SOUL MATE

SOUL MATE
Taktik


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Neta terus menggerutu. Perbuatan Rendra benar-benar tidak termaafkan. Dua kali sudah bibirnya kena sasaran tembak tanpa kejelasan status.


Kata cacian terus keluar dari mulutnya, ketika dia sampai di kantor tak ada seorang pun yang menyapa. Entah disengaja atau tidak, Neta tidak mau tahu. Yang pasti sekarang rasanya dia mau makan orang atau pun yang lebih besar dari orang, gajah sekalian biar puas.


"YA AMPUN!!!! KERJAAN SIAPA INI??!!!" teriak Neta histeris, ketika melihat ruang loker yang kemarin sudah bersih menjadi tumpukan sampah kembali.


Moodnya rusak kembali, ditambah kejadian tadi pagi. Neta mulai strees dan bisa jadi tekanan darah tinggi. Bagaimana tidak? Setelah semua dirapikan tanpa sisa, mengapa kembali seperti semula bahkan lebih buruk dari kemarin.


Beberapa tempat sampah terbalik posisinya, meski kemarin sudah dikosongkan.


"Neta, kamu tidak melakukan tugas mu dengan baik," ucap Derry dari belakang tempat Neta berdiri.


"Saya yakin semalam sudah menyelesaikan semua pak. Ini pasti ada yang menyabotase kerjaan saya." Neta enggan beralasan, tapi ini sudah keterlaluan.


"Banyak alasan, aku sudah sering dengar dari pemalas seperti kamu."


Mendengar ucapan Derry, ingin rasanya memberi hadiah setoples kacang, sisa jilatan Mak Rodiah tetangganya yang suka sekali makan coklat. Atau ingin sekali rasanya dia memberi hadiah kaus kaki beracun milik Iban yang tidak pernah dicuci sejak dibeli.


Tapi kali ini Neta berusaha sabar kembali, dia tidak ingin membuat orang yang mengerjainya merasa senang. Maka sekarang berusaha tenang seolah tidak terjadi apapun.


"Oh iya mungkin Bapak benar, ada sesuatu yang terlupa kemarin. Mungkin dikarenakan saya lelah. Akan saya rapikan kembali dengan segera. Permisi," pamit Neta seraya mengambil membawa alat kebersihannya.


Tak lupa sebuah senggolan kecil yang dilakukan sengaja, sebuah gagang sapu tepat menyentuh ke kepala Derry.


"Kamu sengaja yaa??!!" gertak Derry kesal.


Neta tak menjawab, dia sudah enggan berkata - kata yang tidak penting. Sepertinya hari ini adalah hari yang panjang lagi untuknya.


Satu demi satu tempat sampah didirikan kembali, isinya yang tercecer di mana-mana mulai ia punguti. Neta yakin ada orang sengaja menyiksa dirinya, entah siapa pasti ada petunjuk disuatu tempat. Untuk tidak menimbulkan kecurigaan sedang menyelidiki, dia harus mengikuti permainan mereka.

__ADS_1


Pucuk dicinta ulam pun tiba, bantuan yang diharapkan Neta datang. Tio menjadi saksi mata orang yang berniat jahat kepada gadis itu memberi sinyal tanpa sepengetahuan orang lain. Sebuah kertas dilemparkan ke arah Neta dan mengenai punggungnya.


Awalnya Neta merasa kesal dengan orang yang melempar kertas ke arahnya. Ketika dia menengok, Tio menganggukan kepala memberi kode agar Neta mau membaca tulisan itu.


'SELESAIKAN PEKERJAANMU, ISTIRAHAT NANTI TEMUI AKU DI KEBUN BELAKANG.' Isi surat dari Tio membuat Neta semakin penasaran.


Dengan kekuatan super seorang gadis bolang di kampungnya, Neta berhasil menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu singkat sebelum istirahat. Pesan dari Tio yang membuat dia berapi-api untuk menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat.


Menjelang 20 menit waktu istirahat, Neta sudah sampai di kebun belakang. Terlaku cepat memang dari waktu yang dijanjikan. Namanya juga Neta, kalau gak kepo sama penasaran bukan dia banget. Dadanya berdebar kencang, gak mungkin kan Tio yang duda mau nembak dia yang single? Masalahnya ni bocah udah ge er duluan bakal di tembak. Dia gak tega kalau harus nolak Tio, kasian.


