SOUL MATE

SOUL MATE
Kamu dimataku


__ADS_3

Hari ini adalah libur pertama bagi Neta, niatnya ingin bersantai seharian di rumah. Namun dia memiliki janji pada seseorang untuk pergi menemui Sumini.


Sudah hampir dua minggu lebih Neta pergi dari rumah. Selama itu pula dia menetap di rumah Rendra yang memiliki dua buah lantai.


Lantai pertama di tempati oleh Rendra, dan lantai ke dua di tempati Neta. Meski satu rumah kadang mereka jarang bertemu, kesibukan Rendra di kantor membuatnya sering pulang malam.


Untuk Netanya sendiri, kalau sudah ada di rumah, dia jarang turun ke bawah. Karena dari sejak dulu, Neta tidak begitu suka berbasa basi dengan orang lain. Makanya banyak yang bilang kalau dia adalah gadis yang sombong, padahal jiwa sosial yang dimilikinya begitu tinggi.


"Kamu sudah siap?!" tanya Rendra dari bawah dengan suara cukup keras.


"Sudah," jawab Neta sambil turun menuju Rendra.


Gadis berambut ikal itu membiarkan rambutnya tergerai, harum shampo begitu kuat keluar dari sana. Sejenak Rendra menatap takjub, dan penuh kekaguman. Namun rasa itu buyar ketika Neta menarik jasnya.


"Kamu gak bisa bedain mana mau ke kantor atau bertamu ke orang apa??!!" hardik Neta sambil menarik lengan jas Rendra untuk membukanya.


"Hei, kamu merusak pakaianku! Kamu mau pergi tidak???!" ketus Rendra tak mau mengalah.


"Aku mau pergi kalau kamu membuka jas itu." Neta menunjuk apa yang dipakai Rendra.


"Dan aku tidak mau pergi jika tidak memakai ini," ketus Rendra tak mau mengalah.


"Kamu.....!!!" Neta merasa kesal dan akhirnya mengalah untuk sementara.


Mereka pun pergi bersama menuju sebuah tempat yang sudah dijanjikan oleh anak Sumini yang bernama Raharjo. Neta menghubunginya semalam, kebetulan nomor kontak waktu itu tidak dihapusnya.


Sebuah tempat jauh dipelosok, dengan jarak yang lumayan jika harus bekerja di kantornya Rendra.


Mereka mengikuti Raharjo yang mengarahkan jalan dengan menggunakan sepeda motor. Sampai akhirnya mereka berhenti di depan sebuah gang kecil, hanya bisa dilewati oleh sepeda motor.


"Mbak, mobil cuma bisa berhenti sampai di sini," ucap Raharjo kepada Neta yang sudah membuka jendela mobil untuk bertanya.


"Oh iya kalau begitu tunggu sebentar," pinta Neta.


Ada hal yang harus dia kerjakan sebelum turun, membuka jas Rendra yang terlihat terlalu berlebihan.


"Buka," Neta memaksa membuka kancing jas Rendra.


"Kamu agresif bangat sih, ini di jalan sayang. Kalau mau nanti kita nikah dulu," ledek Rendra sambil mempertahankan jasnya.

__ADS_1


"Gak mau dibuka, aku gigit nih!" ancam Neta sudah mulai kesal.


"Iya... Iya...." Rendra mengalah, bahaya juga kalau sampai membuat Neta lebih marah lagi.


Rendra membuka jasnya, dia hanya memakai sebuah kemeja tangan pendek berwarna hijau gelap. Tubuhnya terlihat begitu atletis dengan balutan kemeja yang cukup ketat.


Sedikit berliur, tatapan Neta begitu khidmat melihat pemandangan indah di depannya. Dia tak menyangka tubuh Rendra sebagus itu.


"Biasa aja dong liatnya, kamu sampai ngiler tuh," ledek Rendra membuat Neta segera menghapus air liurnya.


"Apa sih ini keringat tau!!" sungut Neta segera pergi keluar dari mobil meninggalkan Rendra.


Neta mengikuti Raharjo yang semakin masuk ke dalam gang. Tubuh pria ini begitu kurus untuk ukuran badannya yang sangat tinggi, kulit hitam menandakan bahwa dia sering bepergian dikala matahari menyengat sedang teriknya.


Beberapa saat kemudian, dia berbelok ke sebuah rumah petak kontrakan yang ditinggali Sumini dan keluarga.


"Bu, ada tamu nih!" Raharjo sedikit berteriak untuk mengabari ibunya yang ada di dalam rumah.


Sumini tengah tertidur saat itu kaget mendengar bahwa dia kedatangan tamu siang itu. Penasaran, keluarlah ia untuk melihatnya.


Kaget itu yang pertama kali dia rasakan saat melihat Rendra, boss besar perusahaan tempat dia bekerja dulu datang bersama seorang gadis cantik yang ternyata seorang OB yang baru dikenalnya beberapa hari lalu.


"Selamat pagi, pak. Mbak Neta, " sapa Sumini terbata saat berhadapan langsung dengan Rendra.


Rendra tidak memberi jawaban, sebuah anggukan kepala menandakan bahwa dia telah menerima salam Sumini.


