
Keluar dari ruangan Rendra, hawanya terasa berbeda. Semua mata tertuju kepada Neta, berita kedekatannya dengan sang CEO begitu cepat. Meski tidak ada yang berani menanyakan, desas desus di belakang begitu sadis.
Sampai saat ini, Neta belum mendengarnya meski telah ramai jadi bahan rumpian orang sekantor. Berhubung tidak sesuatu yang mempengaruhi menurutnya, maka dia pun memberanikan diri untuk bertemu dengan Yulia.
Yulia adalah seorang Ibu dari dua orang anak, suaminya bekerja sebagai buruh bangunan yang sering sekali mendapatkan pekerjaa di luar daerah. Jarang pulang bisa saja menjadi alasannya untuk berselingkuh. Apalagi Derry kadang memberi uang yang dipakai untuk menambah jajan susu anaknya.
Meski perbuatannya salah, tapi sulit bagi Yulia untuk berhenti menuruti kemauan Derry. Terlebih karena support uang yang selalu dia terima. Meski harus menjadi pengkhianat keluarga, dia harus tetap menjalaninya.
"Yulia," sapa Neta melihat wanita tersebut sedang menyapu lantai di koridor.
"Ya," jawabnya dengan tersenyum seperti biasa.
Meski dia telah berbuat sebuah kesalahan fatal. Bagi Neta, Yulia merupakan orang yang pertama baik kepadanya. Maka ia akan berusaha baik juga.
Neta berusaha mendekat dan berbisik padanya untuk mencari tempat yang sepi, agar tidak ada orang bisa mendengar pembicaraan mereka. Neta memilih ke gudang atas, karena hanya di sanalah tempat yang aman untuk bicara.
Keduanya berjalan tanpa bicara, Yulia penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Neta. Mengapa harus di tempat yang sepi?
"Yulia kamu sudah berapa lama?" tanya Neta saat sudah sampai di sana.
"Maksudnya?" Yulia tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan Neta.
"Kamu sudah berapa lama berhubungan dengan Derry?"
Pertanyaan Neta seperti petir yang menyambar di tengah terik matahari, membuat dia kaget setengah mati.
"Pak Derry, aku... aku... jadi bingung apa yang kamu katakan," jawab Yulia terbata, dan berusaha menyembunyikan kebenaran.
"Tadi pagi aku melihat kamu dan pak Derry dalam ruangan, kalian sedang melakukan itukan?"
"Kamu bicara apa?? Apakah ada buktinya?"
"Aku melihat jelas dengan mata kepalaku sendiri, kalian di sana..."
"Jangan munafik Neta, bukankah kamu yang menjadi wanita simpanan Pak Rendra??" Yulia membalikan fakta.
"Maksud kamu?" Neta malah jadi bingung dibuatnya.
"Kamu juga dibayar Pak Rendra untuk melampiaskan nafsunya kan?"
"PLAK!!" tamparan keras mendarat di pipi Yulia.
"Terus tampar Neta. Lakukan yang kamu mau. Semua orang di sini tau jika kalian tinggal serumah. Apa saja yang kalian lakukan di sana, hah??"
Pertanyaan Yulia yang kini membuat Neta shock. Tau dari mana dia, jika mereka serumah? Meski tidak pernah melakukan sesuatu yang dilarang, memang tidak pantas rasanya mereka tinggal serumah.
"Lihat, kamu tidak bisa jawabkan? Sebelum kamu menasihati orang lain. Lebih baik kamu urus dirimu sendiri." Yulia pergi setelah mengatakan hal yang menyakitkan bagi Neta.
__ADS_1
Semua salah, bagaimana Yulia bisa tau tentang dia dan Rendra? Siapa orang yang pertama kali menyebarkan rumor dan fitnah keji kepadanya?
Tidak pernah terbesit dalam pikiran Neta untuk berbuat hal terlarang meski mereka tinggal serumah. Apa semua orang di kantor telah mengetahuinya? Jadi selama ini pandangan mereka kepada Neta sebegitu hinanya?
Neta berjalan hampa, ada sakit dan sesak memenuhi dadanya. Seolah dunia runtuh seketika, dia mulai sadar bahwa semua memandangnya penuh curiga dan tanda tanya. Terlebih apa yang diharapkan seorang CEO tampan dengan seorang tamatan SMA yang tidak punya skill apapun. Neta merasa malu dibuatnya.
Tak terasa bulir air mata jatuh ke pipinya, dia merasa ternoda meski belum pernah melakukan apapun. Nama baik yang selalu dijaga terasa menjadi buruk seburuknya. Apa yang harus dia lakukan?? Sepertinya dia harus pergi menjauh dari Rendra.
Di sebuah tangga darurat Neta menangis, dengan merangkul kedua lututnya. Ini pertama kalinya, dia merasa lemah.
Rendra mencari Neta dengan begitu panik, pasalnya yang dia tahu bahwa calon istrinya belum makan dari tadi pagi. Sampai saat ini tak ada satu karyawan pun yang melihat keberadaannya. Sampai Rendra harus meminta tolong tim Cctv untuk melacaknya.
Setelah tau keberadaan Neta, Rendra bergegas pergi ke tangga darurat. Untuk apa gadis kecil itu berada di sana? Apa ada orang lain yang mau menyiksanya lagi?
Rendra berlari dari tangga ketangga, entahlah karena panik mungkin dia sampai lupa kalau ada alat teknologi modern yang bernama lift. Alhasil, nafasnya terasa mau habis ketika akhirnya dia menemukan Neta tengah menangis sendirian.
