SOUL MATE

SOUL MATE
Khawatir


__ADS_3

Neta memutuskan untuk tidak pulang ke rumah langsung, dia memilih untuk berjalan-jalan di mall sendirian dengan seragam cleaning servis. Semua mata tertuju kepadanya, sebuah hal yang aneh dengan tingkat kepedean yang tinggi untuk seorang gadis memakai seragam itu di sebuah mall kelas atas. Bukan Neta namanya jika dia perduli dengan ucapan orang lain.


Berjalan menuju foodcourt, Neta memilih sebuah restoran western favoritenya. Sebuah burger dan kentang goreng dipilih menjadi hidangan penutup hari ini. Ketika memesan, si mbak sempat ragu melayani Neta saat itu. Mungkin disangkanya, dia tidak sanggup untuk membayar pesananan makanan tersebut. Setelah dengan sinis memperlihatkan isi dompetnya, si pelayan langsung berubah menjadi manis.


Setelah mendapatkan pesanan, dia menuju ke sebuah kursi di sudut jendela. Pemandangan yang indah tersaji di sana, lampu malam begitu terlihat mengagumkan untuk Neta yang tidak pernah keluar malam. Ini adalah dunianya, tidak akan ada orang yang akan melarang kembali.


Handphone berdering, tertulis nama Iban kakaknya pada layar. Ya ampun bagaimana dia bisa lupa, jika masih ada saksi mata atas pelariannya.


"Hai, anak bodoh. Kenapa lupa menghubungi kakakmu??!!" bentak Iban kesal.


"Hah, iya. Sorry, sekarang aku sibuk kerja," jawab Neta lemah.


"Loh, kerja apa? Dimana?? Kamu kan gak bawa ijazah apa-apa?" Iban merasa heran dengan jawaban adiknya.


Setau Iban, Neta itu anak yang manja. Dia gak akan mau bercape ria hanya demi mencari uang. Apalagi dia memiliki seseorang untuk mengisi tabungannya terus menerus. Tapi kok sekarang dia bilang sudah bekerja?


"Iya aku kerja, pokoknya aku baik-baik saja. Jangan bilang apa-apa ke Mami sama ayah!" ancam Neta langsung menutup telponnya.


Iban cuma bisa menggaruk kepala saat tau telponnya diputus begitu saja. Meski tau watak Neta seperti apa, mendengar suara ketusnya menandakan bahwa dia memang baik-baik saja.


Melanjutkan makan, Neta berniat untuk belanja lagi. Dia gak mungkin memakai baju yang seperti tadi pagi. Mau tidak mau akan disimpannya terlebih dahulu, atau dibagikan saja untuk bibi di kampung. Kan jadi lucu jika mereka pergi ke kebun dengan pakaian kantor. Membayangkannya saja membuat Neta tertawa geli.


❤️❤️❤️❤️❤️


Puas belanja, Neta kembali ke rumah. Dia bingung, semakin dipakai kenapa isi di Atm nya malah bertambah? Apa mungkin kedua orang tuanya tidak memberi kabar kepada calon suami Neta untuk memutuskan hubungan mereka? Karena memimilih kabur dari rumah.


Ah, perduli apa. Bagi Neta yang penting saat ini dia punya uang dan tempat tinggal. Gak akan berpengaruh dengan kehidupannya di masa mendatang.


Malam mulai larut saat Neta pulang ke rumah. Pukul 22:00, lampu-lampu di rumah Rendra mulai padam. Mungkin dia sudah tertidur pulas dari tadi.


"Kamu anak nakal ya?" Sebuah suara dari kegelapan memergoki Neta yang baru saja masuk.


"Maksudnya?" tanya Neta cuek sambil membawa barang belanjaan miliknya.


"Darimana saja kamu, baru pulang jam segini?"


"Oh, tadi aku jalan sebentar. Menikmati kota, dan belanja," jawab Neta sambil menyalakan lampu duduk di sebelahnya.


Neta sempat kaget setengah mati, ternyata wajah Rendra begitu menyeramkan saat itu. Rupanya dia mengkhawatirkan Neta, dan tidak suka dengan perilakunya sekarang.


