
Darah mengalir deras dari tubuh Raislan. Zilva berteriak "Please Help Him!" Faleon mengambil alat untuk menghentikan darah dari tubuh Raislan. Shelina terdiam kaku. Dia sangat syok dengan kejadian itu. Aslan dan Farhan ingin mengangkat Raislan ke atas Sofa. Raislan masih sadar. Dan iya perlahan bicara terbata bata.
"Per..cuma. Kalian... cabut saja serpihan kaca.. di dada... gue". Ucap Raislan menahan sakit. Zilva terus menangis. "Yangg". Ucapnya lirih.
"Kalau di cabut, Lo bisa kehilangan nyawa Lo Rai!". Ucap Aslan.
"Lo... ca..but.. atau.. nggak, tetap aja... udah nggak... ada... ha..rap..an". Pinta Raislan.
Ditengah perdebatan itu Alaina pulang dan melihat Prisli bergegas ke ruang santai. Prisli terbangun mendengar suara teriakan. Alaina pun mengikuti kemana Prisli pergi. Dan betapa terkejutnya dua gadis itu melihat apa yang sedang terjadi. Alaina membuang tas yang di bawanya, dan langsung berlari ke arah Raislan. "Bang Rai?. Abang kenapa bg?". Teriak Alaina.
Raislan Hanya mencoba untuk tersenyum. "Mas Leon, mas Han!. Kak Zil!. Kak Lin!. Mas Slan. Abang kenapa?. Kenapa pada diam!". Suara Alaina menahan marah di serta kesedihan.
"A..dik... ab..ang. Yang... paling manja, gu..e nggak a..pa". Ucap Raislan.
"Nggak kenapa apa nya!. Kaca tertancap di dada Lo bang!". Suara Alaina bergetar menahan tangis.
"U..dah. Wo..ii, lu ya..ng di pojo..kan!. Lo.. nga..pain!. Lo.. nggak... can..tik kaku.. ka..yak gi..tu!. Men..di..ng. Lo.. de..bat. sa..ma gu..e!" Air mata Raislan mengalir membasahi pipinya.
__ADS_1
Shelina menangis Histeris. "Sial Lo..., bang!. Hiks...hiks. Lo ngapain tiduran lemas di situ!. Udah main game sana. Biar kelihatan orang yang nggak guna seperti biasa!. Lo harus debat sama gue setiap hari seperti biasa!. Gue nggak terima kalau lo ninggalin gue gitu aja. Nggak cocok sama karakter Lo. Bangun dong Njirr!". Berjalan ke hadapan Raislan. Dan banjir derasan air mata yang mengalir membasahi pipinya. Raislan Hanya mencoba buat tersenyum.
"Yangg!. Lo bakalan ninggalin gue sendirian?.
Tega Lo!. Kita kan bulan depan mau nikah yangg. Semua persiapannya udah kita selesai kan yangg. Kamu harus tepatin janji kamu dong yanggg. Setelah menikah kita akan honeymoon di villa favorit kamu dan tempat favorit aku. Bangun ya yangg demi impian kita!". Zilva mencoba berbicara sambil tersenyum di sertai aliran air mata yang mengalir di pipinya yang merona.
"Gu..e nggak ba...ka..lan ning..galin si...apa pun". Janji Raislan. Raislan melirik ke mas nya. Dia minta tolong di cabut kaca yang menancap di dadanya. Raislan sangat merasakan kesakitan.
"Ka..lau. Ka..lian. Ti..dak, mau.. ban..tu nyabut.. ni.. ka..ca, biar..gu..e sen..diri aja". Pinta Raislan. Semua berteriak Histeris ketika Raislan. Menarik kaca yang tertancap di dadanya. Raislan udah menghembuskan napas terakhirnya. Para ciwi-ciwi menangis ce cegukan. Dan para lelaki, terduduk lemas tak berdaya.
Alaina pingsan. Ia sangat dekat dengan Raislan. Jadi ia syok dan belum terima akan kejadian yang baru saja menimpa Abang kesayangannya itu. Aslan mengendong Alaina ke kamarnya. Setelah itu Farhan, Faleon dan Aslan, mereka membawa jasad Raislan ke ruang tengah. Dan di tutup kain putih.
Batin Shelina "Siapa sebenarnya yang mengatur semua permainan yang ada pada game itu". Semua kejadian yang terjadi, di luar skenario yang dibuat oleh Faleon. Kenapa gamenya jadi mematikan.
