SOUL MATE

SOUL MATE
Selalu merasa lemah dihadapan mu


__ADS_3

Malam itu adalah hari yang cukup berat untuk Neta, luka di kaki begitu menyiksa. Kalau sedang begini, dia teringat Mami. Meski kadang terlalu mengekang, kesabarannya tiada dua di bumi ini.


Mami pasti merasakan apa yang Neta rasakan saat ini. Kasih sayang ibu kepada anaknya, tak akan lekang dimakan waktu. Tak akan sirna sepanjang perjalanan hidup manusia. Jauh di sana, ternyata benar Mami merindukan Neta.


Dua hari ini, wanita separuh baya itu terus menangis. Dia merindukan putri kecilnya, yang entah ada dimana. Meski Iban berkata Neta sedang baik-baik saja, tetapi naluri keibuannya tidak dapat dibohongi.


Seperti ada luka yang menganga dalam hati, kehilangan sesuatu yang sangat berarti. Neta adalah pelipur para dalam keluarga, kelincahannya selalu mencairkan suasana.


"Mi, dari kemarin Iban lihat kalau makan tidak pernah habis. Mami kangen Neta ya?" tebak Iban yang dari tadi melihat Mami hanya mengaduk makanannya.


Abah sudah berangkat ke koperasi pagi sekali, jadi sudah sarapan lebih awal. Kini tinggal Mami dan Iban yang tersisa di rumah itu.


"Biasanya Neta paling susah kalau disuruh makan. Alasannya selalu masih kenyang, padahal Mami suka lihat diam-diam dia mengirim makanannya ke Ki Tarna. Sekarang Neta sedang apa ya?"


Ki Tarna adalah seorang kakek tua yang tinggal sebatang kara, rumahnya hanya sebuah gubuk kecil dan reot. Ki Tarna bekerja sebagai pengrajin bambu, dia tinggal sendirian. Upah tidak sepadan membuat kakek itu hidup tanpa listrik.


Setiap hari, Neta selalu mengirimkan makanan kepada ki Tarna. Kadang dia membantu menjual hasil kerajinannya ke pasar. Memang dari awal Neta senang membantu siapa saja. Namun sepertinya banyak yang salah paham dengan ketulusan sikapnya.


"Iban mau izin ke Kota, ada tugas kuliah dari kampus. Mungkin untuk beberapa hari," pamit Iban terpaksa, meski dia tahu hati Mami akan terluka.


"Kamu mau ninggalin Mami sendiri?" tanya Mami semakin bersedih.


"Iban gak lama Mi, cuma sebentar. Iban janji, akan cepat kembali." Iban berusaha meyakinkan hati Mami.


"Ya sudah, kamu hati-hati. Kalau bertemu adikmu suruh dia pulang," ucap Mami dengan nada yang lemah.


Mami berharap Neta mau kembali, seandainya gadis bungsunya kembali dia berjanji tidak akan memaksa untuk menikah dengan siapa pun juga.


❤️❤️❤️❤️


Neta tidak dapat bekerja, sekarang kakinya terasa lebih baik dari kemarin. Sudah bisa digerakkan meski agak sedikit terpincang. Rendra sempat memeriksa keadaan Neta di kamarnya, meski saat ini belum resmi menjadi suaminya. Neta adalah tanggung jawab yang dititipkan Iban kepadanya.

__ADS_1


Melihat keadaan Neta saat ini, membuat Rendra menyesal sangat dalam. Tidak seharusnya dia mempekerjakan tunangannya sebagai office girl di kantor. Tetapi kalau tidak begitu, Neta belum tentu akan mau menerima bantuannya begitu saja. Bisa jadi Neta malah membencinya.


Entahlah, niat awal dari Rendra adalah menaklukkan gadis itu untuk menerima semua kemauannya. Tetapi pada akhirnya, kini Rendra yang justru bertekuk lutut dihadapannya. Rasa cinta yang sudah terkubur sejak dulu, kini terasa hidup kembali di saat Neta hadir dalam kehidupannya.


Sebelum itu dia pun awalnya sama, pernah menolak perjodohan ini. Terlebih, dengan masa lalunya yang kelam dan sempat dibutakan karena cinta. Tetapi kedua orang tuanya memaksa, dan Rendra diberi pilihan untuk menolak setelah melihat Neta secara langsung. Kini justru dia enggan untuk melepaskan Neta begitu saja.


"Kamu tidak usah kerja mulai hari ini, aku pecat kamu," ucap Rendra saat melihat gadis itu turun dari kamarnya.