Lain Neta dengan Rendra, dia tidak suka jika pria itu menjawab salam dengan anggukan. Sebuah cubitan kecil namun terasa sakit mendarat di punggung Rendra.


"Jawab salam dari orang tua tuh yang bener!!" geram Neta pelan ke arah Rendra.


"Iya.. Selamat pagi ibu Sumini." Rendra dengan terpaksa mengatakan itu, atau panas punggungnya tidak bisa diselamatkan lagi..


"Selamat pagi, ibu!" ucap Neta dengan begitu riang.


"Masuk Pak, Mbak. Rumah Ibu kecil jadi terima apa adanya aja ya," jelas Sumini merasa tidak enak.


Rendra dan Neta masuk ke dalam sebuah ruangan yang jauh lebih kecil dari kamar di rumah Rendra.


Di dalam ruangan tersebut, tergeletak seorang pria di atas sebuah kasur lantai, dia terlihat lebih tua di bandingkan Sumini. Kakinya terlihat agak bengkok, mungkin karena sudah lama tidak terpakai. Pria itu melihat kedatangan Rendra dan Neta, tak ada yang bisa dia katakan selain mengangguk dan tersenyum. Karena syaraf mulutnya juga ikut rusak karena kecelakaan dulu.

__ADS_1


"ini suami saya, maaf jadi terganggu karenanya," ucap Sumini makin merasa tidak enak hati.


"Gak apa-apa bu. Oh iya bagaimana keadaan ibu sekarang?" Neta mencoba berasa-basi, sedang Rendra diam sambil menatap berkeliling dalam rumah tersebut.


"Beginilah nak keadaan ibu sekarang," jawab Sumini yang merasa takut salah menjawab pertanyaan Neta, karena ada Rendra di sana.


"Ibu kami di sini ingin meminta maaf dan membantu Ibu, sekiranya semoga bantuan ini bermanfaat untuk Ibu," Neta mengeluarkan amplop yang telah di isinya dengan uang sebesar lima juta rupiah semalam.


Rendra menepuk jidat, lagi-lagi anak kecil ini memakai uang tabungan tunangannya. Bagaimana bisa dia mengganti uang tersebut jika terus dipakainya?


"Ibu tidak perlu mengambil uang darinya. Saya sudah menyiapkan dana kompensasi dari uang pribadi saya sebanyak lima kali gaji Ibu di kantor. Harap di terima," ucap Rendra seger menyingkirkan amplop Neta.


Merasa di remehkan, Neta kembali memaksa agar amplopnya yang diterima.


"Alhamdulillah, Bapak ini mau memberi kompensasi. Tapi biarkan saya membantu Ibu untuk keperluan lainnya," paksa Neta sambil menyodorkan amplopnya.


Bukannya senang mendapat bantuan, Sumini malah kebingungan melihat dua anak muda di depannya berebut menyodorkan amplop di hadapannya. Seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar menurutnya.


Karena kesal, Neta memberi sebuah pesan kepada Rendra melalui handphonenya.


[Kamu menghalangi aku membantu, aku akan keluar dari rumahmu]


[Keluar saja, kamu bukan siapa-siapa untukku!] balas Rendra


Kecekaman mereka pindah ke handphone, Sumini semakin jadi. Ada rasa canggung karenanya.


[Oh, ok. Kalau gitu kamu gak usah kenal aku lagi!] ancam Neta melalui pesan kembali lalu memblokir nomor Rendra setelah pria itu membacanya.


'Gadis ini! Pandai mempermainkan emosi orang,' geram Rendra dalam hati.


"Ehm, baiklah ibu. Terima juga bantuan dari Neta, semoga bermanfaat untuk yang lainnya." Rendra berdehem dan merasa kalah sambil menatap Neta tajam seolah berkata 'Puas?'.


Neta menahan tawanya melihat Rendra, dan memberi kode tangan seolah dia menang.


"Ya ampun, kalian baik sekali. Ibu tidak bisa membalas kebaikan kalian. Benar apa kata Pak Billy ibu memang sudah tua dan tidak baik bekerja si sebuah kantor yang melelahkan. Sebelumnya dia minta maaf saat memberhentikan ibu. Tak menyangka jika kalian sebenarnya perduli keadaan kami," jelas Sumini, dia tidak bisa menahan tangisnya lagi.


Neta mendekat dan mengusap punggung Sumini, seolah memberi tanda bahwa menangis akan menjadikan kita lebih baik daripada harus menahan setiap kesusahan yang ada.


Rendra bernafas lega, hatinya begitu tenang setelah melihat Sumini mau menerima bantuannya. Dulu dia berniat ingin mempermainkan Neta agar tergila-gila kepadanya. Namun karena kejadian ini, sepertinya dia yang mulai tergila-gila pada gadis kecil itu.

__ADS_1


Meski bertubuh kecil, ternyata ada hati yang besar dan begitu cantik di dalamnya. Mungkin tidak dapat dilihat oleh beberapa orang, namun kini Rendra justru bisa melihat seluruhnya. Malaikat dalam wujud manusia seperti Neta, sudah jarang dia temui di sepanjang hidupnya.


__ADS_2