
Setelah diputuskan untuk menerima si kembar rese biang kerok untuk tinggal di sana, akhirnya Neta kebagian sekamar dengan Yuri.
Rumah tersebut hanya memiliki tiga buah kamar, dan Rendra tidak mau diganggu oleh Yura. Maka adiknya itu menempati kamar sendiri pula yang berada di bawah. Dalam pikiran Rendra menempatkan Neta di atas tanpa pengawasan akan bisa berbahaya, karena dia paham sekali bagaimana sifat Yura.
Sebenarnya, Papa mereka tidak bermaksud untuk mengusir keduanya. Hanya sebagai pelajaran agar mereka bisa menjadi dewasa. Mengirim ke sini pun ada misi tertentu agar dapat melihat bagaimana kinerja Rendra sebagai seorang arsitek sekaligus pengusaha muda.
Papa berharap kedua bungsu kembarnya tidak berakhir sia-sia menjadi pecundang. Saking banyak masalah yang pernah mereka timbulkan, kadang membuat sesak di dada.
Yuri penasaran dengan Neta, dipandai wajah dan setiap garis muka di sana ternyata masih gadis yang sama. Dia dulu pernah melihat wajah Neta kecil,namun tidak secantik sekarang ini, lihatnya pun melalui foto yang diberikan Papa saat usia Rendra genap 20 tahun. Supaya Kakaknya itu berhati-hati untuk tidak bermain cinta dengan wanita mana saja.
Rendra muda menolak perjodohan tersebut, takut jika Neta bukanlah tipe gadis yang diinginkan. Siapa sangka sekarang justru dia tergila-gila dengannya.
Dengan sedikit penuh harap, Yuri datang ke kamar Rendra. Setidaknya dia harus berbuat baik pada kakak sulungnya itu, jika ingin mendapatkan uang untuk membeli make up dan jalan ngemall sebagai hobinya.
"Kak Rendra, aku mau bicara!" ketuk Yuri dengan sedikit takut.
Sebagai kakak, Rendra memang cukup galak dan tegas untuk mendisiplinkan kedua adiknya.
"Kalau kamu minta uang jajan aku gak bisa kasih," ucap Rendra dari dalam tanpa mau membuka pintu.
"Bukan kak, aku mau tanya seputar kak Neta."
"Kamu tidak akan dapat jawaban apapun dariku," ujar Rendra kembali, dia tau sekali sifat adik ceweknya yang boros itu. Apapun akan dilakukan untuk mendapat uang jajan..
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan bertanya kepada kak Neta langsung," jawab Yuri dengan sedikit kecewa, sebenarnya gak juga sih. Tinggal tunggu hitungan saja...
Satu... Dua... Tiga...
Pintu kamar Rendra terbuka, dengan pakaian piama dan rambut agak berantakan. Membuat dia terlihat lebih cowok bangat, untung aja. Yuri amat hafal dengan sifat kakaknya yang selalu ingin dilihat sempurna, terlebih dengan orang yang dia cintai.
"Kamu mau tanya apa sih? Ganggu aja!" ketus Rendra dirundung rasa penasaran.
Takut Yura atau Neta melihat, Yuri mendorong Rendra ke dalam kamar. Semakin dibuat bingung, melihat kelakuan adiknya dia hanya bisa menggaruk kepala.
"Kakak serius mau nikah sama dia?" Yuri terlihat antusias.
Rendra yang terduduk di sebuah kursi, berasa sedang diinterogasi. Bedanya di sini yang galak yang tersangkanya, daripada tim penyelidik.
__ADS_1
"Kalau iya, urusan kamu apa?" sinis Rendra yang tidak ingin mendengar hasutan apapun tentang Neta.
"Ya aku heran aja, kemarin kakak nolak. Sekarang kok diterima? Apa kakak sudah melakukan sesuatu padanya?" Yuri menatap dengan curiga.
"Maksud kamu? Sesuatu seperti apa?" Rendra tidak paham yang ditanyakan adiknya.
"Sesuatu itu loh kak, hal-hal yang tidak boleh dilakukan pasangan belum menikah."
Rendra menoyor kepala Yuri, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu pada kakaknya?
"Kamu pikir aku apa? Jangan kebanyakan nonton film plus-plus makanya."
Mood Rendra kembali buruk, 'mulut sial, kenapa gak bisa di rem sih?' pikir Yuri. Bisa gagal rencananya kalau mood
"Aku bercanda, hehehehe. Kakak, bagaimana gadis itu menurut Kakak?"
Mendengar pertanyaan Yuri membuat jantung Rendra berdetak lebih cepat. Terasa ada sesuatu yang menggelitik di sana. Sesuatu yang belum pernah terjadi kepada dirinya, padahal dia sudah pernah merasakan cinta tapi entahlah. Kali ini terasa lebih dalam, membuat dia seakan baru pertama kali.
"Yang pasti Kakak tidak akan mau menggantinya dengan siapapun. Untuk saat ini dia belum tau jika dia adalah calon istri pilihan Papa. Kakak minta, kamu dan Yura untuk turup mulut," ancam Rendra dengan begitu tegas.
