Six Blood

Six Blood
53. Di rasuki


__ADS_3

Alin mempertanyakan salah satu itu maksudnya apa. Karena ucapan Aslan terhenti begitu saja. Dalam hati Alin sangat berharap kalau lelaki yang dihadapan ia sekarang bakalan mengutarakan perasaan nya pada Alin. Alin berharap Aslan bakal bilang sama dia, kalau Aslan cinta sama dia.


"Tapi kamu termasuk salah satu sahabat dekat saya (Deg.... jantung Alin berhenti berdetak sejenak. Lalu ia menarik napas pendek. "Sahabat?". Lirih suara hati Alin. Ia merasa kecewa dengan jawaban Aslan). Jadi saya perlu jelasin sama kamu. Aoura anak dari mas Faleon. Jadi dia keponakan saya dan emang sudah seperti anak saya sendiri". Jelas Aslan sambil melepaskan tangan Alin.


"Oo. Udah selesaikan? (Aslan mengangguk pelan). Terima kasih atas penjelasannya, (Alin melihat ke arah jam tangan nya sebentar) sepertinya waktu istirahat kerja udah mau habis. Saya permisi dulu". Ucap Alin sambil mengukir senyum palsu di bibirnya.


Pria tampan dan berkarisma itu hanya membiarkan perempuan yang barusan duduk dengan nya pergi begitu saja meninggalkan nya. Aslan memperhatikan langka kaki Alin sampai Alin sudah tidak terlihat lagi di pelupuk matanya. Sementara gadis cantik dengan postur tubuh yang bisa dibilang sempurna, sangat cantik dan elegan. Alin terus berjalan sambil mengusap air matanya dan tampah menoleh sedikit pun kebelakang. Gadis itu tidak tahu kenapa dirinya mengeluarkan air mata. Ia merasa jengkel akan hal itu. "Kenapa gue harus nangis!. Tapi kenapa rasanya sakit bangat. Gue berasa di tolak barusan. Bukan salah Aslan si. Tapi kayaknya gue aja yang kegeeran!". Grutu batin Alin sambil tetap mengendarai motornya pelan.


*****


Selepas Kande membanting Shelina ke dinding. Roh Kande langsung masuk ke dalam tubuh Alaina. Alaina berusaha membuat pertahanan dirinya agar tidak dikuasi roh Kande sepenuhnya. Shelina yang melihat Alaina kesakitan mendekati adiknya itu dan berusaha untuk menyadarkan Alaina.


"Sadar ai!. Kamu kenapa si?". Ucap Shelina panik.


Alaina kesulitan mengendalikan dirinya. Ia mendorong Shelina kemudian mencekik Shelina dengan satu tangan. Ia seret tubuh Shelina ke dinding. Shelina berusaha melepaskan tangan Alaina dari lehernya. "Lee..pasin ai!". Ucap Shelina yang sudah mulai sesak napas.


"Hihihiii... sekarang giliran kamu untuk mati!. Selamat menyusul saudara kamu!. Hihihiii". Ucap roh kande yang bersemayam dalam tubuh Alaina.


Tara ingin menolong Shelina tapi lagi-lagi Konde menghalanginya. Gron dan teman-teman yang di luar mendengar keributan itu. Tim game pun mendengar kegaduhan itu.


"Sepertinya kita harus kembali masuk membantu mereka. Mereka butuh bantuan kita!". Tegas Gron sambil langsung berlari masuk ke dalam ruangan dimana Shelina, Alaina dan Tara berada.


"Tapi Gron...!". Teriak Markus.


"Ini memang bukan masalah yang bisa kita selesaikan dengan mata telanjang. Gron benar, kita nggak bisa diam aja disini. Kita harus bantu mereka!". Tegas Korleo.


"Ada apa di dalam. Apa yang terjadi!". Tanya ketua tim game yang baru datang bersama beberapa anak buahnya.


"Lo jelasin sama mereka (menepuk pelan bahu Markus). Gue masuk duluan". Ujar Korleo sambil berlalu pergi.


"Gue ikut!". Ucap Zilva sambil ingin pergi menyusul Korleo.


Markus menghentikan Zilva. "Lo disini aja!. Di dalam bahaya. Biar kita aja yang masuk buat batu yang lain".


"Tapi gue...,". Ucapan Zilva di sangga Markus.


"Pak, saya minta tolong tinggalkan beberapa anak buah di luar buat jagain teman saya ini. Selebihnya ikut saya buat bantu teman saya di dalam". Pinta Markus.

__ADS_1


Ketua tim game setuju. Ia meninggalkan dua anak buahnya di luar untuk jaga Zilva. Selebihnya masuk untuk menolong yang lain.


Gron masuk dalam ruang elektronik tempat dimana Shelina dan dua lainya berada. Suasana dalam ruangan itu sudah gelap dan serasa mencekam. Korleo yang baru masuk pun ikut merasakannya. Mereka berdua mencari dimana Shelina dan yang lain berada. Gron dan Korleo menghidupkan senter hpnya untuk penerangan. Mereka jalan perlahan dan hati-hati sampai pada titik dimana ia mendengar suara des*h*n kesakitan dari balik ruangan lainya.


"Gron seperti mereka diruangan itu" Ucap Korleo sambil menunjuk satu ruangan.


Gron langsung berlari dan mendobrak pintu masuk itu. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Shelina lagi di cekik oleh Alaina.


