SOUL MATE

SOUL MATE
Kena kau


__ADS_3

"Kalau tidak ada yang mau mengaku juga, aku akan kirim video pelaku ke Meja pak Rendra. Dijamin kalian akan putus kerja hari ini juga," ancam Neta yang sebenarnya udah malas berhubungan dengan orang yang bernama Rendra.


Neta memperhatikan satu persatu, mereka semua terdiam dan memberi sedikit sorotan tajam seolah berkata kami tidak takut padamu. Namun mereka tidak sadar, akan ada sebuah kejutan kecil lainnya yang akan Neta perlihatkan


"Kamu siapa memangnya? Seolah kamu punya kuasa di tempat ini??!!" Derry mulai geram melihat Neta yang bertingkah dalam ruangan kekuasaannya.


Billy keluar sambil menggenggam handphone, sebuah video bagaimana aksi ketiga wanita tersebut mengacak-acak pekerjaan mereka terlihat jelas di sana.


Ketiganya merasa gemetar dan panik, bagaimana bisa ada saksi kala itu? Jelas-jelas, mereka sudah memeriksa tidak ada seorang pun di sana. Kenapa masih bisa tetap kecolongan???!!


"Aku tau kalian pelakunya, ikut saya ke kantor." Billy pergi tanpa banyak berkata dan siap untuk menginterogasi kepada mereka.


Sengaja Neta tidak mau mengikuti mereka, cukup dengan penjelasan dari video dan rekaman sebagai buktinya. Hari ini dia benar-benar ingin istirahat, karena sudah merasa lega dengan prasangkanya selama ini. Tanpa mau basa-basi Neta lantas naik ke lantai paling atas, gudang tempat yang cukup sepi dan enak buat bersantai.


Sebelum kejadian ini, dia meminta Tio untuk bersaksi di depan Billy. Neta tidak mau jika hanya dia dan Tio yang langsung menegur ketiganya. Harus ada orang kuat juga yang mendukung siasat mereka, agar tidak ada yang berani mengelak atau menyangkalnya.


Mau bilang ke Rendra, tapi hati Neta lagi senep dengan kelakuannya. Ditambah gengsi yang tinggi membuat makin enggan untuk bertemu Rendra. Bahkan semalam ia pulang terlalu malam dan sampai ke kantor terlalu pagi.


Angin membelai cukup lembut, dari celah teralis besi. Membuat Neta terbuai dan menjadi mengantuk. Disandarkan tubuh kecilnya pada sebuah dinding, alunan suara angin membelai matanya hingga nyaris tertutup sempurna. Namun kembali terjaga ketika sebuah suara lift berhenti di sana.


Suara langkah terburu-buru, membuat mata Neta terbuka lebih besar. Ditambah lagi berdiri seseorang yang mendapat peringkat paling menyebalkan abad ini.


"Aku bungung, dengan sifatmu yang seperti ini," ucap sang pria sambil meletakkan kedua tangannya di atas pinggang, dia adalah Rendra.

__ADS_1


Neta terkesiap, langsung berdiri untuk pergi tanpa penjelasan apapun. Sebelum langkahnya terlalu banyak, tangan Rendra berhasil menggapainya.


"Lepas! Kamu kenapa sih??!!" gentak Neta emosi.


"Kamu yang kenapa?? Setiap ada masalah di kantor ini kamu selalu minta tolong pada orang lain. Padahal sudah jelas aku pemilik kantor ini!"


"Oh, iya saya lupa bapak Rendra yang terhormat. Saya lupa kantor ini adalah milik bapak, mulai saat ini saya akan mengundurkan diri dari kantor bapak dan..."


Rendra menarik paksa Neta mendekat, dan berhasil menutup mulutnya kembali dengan bibirnya.


Neta berusaha memberontak, ini ciuman paksa yang ketiga. Air mata Neta tidak dapat dibendung lagi, dia menangis terisak. Rendra menyadari ada air mata yang jatuh di pipi tuanangannya, melepaskan diri.


"Aku benci kamu Rendra, aku benci!!!" Neta memukul dada Rendra berkali-kali.


"Maaf, tolong jangan pernah ucapkan kata yang membuat kamu jauh dariku. Sekalipun kamu membenciku," mohon Rendra sambil memeluk Neta yang perlahan sudah mulai menjadi jinak.


"Aku cinta kamu Neta, aku gak mau kalau kamu pergi jauh dariku," ucap Rendra mempererat pelukannya.


Apa?? Cinta?? Sebuah kata yang membingungkan untuk Neta, pasalnya dia belum pernah merasakan kata itu sama sekali. Mungkin kalau naksir atau suka-suka biasa dia sering begitu, tapi kalau sampai cinta emang gak berani sama sekali. Karena dia sadar akan ada tunangan yang tersakiti, itu sama saja dia selingkuh.


"Kamu gak boleh cinta sama aku, Rendra. Aku sudah punya tunangan."


"Aku gak perduli, kalaupun harus kehilangan darah untuk memperjuangkanmu. Tolong, jangan bilang kamu akan pergi dariku," ucap Rendra dengan penuh ketulusan.

__ADS_1


Tanpa sadar Neta mengangguk, mengiyakan setiap perkataan Rendra. Mungkin dia juga memiliki rasa yang sama.


'OH MY! Neta bodoh kenapa ngangguk??!! Apa kabar tunangan??!!' bisik hati kecilnya. Kalau otak sama perbuatan gak sinkron gini dah yang pasti dia jadi stress sendiri.


."Tadi Billy bilang kamu disiksa untuk membersihkan ruang loker sendiri? Aku akan membereskannya." Rendra mengucapkan dengan penuh semangat, terlebih Neta sudah memaafkan dirinya.


"Tidak... Tidak. Itulah makanya aku gak bisa bilang sama kamu. Kalau kamu yang bertindak pasti akan ada kecurigaan lain, jadi biar Billy saja," jelas Neta menolak dengan menggerakkan kedua tangannya.


"Kenapa? Aku malu kalau tidak bisa melindungi wanitaku."


"Hah, siapa wanitamu?" tanya Neta meledek, karena dia juga belum berasa menerima Rendra sebagai pacar.


"Kamu," tunjuk Rendra malu-malu.


'Cowok gila ini bisa malu juga,' pikir Neta.


"Aku gak mau jadi wanitamu," ucap Neta sambil membalikan badan karena merasa malu juga, dan pergi meninggalkan Rendra.


"Oh, ayolah Neta sayang. Kamu adalah wanitaku satu-satunya. Kita sudah berciuman sebanyak...."


"Diam... Jangan sebut itu lagi!" ancam Neta kesal.


Rendra menggengam tangan Neta dan menciumnya perlahan.

__ADS_1


"Apapun yang tuan puteri perintahkan, hamba akan melaksanakannya." Rendra begitu senang melihat Neta tersipu.


Akhirnya dia berhasil mendapat cinta tunangannya sendiri, meski Neta tidak tahu. Yang penting kejadian ini menjadi kisah baru untuk keduanya.


__ADS_2