*****
"Dik..., Abang pulang". Ucap seorang pria dari luar pintu utama keluarga Syof dengan membawa dua boneka. Satu Boneka panda dan satu lagi boneka macan. Seorang gadis yang baru beranjak ke masa remaja berlari menghampiri laki-laki itu dan memeluknya. "Yeee..... Abang Aina udah pulang?". Ucap Alaina sambil lompat-lompat girang. Raislan pulang dari luar negeri. Pria itu lebih memilih melanjutkan sekolah SMA di luar negeri. Selama satu Minggu Raislan libur. Jadi ia ingin menghabiskan waktu dengan sang adik selama di Indonesia. "Ini boneka panda kesayangan adik Abang". Ucap Raislan
__ADS_1
"Makasih Banyak Abang". Ucap Alaina sambil tersenyum lebar.
"Boneka macan itu buat siapa bang?". Tanya Alaina.
"Buat kakak kamu". Ucap Raislan.
"Ada-ada saja Abang Rai. Suka bangat buat jahilin adiknya dan bikin kak Shelina marah. Abang ngeledek kak Shelina ya?. Pakai beli boneka macan". Ucap Alaina sambil tertawa kecil.
"Ya nggak papa dek. Lagian udah lama juga nggak debat sama kakak kamu itu. Abang beli boneka macan karena cocok sama tu anak satu. Marah nggak jelas terus kerjaannya. Sama kayak macan. Galak!". Ucap Raislan sambil tertawa kecil.
Mendengar penuturan dari saudara nya itu, Alaina hanya bisa geleng-geleng karena nggak habis pikir dengan Abang nya yang satu itu. Suka sekali mencari gara-gara dengan adiknya. Raislan dan Alaina pergi ke taman belakang rumah. Di sana ada lapangan basket. Alaina menantang sang kakak untuk bermain basket dengannya. Ketika Alaina sedang mendribel bola untuk ia masukan ke ring tiba-tiba Raislan menggelitik Alaina. Hal itu sukses membuat alaina gagal memasukan bola ke ring. "Bang Rai curang!". Ucap Alaina manja dan kesal sambil berlari mengejar Raislan untuk membalas kecurangan Abang bontot nya itu. Lelah karena kejar kejaran akhirnya dua manusia yang katanya adik kakak itu memutuskan untuk istirahat di bangku dekat lapangan basket.
"Udah ya ai Abang capek. Susah ya punya adek yang masih bocil". Ucap raislan sambil masih menjahili sang adik.
"Bocil! (melotot ke Raislan). Aku udah bukan bocil lagi bang. Adek Abang yang satu ini, udah masuk SMP jadi udah nggak bocil lagi lah!". Ucap Alaina dengan mengimut imutkan wajahnya. Raislan yang melihat tingkah sang adik menjadi makin menjahili Alaina. "Tu kan? manja bangat kayak bocil. Dasar.., bocil..., bocil" (Goda Raislan sambil mengacak acak rambut Alaina kemudian berlalu pergi meninggalkan lapangan basket). Alaina berteriak manja pada Raislan karena udah membuat rambutnya berantakan.
"Abang Raiii!" Ucap Alaina sambil langsung terduduk dari posisinya yang tadi tidur. Alaina terbangun dari pingsannya. Momen Raislan dan Alaina itu ternyata hanya mimpi. Itu momen beberapa tahun lalu waktu Alaina masih SMP. Aslan yang sedari tadi duduk di samping tempat tidur Alaina menghembuskan napas lega karena Alaina sudah bangun. "Syukur la kamu udah sadar dik". Ucap Aslan.
__ADS_1
"Mas.., Abang Rai mas". Ucap Alaina sendu dengan derasan air mata yang mengaliri pipinya. Aslan yang melihat sang adik sangat terpukul atas kepergian Raislan memeluk Alaina buat menenangkannya. Air mata yang sedari tadi berusaha pria itu bendung sekarang sudah tidak terbendung lagi. Ia ikut menangis di pelukan sang adik. Dua bersaudara itu saling berlomba lomba mengeluarkan air mata. Rumah yang beberapa tahun lalu juga pernah merasakan hal yang sama sewaktu ke dua orang tua mereka tiada. Hari ini duka kembali menyelimuti kediaman rumah keluarga Syof dengan kehilangan satu lagi anggota keluarga mereka.