"Bukankah kamu kemarin baru saja belanja?" sinis Rendra.


"Pakaian yang kubeli sebelumnya tidak cocok dengan pekerjaanku. Kenapa tadi pagi kamu gak suruh aku pakai baju yang lain?"


"Aku sudah bilang, kamu yang gak mau dengar."

__ADS_1


"Harusnya kamu bilang lebih ngotot lagi, supaya akunya takut. Jangan nyerah gitu dong, kalau sama aku tuh," protes Neta lebih galak daripada Rendra.


"Huh, kamu anak kecil yang tidak tau diuntung. Cepat sana tidur, besok kamu harus kerja kembali. Jangan telat lagi!" Rendra enggan berdebat, dia sudah terlalu lelah menunggu Neta malam itu.


❤️❤️❤️❤️❤️


Alarm Neta berbunyi pagi itu, dia segera bangun dari tempat tidurnya. Jika kemarin dia seharian tidak mandi sama sekali, kali ini persiapan yang dilakukan lebih mantap.


Rambut ikal dijepit di tengah, memperlihatkan wajahnya yang manis terlihat lebih bersinar. Tak ada lagi make up, dia membiarkan semua terlihat alami. Celana jeans dan kaos berwarna merah tiga perempat menjadi pakaian pilihan. Tidak lupa sentuhan parfum di sana sini, untuk seragamnya yang seharian full dipakainya kemarin. Dan dia siap berangkat.


Rendra telah berada di meja makan, dia memperhatikan Neta tidak seheboh kemarin. Bahkan pemandangan yang dilihatnya lebih indah dari sebelumnya. Dalam hati kecilnya dia tersenyum senang.


"Aku mau jalan, tolong nanti kalau dihadapan Pak Billy jangan panggil aku anak kecil. Kamu harus ingat itu, dah." Neta pamit sambil mengambil sebuah roti di atas piring Rendra.


"NETA...!!!" teriak Rendra kesal melihat roti yang siap disantapnya dibawa pergi begitu saja.


❤️❤️❤️❤️❤️


Di kantor, sudah cukup lama para pegawai pria tengah menanti kedatangan Neta. Mereka berusaha untuk menarik simpati, kali aja bisa dapat jackpot cintanya.


"Neta, udah sarapan?" tanya seorang pria saat melihat Neta pertama kali masuk ke dalam ruangannya.


Ternyata tidak hanya satu dua orang yang memperlakukan Neta secara berlebihan, tetapi hampir semua pegawai pria berusaha dengan caranya masing-masing untuk menarik simpatiknya. Termasuk di Oji, kadal kebon ini bermuka tembok, tak ada yang bisa mengalahkan ketidak maluannya di dunia ini.


Tak menggubris, Neta terus melangkah menuju lokernya. Entah mengapa dia sudah malas untuk berbasa-basi dengan semua pria yang hanya ingin berteman sekedar melihat fisiknya. Apalagi dia bukan termasuk gadis yang suka memberi harapan palsu.


Oji mengeluarkan sekota sarapan yang berisi bubur ayam lengkap, meski lapar Neta tidak tertarik untuk menerimanya.


"Terimakasih, tapi aku sudah kenyang dan kamu sudah kumaafkan," ucap Neta cuek sambil memakai kaus kakinya.


"Kalau begitu kita bisa jadi teman dong?"


"Bukankah, kita memang semua teman di sini??" sinis Neta mulai risih.


Dia jengah dengan keberadaan Oji yang selalu mengikutinya. Belum lagi mulut dari beberapa teman wanita yang sudah terlihat iri. Membuat Neta ingin mengusir Oji agar jauh darinya.


"Tapi aku ingin lebih dekat lagi sama kamu," ucap Oji pantang menyerah.


Sebelum Neta menjawab, sebuah peluit panjang berbunyi, itu tanda mereka harus berkumpul untuk melakukan briefieng dan senam sebelum memulai pekerjaan.


Deri melihat Neta yang terus diganggu oleh beberapa pekerja lainnya, mulai angkat bicara untuk bisa bekerja secara profesional dan tidak diperbolehkan dengan cinta lokasi alias pacaran di tempat kerja. Banyak yang kecewa, dan cuek, tetapi hanya Neta yang merasa senang.


