Six Blood

Six Blood
31. Gangguan Mental


__ADS_3

Faleon datang menemui tim game. "Selamat siang mas Faleon. Kita turut berduka cita atas meninggalnya adik bapak". Ucap ketua tim.


"Kalian jujur sama saya!. Kalian sengaja kan ingin kita semua mati dalam permainan itu!. Ngaku kalian!". Bentak Faleon sambil memegang erat kra baju ketua tim game.


"Mas Faleon salah paham mas!. Kita tidak ada niat sedikit pun buat melukai para pemain mas!". Dengan raut wajah tegang.


"Terus kenapa sampai botol itu bergerak sendiri dan menikam adik gue!". Membanting keras ketua tim kelantai. "Kalau bukan kalian yang lakuin itu?. Lalu siapa?. Setan?". Bentak Faleon.


"Mohon mas Faleon tenang dulu. Kami akan jelaskan pada mas Faleon bagaimana kronologi kejadiannya." Ucap Ketua tim sambil meminta Faleon untuk duduk.


Faleon dengan masih marah mencoba untuk tenang dan duduk di sofa kantor tim game. "Jadi waktu para pemain mulai permainan, kita udah siap-siap di depan komputer buat atur alur game sesuai dengan yang sudah di sepakati. Namun waktu kami ingin memulai start, komputer itu bergerak sendiri seperti ada orang lain yang mengendalikannya. Ketika kami ingin menghentikan komputer itu, tiba-tiba ada yang menarik cepat saya dan tim ke sebuah ruangan kemudian dikunci dan lampunya mati mas. Jadi kami tidak dapat melihat orangnya mas. Itu entah orang entah setan mas. Soalnya gerakannya cepat sekali. Kami sangat-sangat minta maaf mas Feleon. Ini semua diluar kendali kami". Jelas Ketua tim.


"Awas sampai yang Lo ucapin itu bohong!. Lo dan tim bakal gue tuntut atas meninggalnya adik gue!. Ngerti Lo semua!!". Bentak Faleon.


"Ngerti ma Faleon. Maaf!". Dengan raut wajah sedikit cemas dan merasa jengkel atas perlakuan faleon padanya.


"Sekarang kalian keluar dari ruangan saya!". Bentak Faleon.


"Mohon Maaf sebelumnya mas Faleon, ini kan kantor saya mas". Ucap ketua tim dengan nada datar.


Faleon melirik sebentar sekitar ruangan. Baru pergi meninggalkan kantor tim game itu. Dengan raut wajah masih kesal dan sedikit malu. Karena amarah yang tak terkontrol Faleon jadi lupa dia sedang berada di ruangan siapa. 🤣


***


Aslan sedang mengusut kasus baru tentang seorang gadis yang baru-baru ini di habisi dengan sadis. Tubuhnya di potong, dibungkus pakai kresek dan di buang begitu saja dalam tong sampah.


"Siapa orang yang begitu tega melakukan hal keji dan menjijikan seperti ini". Ucap Aslan prihatin dengan jasad korban.


"Kita harus segera usut dan selesaikan kasus ini komandan". Timpal Alin sambil melihat bukti-bukti yang sudah ada.


"Ya. Nanti kamu temani saya untuk mencari bukti yang lebih kuat. Kita harus cepat menangkap orang ini, berkemungkinan pelakunya pembunuh berdarah dingin yang hanya mengincar wanita". Ucap Aslan.


"Kita harus lakukan visum pada jasad korban komandan". Ujar Alin.


"Ya kita coba dulu. Semoga masih bisa dilakukan visum. Kita harus mencari tahu identitas korban. Minta dokter nanti untuk mengambil sempel darah korban". Pinta Aslan.


"Siap komandan laksanakan". Ucap Alin sambil memberikan hormat.


***


Shelina dan Faleon sama-sama baru sampai rumah. Shelina melihat Faleon mondar mandir di ruang tamu. "Kenapa Lo mas?. Cacingan?". Ledek Shelina.


"Lo duduk bentar ada yang ingin gue kasih tahu sama Lo". Pinta Faleon.


Shelina dan Faleon duduk di sofa. "Tentang apa mas?". Tanya Shelina.

__ADS_1


"Gue yakin ada konspirasi dibalik kematian Raislan". Ucap Faleon dengan wajah yakin dengan pemikirannya.


"Maksud mas, kematian bang Raislan udah direncanakan?. Kenapa mas bisa berpikir begitu?". Tanya Shelina dengan sedikit kaget.


"Ya karena tim game bilang mereka nggak mengatur jalannya permainan. Ada yang menggerakkan komputer mereka secara otomatis". Ketus Faleon.


"Siapa orangnya mas?. Terus mas percaya aja sama ucapan mereka mas?. Bisa jadi itu akal akalan mereka biar terbebas dari hukuman!". Ucap Shelina.


"Gue belum sepenuhnya yakin sama mereka. Kata mereka bisa jadi makhluk gaib. Kerena mereka di kurung dengan secepat kilat". Jelas Faleon.


"Masa sih. Keren bangat tu mahluk gaib". Ucap Shelina sambil tertawa sinis nggak percaya.


"Gue yakin ini ada orang yang ingin menghancurkan kita, dan nggak suka sama kita. Tadi di perjalanan pulang gue nabrak seorang cewek". Ujar Faleon.


