
Tengah malam pun tiba, hanya Neta yang masih terjaga di rumah tersebut. Semua sudah masuk ke alam mimpi masing-masing. Sebuah kaos oblong dilapisi dengan jaket converse star berwarna Pink pastel, entah dari mana dia mendapatkan jaket semahal itu. Yang pasti bukan barang curian.
Celana jeans hitam, sepatu kets bermerk dan berwarna senada dengan jaket yang dia pakai. Sepatu plus jaket itu didapatnya secara bersamaan, Neta berpikir itu adalah pemberian kedua orang tuanya. Tetapi ternyata bukan, setelah Ayah bilang itu adalah pemberian dari keluarga calon suaminya.
"Bodo amat ini dikasih siapa kek, yang penting apa yang sudah menjadi milikku. Harus tetap jadi milikku," desis Neta pelan.
Persiapan selesai, layaknya pencuri Neta berjalan dengan penuh hati-hati. Dia berusaha agar langkahnya tidak terdengar oleh penghuni rumah. Berhubung Mami dan ayah tidur di kamar depan, sepertinya tidak mungkin dia bisa pergi lewat sana karena suara pintu akan berdecit jika dibuka. Neta memilih pintu belakang sebagai gerbang pelariannya.
Setelah tindakannya yang nekat, Neta pun telah berada di halaman belakang. Sebagai anak perempuan manja, ini adalah untuk pertama kali baginya keluar malam. Hawa dingin kala itu mulai berhembus, mencoba masuk ke dalam jaket. Pipinya yang putih terlihat lebih pucat karena hawa dingin, apa yang akan dia lakukan selanjutnya?
Jam menunjukan pukul 01.00 pagi, tubuhnya sempat bergidig saat melihat suasana kampung saat malam. Berbagai cerita horor pernah didengarnya, tetapi tidak juga bisa melunturkan niat Neta untuk pergi. Menikah dan terikat adalah cerita horor sesungguhnya bagi Neta.
Tempat tinggal Neta adalah sebuah perkampungan di perbatasan kota. Masih cukup asri, meski sudah banyak penduduknya. Mereka hidup sebagai petani, bukan padi yang ditanam, melainkan lebih kepada buah-buahan. Ayah Neta bertindak pemimpin koperasi di sana, maka dari itu penduduk kampung menghormatinya.
Langkah kaki Neta tetap berhati-hati, dia takut jika kepergok warga yang sedang melakukan jaga malam alias ngeronda. Bisa gagal usahanya untuk kabur kali ini.
"Menikah? Siapa yang mau menikah dengan orang yang tidak dia kenal? Aku akan menikah, tetapi dengan pria pilihanku," gerutu Neta di sepanjang perjalanannya.
Sedikit lagi dia akan sampai ke jalan utama, perjalanan akan dilanjutkan dengan naik kendaraan umum. Tapi apa iya, masih ada kendaraan umum lewat di tengah pagi buta ini?
Tanpa sepengetahuan Neta, seorang pria sudah cukup lama mengikutinya dari belakang. Menyadari ada langkah lain, dia berhenti. Ketika hendak berbalik, sebuah tangan besar menutup mulutnya.
"Hai anak kecil, mau kemana?!!?" tanya sebuah suara berat milik pria tersebut.
Sepertinya Neta kenal suara itu, tanpa berpikir panjang dia menggigit tangan sang Pria.
"OUCH!!!" pekik sang pria kesakitan dan benar tebakan Neta dia adalah Iban, kakaknya.
"Apaan si Lu, Ban? Bikin gue kaget aja!!" ketus Neta dengan degup jantung yang belum stabil, kaget.
__ADS_1
"Lu yang bikin gue kaget, anak kecil jalan-jalan pagi buta. Mau kemana lu??" tanya Iban penasaran.
Iban berperawakan tinggi besar, memiliki mata belo, rambut agak keriting, dan kelakuannya agak konyol sebagai seorang kakak. Namun dia adalah kakak yang baik dan selalu membuat Neta iri dengan kehidupan bebas yang tidak pernah dirasakan olehnya.