Untuk satu minggu ini, akhirnya plotiingan Neta selalu di dalam toilet lantai satu. Tak ada yang bisa dia perbuat selain pasrah. Karena dia butuh uang, meski di dalam ATM yang dia pegang, memiliki jumlah yang tidak sedikit. Aneh tapi nyata, semakin lama dia pergi dari rumah, isi ATM nya semakin bertambah. Seolah itu untuk bekal Neta di sini.


Mungkin ucapan dari Deri bagi pegawai pria tidak berarti apa-apa. Buktinya mereka sering bolak-balik ke tempat Neta, dengan harap bisa berpas-pasan dengan gadis cantik itu. Pegawai di lantai satu merasa heran melihat banyaknya cleaning servis pria yang berlalu lalang di sana. Sampai menaruh rasa curiga pada Rendra yang kebetulan ada di lokasi juga.

__ADS_1


"Kok hari ini ramai? Apa ada sesuatu yang darurat dari para cleaning servis?" Rendra bertanya kepada satpam yang menjaga.


"Tidak pak, saya juga bingung lihatnya. Terlebih tatapan mereka terfokus pada toilet wanita di sana," jelas Satpam sambil menunjuk dengan sopan ke arah toilet wanita.


"Heem... Bisa kamu panggilan ada siapa di sana?" pinta Rendra penasaran.


"Bisa pak," jawab Satpam segera sambil berlari kecil.


Satpam tersebut mengetuk pintu toilet yang kemudian dibuka Neta sebagai petugasnya. Rambut di ikat menggulung dengan beberapa disisakan di samping kiri kanan pipinya membuat siapapun yang melihat pasti jatuh hati dengannya.


"Ya, pak. Ada apa?" Neta merasa bingung, adakah kesalahan yang diperbuat hari itu?


"Mbak, dipanggil sama pak Rendra," jawab


Satpam menunjuk tempat Rendra berdiri.


Neta tau kemana dia harus menghadap, pria di depannya tersenyum sambil bergumam dalam hati.


'pantas saja, jadi rusuh.'


"Kamu panggil aku? Maaf aku sibuk," jawab Neta sombong.


Rendra tidak dapat menahan tawanya, kesombongan Neta sebagai seorang cleaning servis mengalahkan dia sebagai pemilik perusahaan.


"Ikut aku!" Rendra menarik tangan Neta, dan mengajak dia ke sebuah pintu yang berisi tangga darurat.


Diseret begitu saja, membuat Neta bingung. Apakah Rendra mau memarahinya? Sehingga mereka harus pergi dari keramaian. Dia mau lihat apa yang akan dilakukan oleh pria itu kepadanya.


Di dalam pintu ruangan, Rendra melepaskan tangannya. Namun matanya seakan tidak mau melepaskan Neta, seolah berbicara bahwa Neta adalah santapan lezatnya.


"Apa sih? Matanya bikin ngeri aja," ucap Neta mengalihkan rasa canggung dalam dirinya.


"Aku mau lihat, kenapa pria-pria itu tertarik padamu. Padahal, tidak ada sesuatu yang indah di sana." Rendra berbohong untuk menggoda Neta.


"Hei... Asal kamu tau, sudah banyak pria yang menyatakan cinta kepadaku. Tapi aku tidak terima." Neta merasa kesal karena diremehkan.


Begitu mudah memancing amarah cewek ini, di sindir sedikit dia bisa langsung meledak.


"Hohoho... Kenapa? Apa karena tunanganmu?"


"Bukaaan.... Karena aku belum menemukan yang kucari. Seorang pangeran berkuda putih, datang dengan penuh ucapan cintanya kepadaku," ucap Neta sambil membayangkan kisah snow White dalam dongeng.


"Anak kecil, kamu terlalu bermimpi. Cepat kerja sana, nanti pulang jangan terlambat lagi!" Rendra mengacak rambut Neta sambil berlalu pergi meninggalkannya.


"Dasar cowok gila!! Yang pasti bukan kamu ya pangeranku!!!" teriak Neta kesal.

__ADS_1


__ADS_2