
Di dalam perjalan Shelina bertanya pada yang lain. "Kita mau bawa mereka kemana?. Soalnya sempai sekarang mereka belum sadar".
"Gue juga bingung. Harus bawa mereka kemana". Ujar Markus
"Gimana kita bawa ke rumah Lo aja Lin. Pasti nanti saudara Lo yang lain bisa bantuin kita". Ujar Korleo.
"Jangan bawa ke rumah gue, yang ada nanti mas gue bakalan marah. Apa lagi kondisi Alaina sekarang kayak gini". Sela Shelina.
"Terus kita bakal bawa mereka kemana?. Kita nggak bisa lama-lama biarin mereka dalam keadaan seperti ini. Bisa bahaya buat nyawa mereka". Sambung Korleo.
Gron yang lagi fokus nyetir mulai bicara. "Kita bawa mereka ke beskem aja. Setelah sampai baru kita panggil orang yang bisa menangani masalah ini. Gimana?". Tanya Gron sambil fokus nyetir.
"Gimana kalau ke rumah gue aja. Kebetulan di rumah lagi nggak adak orang. Orang tua gue lagi di luar negeri. Kebetulan tetangga gue suaminya ustadz. Jadi gue yakin bakalan bisa bantu kita untuk hal ini". Tutur Zilva yang baru bersuara.
Shelina melihat sinis ke arah Zilva, kemudian baru bicara "Ya udah gue setuju. Kita nggak punya banyak waktu buat mikir".
Gron dan yang lain juga setuju. Gron menambah kecepatan mobilnya. Mereka menuju rumah Zilva.
'Dimensi Lain'
Alaina terbangun dari pingsannya. Ia berdiri perlahan melihat sekitarnya. Sepanjang matanya memandang ia hanya melihat lahan kosong dan gersang. Hanya ada beberapa pepohonan. "Aku dimana?. Kenapa disini gelap dan gersang sekali". Ucap Alaina sambil berjalan perlahan.
"Tolong...... Apa ada orang disini!". Teriak Alaina sambil terus berjalan perlahan mengitari satu persatu pohon yang di lewatinya.
"Kenapa sama sekali tidak ada orang. Seperti tidak ada kehidupan disini. Aku dimana. Kenapa udara disini sangat tidak enak. Aku kenapa jadi merinding". Gumam Alaina dalam hati.
Alaina terus berjalan tertati tati karena tidak terlalu terang. Suasananya seperti malam yang sangat gelap. Cukup jauh ia berjalan tapi belum menemukan tempat untuk beristirahat.
Ketika sedang berjalan ia melihat beberapa orang anak kecil yang seperti nya sedang bermain. Anak-anak kecil itu berlari dan tertawa riang. Alaina menghentikan langkahnya. Ia mengamati anak kecil itu. Namun seketika ia jatuh karena kaget. Tiba-tiba saja ada wajah yang buruk rupa tepat di depan wajah Alaina. Matanya copot satu, mukanya dilumuri darah dan banyak jejak sayatan. Alaina kaget dan jatuh.
__ADS_1
Sementara di dunia nyata, tubuh Alaina mengalami kejang-kejang. Semua nya panik. "Ai, Lo kenapa?. Lo bisa dengan kakak kan ai?. Ai!. Sadar ai!". Cemas Shelina.
"Seperti nya Alaina sedang dalam bahaya. Tubuhnya ikut merespon apa yang di rasakan oleh jiwa Alaina yang terperangkap di alam gaib. Kita harus segera memanggil jiwa Alaina kembali ke dunia nyata". Ucap Ustadz Umar.
"Cepat lakukan sesuatu pak ustadz. Saya nggak mau adik saya kenapa-kenapa". Ucap Shelina disertai tangis dan tangan nya sambil menggenggam erat tangan sang adik. Gron menenangkan Shelina.
"Bagaimana cara untuk memanggil kembali jiwa Alaina yang terperangkap ustadz". Tanya Markus.
"Salah satu caranya, harus ada yang menjemput Jiwa Alaina yang terperangkap di alam gaib. Dan menunjukkan jalan untuk keluar dari alam gaib tersebut. Jika kita tidak berhasil membawa jiwa Alaina keluar dari alam itu, maka selamanya ia akan terperangkap di alam itu". Jelas Ustadz Umar.
"Itu artinya jika jiwa Alaina selamanya terperangkap, berarti Alaina bakal meninggal ustadz?". Tanya Korleo.
Ustadz mengangguk. "Nggak. Gue nggak bakalan biarin itu semua terjadi. Saya saja yang jemput dan bawa kembali jiwa adik saya ustadz". Sela Shelina.
"Lalu bagaimana dengan Tara ustadz. Sampai sekarang dia juga belum siuman ustadz". Timpal Gron.
"Tara juga terjebak di alam yang sama dengan Alaina. Tapi Tara bisa menjaga dirinya. Karena ia sudah lama melati kemampuan indigonya. Bahkan Tara bisa menemukan pintu kembali ke dunia nyata. Berbeda dengan Alaina, dia baru mengetahui dirinya indigo, jadi ia akan kesulitan untuk beradaptasi di alam gaib tersebut". Jelas Ustadz Umar.
