Six Blood

Six Blood
29. Penyesalan


__ADS_3

Seisi rumah tidak ada yang bisa tidur semalam. Mentari pagi telah datang menyapa sang pemilik hati yang sedang patah hati.


Pagi ini Raislan dimakamkan di pemakaman milik keluarga Syof. Teman-teman Raislan ikut serta dalam acara pemakaman Raislan. Mereka sangat terkejut waktu Zilva mengabari mereka kalau Raislan sudah tiada. Awak media mencium berita tentang meninggal nya salah satu anak dari Syof. Mereka meliput berita tentang kabar duka yang datang dari keluarga Syof. Tapi awak media tidak berani melakukan wawancara di sekitaran area rumah kediaman keluarga Syof. Karena ada aturan hukum yang dibuat Syof sewaktu ia hidup. Karena aturan itu awak media tidak berani menggali berita lebih dalam lagi. Berita yang tersebar di sosial media juga tidak bertahan lama. Pasalnya siapa pun yang berani membuat berita tentang anggota keluarga Syof. Maka masalah itu harus di musnahkan sampai ke akar-akarnya.


*****


Setelah dari pemakaman Raislan, empat sekawan pulang dari rumah kediaman keluarga Syof. Mereka sampai di beskem Segame. "Tempat ini berasa sepi karena udah nggak ada pangeran bucin". Ucap Korleo sendu sambil melihat sekitar ruangan.


"Gue masih berasa ini semua mimpi. Raislan berasa masih ada disekitaran kita. Main game bareng kita. Dia kayak nggak kemana-mana". Ujar Gron.


"Gue juga nggak nyangka si Rai bakal pergi secepat ini. Mana gue belum sempat minta maaf sama dia soal gue yang betek karena dia bucin banget sama pacarnya waktu itu". Sesal Markus.


"Udah Kus. Itu masalah biasa. Gue yakin Raislan udah maafin Lo kok. Lagian waktu itu Lo hanya bermaksud bercanda kan. Jadi dia pasti ngerti la bagaimana sifat teman-temannya". Ucap Gron berusaha menenangkan sahabatnya itu. Korleo yang mendengar penuturan dari Gron ikut menganggukkan kepala pertanda setuju dengan apa yang di bilang oleh Gron.


"Kayaknya ada yang aneh sama game yang di mainkan sama Raislan dan saudaranya. Gue bisa merasakan aura negatif yang cukup kuat sewaktu berada di rumah Raislan tadi". Ucap Tara yang baru bersuara.


"Maksud Lo Tar?". Tanya Markus tidak paham.


"Iya ada yang aneh aja sama permainan yang mereka mainkan". Ujar Tara lagi.


"Maksud lo ada makhluk lain yang ikut main selain mereka berenam?". Ujar Korleo dengan wajah mulai sedikit takut. Entah apa yang dibayangkan oleh pria yang satu ini.


"Makhluk halus?". Sambung Gron.

__ADS_1


"Gue nggak tahu pastinya apa. Yang jelas gue ngerasa ada yang aneh aja sama permainan itu". Tutur Tara.


"Atau kita selidiki aja!". Ujar Korleo tiba-tiba.


"Kita harus bahas ini sama salah satu saudara Raislan". Timpal Gron.


"Kita harus ketemu sama Alaina. Karena setahu gue Alaina dekat sama Raislan". Sambung Markus. Korleo juga setuju.


"Menurut gue kita harus ketemu Alaina buat bahas masalah ini sekalian sama Shelina". Ujar Tara.


"Shelina?. Lo yakin aja Shelina buat diskusi masalah Raislan?". Ucap Markus ragu.


"Kalau nanti dia malah bakin kacau rencana kita gimana?. Dia kan anak nya susah di atur!". Sela Korleo.


"Shelina bisa di andelin kok. Dia nggak sebenci itu sama Abang nya". Tutur Gron.


"Berbinar-binar gue lihat-lihat tu muka sewaktu Lo cerita tentang Shelina. Suka Lo?". Ujar Korleo dengan sedikit tertawa.


"Udah. Kita fokus saja pada plan yang akan kita kerjakan. Kita harus tahu bagaimana caranya botol kaca itu bisa dengan sedirinya menghantam dada Raislan. Pasti ada sesuatu". Ujar Markus.


