
Sesuai dengan permintaan Iksan, setelah makan malam, Alaina mengikuti keinginan Iksan untuk membawanya ke suatu tempat.
"Aku ada kejutan buat kamu". Ucap Iksan.
"Kejutan apa san?". Tanya Alaina penasaran.
"Kamu lihat aja nanti. Kamu pasti suka. Kamu pakai penutup mata ya".
"Okayy". Ucap Alaina santai dan bersemangat.
Iksan menutup mata Alaina dengan kain, dan membawanya ke sebuah ruangan yang jauh dari villa.
"Udah boleh buka san?". Tanya Alaina.
"Boleh. Buka aja".
Alaina membuka penutup matanya, dan syok dengan apa yang di beri sama Iksan.
"San bagus bangat. Makasih ya".
Iksan menghias ruangan itu dengan banyak bunga mawar merah dan pernak pernik lampu warna warni.
Iksan memberikan sebuah kota merah pada Alaina dan menyuruh Alaina untuk membukanya.
Alaina membuka kotak itu. Dan kembali terharu. Iksan tersenyum bahagia melihat wanita yang iya cinta itu bahagia.
"Semua ini kamu yang siapin sendiri san?".
Iksan mengangguk. Alaina kembali mengucapkan terima kasih pada Iksan dan memeluknya.
"Kedengarannya sunyi disini ya san. Kita dima?".
"Ya emang sunyi, tempat ini lumayan jauh dari villa. Ini sebenarnya gubuk tapi gue rapihkan buat kasih kejutan ini buat Lo".
"Oo gitu. Makasih ya san (sambil berjalan melihat-lihat hiasan yang di buat Iksan.
***
Shelina kembali melihat foto yang dikirim Aslan.
"Gue seperti pernah lihat ni orang. Tapi dimana". Ucap Shelina dalam kesendirian tepi kolam tengah malam.
Shelina ingat dia pernah lihat orang itu dimana. "Dia kan orang yang waktu itu chat Alaina, Waktu gue pinjam handphonenya. Gawat!. Jangan-jangan".
Shelina langsung menelpon Aslan dan menjelaskan semuanya. Shelina menenangkan diri buat tidak panik. Dan dia baru ingat kalau ia dan Alaina saling pasang pelacak di handphone mereka masing-masing. Shelina mengecek pelacak di handphonenya. Shelina mengetahui posisi terakhir ponsel Alaina.
"Ini nggak jauh dari villa". Ujar Shelina.
Shelina segera menuju tempat itu.
__ADS_1
Aslan terjebak macet parah. "Ini ada apa lagi ya tuhan!". Ucap Aslan menahan amarahnya.
Aslan menghidupkan bunyi sirine polisi. Tapi tetap tidak ngaruh karena benar-benar macet parah. Sakin dempet nya, mobil lain tidak bisa kasih jalan untuk mobil Aslan/polisi yang sedang bertugas.
***
"San, maksud kamu kasih aku cincin buat apa san?". Tanya Alaina dengan ekspresi kaget.
"Kamu buka lagi kotak tadi. Baca surat yang ada di dalamnya".
"Ada surat?". Sambil kembali melihat isi kotak itu. "Ia ada. Maaf ya. Aku nggak lihat tadi".
Alaina membaca surat itu "Will you marry me?".
Alaina kaget dan bicara sama Iksan. "San, ini serius?".
"Iya serius. Kamu nggak mau menikah dengan aku?".
"Mau". Iksan tersenyum bahagia. "Tapi nggak dalam waktu dekat ya san. Beberapa tahu lagi ya. Aku masih harus meraih dan wujudkan impian aku dulu". Wajah iksan mulai berubah seperti kesal.
"Kamu nggak papa kan?". Tanya Alaina karena nggak enakan.
"Aku nggak mau kehilangan kamu yangg!". Ucap Iksan sedikit dramatis.
"Kamu nggak bakalan kehilangan aku, ini hanya masalah waktu aja san. Kalau sekarang, aku belum kepikiran buat menikah. Kita sama-sama masih sekolah, dan aku juga baru masuk SMA. Sebuah kata pernikahan itu masih dini buat anak seumuran kita san".
