahan kalau lagi bersama, tapi mereka udah mengerti satu sam lain. Jadi nggak bakalan baper soal di bentak dan di cuekin atau di jutekin satu sama lain karena begitu la cara untuk membuat persahabatan mereka terlihat berbeda dari yang lain.


Kalau soal saling khawatir ketika nggak saling berada di tempat yang sama, posesifnya minta ampun, setiap saat orang yang bersama salah satu dari mereka, siap-siap aja untuk di teror. Mereka sifatnya hampir sama lah. Makanya sangat cocok jadi sahabat dan saudara yang saling melengkapi kekurangan mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2