Six Blood

Six Blood
62. Ruang Rawat


__ADS_3

Tara melihat roh yang sama dengan sewaktu membantu menyelamatkan Alaina di alam gaib waktu itu. Saat Alaina di ambang kematian, ia melihat seorang pria datang. Siapa lagi kalau bukan Rakha. Rakha meminta Alaina untuk bangun. Ia bilang Alaina tidak boleh berada dalam alam ini jika tidak Alaina akan ikut tiada seperti dirinya.


Tara mengamati Roh Rakha di jendela ruang rawat Alaina. Tak berselang waktu lama, jari tangan Alaina bergerak. Tara terkejut melihat itu. Rakha tersenyum lebar melihat Alaina sudah masuk kembali ke raganya. Shelina yang sedari tadi menggenggam tangan sang adik, ia terkejut ketika Alaina menggenggam balik tangannya. "Mas Aslan... Alaina mas. Alaina". Teriak Shelina dari dalam ruang rawat.


Aslan dan yang lain yang mendengar itu langsung masuk. "Mas Alaina mas. Tangan Alaina membalas genggaman tangan Lina mas". Ucap Shelina dengan mengukir raut wajah bahagia.


"Alhamdulillah. Syukurlah ai. Kamu selamat". Ucap Aslan haru.


"Mas panggil dokter ya". Sambung Aslan.


"Nggak usah Slan. Kamu disini aja. Biar mas yang panggil dokter". Ujar Faleon kemudian berlalu pergi.


"Dokter...Suster.... ". Teriak feleon.


Faleon menemukan suster, ia meminta segera panggil dokter Edi. Suster dan dokter Edi memeriksa kembali kondisi Alaina.


"Kuasa Allah. Jantung Alaina kembali berdetak dengan normal. Kondisinya sekarang sudah mulai stabil. Tinggal masalah pemulihan. In Syah Allah sebentar lagi pasien sadar". Ucap Dokter Edi.


"Alhamdulillah". Semuanya berucap syukur atas kesembuhan Alaina.


"Makasih ya ai, karena kamu udah bertahan". Ujar Shelina sambil mencium pipi sang adik. Hari ini pertama kalinya Shelina menjadi orang yang begitu berbeda dengan dirinya. Biasanya Shelina sangat gengsi jika memperlihatkan rasa kasih sayangnya. Tapi kali ini, ia mencurahkan segala kasih sayang dan perhatiannya pada sang adik tanpa memperdulikan siapapun yang melihatnya.


Beberapa menit setelah dokter pergi meninggalkan ruangan alaina, gadis geulis itu bangun. Shelina yang tertidur di samping Alaina sambil masih menggenggam tangan sang adik, merasakan kalau Alaina sudah bangun. Shelina melihat ke arah Alaina. "Syukur lah ai kamu udah siuman". Ucap Shelina sambil mengukir senyuman di bibirnya.


Alaina membalas senyuman sang kakak tipis. "Lo mau sesuatu?. Lo mau minum? (Shelina mengambil gelas yang berisi air minum di atas meja).


Alaina hanya menggeleng. Kemudian ia berkata, "Kak Markus bagaimana keadaannya kak?. Dia baik-baik aja kan kak?. Soalnya waktu Aina mulai mau pingsan, kak Markus berkelahi dengan Iraq kak. Setelah itu, Aina nggak tahu apa-apa lagi kak". Ucap Alaina pelan.


"Lo jangan banyak bicara dulu ai. Istirahat aja dulu ya. Kalau Lo nanti udah lebih baik, baru kita bahas yang lain ya ai!". Tutur Shelina sambil mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ai, kamu udah siuman dik?". Ucap Aslan baru sampai.


Alaina tersenyum. Aslan bawa sesuatu buat Alaina. "Mas bawa makanan kesukaan Aina. Tadi waktu dokter bilang kalau kamu udah membaik, mas langsung pergi ke toko kue kesukaan kamu. Ni kue nya (Aslan mengangkat kue yang ada di tangannya)".


"Makasih ya mas, udah beli kue kesukaan Aina". Ucap Alaina sambil mengukir senyum di bibirnya.


"Aina makan ya". Ucap Aslan sambil menyuapi sang adik.


"Syukurlah ai. Kamu udah baikan". Ujar Tara yang baru saja datang di ikuti anak-anak RAKGMATA lainnya.


Aslan, Shelina dan Alaina menoleh ke sumber suara. "Ya kak. Makasih ya kak. O ya kak, keadaan kak Markus gimana kak?. Udah baikan?". Ujar Alaina.


Tara dan yang lain terdiam sejenak, mereka bingung bagaimana cara untuk memberitahu kabar duka pada Alaina. Sementara Alaina baru pulih. Shelina mengkode Tara untuk tidak jujur dulu dengan alaina sampai kondisi Alaina udah semakin membaik.


