Six Blood

Six Blood
51. Ngeheck Balik


__ADS_3

Setelah mereka cek, ternyata komputer itu di sabotase. Kemudian mereka mengheck kembali komputer itu, dan mencari tahu siapa pelakunya.


"Ready guys?". Ucap Korleo dengan semangat .


"Ready bro". Ucap ketiga teman Tara lainnya. Alaina, Shelina dan Zilva hanya bisa melihat aktivitas yang sahabat Raislan itu lakukan.


Rakgmata memulai kerja mereka. "Gron Lo buka kunci sistim awal". Ucap Tara.


Gron mengangguk dan mulai bekerja. "Korleo, Lo siap-siap buat pencadangan data". Timpal Gron sambil fokus dengan tugasnya.


"Markus Lo trobos jaringan intinya". Sambung Tara. Markus langsung bekerja.


Sementara Tara menjadi pengendali utama dalam aksi hacker kali ini.


*****


Aoura menemani Aslan di kantor. Sewaktu Aslan baru sampai di kantor semua mata tertuju pada dirinya dan si kecil. Mungkin orang bertanya-tanya siapa Anak kecil itu. Ada juga yang bergosip kalau gadis kecil itu mungkin anaknya komandan Aslan. Pasalnya mereka tidak pernah tahu tentang keponakan Aslan. Jadinya mereka hanya bisa menduga duga segala kemungkinan nya.


"Sayang.., (melihat ke arah sikecil). Aoura duduk sini bentar ya. Om Aslan kerja dulu, habis itu baru kita jalan-jalan dan beli es krim?. Oke?". Ujar Aslan sambil tersenyum pada sikecil.


"Oke". Terpancar senyuman lebar dari raut wajah gadis kecil itu.


Selepas Aslan meminta Aoura untuk menunggunya selesai bekerja sebentar, pria yang merupakan anak ketiga dari enam bersaudara itu mengadakan rapat untuk mendiskusikan masalah baru yang baru saja muncul.


Seorang gadis dengan rambut lurus se panjang bahu sedang berjalan menuju ruangan komandan Aslan. Ketika ia sampai, gadis itu langsung masuk keruangan Aslan. Aoura tidak menyadari kedatangan gadis itu. Gadis kecil itu sedang asik mewarnai buku gambarnya. Hingga sampai pada detik dimana Aoura kaget melihat seseorang sudah berada didepannya.


"Hello gadis manis?. Lagi ngapain?". Tanya gadis itu.


"Lagi mewarnai gambar singa yang ada di buku gambar". Jawab Aoura dengan datar sambil tetap fokus pada apa yang ia kerjakan tampah melihat wajah orang yang sedang berbicara dengan nya.


"Pilihan warna yang bagus". Ucap gadis itu.


"Ya. Beautiful". Ucap gadis kecil dengan lega dan semangat.


"Who are you?". Tanya Aoura dengan tiba-tiba menghentikan aktifitas mewarnai nya. Sambil melihat ke pintu masuk ruangan kerja Aslan.


"Kenalin saya Alin. Teman kerja nya Aslan". Ucap Alin sambil mengulurkan tangannya pada sikecil untuk bersalaman.


"Uhmm kak Alin". Ucap Aoura sambil mengangguk pelan.


"Kalau adik yang manis ini siapa nama nya. Usianya berapa? dan siapanya Aslan?".


"Banyak bangat pertanyaannya kak. Kak Alin suka sama papa Aoura ya?". Goda Aoura sambil tertawa lepas.

__ADS_1


"Papa? masa sih. Aslan papa kamu? Dari kapan?". Ucapan itu keluar spontan dari mulut Alin karena kaget mendengar apa yang dikatakan Aoura padanya.


Aoura tertawa tipis melihat tingkah laku Alin yang terlihat sangat jelas kalau dia panik disertai rasa kecewa. Kesempatan itu dimanfaatkan Aoura untuk mengerjai Alin lagi.


"Emang kenapa kalau Aoura anak papa Aslan kak?. Kak Alin nggak percaya?. Kak Alin nggak suka sama Aoura?". Ujar Aoura yang disertai dengan tangisan.


Melihat Aoura yang menangis, Alin jadi merasa bersalah. Karena tidak seharusnya ia berucap pada anak kecil seperti itu. "Apa urusan gue kalau Aslan diam-diam sudah menikah dan punya anak". Gumam Alin dalam hati.


"Maafin kak Alin ya. Kakak nggak ada maksud buat Aoura sedih". Ucap Alin sambil memeluk Aoura dan mengelus lembut rambut cantik si kecil.


Aoura mengangguk pelan dan kemudian menghentikan tangisannya. "Nggak papa kok kak. Aoura juga ngerti bagaimana perasaan kak Alin sekarang. Kakak jangan cemburu ya kak". Ucap Aoura sambil tertawa.


"Cemburu?. Kakak nggak cemburu". Ucap Alin sambil tersenyum tipis.


"Lagian kamu masih kecil udah tahu soal cemburu cemburuan". Sambung Alin sambil menggelitiki Aoura.


