
"Apa-apaan nih?" desis Neta saat melihat keduanya.
Neta merasa kedua matanya ternoda, lantas ia ingin turun dan memergoki mereka. Namun ketika hendak turun sebuah pelukan dari belakang mengangkat tubuhnya. Bukan main kagetnya, dia ingin berteriak namun mencoba bertahan untuk melakukan hal kedua makhluk di dalam tau jika dia sedang mengintip. Apalagi belum ada bukti yang tengah disiapkan.
Melihat kebelakang, Rendralah pelakunya. Bagaimana bisa pria ini sampai di sini sekarang? Yang Neta tau, Rendra biasanya sampai ketika waktunya sudah mepet untuk masuk kantor. Maklum bos tidak akan ada yang berani menegur jika dia terlambat.
Tanpa bicara, dengan tatapan sinis saja sudah mampu membuat Rendra menurunkan Neta. Saat ini niatnya memang mau baikin gadis itu. Siapa sangka dia melihat tunangannya malah berada di atas galon yang cukup membahayakan.
"Siapa??!!" terdengar suara Derry dari dalam, karena merasa terganggu dengab sedikit suara berisik Neta dan Rendradi luar.
Menutup mulut Rendra, Neta menarik pria yang lebih besar darinya ke sebuah lorong kecil gelap yang hanya mampu di lewati satu orang. Keduanya berdesakan, tanpa bicara.
Neta sendiri masih belum melepaskan tangannya dari Rendra yang sudah merasa nyaris pingsan karena senang bisa sedekat itu dengan tunangannya tanpa harus bersusah payah.
"Ada apa sih?" Rendra memang agak penasaran meski bahagia karenanya.
"Sstt...berisik!" desis Neta menunggu situasi aman.
Setelah melirik kiri kanan dan sudah merasa benar-benar aman. Neta kembali menarik Rendra menjauh dari ruangan Derry bersamanya.
Dia begitu kesal dengan apa yang dilakuka. Derry dan Yulia, mereka berdua gila. Menjalin hubungan terlarang saat pagi buta, di kantor pula. Apa yang merasuki keduanya bisa melakukan hal itu???
Merasa kedua matanya telah ternoda atas sesuatu yang dia lihat membuat Neta tak berhenti mengeluarkan umpatan dan makian. Bahkan saking kesalnya dia tak sadar jika terus saja menggenggam Rendra terus berjalan di depan keramaian.
Hari mulai siang, dan banyak karyawan yang sudah berdatangan. Mereka agak shock melihat CEO mereka ditarik Office girlnya, dengan wajah yang sumringah. Iya, saat itu Rendra terus saja tersenyum tanpa melakukan perlawanan.
Sampai akhirnya mereka berdua berdiri di depan lift, beberapa karyawan dilarang masuk ke dalam lift untuk bersama mereka. Tinggal lah Rendra dan Neta yang akhirnya melepaskan genggamannya, itupun dilakukan karena untuk berpikir dengan memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Ya, lebih baik begitu!!!" Neta tiba-tiba berteriak membuat Rendra yang masih melayang dengan imajinasinya kaget setengah mati.
"Kamu??? Ngapain kamu ngikutin aku??!!" bentak Neta bertambah kesal melihat Rendra di dekatnya.
Ternyata saat dia menarik Rendra dari bawah sampai di lift tadi adalah perbuatan tidak sadarnya. Sekarang Rendra malah jadi bingung sendiri, sebab bukan keinginan dia juga berada di lift ini meski hatinya senang tak terkira.
"Kamu yang menarikku tadi," ucap Rendra malu-malu kucing.
__ADS_1
"Masa sih??" Neta tak percaya.
Hanya anggukan menjadi jawaban Rendra, dia menjadi seperti kucing yang baru dikasih makan. Terlihat manis sekali, Neta tadinya mau ngamuk sampai gak tega rasanya.
"Oh, iya. Ada yang mau aku bicarakan. Kita keruanganmu!" Seru Neta segera menarik baju Rendra, kali ini dia sadar makanya memilih menarik lengan baju.
"Aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh. Menurut kamu apa yang harus aku lakukan?" tanya Neta berapi-api saat sudah di dalam ruangan Rendra.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Rendra masih dengan nada yang lembut.