"Bukan nggak mau. Waktunya aja yang belum tepat san. Kamu harus kejar cita-cita kamu dan bahagiakan kedua orang tua kamu dulu. Aku juga". Sambil memegang bahu Iksan buat menenangkannya.
Iksan menepis tangan Alaina dari bahunya. "Orang tua. Orang tua". Sambil menangis dan kemudian tertawa.
Alaina mulai cemas dengan kondisi dan sikap Iksan. "Kamu kenapa san?. Kamu nggak papa?".
Iksan langsung menyeret Alaina ke dinding. "Gue benci ada orang yang sebut kata orang tua. Gue benci!". Ucap Iksan sambil mendorong Alaina dari dinding kelantai.
Alaina mulai ketakutan dan gemetar. "Kamu kenapa san?".
Iksan kembali mendekati Alaina dan membuatnya kembali berdiri. "Kalau gue nggak bisa nikahin Lo secepatnya, maka malam ini gue bakalan jadiin Lo milik gue sepenuhnya". Sambil mencoba merobek baju Alaina.
"Jangan San. Kamu kenapa seperti orang kesurupan!. Sadar!". Menampar Iksan.
Iksan bukannya sadar, dia malahan tambah marah pada Alaina. "Berani kamu nampar aku?". Memegang erat tubuh Alaina.
"San lepasin. Please". Mulai mengeluarkan air matanya.
Iksan menarik paksa Alaina untuk duduk di kursi dan mengikatnya. Iksan mengeluarkan pisau dari balik kumpulan bunga mawar.
"San, kamu mau ngapain?. Aku mohon jangan san!". Ucap Alaina sambil meneteskan air mata.
"Pisau ini tadinya aku gunakan buat memotong bunga mawar itu. Tapi sekarang akan aku gunakan buat motong orang yang aku sayang. Karena dia udah buat aku kecewa. Maka orang itu harus tiada!". Teriak Iksan depan wajah Alaina.
__ADS_1
"Kamu udah gila san. Mana ada katanya cinta tapi mala tega buat nyakitin orang yang dia cinta!". Bentak Alaina.
"Ya kamu benar. Aku nggak mungkin tega buat menyakiti orang yang aku cinta. Jadi...," Sambil menggoresi pisau perlahan dari ujung rambut Alaina sampai ke leher Alaina. Pas di tenggorokan Alaina, Iksan memberhentikan langkah pisaunya.
"Jadi, karena gue sangat cinta sama kamu?. Gue bakal bikin kita bersatu untuk selamanya".
"Maksud kamu". Dengan susah berbicara karena pisau itu masih Iksan arahkan di leher Alaina.
"Ya..., kalau kita nggak bisa hidup bersama. Maka kita akan mati bersama". Tertawa ce cekikan sambil melepaskan arah pisau nya dari leher Alaina ke arah lain.
Shelina langsung memukul Iksan dari belakang pakai kayu yang di bawanya. Iksan tersungkur kelantai. Hal itu dimanfaatkan Shelina buat lepasin ikatan tangan Alaina. Ikatan tangan Alaina lepas. Shelina meminta Alaina buat keluar lebih dulu, setelah itu baru shelina. Alaina sudah keluar dari ruangan itu. Saatnya giliran Shelina buat keluar. Namun tiba-tiba Iksan sadar dan menarik kaki Shelina. Shelina jatuh kelantai.
Iksan mencoba untuk menusuk shelina dengan pisau di tangannya. Shelina yang masih posisi tubuhnya dilantai, mencoba untuk menghindari arah tusukan pisau Iksan. Dan ketika Iksan ingin menusuk kembali ke arah Shelina, ia menahan pisau itu agar tidak tertancap di matanya. Sekarang posisi tangan Iksan yang memegang pisau hampir sangat dekat dengan mata Shelina. Shelina memegang erat lengan tangan Iksan yang memegang pisau, dengan cepat melumpuhkan tangan Iksan ke arah lain. Suara tangan Iksan seperti bunyi tulang patah.