"Kakak kamu begitu mencintainya. Dia memang cantik, aku juga suka punya kakak ipar seperti dia," jawab Yuri sebenarnya.
Kedua penjilat itu, akan baik jika ada maunya.
"Berikan aku satu kartu kredit kakak. Aku janji gak akan boros. Please!!" mohon Yuri sambil menggengam tangan Rendra.
"Brak!!!" Pintu kamar Rendra ditutup dengan keras, setelah dia berhasil mengusir adiknya keluar. Yuri pergi dengan penuh kekecewaan, tetapi dia tidak hilang akal. Jika dia tidak mendapatkan apa-apa dari kakaknya, maka dia bisa dapat dari sang kakak ipar.
Setelah kepergian Yuri, giliran Yura datang merayu. Namun dia lebih sial, karena Rendra mengusirnya sebelum bernegosiasi sama sekali.
❤️❤️❤️❤️
Hari sudah sabtu kembali, kebetulan Rendra ada meeting keluar. Jadi Neta libur kali ini di rumah dan menjadi babysitter untuk kedua adik kembar calon suaminya, yang ternyata berusia lebih tua.
Karena tidak mendapat uang jajan, hidup mereka bergantung pada kebaikan hati Neta. Berhubung bukan sebagai koki handal, si Neta pun bergantung pada layanan ojek food yang bisa dipesan dengan sekali tekan.
Sebelum pergi, Rendra sudah memberi tunangannya tersebut uang untuk pegangan makan dan sebagainya dengan jumlah yang sama dengan gaji Neta di kantornya. Tidak lupa pesan yang diberikan Rendra untuk tidak memberi mereka uang jajan sedikitpun.
__ADS_1
"Kakak aku lapar," keluh Yura pada Neta yang baru saja selesai mandi, lalu ikut bergabung dengan mereka di ruang Tv.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 pagi. Memang sewajarnya mereka sudah sarapan, ya suruh siapa juga bangun siang?
"Aku mau makan Pizza, dengan ekstra daging dan keju di topingnya." Yuri membayangkan lelehan keju Mozarella dalam lidahnya.
"Aku mau yang tuna, kalau kak Neta sendiri mau apa?" tanya Yura dengan penuh antusias.
Keberadaan Neta di rumah itu seperti anhugerah bagi keduanya. Ketika mempunyai kakak kandung seperti iblis, setidaknya mereka memiliki kakak ipar seperti malaikat. Meski kadang Neta bersifat tegas juga.
Neta berasa bingung, keduanya meminta pizza ukuran terbesar. Apa semua makanam tersebut bisa dicerna dalam perut keduanya?
"Aku makan sisa kalian saja," jawab Neta.
"NO!!" jawab keduanya kompak.
"Tidak ada sejarahnya kami menyisakan makanan itu," tambah Yura sambil menggoyangkan jari telunjuknya sebagai penolakan.
Mereka itu anak orang kaya atau bukan sih? Kok sifatnya seperti baru ketemu makanan aja. Serakah, pantas Rendra kesal. Memang nyatanya nyebelin.
Ketika mereka berdebat soal makanan, datanglah Maya dengan style seksinya. U can see hitam tidak dibalut luaran lagi, agar orang bisa melihat tubuh idealnya. Celana jeans pensil dibawah lutut begitu ketat membuat lekuk tubuhnya lebih berisi. Dia memang sempurna, pantas saja Rendra dulu susah move on darinya.
Yura menelan ludah, dia dulu sering melihat Maya mantan kakaknya. Tetapi sekarang terasa berbeda, atau karena dia sudah jadi mantan kakaknya? Seolah sinyal dari Maya mengatakan, ayo kejar aku!.
Yuri sendiri memang tidak begitu suka Maya, bahkan dia ingin sekali mengusir wanita itu setiap kali mereka bertemu, bahkan kalau bisa keluar planet sekalian biar gak bisa balik lagi.
"Oh, pantas ramai. Gak taunya ada dua biang kerok," sindir Maya menatap Yura dan Yuri.
Neta dan Yuri begitu kesal dengan keberadaan Maya, lain hal dengan Yura yang terus melambaikan tangan ke arah Maya.
"Hai Maya, apa kabar? Makin cantik deh," puji Yura masih belum berhenti melambaikan tangan.
Yuri yang melihat kakak bodohnya segera menurunkan tangan Yura. Tak lupa sebuah injakan keras di daratkan di kakinya, agar dia tidak sempat berbasa basi karena kakinya yang sakit.
"Kamu mau apa ke sini?" Neta mulai kesal dengan hama pengganggu yang selalu datang.
"Ini bukan rumahmu, jadi bukan hakmu bicara!" gentak Maya kesal.
__ADS_1
"Kak Maya mau minum?" tanya Yuri berusaha baik, namun dia memiliki sebuah rencana untuk mengusir penyihir itu pergi.