Six Blood

Six Blood
43. Teror Two


__ADS_3

Pagi yang cerah secerah hati Shelina. Hari ini Shelina udah kembali beraktifitas seperti biasa. Shelina ke kampus tidak sendirian. Ia di jemput oleh sahabatnya Sani. Sebenarnya gadis yang bertubuh perfek itu bisa saja pergi sendiri ke kampus dengan mengemudi mobilnya. Tapi melihat kondisi kaki Shelina belum pulih, dan ia masih harus menggunakan bantuan tongkat untuk berjalan, saudara-saudaranya belum mengizinkan. Begitu juga dengan Sani. Hal hasil, Shelina terpaksa mengikuti kemauan orang-orang terdekatnya itu.


Selepas Shelina berangkat ke kampus, Alaina juga sudah bersiap-siap untuk ke sekolah. Sebelum pergi sekolah, ia pamitan dulu dengan saudara-saudaranya. Namun ketika Alaina ingin menyalami tangan Aslan,  "Gue duluan ya mas. Udah telat". Ujar Aslan sambil berjalan pergi tanpa menghiraukan keberadaan Alaina.


Alaina yang melihat sikap dingin dari masnya itu, seketika merasakan sesak di dadanya. Ia membendung air matanya dengan berusaha tetap tersenyum palsu di depan Farhan, Faleon dan Prisli.


Prisli yang menyadari kalau Alaina menahan air matanya, ia langsung mengalihkan pembicaraan. "Ai, mbak dan mas mu, hari ini langsung kembali ke Bali ya ai. Kalau kamu nanti udah libur, main-main ke Bali ya ai". Ucap Prisli sambil memeluk Alaina.


Alaina mengiyakan ucapan Prisli dan bilang sama Prisli dan mas Farhan, kalau bentar lagi ia akan libur. Ia juga sudah berencana ingin liburan ke Bali.


"Ya sudah mbak, mas, Aina berangkat dulu. Daaa". Ujar Alaina sambil berjalan menuju mobil yang akan mengantarnya sampai sekolah.


Sesampainya Alaina disekolah, ia langsung dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang berdiri di depan gerbang dengan memegang bunga mawar ditangannya. Pria itu menatap Alaina dengan penuh makna.


Alaina menghampirinya "Kakak lagi nungguin siapa kak?". Tanya Alaina sambil melihat ke arah bunga yang dipegang pria itu.


Pria itu tidak membalas ucapan Alaina. Ia mala melemparkan senyum lebarnya pada Alaina.


Dug....


Jantung Alaina seketika berdetak, melihat senyuman yang sudah beberapa hari belakangan belum dilihatnya. Ia bingung dengan tingga pria itu "kakak nggak lagi sakitkan?". Ujar Alaina sambil menyentuh jidat pria itu dengan tangannya. Alaina ingin memastikan kalau suhu tubuh pria itu normal.


Melihat respon dari Alaina yang nampak seperti khawatir, pria itu akhirnya buka suara "Gue sehat". Ujarnya disertai tertawa kecil.


"Aneh ni orang. Nggak jelas banget". Batin Alaina.


"Gue...," (sambil memegang kedua pipi Alaina, Alaina seketika mematung dengan tindakan pria itu yang tiba-tiba, tanpa permisi lancang memegang kedua pipinya). "Gue suka sama Lo Alaina". Ucap pria itu, dengan posisi tangannya masih menempel di pipi Alaina yang sedikit cabi itu. Ia menatap Alaina dengan sorot mata yang memancarkan ketulusan.

__ADS_1


Ucapan pria itu berhasil membuat alaina Gelagapan. Gadis yang bertubuh mungil itu, melepaskan perlahan tangan pria yang baru saja menyatakan cinta padanya. Alaina melihat sekelilingnya. Murid-murid yang lain melihat Alaina. "Kayaknya..., Kakak benar-benar lagi sakit kakak". Ujar Alaina sambil berjalan meninggalkan pria itu.


Deflon yang ikut menyaksikan kejadian itu, merasa jengkel dengan pria yang baru saja mengutarakan perasaan nya pada perempuan yang ia cinta. Deflon menghampiri pria yang seperti ia mengenalnya.


"Hi bro". Sambil memukul pelan punggung pria itu. "Salut gue dengan keberanian Lo. Tapi, lain kali Lo jangan ulangi lagi deh" Bisik Deflon.


"Kenapa?. Emang Lo siapanya Alaina?". Ujarnya santai.


"Sekarang gue memang bukan siapa-siapanya dia. Tapi, gue suka sama Alaina. Dan hanya gue yang boleh dekat dengan Alaina. Apalagi pacaran". Ketus Deflon.


Pria itu tertawa kecil mendengar ucapan yang keluar dari mulut Deflon. "Kalau Lo juga suka, bersaing dengan sehat la. Jangan main larang-larang. Emang Lo udah yakin, kalau Alaina juga suka sama Lo?. Sampai percaya diri banget".


"Oke kalau itu mau Lo. Gue nggak takut". Ketus Deflon.


"Oke". Pria itu pergi meninggalkan Deflon dengan lagak cool nya.