"Ya kurang lebih begitu. Jadi kalian tunggu sampai Tara menemukan Alaina dulu". Sambung Ustadz.
Di alam gaib Alaina kembali memberanikan dirinya untuk berjalan. Di setiap jalan yang Alaina lewati, ia hanya melihat wajah orang-orang yang hancur, menyeramkan dan bau busuk. Alaina berusaha untuk menghiraukan apa yang ia lihat. Ia terus berjalan, sampai satu orang bapak-bapak wajah pucat, pincang dan bawa golok berjalan perlahan mendekati Alaina. Alaina takut, ia berjalan tergesa gesa sambil terus melihat sesekali kebelakang, orang itu masih mengikuti Alaina. Akhirnya alaina berlari sekuat tegang untuk menghindari orang itu. Bapak yang bawa golok itu ikut mengejar Alaina. Orang itu berlari bahkan lebih cepat dari Alaina. Sekuat tenaga Alaina berlari, dan tersandung. Kaki Alaina berdarah, namun ia tetap lari dengan tertati tati. Ketika sedang berlari ia menabrak seseorang yang juga sedang berlari dari arah berlawanan. Mereka berdua sama-sama jatuh.
"Alaina".
"Kak Tara".
"Kamu nggak papa?". Tanya Tara sambil berusaha membantu Alaina untuk berdiri.
"Aku nggak papa kak. Kita harus cepat pergi dari sini kak. Ada yang ngejar aku kak". Ucap Alaina sambil menarik tangan Tara untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
"Kita nggak bisa pergi berdua Ai. Mereka sudah dekat. Kamu pergi duluan ke arah Utara Ai. Disana ada cahaya putih untuk kembali ke dunia kita. Hanya kita yang bisa lihat cahaya itu. Mereka tidak bisa melihatnya. Cepat pergi Ai!. Mereka sudah semakin dekat. Nanti aku akan memancing mereka ke arah Timur. Disitu juga ada pintu untuk kita keluar Ai". Tegas Tara.
Alaina masih berdiam diri di samping Tara. "Aina!. Cepat pergi!!". Bentak Tara.
"Ya kak. Kak Tara jaga diri ya kak". Ucap Alaina kemudian berlalu pergi.
Makhluk gaib itu mengerumuni Tara. Tara berusaha lepas dari kerumunan mereka. Selama beberapa menit ia berusaha dan akhirnya lepas. Tampah buang waktu ia langsung berlari ke arah Timur. Makhluk makhluk gaib itu berhasil di keco Tara. Mereka mengikuti kemana Tara pergi. Sementara Alaina juga terus berlari ke Utara tempat yang dibilang oleh Tara. Ketika sedang berlari tiba-tiba ia di hadang oleh bapak-bapak pincang dan membawa golok di tangannya.
"Ini kan bapak-bapak yang mengejar aku tadi. Bagaimana bisa ia tetap mengejar ku. Bukannya kak Tara sudah mengecoh nya". Batin Alaina.
Rupanya sewaktu Tara di kerumuni oleh makhluk gaib lainnya, bapak itu tidak ikutan, ia melihat sekitarnya dan melihat Alaina berlari ke arah Utara. Bapak itu beralih arah ke Utara dan ia mengejar alaina. Sekarang orang itu sudah berdiri di depan Alaina.
Sementara Tara terus saja berlari dan sesekali melihat kebelakang. "Itu dia pintu keluarnya". Ujar Tara.
Tara melihat cahaya yang di carinya. Ia berlari sekuat tenaga untuk masuk ke cahaya itu dan berhasil. Jiwa Tara berhasil keluar dari alam gaib tersebut.
Jiwa Tara masuk ke dalam tubuhnya kembali. Perlahan lahan Tara mulai tersadar. Semua nya mengucap syukur.
"Syukurlah Lo udah keluar dari alam gaib itu Tar". Ucap Korleo sambil menepuk pelan bahu Tara.
"Alaina". Ucap Tara sambil berjalan ke tempat tubuh Alaina di baringkan.
"Kenapa Alaina belum sadar. Seharusnya dia yang lebih dulu sampai dari pada gue". Ujar Tara.
"Maksud Lo". Tanya Shelina dengan nada ngegas.
"Iya. Tadi gue udah ketemu sama Alaina. Karena banyak makhluk gaib yang ngejar kita, akhirnya gue suruh Alaina pergi ke arah Utara. Dan gue pancing makhluk makhluk itu ke arah Timur. Tapi kenapa Alaina masih belum sampai". Ucap Tara dengan gusar.
"Apa jangan-jangan nggak semua mahkluk itu terpancing buat ngejar Lo. Mungkin ada yang ngikutin Alaina ke Utara". Timpal Korleo.
__ADS_1
"Bisa jadi itu". Sambung Markus.