Six Blood

Six Blood
27. Last Game


__ADS_3

Tantangan terakhir, kembali berkumpul di meja ukiran yang di teteskan darah tadi. Di atas meja di tarok botol kaca. Kali ini, salah satu dari pemain membaca ucapan, yang nantinya akan tertera di meja. Peraturan mutlak dari permainan terakhir dan tidak boleh sampai di langgar, peraturannya adalah "Peserta tidak ada yang boleh mundur dari permainan terakhir. Jika ada yang mundur, maka Ia akan menjadi nyata!" Ucap Faleon yang awalnya pelan, menjadi tegas waktu bilang "Ia akan menjadi nyata".


"Sebelum kita mulai, gue tanya lagi sama kalian. Kalian siapkan untuk lanjut. Gue kasih waktu dua menit untuk berpikir". Ucap Faleon.


Shelina dan Farhan serentak bilang lanjut. Zilva menarik Raislan agak jauh dari yang lain. Zilva dan Raislan berbicara empat mata.


"Yangg, kita nggak usah lanjut lagi ya. Firasat gue nggak enak yangg. Sambil memegang kedua tangan Raislan untuk meyakinkannya.


"Nggak bakalan kenapa-kenapa kok yangg. Kamu tenang aja. Kan ada aku yang bakalan selalu jagain kamu". Memegang pipi Zilva dengan kedua tangannya.


"Bukan gitu. Yang bikin aku ragu itu, teka teki aneh itu yangg. "One Blood of Mistakes" kamu nggak merasa aneh dengan kalimat itu. Bagaimana kalau yang aku pikirkan itu beneran jawaban dari teka teki itu".


"Emang menurut kamu, maksud dari teka teki itu apa?" Tanya Raislan.


"Kamu bayangin aja. "Satu darah kesalahan!". Itu udah jelas artinya, kalau kamu melakukan satu kesalahan, akan berujung kehilangan satu darah. Itu bisa jadi, yang melakukan kesalahan bakalan mati yangg!".


Raislan tertawa mendengar penjelasan Zilva. "Kok kamu ketawa si yangg. Aku serius!" Ucap Zilva kesal.


"Imajinasi kmu itu nggak masuk akal bangat yangg. Ini hanya game! udah deh yangg jangan lebay lah. Oke?" Kembali memegang kedua bahu Zilva dan menatap matanya lekat-lekat.


"Ya udah oke. Kalau aku kenapa-kenapa, aku nggak bakalan pernah lepasin kamu Lo yangg. Dunia akhirat aku ikutin kamu terus!" Dengan tangan mencubit gemas pipi Raislan sambil tersenyum.


"Ya oke". Ucap Raislan.


"Woii lama bangat si Lo!" Pekik Shelina dengan menahan marah.


"Iya gue udah selesai kok. Santai dongg adek galak". Ucap Raislan sambil mengacak-acak pelan rambut Shelina dan disertai tertawa jahil.


"Sialan Lo. Selalu aja cari masalah sama gue!" Tukas Shelina.


"Udah! jangan ribut terus dong. Kita langsung lanjut". Tegas Farhan.


"Oke. Sebelum mulai gue ingatkan lagi. Kalau udah masuk last game. Apa pun yang terjadi. Peserta udah nggak bisa mundur. Kalau ada dari pemain mundur, maka "Ia akan menjadi nyata". Oke!" Tegas Faleon.


Semua saling tatap dan serempak bilang siap untuk memulai last game.


...Game Start...


"Lin. Karena Lo yang menang di game sebelumnya, jadi Lo yang memulai permainannya". Ucap Faleon.

__ADS_1


Shelina memulai permainan dengan memutar botol kaca yang berada di atas meja. Putaran botolnya berhenti di Zilva. Zilva agak kaget. Ketika botol berhenti, bagian meja yang di depan Zilva. Menimbulkan tulisan yang harus di baca Zilva.


Zilva membaca tulisan itu "Satu darah kesalahan untuk orang yang berada...,"


"Kalimatnya terputus". Gumam Zilva.


"Berarti nanti bakalan ada sambungnya. Udah lanjut aja". Sambung Raislan.


Kerena putaran terakhir berhenti di Zilva. Jadi Zilva yang harus memutar botolnya lagi.


Putaran botol itu berhenti di Farhan. Tulisan muncul di meja depan Farhan. Farhan membaca tulisan itu.


"Kejujuran"


"Lo dapat tulisan kejujuran mas. Yang artinya Lo harus berkata jujur untuk satu pertanyaan yang bakal di ajukan buat kamu. Salah satu dari kita boleh bertanya pada mas Farhan". Jelas Faleon.


Raislan dan Aslan sama-sama ingin bertanya. "Kerena yang duluan angkat tangan Raislan. Lo langsung ajukan pertanyaan Lo Rai". Pinta Faleon.


"Mas. Di balik sikap cuek Lo ke adek-adek Lo. Gue boleh minta Lo buat bicara yang sejujur-jujurnya, Lo sayang nggak si sama adek-adek Lo! Kalau lo sayang, gue pengen Lo bilang I Love you ke adek Lo yang ada di sini. Ucap Raislan sambil menahan tawa.


