
Neta masih merasa sakit hati, untuk saat ini pun dia tidak percaya dengan ucapan Rendra. Meski terpaksa, dia kembali ikut Rendra ke rumahnya.
Dean sudah ditangani oleh orang utusan Yura, jangan sampai dia dilepaskan jika belum ada penjelasan atau bukti yang mengarah kepada penyuruhnya. Tanpa memakan waktu lama setelah disiksa terlebih dahulu. Akhirnya mengaku bahwa maya lah Yang membayar untuk membuat Neta dijauhi Rendra, dan merasa ternoda.
Geram mendengar perbuatan Maya, Rendra lekas mengambil keputusan untuk memutus kontrak Maya di semua anak cabang perusahaan yang dia miliki. Meski harus rugi miliaran rupiah karena memutuskan kontrak sepihak, tidak lah menjadi masalah baginya. Siapa pun yang berniat melukai Neta akan berhadapan langsung dengannya.
Sampai di rumah, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Neta. Dia masih trauma membayangkan jika Rendra tidak datang dalam waktu yang tepat saat itu, mungkin saat ini dia sudah menjadi gadis yang berniat membunuh dirinya sendiri.
Bahkan kehadiran Yura dan Yuri diacuhkan, tak ada lagi tegur sapa atau sekedar basa basi. Neta mengurung diri dalam kamarnya.
"Neta, buka sayang. Aku bisa jelaskan semua." Rendra mengetuk pintu kamar yang terkunci.
Tak ada jawaban, Dia begitu khawatir dengan perubahan sikap Neta. Akankah usahanya selama ini gagal begitu saja?
"Mana anak tengik itu?!!" suara yang dikenal Rendra sebagai Papinya terdengar jelas.
Ternyata, Papi Rendra segera datang setelah asistennya memberi tahu bahwa Rendra meminta untuk memutuskan semua kontrak dari artis bernama Maya senilai 12 miliar.
"Kakak, matilah kamu. Aku kehilangan Mobil seharga 3 miliar saja sudah kehilangan rumah. Apalagi kamu!" kekeh tawa Yura begitu senang, saat melihat Kakaknya berjalan untuk menghadapi kebuasan sang Papi.
"Anak sial! Apa alasan mu membuang uang sebanyak itu?!!" tanya Papi ketika melihat Rendra datang dari dalam.
Pria bertubuh sedikit gempal itu datang dengan penuh emosi, baru kali ini dia merasa Rendra mengecewakannya.
"Dia ingin mencelakai menantu kesayanganmu," jawab Rendra singkat. Seolah itu adalah pilihan yang tepat.
"Apa? Dia mau melukai Neta kesayanganku??!!" Papi begitu shock Mendengar berita tersebut.
Yura dan Yuri yang sudah tegang menantikan Rendra akan dihukum seperti mereka, malah menjadi lebih shock lagi dari si Papi.
"Yuri, apa kamu merasakan yang aku rasa?" tanya Yura sedikit sedih.
"Hiks, iya. Jangan-jangan kita bukan anak kandung Papi!!" histeris Yuri menangis memeluk Yura.
Melihat adegan yang sedikit menjijikan, Papi memukul kepala keduanya agar mereka mau berhenti bertingkah seolah menjadi korban paling menderita saat ini.
"Semua Fasilitas yang kalian nikmati adalah pemberian kedua orang tua Neta. Seharusnya kalian menjaga dan berterimakasih kepadanya." Papi kesal dengan tingkah anak kembarnya yang tidak pernah menjadi dewasa.
__ADS_1
"Maksud Papi?" Yura jadi bingung, apa Papi mereka punya hutang kepada keluarga Yura hingga mau menjodohkan Rendra dengan Neta.
"Orang tua Yura yang memberi Papi suntikan modal tujuh belas tahun lalu, ketika perusahaan kita sedang goyang. Saat itu sebelum keduanya meninggal karena kecelakaan pesawat. Jadi tanpa mereka kalian belum tentu jadi anak manja dan kurang ajar seperti sekarang!!" Papi sedikit emosi menjelaskan kepada keduanya.
Yura dan Yuri mengangguk, seolah berusaha mengerti apa yang dijelaskan Papi.
Jika memang kedua orangtua Neta meninggal saat dia kecil, lalu yang merawat mereka itu siapa? Pantas saja jika Rendra sebagai tunangan dan keluarganya begitu royal pada Neta selama ini. Dari awal Rendra sudah mengetahui semua, hanya sajadia belum bisa bicara.
"Dimana menantu kesayangan Papi?" tanya Papi tak melihat penampakan Neta.
"Dia di kamar. Mengurung diri dari tadi." Rendra berjalan ke kamar agar Papi mau mengikutinya.
Di dalam kamar Neta masih menangis. Dia masih sakit hati atas kebohongan yang dilakukan Rendra.