"Apa yang terjadi. Kenapa Alaina mencekik kakaknya sendiri". Ujar Korleo bingung.


"Seperti nya Alaina kerasukan". Ujar Gron sambil berlari ke arah Alaina dan berhasil mendorong alaina dengan keras.


Shelina berhasil lepas dari cengkraman roh Kande. Gron membantu Shelina untuk duduk di kursi. Leher Shelina sangat nyeri dan penuh dengan lebam merah akibat tikaman dari roh Kande.


Alaina berusaha menyerang Shelina lagi, untungnya Gron cepat bergerak dan mengunci kedua tangan Alaina. "Lepas...!". Bentak roh Kande dengan mata terbelalak.


"Kor bantu gue untuk ambil sesuatu yang bisa mengikat Alaina". Teriak Gron sambil berusaha menahan perlawanan dari tubuh Alaina yang dipengaruhi oleh roh Kande.


Korleo mencari sesuatu dan menemukan tali. Ia membantu Gron untuk mengikat tangan dan kaki Alaina. Mereka berhasil meningkat Alaina.


"Adek gue nggak papa kan. Gimana cara usir roh jahat itu dari tubuh Alaina". Ujar Shelina cemas dengan keadaan sang adik.


"Tara. Tara mana?". Tanya Korleo tiba-tiba.


"Gue nggak tahu. Tapi gue yakin dia masih sekitar ruangan ini. Tadi dia melawan roh Konde. Roh cowok yang berambut gondrong dan sangar". Jelas Shelina.


"Kita harus temukan Tara. Gue takut dia kenapa-kenapa". Ucap Gron.


"Lo benar. Kalian pergi aja cari Tara, gue disini jagain adek gue". Tutur Shelina.


"Lo yakin Lin. Alaina masih dirasuki. Lo nggak bisa hadapin dia sendiri". Ucap Korleo.


"Benar apa kata Korleo Lin. Lo nggak bisa sendiri disini. Yang ada nanti Lo bisa di celakain lagi sama Roh jahat yang ada dalam tubuh Alaina". Ujar Gron membenarkan ucapan sahabatnya Korleo.


"Tapi bagaimana dengan Tara. Dia pasti lagi kewalahan sekarang. Dia butuh bantuan". Ucap Shelina.


"Bantuan datang". Teriak Markus dari kejauhan bersama ketua tim game dan anak buah nya.

__ADS_1


"Markus". Ucap mereka bersamaan.


"Kalian nggak papa kan?". Tanya Markus.


Shelina, bilang tidak papa. Ia minta Markus dan yang lain segera cari Tara. Markus, Gron, Korleo dan beberapa anggota dari tim game mencari dimana keberadaan Tara. Sementara Shelina, ketua tim game dan beberapa anak buahnya membantu menyadarkan Alaina.


"Kita harus membuat roh yang merasuki tubuh Alaina meninggalkan raga Alaina". Ujar ketua tim game.


"Bagaimana cara nya?". Tanya Shelina.


Ketua tim game meminta anak buahnya untuk memegangi Alaina dan menempelkan bawang putih di sekujur tubuh Alaina sambil ketua tim game membaca ayat-ayat di telinga Alaina. Roh Kande merintih kesakitan dan akhirnya ia menyerah lalu pergi dari tubuh Alaina.


"Gimana pak?. Adik saya baik-baik aja kan?". Tanya Shelina sambil duduk disamping tubuh Alaina.


"Roh jahat itu sudah meninggalkan tubuh adik kamu. Tapi saya heran adik kamu masih belum juga bagun. Sebaiknya kamu cepat bawa dia pulang dan panggil para normal atau Ustadz yang tahu akan hal ini ". Ujar tim Game.


Shelina menarik napas panjang untuk menenangkan dirinya. Sementara di tempat lain. Gron dan yang lain masih mencari Tara. Mereka mengunakan penerang dari senter hp untuk melihat sekitar ruangan.


"Di sudut itu apa an guys?". Tanya Korleo sambil mengarahkan senternya pada sudut yang dilihatnya.


"Kayak orang". Ucap Markus.


"Jangan-jangan". Ucap Gron.


Mereka bertiga saling tatap sebentar. "Tara!". Ucap mereka serempak. Kemudian langsung berlari. Gron membalik badan orang yang tersungkur di sudut ruangan itu. Mereka bertiga sangat kaget. Ternyata itu benar Tara. Pria indigo itu terbujur lemas dan dalam keadaan pingsan.


Korleo memastikan keadaan Tara. "Syukur lah Tara masih napas". Ujar Korleo sambil mengambil napas.


"Kita harus segera bawa Tara pergi dari sini". Ujar Gron.


Markus dan yang lain setuju. Gron dan Korleo memapah tubuh Tara. Mereka sampai di tempat Shelina.


"Tara kenapa?" Tanya Shelina.


"Tara pingsan Lin". Ucap Korleo.


"Kita harus segera pergi dari sini". Ujar markus.

__ADS_1


"Gron, Lo bantu Gendong Alaina ke mobil. Biar gue yang bantu Korleo bawa Tara ke mobil".


Gron mengiyakan ucapan Markus. Ia mengendong Alaina. Sementara Shelina di papa anak buah dari tim game. Setelah sampai di mobil mereka berterima kasih pada tim game kemudian berlalu pergi.


__ADS_2