"Terus bagaimana keadaan cewek itu". Tanya Shelina.


"Pas gue turun dari mobil dan gue periksa. Nggak ada siapa pun. Ya..., gue cabut aja". Ucap Faleon.


"Jangan-jangan cewek tu mahluk gaib mas. Soalnya Lo pulang udah magrib mas". Ujar Shelina.


"Nggak tahu gue. Intinya kita harus bisa jaga diri sendiri mulai dari sekarang". Ucap Faleon.


"Ya. gue istirahat dulu. Bye". Ucap Shelina sambil melambaikan tangan lemas.


Faleon hanya melihat shelina berjalan pergi meninggalkan ia di ruang tamu.


***


Zilva menghampiri sofa di ruang tamu rumahnya dan memanggil seseorang. "Rai..," Alaina sedikit kaget. "Adik kamu udah datang buat jemput tu". Bicara sendiri dekat sofa.


"Kak Zilva bicara sama siapa kak?". Tanya Alaina bingung.


"Ya sama Abang kamu la Aina". Ucap Zilva dengan tersenyum lebar.


"Maaf kak. Abang Raislan kan udah nggak ada kak". Menjelaskan perlahan pada Zilva.


"Ada kok. Ya kan Rai..". Kembali menoleh ke sofa yang Rai duduk. "Kok Raislan nggak ada. Bentar ya Aina". Ucap Zilva sambil berjalan ke toilet.


Alaina mengikuti Zilva. "Kakak cari siapa kak?". Mulai khawatir.


"Abang kamu. Tadi dia ada. Mungkin ke toilet". Sambil melihat-lihat sekitar toilet.


"Kak...," Memanggil lembut Zilva.


Zilva terus saja mondar-mandir mencari Raislan.

__ADS_1


"Yangg..., kamu dimana?. Keburu magrib ni.., kasian Alaina udah nungguin kamu dari tadi!. Yang....". Kembali berjalan ke ruang tamu.


"Kak!". Alaina memegang kedua bahu Zilva. "Kak. Lo harus sadar dan bisa ikhlas kak. Kita semua sayang Abang Raislan. Dan aku tahu kakak juga sayang bangat sama Abang Rai. Tapi aku mohon sama kakak ikhlasin abang Rai kak. Kasihan abang Rai kalau orang yang dia sayang masih belum merelakan dia untuk pergi dengan tenang. Kalau dia tahu kakak kayak gini, dia juga bakalan sedih dan marah bangat sama kakak". Pinta Alaina dengan berusaha menahan tangis.


Zilva jatuh di pelukan Alaina. Niat hati Alaina ingin berusaha tegar dan menenangkan Zilva. Tapi Alaina masih belum bisa mengontrol perasaannya yang masih sedih. Akhirnya mereka sama-sama menangis.


"Sekarang kita udah nangis-nangisnya. Waktunya untuk kembali ke tujuan awal aku kesini. Oke?". Ucap Alaina sambil membantu Zilva berdiri.


"Ya". Jawab Zilva masih lemas dan mengusap air matanya.


"Untuk kembali bertenaga, kakak minum air putih dulu. Biar lebih Fresh, segar dan plong". Sambil memberikan pada Zilva.


"Ya. Kamu juga". Ucap Zilva sambil meminta Alaina juga ikut minum.


"Sekarang, kita mulai ya kak?". Ucap Alaina Sambil mengeluarkan laptopnya.


"Ya udah". Ujar Zilva berusaha untuk kembali stabil.


Zilva membantu Alaina dalam pembuatan tugas makalah Alaina. Ketika mereka berdua sedang asik saling berargumen, Alaina sepintas seperti melihat seseorang lewat menuju kamar Zilva.


"Kakak di rumah sendirian?, atau ada yang lain kak?". Tanya Alaina sambil masih melihat-lihat ke arah kamar Zilva.


"Untuk sekarang sendiri. Soalnya orang tua aku masih diluar kota". Jawab Zilva.


"Nggak ada pembantu gitu yang nolong-nolong kakak?". Alaina kembali bertanya.


"Ada. Tapi kemaren bibik minta Izin karena ada keperluan mendesak. Kenapa emangnya Aina?. Tanya Zilva sedikit heran.


"Nggak papa kak. Cuman nanya aja". Ujar Alaina sambil menyembunyikan ketakutan yang terlintas di benaknya.


"Oo. Kira in, ada apa gitu". Gumam Zilva santai.


"Nggak kak. Nggak ada apa-apa". Ucap Lagian sambil sedikit tersenyum.


Tugas Alaina udah siap, sekarang waktunya Alaina pulang. "Kamu mau pulang pakai apa?". Tanya Zilva.


"Gojek kak". Ucap Alaina bersemangat.


"Sopir kamu nggak antar?". Tanya Zilva.


"Nggak kak". Ucap Alaina sedikit menggeleng.


"Biar aku aja yang bantu antara kamu pulang". Pinta Zilva.


"Nggak papa kak. Nggak usah. Kakak istirahat aja. Gojek nya udah datang. Duluan ya kak. makasih kak". Sambil melambaikan tangan ke Zilva.

__ADS_1


Zilva membalas lambaian tangan Alaina. Kemudian kembali ke rumah dan istirahat.


__ADS_2