Sedikit lega karena bisa menemukannya, namun terasa sesak kembali saat melihat gadis yang dicintainya sedang menangis. Rendra mendekati Neta, dan berjongkok dihadapan gadis itu. Kedua tangannya mengangkat kepala Neta yang tertunduk, di tempelkan ke kepalanya perlahan.
Neta diam tak berontak sama sekali, dia memang mencintai Rendra. Hanya saja kini menjadi seperti sesuatu yang salah. Kini kedua wajah mereka begitu dekat, bahkan keduanya bisa mendengar hembusan nafas yang lainnya.
"Kamu kenapa? Cerita padaku? Adakah orang yang menyakitimu?" tanya Rendra dengan suara yang lembut.
"Rendra maaf, sepertinya kita harus menjaga jarak," ucap Neta di tengah tangisnya.
Begitu sakit rasanya harus mengatakan itu, tetapi harus dilakukan demi nama baik Neta dan Rendra.
"Harus Rendra, atau sesuatu yang buruk akan menimpamu. Semua orang tau kita serumah," jelas Neta.
"Terus apa masalahnya, biarkan mereka tau malah itu sebuah hal yang baik."
"Hei itu salah, aku sudah bertunangan dengan orang lain. Kamu akan menyesal karenanya."
"Tidak sayang, meski kamu bilang aku harus pergi aku tidak akan pernah menurut padamu. Aku akan selalu datang, semakin kamu suruh pergi aku akan semakin bertahan."
Neta mendorong Rendra hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh duduk.
"Kamu gak usah pergi karena aku yang akan pergi."
Rendra menarij tangan Neta yang hampir meninggalkannya.
"Lepas Rendra!! Biarkan aku mencari ketenangan, jika kamu tidak mau jadi orang yang kubenci nantinya."
Mendengar ucapan Neta menjadi orang yang akan dibenci, membuat Rendra menyerah dan tidak akan membiarkan itu terjadi.
Rendra melepaskan genggamannya, dan membiarkan Neta pergi begitu saja. Shit, ucapan Neta membuatnya sedikit kalap. Di sepanjang perjalanan menuju ruangannya, tak luput dari tendangan kaki Rendra.
Sebelumnya semua baik-baik saja, lalu apa yanh sedang terjadi sekarang? Mengapa bisa langsung hancur seperti ini? Bisa-bisa semua rencana yang dia impikan akan benar-benar musnah.
__ADS_1
Tanpa banyak pikir Rendra memanggil semua staff kepercayaannya untuk mencari tau apa yang terjadi kepada Neta. Mengapa dia sampai hati berbuat seperti itu.
Tidak sampai beberapa jam semua staff berkumpul, termasuk Billy dan Sandro sudah siap. Meski mereka bingung maksud dari atasan mereka yang menyuruhnya berkumpul.
"Aku ingin dengar ada berita apa di luar, yang membuat Neta bersedih?" tanya Rendra dengan wajah ingin membunuh.
Tak ada yang berani bicara, termasuk Sandro dan Billy. Mereka merasa serba salah, kalau diucap salah gak diucap ditanyakan. Akhirnya hanya saling melempar pandang, untuk meminta siapa yang berani untuk bicara.
"Kalau tidak ada yang bicara, saya jamin besok kalian akan jadi pengangguran," tegas Rendra makin naik darah.
Billy dan Sandro sih tetap tenang, karena Rendra tak mungkin memecat keduanya. Mereka telah bersahabat sejak dibangku TK, jadi tisak mungkin Rendra melakukannya.
"Menurut kabar yang ada, Bapak dan Neta itu kumpul kebo." jawab salah satu staff dengan taku-takut.
"BRAKK!!" Rendra memukul meja kerjanya, begitu keras hingga dia tidak merasakan sakit sama sekali.
"Perlu kalian ketahui. Kami memang serumah, tapi aku ataupun Neta tidak pernah melakukan hal yang terlarang. Meski sebenarnya, dia adalah tunangan saya dari kecil."
Mendengar penjelasan Rendra, semua staff kaget. Termasuk Billy dan Sandro. Bagaimana bisa Rendra menyembunyikan hal sebesari itu. Bukankah mereka bersahabat dari kecil.
"Lu serius, Ndra?" tanya Sandro memastikan.
"Serius dan gue gak pernah seserius ini sama cewek. Dan saya minta kalian cari tahu siapa penyebab semua ini sebelum..." Ucapan Rendra terputus saat setelah terdengar sebuah dering dari handphonenya.
Yura yang panik menelpon Rendra, sepertinya telah terjadi sesuatu.
" Halo kak, aku mau tanya." Suara Yura terdengar jelas bahwa sedang tidak baik-baik saja.
"Tanya apa? Kenapa kamu begitu?" tegas Rendra penasran.
"Apa Kakak yakin kalau Neta itu tunangan kakak?"
"Memangnya kenapa?"
"Hari ini ada pria yang datang menjemput Neta dan mengaku sebagai tunangannya."
"Apaaa??!!!"
Masalah apalagi ini, belum selesai satu datang masalah lainnya. Membuat Rendra sedikit stress.
"Iya, sekarang Neta pergi dengan pria itu dan membawa semua bajunya."
"Anak bodoh, apa kamu gak bisa mencegahnya???!"
Rendra kesal menutup telponnya, dan berlari keluar untuk pulang ke rumah. Tak dihiraukannya lagi para staff yang tengah berdiri menantikan instruksi selanjutnya.
Pikiran Rendra kali ini hanya Neta, calon istrinya yang dibawa orang lain pergi. Jika tidak ada orang di belakang yang berbuat jahat, tidak akan pernah hal ini bisa terjadi. Tapi siapa???
__ADS_1