Neta yang sudah ditembak seperti itu merasa kesal. Berhenti bukanlah pilihan tepat untuknya, masih banyak yang ingin dia kerjakan di sana. Ya setidaknya dia ingin membalas dendam terlebih dahulu kepada orang yang membuatnya seperti ini.


"Aku gak mau, aku masih mau kerja." Neta menarik kursi makan di hadapannya, dan duduk dengan wajah dilipat.


"Kamu kerja apa? Toh selama ini, kamu itu cuma ngacak-ngacak kantor ku aja," ketus Rendra dia tidak boleh kalah dari gadis ini.


"Kamu gak menghargai aku, justru karena ada aku di sana. Kantor mu akan berubah menjadi lebih baik dan manusiawi. Aku jamin itu," jelas Neta dengan begitu semangat.


Pokoknya Neta tidak boleh keluar dari sana, apapun yang terjadi. Dia harus cari tau, apa tujuan orang yang kemarin menyakitinya. Minimal dia harus merasakan yang Neta rasakan, meski sedikit.


"Aku gak akan kasih." Rendra tetap pada pendiriannya.


Rendra mengalami dilema, gadis ini tidak hanya pandai mengancam, tetapi dia juga nekat. Apa yang dia katakan akan dia kerjakan.


Pergelutan yang hebat antara batinnya, dia tak mau Neta terluka lagi. Tetapi dia juga gak bisa membiarkannya pergi. Kedua tangan Rendra mulai menjambak rambutnya sendiri dia merasa stress.


"Oh, shit. Baiklah, aku ngalah. Kamu boleh bekerja kembali tetapi dengan syarat setelah kakimu benar-benar baik!"


"Nah gitu dong, kalau gitu kan aku bisa makan dengan tenang." Neta duduk kembali dan mengambil sebuah roti di atas piring.


Rendra kalah kembali, dia mulai kesal dengan dirinya yang semakin lemah.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Siang hari ini terasa begitu panas, Neta bersantai di dalam kamarnya dengan jendela terbuka. Menikmati tiupan angin yang masuk melalui lubang jendela.


Sambil menikmati sebuah lagu, yang membuat rindu kampung halaman. Sawah yang terhampar luas, suara ayam berkokok, suara omelan Mami saat mencari Neta yang selalu menghilang tanpa sepengetahuannya. Bahkan suara motor butut Iban yang memekakan telinga, suara itu terasa nyata terdengar asli dan dekat.


Itu mungkin memang khayalan Neta, namun tanpa dia sadari ternyata bunyi suara motor itu adalah nyata. Iban memang sudah sampai di rumah Rendra.


Iban sudah sering keluar masuk ke rumah Rendra tanpa permisi, kalau boleh dibilang mereka cukup akrab. Karena tanpa sepengetahuan keluarga masing-masing, Rendra dan Iban membangun sebuah bisnis kecil di kampung. Dengan sistem bagi hasil setiap laba bersih yang mereka dapatkan.


"Bro! Lu kok gak Bilang kalau mau ke sini?" tanya Rendra kaget saat melihat calon kakak iparnya ada di dalam rumahnya.


"Biasa, gue khawatir sama tuan putri kesayangan Bokap." Iban meraih tangan Rendra untuk menjabat tangannya.


"Dia gak apa-apa. Lu tenang aja, gue pasti jagain dia kok," jawab Rendra memberi ketenangan di hati Iban.


"Tapi please, lu jangan bongkar rencana kita. Biarkan dia mencintai gue secara natural." Rendra menyambung kembali.


"Kayak mau aja ade gue sama lu," ledek Iban.


Mereka berbincang dengan seru, seperti sahabat lama yang baru bertemu. Neta yang haus, tetiba kaget mendengar suara ribut dari bawah.


Penasaran, Neta ingin melihat siapa yang datang dan membuat Rendra Begitu senang dan tertawa lepas.


Baru setengah langkah dari lantai bawah, Neta melihat Iban dan mata mereka bertemu saling memandang.


Neta shock melihat Iban, dia berusaha kembali berlari untuk menuju kamarnya. Namun kalah cepat, Iban keburu mengejar dan menahannya.


"Neta, kamu ada di sini??" Iban pura-pura kaget melihat Neta.


Takut dikenali, Neta lantas menutup wajah dengan kedua tangannya. Perbuatan bodoh, tetapi anehnya masih tetap dia lakukan.


"Kamu siapa?? Neta itu siapa?"

__ADS_1


"Anak nakal, tetap gak berubah." Iban menurunkan tangan yang menutup Neta, kini dia peluk erat adik kecil kesayangannya.


"Iban sakeeet.....!!" teriak Neta yang merasa lututnya mau lepas.


__ADS_2