Aoura menahan geli sambil tertawa senang karena telah berhasil mengerjai Alin. Aslan yang baru sampai melihat aktivitas keponakan dan rekan kerja nya itu. Ia ikut tersenyum melihat tawa dua wanita itu yang begitu lepas tanpa filter.


Aslan masuk keruangan dengan mendaham. "Ada kejadian apa ni?. Senang bangat?". Ucap Aslan dengan tersenyum menatap kedua wanita itu.


Aoura dan Alin melihat ke sumber suara. Mereka menghentikan aktifitas nya. Wajah Alin yang tadi tersenyum sekarang jadi jutek dan kelihatan seperti marah. "Aoura, kakak pergi dulu ya. (mengusap pipi Aoura). Permisi pak". Ucap Alin dengan wajah kesalnya kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan Aslan.


Aslan merasa aneh dengan sikap Alin barusan. Ia penasaran dan bertanya pada si kecil. "Kak Alin kenapa sayang?. Kok tiba-tiba kayak betek gitu?".


"Uhmm... Lain kali jangan gitu lagi ya sayang. Tapi Aoura benar kok, Aoura itu juga anak om. Kan Aoura anak dari kakak om, jadi otomatis Aoura juga sama aja seperti anak om". Jelas Aslan.


"Tapi kayaknya kak Alin kecewa deh om". Gumam Aoura.


"Kecewa?. Kenapa?". Tanya Aslan heran.


"Karena om Aslan diam-diam udah punya anak. Kayaknya kak Alin suka sama om. Jadi merasa kecewa dan sakit hati". Ucap Aoura dengan wajah serius.


Aslan juga kepikiran hal yang sama dengan apa yang diucapkan sama Aoura. "Apa mungkin ya, Alin suka sama saya?". Tanya Aslan dalam hati.


"Ya ampun anak kecil ini. Masih kecil udah tahu suka sukaan". Ujar Aslan sambil menggelitiki Aoura.


"Hahaha..udah om. Aoura geli". Sambil tertawa lapas.


Aslan menghentikan aktifitas menggelitiki Aoura. "Ya sudah. Sekarang kita beli es krim. Mau?". Tanya Aslan dengan bersemangat.


"Mau". Jawab Aoura dengan riang.


Seorang gadis sedari tadi mengintip aktivitas yang dilakukan om dan keponakan itu. Siapa lagi kalau bukan Alin. Ia masih penasaran dengan apa yang di ucapkan gadis kecil itu padanya. Jadinya ia putuskan untuk menguping pembicaraan Aslan dan Aoura. Setelah mengetahui yang sebenarnya, Alin tersenyum dan menjadi lega. Kemudian segera pergi dari depan ruangan Aslan.

__ADS_1


*****


"Yes. Kena kau". Ucap Markus.


"Korleo, gue udah kirim datanya sama Lo. Cepat Lo salin". Pinta Tara.


"Oke sip. Korleo berkerja". Ucap Korleo dengan tertawa kecil.


"Gimana kor?. Data udah aman kan?". Tanya Gron.


"Aman bro. Korle gitu Lo". Ucap Korleo membanggakan dirinya.


"Gimana Guys?. Udah ketemu?". Tanya Shelina.


"Udah Lin. Kerja kita udah selesai". Ujar Tara dengan senyuman.


"Jadi siapa pelaku nya kak?". Tanya Alaina.


Tara memperlihatkan hasil pencarian dia dan temannya tadi. Mereka berhasil membobol biodata pelaku dengan keahliannya sebagai hacker. Setelah mereka semua tahu pelakunya, mereka menyusun rencana selajutnya untuk mengumpulkan lebih banyak bukti.


"Karena kita udah selesai, kita harus segera pergi dari ruangan ini. Gue ngerasa ada hawa yang nggak enak disini". Ujar Tara sambil melihat sekitar nya.


"Hawa apa?. Lo bisa lihat makhluk halus?". Tanya Shelina.


"Nggak mungkin la. Sejak kapan tu anak indigo. Kita nggak pernah tahu. Ya kan guys?". Ledek Korleo sambil tertawa.


"Kak Tara benar. Aku juga merasakan hawa negatif yang cukup kuat disini". Ujar Alaina.


"Lo indigo Ai?". Tanya Markus.


"Nggak. Tapi gue bisa merasakan aja ada yang beda dengan ruangan ini". Ucap Alaina.


"Sebenarnya Lo indigo Ai. Tapi Lo aja selama ini nggak sadar". Ucap Shelina tiba-tiba.


"Maksud kakak?". Tanya Alaina nggak percaya.


"Kita lanjut di beskem aja nanti debatnya. Sekarang kita harus cepat pergi dari sini". Tegas Tara.


"Cepat". Sambung Tara lagi.


Mereka semua ingin keluar dari ruangan itu. Tapi tiba-tiba, "Aaaaaa". Itu suara teriakan Zilva. Tiba-tiba saja tubuh Zilva ketarik dan dibanting ke dinding.


"Kak Zilva...." Teriak Alaina.

__ADS_1


__ADS_2