SOUL MATE

SOUL MATE
Hari yang melelahkan


__ADS_3

Satu hari penuh telah dilewati Neta di dalam toilet, akhirnya selesai sudah jam kerja yang cukup panjang. Setelah merapikan semua peralatan kerjanya, dia kembali menuju loker untuk mengganti seragamnya.


Suasana loker lebih padat dari sebelumnya, kalau tadi pagi hanya beberapa yang tersisa, kini mereka berkumpul semua di dalam satu ruangan. Penuh sesak dan bau keringat bercampur, membuat siapa pun enggan berlama-lama di sana.


Semua mata tertuju saat Neta masuk ke dalam ruangan itu, mereka baru melihat gadis manis dengan rambut ikal tergerai yang dari pagi bersembunyi di toilet. Pemandangan begitu indah terutama untuk para pegawai prianya. Kulit putih Neta memang bukanlah hal biasa bagi mereka, ditambah dengan wajah licin dan rambut hitamnya dapat menghipnotis siapapun.


Kini hampir semua pegawai pria, berusaha menarik perhatian Neta.


"Hai, kamu baru ya?" tanya seorang pria berkulit hitam dengan senyum genitnya.


"Iya," jawab Neta dengan senyum seadanya.


"Siapa namanya? Aku Juned," ucap pria lainnya sambil memberikan tangan untuk menjabat.


"Neta," balas Neta sambil memberikan tangannya.


Kali ini dia agak merasa risih, bukan karena sombong. Tetapi dia tidak mau dianggap sebagai selebritis, Neta butuh kebebasan. Dia berharap ada seseorang yang dapat menolongnya.


"Wooiii... Kaya liat artis aja sih, norak tau! Awas Neta mau ganti baju dulu!" hardik Yulia sambil menarik tangan Neta.


Fiuuh... Sesaat Neta bisa bernafas lega. Akhirnya dia bisa terbebas dari kepungan para pegawai pria. Segera bergegas menuju kamar ganti.


Di dalam kamar ganti, ada yang membuat Neta merasa resah. Kalau dia ganti dengan pakaian yang tadi pagi, semua pasti akan menganggap dirinya aneh. Tapi kalau dia memakai seragam kerjanya, bukankah ini lebih aneh lagi?


"Rendra gila! Kenapa gak bilang dari awal pakaian apa yang harus dipakai!!!" Histeris Neta kesal. (Padahal tadi pagi Rendra sudah kasih saran, dia gak mau denger)


Setelah berpikir panjang kali lebar, dan sudah ada 25 ketukan pintu yang menyuruhnya gantian. Neta memutuskan untuk tidak mengganti seragamnya, dan dia nekat pulang dengan keadaan seperti itu.


Keluar dari kamar ganti, Neta tak menyangka akan ada banyak tatapan sinis yang mengarah kepadanya. Tapi dia seolah tidak perduli dengan mereka, Neta merapikan rambut ikalnya di depan kaca.


"Ya elah, dari tadi kek kalau gak mau ganti mah. Di dalam tidur ya??" sinis seorang wanita dengan dandanannya yang begitu tebal.


Neta mendengar, namun dia bersikap tidak acuh dengan ucapan wanita tersebut. Dia terus merapikan rambutnya sendiri.


"Neng, Ibu boleh minta tolong?" tanya seorang Ibu yang sedang ikut mengantri kepada Neta.


Wanita itu berusia lima puluh tahunan, badannya kecil namun dia terlihat masih gagah. Kok bisa perusahaan ini menerima pegawai setua si Ibu.


"Ya bu, kalau bisa aku bantu." Neta memberikan senyum yang tulus, mungkin dia memang gadis yang keras kepala. Tetapi hatinya penuh dengan kelembutan.


"Tolong telponin anak ibu, bilang untuk jemput sekarang, ini nomornya." Ibu tersebut menyerahkan selembar kertas yang tersimpan dalam tasnya.

__ADS_1


Neta bingung, dari sekian banyak pekerja mengapa dia yang diminta tolong sama Ibu tersebut.


"Oh iya bisa," jawab Neta sambil mengambil kertas tersebut.


Setelah dibantu, Ibu tersebut mengucapkan terimakasih dan meninggalkan Neta yang masih galau dengan seragamnya.


"Kena mangsa deh si anak baru, Ibu itu kalau sekali dikasih pinjam handphone. Bakal tiap hari minta tolongnya," ucap seorang wanita kepada temannya.


"Biarin deh dia ini, lagian sok baik bangat jadi orang. Gak mikir lagi kalau mau nolong," ucap yang lainnya.


Mereka bicara dengan nada keras dan sengaja agar di dengar oleh Neta, dia memberi tatapan sinisnya.