"Kak, kok kak Tara diam aja?. Kak Markus baik-baik aja kan kak?". Ujar Alaina dengan suara tetap lembut.


"Iya ai. Kak Markus baik-baik". Ucap Tara berusaha santai.


Setelah semua pergi, Rakha datang dan menemani Alaina. "Gimana keadaan kamu ai?". Ucap pria dengan lesung pipi itu.


"Alhamdulillah udah agak mendingan ka". Jawab Alaina sembari tersenyum tipis.


"Aku bantu suapi kamu makanan ya ai. Biar tenaganya bertambah". Ujar Rakha sambil mengambil makanan yang ada di atas meja.


Alaina hanya mengangguk dan menuruti perkataan Rakha. Rakha menyuapi Alaina perlahan lahan. Disela makan, Alaina teringat akan sesuatu. "Setelah aku ingat-ingat, waktu aku kritis kemaren kamu bilang sama aku kalau aku harus kembali ke tubuh aku kalau tidak aku akan mati seperti kamu?. Maksudnya gimana si ka?".


Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alaina, Rakha mencari cara untuk menjawabnya dengan jawaban yang wajar. "Maksud lo, gue datang ke mimpi Lo terus gue bilang di dalam mimpi itu kalau Lo harus segera masuk ke tubuh Lo atau nggak Lo bakal mati kayak gue?. Gitu kira-kira nggak si ai?. Soalnya kalau nggak mimpi, mana mungkin gue bisa bicara sama roh Lo yang tubuhnya sedang koma ai".


"Ia juga ya. Tapi itu bukan kayak mimpi ka. Aku sama kamu benar-benar berbicara kala itu". Keke Alaina tetap dengan keyakinannya.

__ADS_1


"Aku yakin lo mimpi, atau nggak pas Lo koma, Lo mikirin gue ya?. Lo pasti takut nggak ketemu sama gue lagi. Ya kan?". Goda Rakha sambil tertawa jahil.


"Geer deh. Ya udah kita lupakan masalah itu. Sekarang yang mau aku tanyakan adalah waktu kamu nolong aku di alam gaib itu, aura kamu kenapa beda ya ka. Aku lihat aura kamu sama dengan Abang Rai".


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut gadis mungil itu membuat Rakha berhenti menyuapi Alaina dan ia berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk meyakinkan Alaina. "Ooh soal itu. Kenapa beda, karena waktu itu kita kan di alam gaib ai. Jadi aura aku dan Abang Rai bisa sama, aku juga nggak tahu pastinya kenapa ai. Tapi menurut aku, mungkin aja karena waktu itu aku sama Abang kamu lagi melawan roh di alam gaib itu ai. Mungkin energi mereka menempel pada aku dan Abang Rai. Tapi tidak pada kamu ai".


"Uumm.. Bisa gitu ya". Gumam Alaina sambil sedikit bingung.


Alaina kembali bertanya. "Oo iya ka. Kamu tahu aku di rumah kak Zilva dari mana?".


"Karena aku selalu ada di dekat Lo ai. Makanya gue tahu kalau Lo kenapa-kenapa". Gumam Rakha dalam hati.


"Kenapa ka?. Kok mala bengong". Ujar Alaina.


"Nggak papa ai. Kenapa gue bisa tahu Lo disitu, karena waktu itu gue sengaja ikutin Lo ai". Ucap Rakha sambil tersenyum tipis.


"Kenapa kamu ngikutin aku ka?. Ada yang mau kamu sampaikan?". Tanya Alaina lagi dengan bingung.


"Yah.... Nggak ada alasan si sebenarnya. Cuman mau tahu cewek yang aku sayang lagi ngapain aja". Goda Rakha.


"Kak Rakha. Aku serius. Kamu ada keperluan apa waktu itu kak?". Ucap Alaina kesal.


"Ya mulai lagi panggil kakak. Kan gue bilang panggil Rakha aja". Ujar Rakha sambil tersenyum.


"Auw aa. Ngeselin". Ujar Alaina kemudian ia kembali berbaring dan memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari Rakha karena ia kesal.


"Ya udah. Gue minta maaf ai. Tapi apa yang gue bilang tadi itu memang benar ai. Waktu itu gue cuman mau tahu Lo lagi ngapain aja. Udah itu doang nggak ada alasan lain". Jelas Rakha.


Alaina masih membelakangi Rakha dan Rakha pamit pergi. "Ya udah ai. Lo istirahat aja dulu. Gue pergi dulu ai. Nanti gue kesini lagi".

__ADS_1


Alaina yang mendengar Rakha ingin pergi, ia membalikan tubuhnya ke arah Rakha. Tapi Rakha sudah tidak terlihat di pelupuk matanya. "Kebiasaan bangat tu orang. Tiba-tiba datang, dan nanti tiba-tiba hilang gitu aja. Udah kayak hantu aja". Gumam Alaina dalam kesendirian.


__ADS_2