
"Kamu akan mendapat masalah jika terus disini," ucap Tio dengan nada sedikit mengancam.
Neta tak mau mendengar apapun, dia malah memulai pekerjaan di sana. Melipat semua kardus dengan penuh semangat.
Tak ada lagi yang bisa dilakukan Tio selain membiarkan gadis yang terlihat keras kepala untuk kerja bersamanya. Sudah sejak beberapa bulan ini, baru Neta yang pertama kali mengajak bicara.
Tio pria berusia tiga puluh lima tahunan, didiagnosa mengalami TB paru, dan sedang menjalani pengobatan dengan meminum obat tanpa putus selama setahun. Jika satu kali saja dia lupa, maka pengobatan yang dia jalani harus diulang dari awal.
Pria itu telah menikah dan memiliki dua orang anak yang masih sangat kecil-kecil, karena penyakitnya itu istri Tio minta berpisah. Takut tertular juga anak-anaknya. Sudah sebulan ini dia tidak lagi berjumpa dengan mereka, seperti hilang di telan bumi tanpa kabar sama sekali.
Tio hidup sendiri di perantauan. Tak ada sanak saudara lagi, melawan penyakit sendiri ditambah perilaku teman kerjanya yang mendiskriminasi membuat kehidupan Tio semakin kacau.
"Ini ditumpuk di mana?" pertanyaan Neta membuat lamunan Tio buyar.
Baru kali ini ada orang yang bisa menerima dia dengan penyakitnya.
"Letakan di sana," ucap Tio sambil menunjuk sebuah tumpukan kardus yang sama.
Tak beberapa lama, datang lah Eko salah satu leader di sana dengan penuh emosi.
"NETA!!" Teriak Eko dengan wajah merah padam.
Keduanya kaget, segera berlari menuju arah suara berasal.
Seorang Pria berdiri dengan tangan disilang di dadanya, terlihat penuh emosi. Tio sadar semua pasti karenanya.
"Ya, pak." Neta menjawab dengan nada agak malas.
Dia paham sekali, semua karena kesalahannya membantu Tio di gudang ini. Tak terlalu perduli, Neta menanggapi dengan santai.
"Sudah saya bilang, kamu tidak boleh ada di sini. Kenapa kamu tidak mau dengar??!!" hardik Eko berwajah kejam.
"Memang kenapa? Lagi pula bapak terlalu kejam dengan bawahan," jelas Neta tak terima.
"Gara-gara kelakuan kamu, saya...." Eko belum menyelesaikan ucapannya pintu lift terbuka.
Ketiganya memandang siapa yang akan keluar dari sana. Ternyata Sandro, Rendra dan Billy dengan wajah yang begitu serius.
__ADS_1
Mereka turun dari lift dan berjalan ke tempat Neta berdiri dengan yang lainnya. Gaya jalan begitu cool, wajah menjual, dan cara berjalan mereka seperti Boy band baru naek panggung.
'Apa sih mereka itu?' sinis Neta dalam hati.
"Jadi bagaimana ini terjadi?" tanya Rendra saat mereka sudah berada dekat dengan Neta.
"Jadi begini pak, bukan perintah saya Neta ada di sini," jelas Eko merasa takut saat berbicara dengan sang CEO.
Oh, jadi begitu. Neta mulai paham kenapa Eko bisa marah kepadanya. Ternyata ada yang mengatakan sesuatu kepada Rendra sehingga membuat Leadernya terasa tertekan.
Seingat Neta, di perjalanan dia hanya bertemu Billy. Apa mungkin Billy yang mengadukan hal ini pada Rendra?
Neta memandang Billy dengan sinis, dan pria itu merasa tidak enak hati dengan tatapan Neta. Maka dia memberi lambaian tangan dan senyum maut yang bisa membuat semua wanita jatuh terkapar.
Dengan sigap Neta langsung menarik tangan Billy untuk menjauh. Dia harus meminta penjelasan dari Billy.
Rendra dan yang lain hanya bisa menatap keduanya dari jauh.
"Aku tau kamu yang mengatakan semua pada orang itu, iya kan?" tanya Neta dengan nada penuh tekanan.