"Hadeuuh...panas ya. Ku kira cuma ruangan aja yang panas, ternyata mulut perempuan julid tuh bikin tambah panas ya," ucap Neta sambil berlalu meninggalkan ketiganya.


Mendengar ucapan Neta, para pegawai wanita tersebut merasa berang. Anak baru, sudah berani melawan mereka yang merasa lebih senior.


Saat keluar, ternyata masih ada beberapa pegawai pria yang menunggu Neta. Mereka sengaja menunggu untuk sekedar berkenalan.


"Neta, kok gak ganti baju?" tanya seorang pria berperawakan tinggi kurus.


"Emang kenapa? Seragamnya boleh dibawa pulang kan?" tanya Neta serius.


"Boleh lah, aku dibawa pulang juga boleh," ucap pria yang tingginya sama dengan Neta.


"Udah sore, aku pulang dulu ya." Neta pamit sebelum banyak lagi yang datang.


"Neta pulang sama siapa? Oji anterin ya," ucap pria berambut ikal, berkulit cukup putih yang ternyata adalah kadal kebon eh bukan buaya darat di sana.


"Aku udah ada barengannya," jawab Neta asal, padahal dia gak tau mau bareng siapa.


Sambil berjalan keluar dan mencari cara untuk melarikan diri.


"Masa sih? Kan Neta anak baru. Masa udah punya barengan?" tanya Oji lagi.


'Duh susah bangat sih ngusir nih orang!' Neta mulai kesal dalam hati.


Saat itu dia melihat Rendra sedang bicara dengan Billy. Kesempatan bagus untuk bisa kabur dari mereka.


"Tuh barengan aku, lagi ngobrol di sana." tunjuk Neta kearah Rendra dan Billy.


"Kamu lucu ya, bikin gemes deh!" Oji mulai berani mencubit pipi Neta.

__ADS_1


"Apa sih cubit-cubit, kenal aja enggak!" ketus Neta mulai naik darah.


"Jadi cewek sombong amat, kayak yang paling cantik aja." Oji tidak terima dibentak Neta.


"Loh, yang merasa cantik siapa? Dari awal aku juga gak maksa kok, supaya kamu ikutin aku!" Neta mulai naik darah.


"Udah Ji, lagian lo yang kebangetan main nyomot pipi orang aja." Ucup juga kesal dengan tingkah temannya itu.


"Sok cantik, kayak kenal aja sama Pak Rendra sama Pak Billy lo! Level lo ketinggian!" sindir Oji melecehkan Neta.


"Rendra!!!" teriak Neta tak perduli ocehan Oji.


Neta berlari ke arah Rendra dan Billy, dengan hati yang kesal. Baru pertama kali dia kenal dengan cowok model si Oji, yang kesal karena ditolak dan diberi peringatan.


Rendra memberi lambaian tangan ke arah Neta, semua pegawai pria yang mengikutinya dari bawah memandang takjub. Berarti itu tandanya, gadis itu kenal dengan Rendra si pemilik perusahaan.


"Mampus lu, Ji. Dia kenal beneran sama Pak Rendra!"


"Halah, paling dia anak pembantunya atau anak kenalan supirnya." Oji menjawab dengan penuh rasa kesal.


"Kalau mereka kenal dekat gimana? Tuh manggilnya aja Rendra, gak pakai Bapak."


"Maenannya si Rendra kali, gak mungkin mereka kenal begitu aja. Dah gitu mana mau si Rendra sama cewek level bawah kek gitu kalau bukan buat di ehem... ehem..." jawab Oji cuek sambil berlalu pergi.


Dia kesal dan akan menuntut balas. Ini pertama kali dia merasa dijudesin sama perempuan, sebuah penghinaan sebagai seorang play boy kelas senior seperti dia. Jika dia tidak bisa merebut hatinya Neta, dia akan keluar dari pekerjaannya itu.


❤️❤️❤️❤️❤️


"Kamu sudah mau pulang, kok gak ganti baju?" tanya Rendra heran melihat Neta masih berseragam lengkap.


"Iya, ini gara-gara kamu," keluh Neta kesal.


"Lah kok jadi aku yang di salahin?" Rendra tidak terima disalahkan.


"Iya, tadi..." Neta berhenti, di sana ada Billy. Tidak mungkin dia bilang kalau dia tinggal serumah dengan Rendra.


"Kenapa kok gak diteruskan?" tanya Billy dengan senyum mautnya.


"Tadi bajuku basah, kena air closet. Jadi gak bisa ganti deh. Hahahhaa...." Neta tertawa untuk kebodohannya sendiri.


"Aku pamit pulang dulu!" Neta segera berlari meninggalkan Rendra dan Billy.

__ADS_1


Daripada dia akan dibuat malu lagi karena ulah sendiri, lebih baik dia segera pergi. Toh para pengganggu itu sudah tidak berani mengikutinya.


__ADS_2