SOUL MATE

SOUL MATE
Ingin Bersamamu


__ADS_3

Rendra mengambil gaun hitam yang tergeletak begitu saja di depan lantai toilet. Ia tidak terima barang yang diberikan untuk calon istrinya dipakai orang lain, apalagi hanya untuk mendapatkan simpatinya.


Haruskah gaun itu dibuang saja? Rasanya tidak rela kalau sampai Neta memakai pakaian bekas orang lain. Lebih baik dibuang saja kalau begitu.


"Kak, mau dibawa kemana gaunnya?" tanya Yuri saat melihat Rendra membawa gaun hitam dalam genggamannya.


"Buang, ini sudah dipakai orang lain."


'Sumber duit nih,' bisik hati Yuri berbinar.


"Bagaimana kalau aku jual gaun itu? Aku jamin kakak tidak akan melihatnya dimanapun," ucap Yuri meyakinkan Rendra.


Tidak buruk juga apa yang dikatakan Yuri, terlebih gaun ini terlalu bagus untuk dibuang. Akhirnya Rendra merelakan gaun yang dipegangnya untuk Yuri.


Gaun ini seharga delapan jutaan, jika bekas artis terkenal mungkin Yuri bisa menaikkan harganya. Setidaknya dia harus memiliki foto Maya saat memakai gaun tersebut, dan semuanya berada di tangan Yura. Setidaknya Yuri melihat saat ia mengambil foto Maya diam-diam.


Tapi bagaimana caranya dia bisa mendapatkan foto itu, kalau minta secara terang-terangan akan berbahaya. Yura pasti akan minta bagian lebih banyak atau bisa saja dia memberi tahu Maya tentang niatnya. Tidak-tidak, itu terlalu beresiko pikir Yuri.


Setidaknya uang sudah ditangan, dan dia tinggal mengatur waktu untuk mencuri foto itu dari handphone Yura.


****


Rendra menghampiri Neta yang dari tadi sibuk merapikan kamar. Ia sadar jika telah membuat tunangannya merasa tersakiti karena bentakannya tadi. Tapi itu dia lakukan karena tidak senang jika gadis itu memberikan apa yang ia miliki kepada orang lain terlebih pemberiannya.


"Kamu masih marah?" Rendra duduk di atas tempat tidur Neta.


Gadis tersebut tidak menjawab, wajahnya malah semakin asam ketika tahu Rendra masuk ke kamarnya. Tak ada larangan juga sih, ini memang rumah dia. Hanya saja, untuk saat ini Neta enggan berbicara.


Terus melipat pakaian dan meletakan kembali ke dalam lemari, sikap Neta membuat Rendra semakin gila.

__ADS_1


"Kamu ini kalau aku tanya, jawab!!" hardik Rendra kesal.


Neta berhenti, dia pun ingin meledak seperti Rendra. Tetapi malu, untuk apa? Memang dia siapa? Bahkan Rendra belum mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan yang pasti. Meski ternyata, hati Neta berat padanya.


"Kamu hari ini bikin kesal terus, marah gak jelas sekarang di saat aku ambil sikap untuk diam, kamu marah lagi. Maunya apa sih?!!" Neta benar-benar naik darah.


"Aku gak suka kamu kasih semua milikmu untuk orang lain." Suara Rendra melemah, dia takut Neta akan lebih marah lagi.


"Itu hanya gaun Rendra, jangan terlalu dibesarkan dan ingat itu juga bukan pemberianmu!" tegas Neta.


"Iya, tapi seandainya ada yang meminta kamu untuk melepaskan orang yang kamu cintai. Apa kamu kasih juga??" Rendra tak percaya dengan logika Neta.


Oh My, bagaimana bisa dia menganalogikan perasaan hatinya dengan benda--benda tak hidup?


"Gaun tidak sama dengan manusia, cocoklogi mu terlalu jauh," ketus Neta.


"Tapi jawab pertanyaanku. Apa alasan kamu memberi gaun itu pada Maya?"