"Kamu jangan cuma senyum, pak Billy!" tekan Neta kesal.
"Kamu imut bangat ya," jawab Billy tidak sesuai harapan Neta.
Rendra mendengar ucapan Billy yang mulai menjurus, lantas pergi ke arah mereka. Dia menarik Neta untuk pergi dengannya.
"Selesaikan!" seru Rendra terus menarik Neta.
Neta tidak terima dengan perlakuan Rendra, tarikan tangannya begitu kasar, membuat dia tak nyaman. Dia terus berontak, dan berteriak agar Rendra mau melepaskannya.
"Billy... Sandro... Tolong aku!! Rendra lepas gak!!" teriak Neta sambil memukul tangan Rendra dengan tangan yang lainnya.
Tak perduli dengan kelakuan Neta, pria itu membawa dia ke sebuah lift di paling pojok. Neta tak pernah tau di sana ada lift, ternyata khusus disedikan untuk Rendra dan teman lainnya. Penggunaan lift itu memakai kata sandi, dan tidak sembarang orang yang bisa masuk ke sana.
Di dalam lift, Neta mulai jinak. Dia diam dan tak mau bicara. Mulutnya terasa terkancing, bahkan lebih maju dari biasanya jika diukur menggunakan penggaris.
Melihat Neta seperti itu membuat Rendra sedikit tidak enak hati, pasti gadis itu marah padanya. Tetapi dia tidak bisa membiarkan Billy terus menggoda, seakan ada desakan dalam hatinya untuk menjauhkan Neta dari semua pria apalagi Billy. Entahlah mengapa bisa seperti itu.
__ADS_1
Lantai sepuluh berhenti, Rendra keluar dari lift namun Neta tetap tidak bergerak.
"Kalau kamu di sana terus, aku pastikan kamu tidak akan bisa keluar dari sana selamanya!" ancam Rendra.
Mendengar ancaman, Neta segera berlari menyusul Rendra.
Ruangan di lantai itu membuat Neta takjub, di sana seperti sanggar bermain dengan berbagai macam jenis permainan tersedia sampai semua alat kesehatan dan kasur untuk beristirahat pun ada. Tempat apa ini? Neta baru lihat yang seperti ini selama dia bekerja di sana.
"Bagaimana kamu bisa sampai di gudang?" tanya Rendra ingin menghilangkan rasa penasaran.
"Naik lift lah, dari bawah ke lantai paling atas." Neta menjawab dengan ketus.
"Ada yang menyuruh kamu ke sana?" Rendra terus menginterogasinya.
"Enggak ada memang aku yang mau, lagi pula cara perusahaan ini memperlakukan karyawannya itu sangat kejam."
"Maksud kamu?" Rendra merasa tersinggung.
"Coba kamu pikir, seseorang menderita penyakit dan kalian menempatkannya di sebuah gudang seorang diri. Apa tidak kejam?"
"Kamu jangan selalu ikut campur dengan urusan orang lain," ucap Rendra mencoba menahan diri.
"Bagaimana bisa? Bukankah aku melihat itu terjadi, bagaimana aku tidak ikut campur? Lagi juga ini bukan perusahaan mu, jadi kamu juga gak usah ikut campur!"
Rendra memukul pelan wajahnya, berdebat dengan Neta tidak akan bisa menang. Ada saja akal gadis ini untuk terus menentangnya. Membuat pusing kepala.
"Aku bilang begitu, karena ini perusahaanku. Akulah pemiliknya, akulah foundernya, akulah yang mengatur semua," jawab Rendra pasrah membuka identitasnya.
Neta melongo dengan jawaban Rendra, dia tidak percaya dengan ucapan cowok itu. Bagaimana bisa perusahaan yang awalnya milik Billy berubah menjadi milik Rendra? Begitulah yang ada dalam pikiran Neta.
"Kamu mengkudeta sahabatku sahabatmu sendiri," tuduh Neta dengan mata sinis.
Kali ini Rendra menepuk wajah Neta.
"Dari awal ini perusahaanku," jawab Rendra sedikit geli.
Kepala Neta menjadi pusing, bagaimana bisa perusahaan calon suaminya berganti tangan menjadi milik si tengik itu.
__ADS_1