Sebelum itu terjadi, baiknya Neta meminta maaf terlebih dahulu. Jadi Tio tidak merasa ditolak atau merasa sakit hati karenanya. Ya, setidaknya itu yang ada di dalam pikiran Neta.


"Pak Tio maaf sebaiknya kita menjadi teman saja. Saya sudah punya tunangan soalnya," ucap Neta ketika Tio mendekat dengan senyum sumringah.


Mendengar ucapan Neta membuat bingung, dia hanya ingin membalas budi kepada gadis itu karena membuat kesehatannya lebih baik. Bukan dengan cinta juga kalee...


" Maaf, Neta. Mungkin kamu salah paham, saya cuma mau bilang kalau saya tau siapa yang membuat kerjaanmu jadi kacau," balas Tio dengan sedikit canggung.


"Apa? Jadi fillingku benar." Neta berusaha mengalihkan pembicaraan, padahal beberap saat lalu fillingnya gagal total.


"Iya, sepertinya mereka suruhan dari orang kuat juga. Sebab kalau tidak mereka tak akan berani berbuat seperti itu," jelas Tio dengan wajah serius.


"Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Heemm... Tetapi tidak melibatkan orang lain," gumam Neta perlahan.


"Saya siap memberi kesaksian." Tio begitu tegas menjawab kekhawatiran Neta.


"Enggak pak, jangan Bapak. Tapi sebelum ini saya boleh minta tolong ke pada Bapak??"


Tio mengangguk dengan semangat, setidaknya dia bisa melanjutkan niat untuk berterimakasih kepada Neta. Meski tidak bisa melakukan banyak hal.

__ADS_1


❤️❤️❤️


Keesokan paginya, Neta bekerja seperti biasa. Kedaan hancur kembali dan dia justru merasa senang. Dengan akting seperti bawang putih yang disiksa ibu tirinya, Neta melaksanakan aksi dengan sedikit lebay.


"Ya Ampun, tega bangat ya yang ngacak-acak kerjaanku lagi," ucap Neta dengan akting yang begitu buruk. Kalau orang waras pasti tau kalau dia itu cuma pura-pura.


Tio disuruh Neta untuk mengikuti orang yang mereka curigai, rekam kalau perlu videokan apa yang mereka bicarakan. Jangan sampai identitas Tio terungkap, maka dia harus berhati-hati.


"Mampus tuh perempuan gatel! Tiap balik kerja, badannya pasti rontok semua." Seorang gadis berambut sebahu, begitu emosi.


"Sssstttt.... Berisik bangat lu kalo ngomong. Ntar ada yang denger aja," ucap temannya yang bertubuh agak gempal menutup mulut temannya.


"Tau lu, kalau ada yang denger kita yang mampus!" ucap wanita yang bertubuh lebih kurus dari yang lainnya.


Tio tersenyum dengan kebodohan ketiganya, dia segera menemui Neta dan memberi rekaman tersebut


Sekarang saatnya Neta beraksi, jika kemarin dia membersihkan tempat itu. Sekarang dia membuat keadaan lebih hancur dari sebelumnya. Bahkan orang yang melihat Neta bisa berpikir bahwa gadis itu menggila.


"NETA!!! Apa-apaan kamu??!!" bentak Derry melihat kehancuran di depannya.


"Enggak ngapa-ngapain, saya cuma melanjutkan pekerjaan beberapa orang aja," ucap Neta sambil menendang tumpukan sampah dihadapannya.


Bahkan dengan sengaja atas bantuan Tio tanpa terlihat yang lain, sampah yang berada di luar pun dia urai di rungan tersebut. Biar lebih mendramatisir dan lebih nikmat pembalasannya.


"Maksud kamu apa???" tantang Derry.


"Pak Billy tolong musiknya!" teriak Neta sambil menggenggam sebuah HT.


Ucapan ketiga gadis yang tadi direkam Tio terdengar begitu jelas dalam pengeras suara kantor yang terbiasa untuk memanggil orang. Ketiganya mulai panik, mereka berpikir siapa yang berani merekam secata diam-diam?

__ADS_1


"SUARA SIAPA INI???! Tunjukkan diri kalian, jangan jadi pengecut!!!" hardik Neta mulai naik darah.


Semua diam, bukan karena takut dengan Neta. Namun jika mereka mengaku ada seseorang dibalik perbuatan mereka, karirnya bisa hancur kapan saja.


__ADS_2