Shelina memutar tangan Iksan yang pakai pisau, kemudian menendang Iksan dengan kakinya tepat di ************ Iksan. Setelah melakukan itu, Shelina langsung berlari keluar bersama Alaina. Iksan merasakan nyeri pada organ vital yang berada di tengah-tengah selangkangannya. Alaina dan Shelina terus berlari menuju villa. Iksan masih bisa mengejarnya dengan jalan yang sedikit pincang. Shelina terjatuh di tengah-tengah perjalanan menuju villa.
"Kak, ayok kak". Sambil memapah Shelina untuk berjalan.
"Aww". Shelina kembali jatuh dan kakinya sudah tidak kuat untuk berlari.
"Darah kaki kakak banyak bangat kak. Ayo kak kak pasti bisa aku bantu". Sambil kembali ingin memapah Shelina.
Shelina mendorong Alaina untuk pergi lebih dulu. "Tapi... kak. Aku nggak mau ninggalin kamu sendiri dalam kondisi seperti ini kak!". Tegas Alaina.
"Lo dengar gue baik-baik! Pergi!!". Bentak Shelina.
Alaina hanya diam di dekat Shelina. "Kalau Lo mau gue tetep hidup!. Lo harus pergi dulu buat cari bantuan. Kalau Lo tetap disini, yang ada kita berdua bakal mati sia-sia!". Dengan tegas.
Alaina mengikuti permintaan Shelina. Ia berlari sekuat tenaga untuk mencari bantuan. Sementara Shelina mencoba untuk berdiri dan berjalan perlahan. Iksan berhasil menemukan Shelina. "Di sini Lo ternyata. Alaina mana!". Bentak Iksan.
"Mana gue tahu. Lo nggak liat gue sendiri disini!". Shelina juga ikut membentak Iksan.
Wanita tomboi satu itu, sepertinya tidak takut akan kematian yang akan menimpanya. "Berani Lo sama gue, habis Lo". Sambil menyerang Shelina dengan gerakan tebas pisaunya. Shelina dengan kondisi kakinya yang terluka, masih mampu bertahan untuk melawan Iksan. Sampai pada satu titik, Shelina tidak bisa lagi membalas serangan Iksan. Karena Iksan menekan keras luka bekas tebasan iksan di ruangan tadi, yang melukai telapak kaki Shelina.
Shelina Berteriak kesakitan. Iksan tertawa puas. "Sekarang mati Lo!". Mengangkat kedua tangannya agak tinggi sambil memegang pisau, karena ingin menghantam keras ke dada Shelina yang sudah tidak sanggup melawan serangan Iksan. Darah mengalir deras dari jantung sebelah kiri. Alaina melihat itu dari jauh dan berteriak "Kakak!". Sambil berlari menghampiri Shelina.
"Kakak nggak papa kan kak?". Sambil menggeser tubuh Iksan yang jatuh menindih badan Shelina.
"Gue nggak papa kok". Ucap Shelina.
Darah yang mengalir itu bersumber dari jantung Iksan karena di tembus peluru milik Aslan. Ketika Iksan ingin menikam shelina dengan pisaunya, Aslan lebih dulu menghentikan tindakan Iksan dengan menembaknya.
Aslan berlari menghampiri kedua adiknya itu. Mereka bertiga berpelukan. Aslan memakaikan jaketnya pada Alaina karena baju Alaina sudah robek dan berantakan. "Kalian, cepat urus jasad iksan. Besok kita akan langsung menguburnya di pemakaman umum". Pinta Aslan.
"Siap Ndan". Jawab Tim.
Aslan mengendong Shelina karena kakinya tidak memungkinkan untuk berjalan dan Alin membantu memapah Alaina untuk ke villa. Semua kejadian malam itu terjadi begitu cepat membuat semesta pun tidak percaya bahwa seorang laki-laki yang romantis dan bucin. Bisa menjadi monster dikala iya marah. Jadi tidak menjamin bahwa lelaki yang romantis itu, cintanya tulus dan dalam. Bisa jadi laki-laki yang cuek, justru cintanya kuat dan bahkan rela mati demi menyelamatkan orang yang iya sayang.
Jadi jangan lihat bagaimana seseorang memperlakukan mu, tapi lihat la bagaimana cara dia memperhatikan mu, mulai dari hal kecil yang sering kamu abaikan, tapi ia lebih peka untuk hal kecil itu, dibanding kamu.
__ADS_1