
Neta tidak mengerti, mengapa semua kemauan orang tuanya itu tidak pernah sepaham. Dari dia kecil hingga menjelang dewasa, kehidupan Neta sudah banyak aturan. Sempat dibuat bingung, apakah dia adalah anak yang diinginkan oleh kedua orang tuanya atau tidak?
Padahal, Neta punya kakak yang lebih susah diurus ketimbang dirinya. Gibran namanya, dengan panggilan Iban. Kakak Neta ini hidupnya lebih begajulan. Sering pulang malam, keluyuran gak jelas, dibilang mahasiswa tapi lebih sering bolos ketimbang masuknya. Namun hidup Iban terlihat bebas jauh dari tekanan ke dua orang tua mereka.
Sedang Neta sendiri, boro-boro pulang tengah malam. Telat sampai rumah sepuluh menit aja, ayahnya sudah menyuruh orang sekampung untuk mencari keberadaan Neta agar cepat dibawa ke rumah dalam keadaan hidup atau mati.
Hal yang tidak bisa diterima nalar olehnya adalah perjodohan dini, kenapa disebut dini? Neta telah dilamar oleh keluarga dari pria yang akan menjadi suaminya, ketika berumur sehari setelah dia dilahirkan.
Gila, itu yang Neta pikirkan ketika pertama kali dia mengetahuinya. Bagaimana bisa, bayi yang baru menghirup nafas satu hari di bumi telah memiliki calon suami untuk masa depannya.
"Mami, gak kasihan lihat Neta? Umur ku pun baru genap 18 tahun Oktober nanti, bagaimana bisa aku menikah dengan orang yang tidak aku kenal?" protes Neta kala itu.
Bagai petir menyambar di siang hari, menikah muda adalah sebuah bencana untuknya. Neta masih ingin bermain dan berkumpul dengan teman lain, meski pada akhirnya Mami dan ayah tidak akan mengizinkan untuk melanjutkan sekolah. Namun dia berharap kebebasan akan diberikan setelah dia sudah dewasa dan lulus sekolah. Bukan menikah.
__ADS_1
"Kami mengenal baik siapa keluarga calon suamimu, nak. Mereka keluarga terpandang, dan juga....," ucap Mami yang kemudian dipotong Neta dengan penuh emosi.
"Kenapa harus aku? Kalau gitu Mami saja yang menikah!!" hardik Neta kepada orang yang sudah melahirkannya.
Selama ini Neta hanya diam, dia tidak pernah menolak permintaan kedua orang tuanya. Meski kadang dalam tertekan dia akan tunduk dan mengikuti, tetapi tidak kali ini.
"Jaga mulut kamu!! Memang selama ini kebutuhan mewah kamu siapa yang menyiapkan? Keluarga calon suami mu!!" bentak ayah, yang tidak suka melihat istrinya diperlakukan kasar.
Neta terdiam dan berpikir, tak disangka semua barang yang bagus miliknya itu bukan pemberian ayah dan Mami. Melainkan pemberian orang lain, masuk akal juga. Karena sebagai petani biasa, dari mana ayah bisa menghasilkan uang sebanyak itu untuk mengurus aku dan Iban.
"Plaakk.."
Tamparan keras mendarat di pipi Neta yang mulus.
__ADS_1
"Anak kurang ajar!! Tidak tahu berterima kasih. Masuk ke dalam, bagaimana pun juga kamu harus tetap menikah!!" Ayah mulai naik darah.
Bahaya, sebelum Neta bicara lain yang membuat sakit hati. Lebih baik Ayah menyuruhnya masuk ke dalam.
Dengan tatapan penuh kebencian, Neta masuk ke dalam kamar. Mami hanya menangis melihat situasi yang terjadi, tidak ada yang bisa dia lakukan selain itu.
Di dalam kamar Neta tidak bisa diam, dia berpikir untuk pergi dan lari. Menjauh dari takdir yang telah ditulis paksa oleh kedua orang tuanya.
Menikah? Dengan siapa Neta pun tak tahu. Bagaimana rupanya? Bentuknya? Atau seperti apa kepribadian pria itu?? Makin membuat gelisah.
Setelah dua jam dia bolak-balik untuk berpikir, sepertinya lebih baik dia pergi saja. Bagi Neta kabur adalah cara terefektif ketimbang dia harus menikah dengan orang yang tidak dikenalnya.
__ADS_1
Beberapa helai baju dan pakaian dalam Neta siapkan di dalam tas, tak perlu membawa banyak karena dia akan membelinya di luar sana. Mau kemana dia tak tahu, biar langkah kaki yang menuntun. Nanti malam adalah waktu untuk melanjutkan aksinya.