Kini dia makin terkejut melihat Neta yang berkeliaran dengan peralatan lengkap. Ini adalah pengalaman pertama Iban melihat Neta keluar sendirian tanpa teman. Biar kata usianya sudah delapan belas tahun, namun pikirannya tidak matang sama sekali. Bagi Iban, Neta adalah boneka kesayangan kedua orang tua mereka yang tidak boleh terluka sedikitpun. Ternyata dia juga pernah iri pada adiknya, namun kini sadar Neta memang spesial.
"Gue mau kabur," bisik Neta.
"Hah??!!! Kabur kemana Lu???!!" tanya Iban, shock.
"Ya Gue kaga tau, dodol. Kalau Gue tau tujuannya, namanya bukan kabur tapi piknik," ketus Neta polos.
Kalau tau membiarkan adiknya lolos, Iban bisa terancam bahaya. Ayah pasti tidak akan mengampuninya. Iban menarik tangan Neta untuk mengajaknya pulang.
"Gak bisa, Lu harus pulang!!" Iban terus menarik tangan Neta.
"Lu gila ya??!! Aduh, rabies dah Gue," keluh Iban sambil memegang tangan yang digigit dan terlihat membengkak.
"Lagian Lu maksa sih. Ban, kalau Gue balik, terus dinikahin gimana? Lu gak kasihan? Gue kan masih kecil," rengek Neta dihadapan Iban, palsu.
Iban paham maksud Neta. Selama ini adiknya itu memang hidup terkekang, ada beban yang harus ditanggung oleh kedua orang tua mereka. Maka dari itu, Neta diperlakukan lebih.
"Iya sih, apalagi anak manja kayak Lu mana bisa ngurus suami." Iban berpikir sejenak.
Melihat kakaknya yang sedang berpikir, ini kesempatan Neta untuk pergi. Namun baru beberapa langkah, ujung tudung jaketnya ditarik Iban.
"Mau kemana Lu??" ledek Iban sambil terus menarik Neta.
"Iban, lepas gak! Kalau pun Gue gak bisa kabur sekarang. Lu pikir Gue bakal nyerah gitu aja!!" protes Neta makin kesal.
__ADS_1
Iban berpikir kembali, adiknya benar. Jika kali ini gagal dia akan terus mencoba sampai berhasil. Neta anak manja dan keras kepala, meski menurut dalam dirinya ada jiwa pemberontak yang luar biasa. Kalau hari ini Iban, beruntung melihatnya. Kalau lain kali gimana? Neta akan pergi selamanya.
"Ok, Gue bantu Lu kabur. Tapi ada syaratnya." pinta Iban, mencoba bernegosiasi.
"Apa? Duit?"
"Harga diri Gue, gak serendah otak Lu. Gue bantu, tapi Lu harus hubungi Gue tiap mau ngapa-ngapain. Entah itu jalan atau apa."
"Udah kayak tahanan Gue, tapi niatnya Gue mau ganti nomor. Biar gak dilacak Ayah."
Iban menoyor kepala Neta pelan.
"Sebelum Lu ganti, wa Gue dulu. Setuju gak? Gue anter ke terminal nih!" tawar Iban berharap Net setuju.
"Iyaa...!!" jawab Neta ogah-ogahan.
"Nah gitu dong, Gue ambil motor dulu. Nanti Gue anter sampai terminal." Iban melangkah meninggalkan Neta dan kembali membawa Ninja hitam kesayangannya.
"Ban, Lu ngerasa aneh gak sih?" tanya Neta, saat Iban kembali dengan motornya.
"Aneh kenapa?"
"Gue kan mau kabur, kok pake dianter? Kayak mo sekolah aja. Gak seru dong," ucap Neta polos.
"Hahahaha.... Lu kira sinetron, ayo naik." Iban menarik Neta untuk cepat naik.
Melihat adiknya telah naik, Iban tersenyum. Dia bersyukur Neta masih bisa diajak negosiasi. Setelah ini dia akan menghubungi seseorang yang tepat untuk mengurus adiknya. Bukan Ayah atau Mami.
Meski hubungan mereka layaknya Tom and Jerry, Iban tidak rela jika terjadi sesuatu pada Neta.
__ADS_1