Sedikit merasa aneh dengan kelakuan Rendra, Neta tetap fokus dengan masalah yang baru saja terjadi di depan matanya.
"Derry dan Yulia mereka... Mereka... Mereka..." Neta bingung harus memilih kata apa yang tepat di depan Rendra.
"Mereka kenapa sayang?" Rendra malah menggoda Neta.
"Mereka berbuat sesuatu yang tidak boleh dilakukan keduanya," jelas Neta.
"Seperti apa contohnya?"
"Bukan... Bukan itu maksudku. Kamu bisa jelaskan perbuatan seperti apa itu?"
Tak mampu menjawab dan memilih kata, Neta menautkan kedua tangannya seperti sedang berciuman.
"Seperti kita?"
"Apa maksudmu seperti kita??"
"Berciuman," singkat Rendra.
Masih saja, Rendra tidak paham maksud Neta. Itu sangat membuatnya Naik darah karena belum menemukan kata yang tepat.
"Mereka berhubungan suami istri di ruangan Derry, meski mereka bukan suami istri!!" Akhirnya Neta berhasil mengeluarkan isi kepalanya.
"Apa?!! Bagaimana bisa? Ini kan masih terlalu pagi untuk melakukan hal itu!!" seru Rendra.
__ADS_1
"Jadi menurut kamu kalau ini tidak pagi merupakan sebuah keawajaran??!!!" Neta begitu kesal dengan jawaban Rendra.
"Ya bukan juga. Hanya saja terlalu gila saja mendengarnya. Lalu apa yang kamu lakukan pada keduanya?"
"Tadinya aku mau mencari bukti, tapi karena seseorang datang mengacaukan semua," sindir Neta.
"Oh My, apakah kamu akan merekam keduanya?"
"Ya enggak begitu jugalah. Emang kamu pikir aku cewek apa???"
Wajah Neta memerah, bodohnya dia memang sempat berpikir seperti itu. Tapi kalau dipikir lagi untuk apa dia sampai melakukan hal keji seperti yang Rendra bayangkan.
Meski membenci Derry, Neta tidak bisa membiarkan kehidupan Yulia hancur. Karena bisa saja sebagai atasan, Derry memaksa Yulia untuk melakukannya. Itu yang harus dicari tau terlebih dahulu, alasan untuk keduanya.
"Aku akan melakukan pendekatan persuasif pada Yulia terlebih dahulu," jelas Neta membayangkan rencananya.
"Apa kamu tidak mau langsung aku memecat keduanya??" usul Rendra.
"Dan kamu mau mempermalukan keduanya? Tidak-tidak, aku tidak ingin Yulia menanggung malu karena perbuatannya."
"Bukankah mereka memang mempermalukan diri sendiri? Jadi malu bagaimana lagi yang mereka jaga?!"
Neta melirik tajam ke arah Rendra dengan teramat sadis dilihat siapapun. Pria itu sempat menelan ludah karena sedikit merasa takut.
"Kita memang akan mengeluarkan keduanya. Tetapi mempermalukan keduanya dengan skandal yang ada akan memengaruhi kehidupan keluarganya nanti. Apa kamu gak punya hati?!!!" tegas Neta.
Bijak dan cerdas, luar biasa gadis pilihan Papi Mami Rendra. Benar-benar calon istri idaman, yang mampu menyelesaikan setiap masalah dengan ide yang luar biasa.
Rendra tersenyum, tak sabar rasanya dia ingin menikahi Neta. Mungkin memang harus secepatnya. Agar gadis yang menggemaskan ini tidak marah-marah terus kepadanya.
"Baiklah, lakukan apa yang kamu mau. Aku akan mendukung seratus persen, kalau perlu perusahaan ini pun aku serahkan padamu." Rendra berkata dengan tulus.
"Kamu nyindir aku?" sinis Neta.
Mana mungkin gadis tamatan SMA seperti dia bisa memimpin perusahaan besar milik Rendra? Mimpi untuk menjadi nyonya Rendra kedepannya pun masih jauh dalam angan. Meski perasaan tidak bisa berdusta bahwa dia memang mencintai Pemilik perusahaannya.
__ADS_1