***


Di Ruangan kelas, Shelina melamun. Ia memikirkan hal yang baru menimpanya. Lamunannya terhenti ketika mendengar teriakan dari Sani. "Ya ampun lin. Kaki Lo (Shelina melihat ke arah kakinya)".


Sani panik, ia segera membantu Shelina untuk menuju UKS. Sepanjang jalan menuju UKS, darah dari kaki Shelina terus saja keluar membasahi lantai yang ia lewati. Melihat kakinya yang banyak mengeluarkan darah, Shelina hanya diam seribu bahasa, ia hanya mengikuti kemana Sani memapah tubuhnya. Shelina diam bukan karena ia syok. Shelina tidak selema itu. Ia mala merasa aneh, soalnya tadi kaki nya baik-baik Saja. Kenapa sekarang jadi keluar banyak darah gini.


***


Alaina sudah selesai mengikuti pelajaran pertamanya. Sambil menunggu guru mata pelajaran berikutnya masuk, Alaina kembali mengigat kejadian tadi. "Tu orang ke sambat apaan ya. Tiba-tiba bicara nggak jelas gitu". Gumam Alaina.


Zee menghampiri Alaina. "Ciee yang baru aja di tembak". Sambil duduk dekat bangku sebelah Alaina.

__ADS_1


"Tembak apaan. Dia baru bilang suka kok. Jangan nyebar gosip yang aneh-aneh deh Zee". Ujar Alaina betek.


"Jadi Lo berharap tadi di tembak? (Sambil tertawa).


Mendengar itu, Alaina mengerutkan keningnya. "Gila kamu Zee".


"Lah, Mala gue yang dibilang gila. Aneh Lo ai. Kalau Lo suka, bilang aja dari sekarang. Sebelum nanti terlambat". Goda Zee.


Mendengar ucapan Zee, Alaina hanya diam. Ia memikirkan hal lain. "Kenapa kisah percintaan aku tragis bangat. Sekarang aku nggak tahu, apa masih bisa lagi buat jatuh cinta. Kenapa dia harus bilang kalau dia suka sama aku. Kenapa dia nggak pendam aja perasaan itu. Dengan begitu, kalau aku ketemu lagi dengan dia, aku nggak bakalan merasa bersalah dan canggung". Gumam batin Alaina.


Melihat Alaina yang hanya bengong dan tak bersuara, Zee menepuk pundak Alaina. "Ai!. Ke Sambat Lo!. Ngelamun aja".


Alaina terkejut. "Apa Zee. Aku nggak ngelamun. I'm fine". Sambil tersenyum lebar pada Zee.


***


Aslan sedang makan siang di kantin bersama dengan Alin. Disela makan, Aslan mengutarakan rasa kecewanya pada adik bontotnya. Alin berusaha menghibur Aslan. "Aku tahu, kamu kecewa dengan Alaina. Saran aku kamu jangan terlalu lama mendiamkan Alaina. Mungkin yang ia lakukan dan sembunyikan dari kamu itu memang salah. Tapi, terlepas dari semua itu, dia pasti juga nggak niat buat bohong sama kamu. Menurut aku, Alaina di sini tetap korban. Kasian Alaina. Aku bisa rasain apa yang sekarang dia rasakan. Pasalnya, secara bersamaan ia secara tidak langsung telah kehilangan dua orang yang sangat dia sayang. Satu sisi dia nggak tahu kalau pria yang ia cinta adalah seorang kriminal, dan satu sisi lagi, disaat dia tahu pacarnya seorang kriminal, disaat itu juga dia kehilangan perhatian dari masnya. Aku nggak bermaksud berpihak pada siapa pun. Aku hanya menyampaikan sudut pandang aku. Di bohongi, bahkan dilukai fisik dan batin kita oleh orang yang kita cintai, itu pasti sakit bangat slan".  Sambil menggenggam kedua tangan Aslan.


"Eehhmm..., romantis bangat pegang-pegangan tangan. Serasa dunia hanya milik bersama..., Ee ralat, berdua maksudnya". Ucap Fais sambil berjalan menghampiri tempat duduk Aslan dan Alin.


Mendengar ucapan Fais, Alin langsung melepas genggaman tangannya pada Aslan. "Kenapa dilepas. Nggak papa kali. Lagian kalau sama-sama suka, kenapa nggak jadian aja". Ujar Fais lagi.


"Apa si. Nggak jelas bangat Lo. Kalau nggak tahu apa-apa nggak usah ikutan nimbrung" Ketus Alin.


"Jaga sikapnya. Saya masih atasan kalian". Tegas Aslan dengan ekspresi serius.


"Maaf Ndan. Tapi sekarang jam istirahat, jadi boleh la santai dikit. Gue kan teman Lo dari orok slan". Gumam Fais dengan tetap bercanda.

__ADS_1


Alin menginjak kaki Fais, pertanda berhenti bercanda sama Aslan. "Lo kalau bercanda lihat situasi lah is". Tegur Alin.


Tanpa berkata-kata, Aslan langsung pergi meninggalkan Fais dan Alin yang masih sedang berdebat. "Gara-gara Lo, Aslan jadi nggak nyaman kan". Ucap Alin kesal sembari juga ikut pergi meniggalkan fais seorang diri.


__ADS_2