Mereka semua sepakat segera bertemu dengan Alaina dan Shelina untuk membahas dan menyelidiki game yang dimainkan oleh Raislan dan saudaranya.


*****

__ADS_1


Selepas teman-teman Raislan pamit, semua berkumpul di ruang tamu. Semua duduk dengan murung dan melamun. Faleon memulai percakapan. "Guys. Gue minta maaf. Karena game yang gue buat dan ajak kalian buat main, kita jadi kehilangan Rai". Ucap Faleon dengan pilu. Mendengar itu Zilva kembali menangis dan pamit buat pulang ke rumahnya.


"Dari awal aku kan udah bilang mas. Game itu nggak usah di terusin lagi!. Mas malah ngotot buat main game aneh itu" Ucap Alaina dengan nada lemas dan tangis.


"Gue juga nggak tahu bakal jadi seperti ini. Nggak mungkin la gue berencana buat nyelakain saudara sendiri". Tutur Faleon.


"Tapi..., kalau mas, nggak ngotot buat mainin permainan itu, bang Raislan mungkin masih ada sama kita sekarang mas!". Nada suara Alaina mulai sedikit tegas.


"Stop!. Jangan main salah-salahan!. Udah cukup!". Ucap Farhan kesal dan pergi meninggalkan ruang tamu.


Shelina hanya diam membisu. Hari yang terlihat cerah seakan mendukung secara tiba-tiba. Seolah ia ikut merasakan satu keluarga yang sedang berduka. Karena di timpa musibah yang menyebabkan hilangnya nyawa orang tercinta.


Shelina berjalan menuju kamar Raislan. Di kamar ia duduk di sofa sambil menangis tanpa suara. Shelina melihat sekelilingnya. Matanya tertuju pada satu benda. Ia pun langsung menghampiri benda itu. Shelina melihat foto mereka sekeluarga waktu masih kecil. Di foto terlihat ekspresi games Raislan pada Shelina sewaktu mencubit kedua pipi Shelina. Air mata gadis tomboi dan elegan itu, jatuh membasahi wajah Raislan pada foto yang di pegang nya.


"Goblok banget gue!. Gue minta maaf sama Lo bang!. Selama ini, kita selalu bertengkar. Itu karena gue sayang sama Lo. Tapi gue terlalu gengsi untuk nunjukin rasa itu. Gue nggak tahu bagaimana cara mengekspresikan rasa sayang itu. Tapi sebenarnya bukan salah gue juga, ya.... Lo juga teramat menyebalkan. Asal Lo tahu, perdebatan itu yang selalu gue rindukan kalau jauh dari rumah!. Sekarang gue harus debat sam siapa Rai!. Masa Lo ngalah gitu aja sama gue!. Lo benar-benar cupu tapi sok cool ya Rai!". Ucap Shelina dengan marah-marah sendiri untuk menenangkan pikirannya.


Shelina duduk tersungkur lemas di lantai. Dan tangannya nggak sengaja menjatuhkan buku yang berada di meja kamar Raislan.


"Diary!" Ucap Shelina heran.


Shelina membaca perlahan buku tu. Lembar ke lembar di buka Shelina. Dan pada satu lembar buku itu, membuat Shelina yang tomboi menangis ce cegukan membacanya. Shelina menemukan foto dia dan Raislan yang sedang berantam lucu waktu masih kecil. Dan Shelina membalik foto itu. Shelina menemukan sepenggal kalimat.


"Si Resek Tapi Ngangenin".

__ADS_1


Shelina tidak menyangka saudara yang dia kelihatan cuek dan arogan, bisa se sweet itu. Shelina masih nggak nyangka kalau Raislan yang super nyebelin, ia punya diary dan mencatat semua hal yang menurut Raislan mengesankan. Termasuk perihal pertengkarannya dengan Shelina yang tiap hari selalu ribut untuk hal yang kadang nggak penting sama sekali. Puas menangis semalaman, membuat Shelina tertidur di kamar Raislan.


Ketika Shelina sedang tidur, Alaina juga masuk ke kamar Raislan, dan langsung memeluk Shelina di kasur. Alaina merasa tidak bisa tidur, dan ia mencari sandaran untuk menghentikan tangisnya. Akhirnya dua bersaudara itu, tertidur dengan mata yang sembab. Sembabnya seperti habis di sengat lebah 🐝😆.


__ADS_2