Sial, perempuan itu berani mengancam Neta rupanya. Jadi bukan keinginan Neta juga menyerahkan barang miliknya. Secepat mungkin Rendra harus mengambil tindakan aggara Maya tidak berbuat hal menyebalkan seperti tadi.


Rendra merasa bersalah, tidak seharusnya dia memutuskan sendiri, sebelum mendengar semua cerita dari Neta.


"Maaf, aku hanya tidak suka jika pemberianku. Ehm bukan maksudku barang milikmu di kasih ke orang lain," ucap Rendra keceplosan.


Neta tak mau mendengarkan alasan Rendra kali ini, sudah terlalu lelah tenaganya dipakai untuk menghadapi Maya. Entah apa yang dikatakan pria disampingnya, untuk saat ini ia hanya fokus merapikan isi lemarinya.


"Aku lelah Rendra, aku ingin sendiri. Kamu keluar saja." Neta berkata dengan tatapan yang penuh keseriusan.


Menyerah, Rendra pun mengikuti mau Neta. Dengan perasaan bersalah dan sedikit kecewa, Rendra keluar dari kamar Neta. Sadar sekali jika perbuatannya kali ini memang agak berlebihan.

__ADS_1


Yuri yang menguping dari belakang pintu buru-buru pergi, terlalu berbahaya jika Rendra mengetahui kalau dia sengaja mencuri dengar. Meski kadang sifatnya menyebalkan, Yuri ternyata perduli dengan keadaan sang kakak.


Berbeda dengan Yuri, justru Yura lebih agresif. Menghadang Rendra di bawah tangga, mencoba berusaha menenangkan kakaknya.


"Seharusnya kakak tidak segalak itu padanya, dia itu wanita yang baik," ucap Yura menggurui.


Sebenarnya Rendra enggan menjawab, tetapi perkataan Yura malah membuatnya jadi sadis kembali.


"Memangnua siapa yang menjadi biang kerok di sini?"


Yura flash back, mengingat semuanya kembali. Oh iya, memang tadi adalah kesalahan ia sepenuhnya. Yura menurunkan tangan yang tadi coba dilingkarkan ke pundak Rendra. Takut dengan tatapan kakaknya, ia pun pergi begitu saja.


Dikejauhan, Yuri sedang memantau handphone yang sedang dipegang Yura. Sumber uang baru baginya berada di sana. Tak mau kehilangan jejak sama sekali, Yuri terus mengikuti Yura, berharap kakaknya akan pergi ke toilet tanpa membawa ponsel miliknya.


💝💝💝💝💝


Keesokan paginya, Neta masih merah. Setiap melihat Rendra dia langsung membuang muka. Udah status gak jelas, pakai di marah-marahin pula. Hari ini Neta berangkat sebelum Rendra keluar dari kamarnya.


Sampai di kantor, keadaan masih sepi. Bahkan ruangan tempat para tim bersih-bersih pun masih sangat kosong, dengan beberapa sakelar lampu yang belum menyala.


Dalam penerangan seadanya Neta berjalan cukup bersusah payah, agar tidak terjatuh atau menabrak benda lainnya.


Dalam sepi, terdengar sesuatu dari kantor pak Derry. Apa mingkin orang itu sudah sampai di sini pagi sekali.


"Ayo sayang, aku sengaja datang pagi buta gini kan buat nikmatin kamu." Suara laki-laki terdengar berat dari dalam sana.


Suara pak Dery masih terdengar meski setengah berbisik karena sepinya ruangan tersebut. Penasaran, Neta mengintip dari sebuah lubang angin yang bisa digapai jika dia berdiri dengan tumpukan galon di bawahnya.


Terlihat Dery dengan seorang wanita tengah asyik bercumbu di dalam ruangan tersebut. Betapa kagetnya Neta melihat kejadian tersebut, pasalnya wanita yang sedang dicumbu itu adalah Yulia. Seoarang offic girl cewek yang pertama kali dikenal Neta. Setahu dia juga, Yulia itu seorang pria bersuami begitu juga sebaliknya dengan keadaan Dery.

__ADS_1


Ya ampun, skandal apalagi ini?


__ADS_2