"Neta sayang, ini Papi. Buka Nak." Papiberkata dengan penuh kelembutan, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
'Papi? Siapa Papi?' Neta penuh tanda tanya kembali.
"Kamu pasti bingung, ini Papi yang menjodohkan kamu dan Rendra."
Neta bangun dari tempat tidurnya, dan berjalan kearah pintu untuk membuka kunci kamarnya.
Saat ini adalah untuk pertama kalinya, Papi bertemu dan bertatap langsung dengan Neta. Selama ini dia hanya bisa melihat melalui foto dan video yang dikirimkan abah sebagai asisten pribadinya untuk menjaga dan mengurus Neta dari kecil.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Papi saat melihat Neta dari balik pintu.
"Neta aku mau bicara sebentar, tolong!" Rendra begitu berambisi saat melihat wajah Neta.
"Kamu anak kurang ajar. Tunggu di luar!" Papi masuk ke dalam kamar dan mengunci kembali kamar tersebut.
Neta merasa canggung dengan pria tua yang ada di sebelahnya. Dia hanya bisa terduduk dengan air mata yang dicoba ditahannya.
"Kamu pasti bingung. Tapi yang pasti, Papi, Rendra dan Maminya Rendra semua sayang kamu, nak. Kami serius memilih kamu sebagai jodoh dari anak yang tidak berguna itu." Papi mencoba menjelaskan agar Neta mau mengerti.
"Mungkin Rendra bukan pria yang baik, tapi yang Papi tau sebagai orang tua yang membesarkannya dia adalah anak yang bertanggung jawab dan mandiri. Mungkin kamu akan sedikit kesal padanya, jangankan kamu. Kadang kami sebagai orangtuanya juga sering kesal kok sama dia." Papi meneruskan ceritanya.
Ucapan Papi membuat Neta sedikit tersenyum. Dia tak menyangka kalau Rendra memiliki orang tua yang sangat lucu.
__ADS_1
"Papi sudah tua, kalian cepatlah menikah dan buatkan cucu yang banyak dan lucu sebagai mainan Papi dan Mami di masa pensiun nanti," ucap Papi yang kali ini membuat wajah Neta memerah, malu.
"Aku, bingung. Selama ini Rendra tidak pernah bilang kalau dia adalah tunangan ku. Rasanya seperti dipermainkan." Neta baru bisa membuka mulutnya.
"Anak itu memang kurang ajar. Sikap sok misteriusnya kadang sering membuat orang salah paham. Tapi kamu tenang saja, jika dia berbuat salah kedepannya. Papi akan berada di sisi kamu, Neta."
Mendengar penjelasan Papi membuat Neta bernafas lega. Setidaknya dia tau orang yang dia cintai adalah tunangannya. Berarti dia tidak akan merasa berdosa karena berselingkuh.
Papi meminta Neta keluar untuk makan, karena dia mengerti sebelumnya Neta tidak makan apa pun karena memikirkan masalah ini. Neta mendengar apa yang dipinta Papi, sampai akhirnya dia pamit untuk kembali mengurus kantornya. Tidak lupa Papi menyeret kedua anak kembarnya untuk menjauh sementara waktu.
Papi memberi tempat dan waktu agar Rendra bisa mengajak Neta berbaikan. Jangan sampai dia menyesal jika Neta memilih untuk memutuskan tali perjodohan yang diikat oleh sahabatnya sebelum meninggal.
"Kamu bicara apa sama Papi?" tanya Rendra takut-takut saat menemani Neta makan.
Enggan menjawab, Neta mencoba menguji kesabaran Rendra. Pantaskah pria ini diperjuangkan?
"Kamu masih marah ya? Maaf, hanya itu yang bisa Ku ucapkan." Rendra mencoba bicara kembali, namun tetap diacuhkan Neta.
"Aku dengar Papi meminta cucu, apa kamu mau kita.. ??"
"Apaan?? Gak ada ya aku mau punya anak dari kamu yang suka bohongin aku." ketus Neta.
"Aku janji ini yang terakhir, selanjutnya jika aku bohong lagi. Lebih baik kamu pergi tinggalkan aku," ucap Rendra serius.
"Yang benar?"
"Iya, tapi 15 menit aja. Jangan lama-lama. Terus kapan kita menikah?"
"Apaan sih?!" jawab Neta malu-malu.
"Bagaimana kalau besok?"
"Siapa yang mau nikah sama cowok gila macam kamu?!!"
"Kamu orangnya, besok aku akan pulang ke desa untuk mengabari Abah dan yang lainnya. Kalau perlu pasang iklan di tv." Rendra menggoda Neta.
Hatinya tenang jika gadis itu telah luluh hatinya, jalan untuk memiliki Neta semakin terbuka lebar. Rendra sudah memantapkan hati jika, Neta lah yang akan mengisi hari tuanya nanti.
__ADS_1