Itu sebenarnya hal yang mustahil bagi Farhan. Karena seumur umur belum pernah mengucapkan kata itu secara langsung pada adik-adiknya. Farhan dikenal mister dingin tujuh kulkas. Cueknya lebih parah dari adik-adiknya yang lain. "Itu bukan pertanyaan. Ganti!" Tegas Farhan nggak terima.


Farhan menghela napas pendek. "Oke. Kalau itu yang Lo pada inginkan. Mas memang kelihatan dingin. Tapi tanpa gue jelasin pun. Kalian udah pada tahu jawabannya. Jadi udah lah.


"Ya nggak bisa gitu la mas". Sangga Aslan.


"Nggak jentel Lo mas!". Ledek Raislan.


"Oke. Oke... Malas bangat gue sebenarnya. Rasa sayang itu nggak perlu di ungkapkan dengan kata-kata. Setiap orang punya cara tersendiri buat ungkapin rasa sayang itu. Jadi Lo pada, jangan pernah berpikir buruk ke orang yang cuek, dan kelihatan seperti tidak peduli, justru terkadang orang yang seperti itu, jiwa ker nya lebih tinggi di banding dengan orang yang memperlihatkan rasa sayangnya secara terang terangan. Kayak Lo Rai. Lo tiap saat ribut terus sama adek Lo yang satu ni. Melirik ke arah Shelina. Tapi jangan Lo kira mas Lo ini nggak tahu apa-apa. Mas tahu semua karakter adik-adik mas. Mas tahu, Lo diam-diam tanpa sepengetahuan Shelina, Lo nolongin dia, waktu mau di jahatin sama teman cowoknya di kampus. Ya kan?" Ucap Farhan.


Shelina agak nggak percaya apa yang di bilang sama mas nya barusan. "Sotoy Lu mas" Ucap Raislan dengan nada seperti tidak ingin diketahui kebaikannya oleh adik lawan debatnya itu.


"Gue udah jujur. Kalau lo nggak percaya, selesai game ini, Lo cari aja bukti di kamar Abang Lo yang satu ni". Ucap Farhan.


"Udah. Untuk menghemat waktu, Lo harus bilang kata terakhir tadi mas". Ujar Farhan.


"Oke. I.., Lo.., ve.., you". Kata Farhan sedikit terbata dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


"I love you too mas" Balas Raislan tertawa puas.

__ADS_1


"Senang Lo?" Ucap Shelina sedikit tersenyum.


"Udah. Sekarang lanjut". Pinta Faleon. Farhan memulai memutar botolnya. Putaran botol terhenti di Shelina.Tulisan di depan bagian meja Shelina muncul. Shelina membaca tulisan itu.


"Di depan mu..,"


Semuanya berpikir. Dan Shelina dan Zilva Syok. Mereka sudah tahu arti dari teka teki itu. "Nggak. Imajinasi gue pasti salah". Shelina Menepis pikiran negatifnya.


"Kalimatnya kembali terpotong". Ujar Aslan.


"Udah lanjut. Nanti pasti ada sambungannya". Gumam Faleon.


"Bentar mas. Zil, kalimat yang Lo dapat tadi juga terpotong kan?. Gue akan gabungkan". Kata Raislan.


"Satu darah kesalahan untuk orang yang berada.., di depan mu..,"


"Itu artinya, orang yang di depan Shelina atau Zilva yang bakal dapat hukuman dari game sebelumnya?" Raislan melirik kesemua orang.


"Udah nanti bakal ketemu jawabannya". Ucap Farhan.


"Kalau iya, berarti yang bakal dapat hukuman antara mas Aslan dan Zilva dong mas. Gumam Raislan dengan mulai sedikit cemas.


"Lanjut". Pinta Faleon. Shelina memutar botolnya. Botol berhenti di Faleon. Faleon membaca kalimat yang muncul di bagian depan mejanya.


"Satu darah kesalahan untuk orang yang berada di depan mu!" Kalimat lebih tegas. Faleon melihat ke orang yang berada di depannya.


"Masih kalimat yang sama. Tapi ini nggak ada tanda koma lagi. Udah tanda seru". Ujar Raislan.


"Udah next". Kata Aslan. Faleon memutar botolnya. Botolnya berhenti di Raislan. Kalimat muncul di depan meja Raislan.


"One Blood Of Death..,"


"Satu darah kematian" Raislan bingung.


Semua orang heran. Tiba-tiba kalimat sambungannya muncul.


"You!"


Semua orang kaget. Zilva dan Shelina berteriak dengan sangat histeris. Botol kaca yang di meja, dengan sangat kuat menghantam tepat di dada Raislan.

__ADS_1


Seketika darah dari tubuh lelaki tampan itu, Muncrat mengenai wajah Shelina dan Faleon. Di depan Zilva adalah Aslan. Dan yang di depan Shelina adalah Zilva. Dan orang yang tepat di depan Faleon adalah Raislan. Karena kalimatnya saling menyambung, maka orang terakhir lah yang mendapat hukumannya. Ia adalah Raislan.


__ADS_2